Selasa, 03 Mei 2011

MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR AND SHARE

A. Model Pembelajaran Think Pair And Share
Think Pair and Share adalah struktur pertama kali dikembangkan oleh Profesor Frank Lyman dari Universitas Maryland pada 1985 dan diadopsi oleh banyak penulis di bidang pembelajaran kooperasi sejak saat itu. Ini memperkenalkan ke rekan unsur interaksi kooperasi gagasan pembelajaran 'menunggu atau berpikir' waktu, yang telah dibuktikan menjadi faktor kuat dalam meningkatkan tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan siswa. Model Pembelajaran Think Pair and Share menggunakan metode diskusi berpasangan yang dilanjutkan dengan diskusi pleno. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran. Model pembelajaran Think Pair and Share adalah salah satu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain. Ini adalah strategi yang sederhana, efektif dari anak usia dini melalui semua fase-fase berikutnya untuk pendidikan tersier dan seterusnya. Ini adalah struktur yang sangat serbaguna, yang telah diadaptasi dan digunakan, dalam beberapa cara tanpa henti. Ini adalah salah satu batu fondasi bagi pengembangan 'kooperasi kelas.  
Think Pair and Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain (Nurhadi dkk, 2003 : 66). Sebagai contoh, guru baru saja menyajikan suatu topik atau siswa baru saja selesai membaca suatu tugas, selanjutnya guru meminta siswa untuk memikirkan permasalahan yang ada dalam topik/bacaan tersebut.

Langkah-langkah dalam pembelajaran Think Pair and Share sederhana, namun penting terutama dalam menghindari kesalahan-kesalahan kerja kelompok. Dalam model ini, guru meminta siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain dan mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas.

Tahap utama dalam pembelajaran Think Pair and Share menurut Ibrahim (2000: 26-27) adalah sebagai berikut:
Tahap 1 : Thingking (berpikir)      
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap 2 : Pairing (berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
Tahap 3 : Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Langkah-langkah atau alur pembelajaran dalam model Think Pair and Share adalah:
Langkah ke 1 : Guru menyampaikan pertanyaan
Aktifitas : Guru melakukan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.
Langkah ke 2 : Siswa berpikir secara individual

Aktifitas : Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikiranyya masing-masing.
Langkah ke 3: Setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan
Aktifitas : Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka paling benar atau paling meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat dilengkapi dengan LKS sehingga kumpulan soal latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok.
Langkah ke 4 : Siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas
Aktifitas : Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual atau kelompok didepan kelas.
Langkah ke 5 : Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
Aktifitas : Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil pemecahan masalah yang telah mereka diskusikan.

Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran Think Pair and Share adalah:
  1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
  3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
  4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
  5. Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
  6. Guru memberi kesimpulan
  7. Penutup
Menurut Spencer Kagan ( dalam Maesuri, 2002:37) manfaat Think Pair and Share adalah:
1. Para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think Pair and Share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik, dan
2. Para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think Pair and Share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.

Kelebihan Think Pair and Share :
1.      Para siswa dapat belajar antara satu sama lain
2.      Siswa bertanggung jawab untuk berbagi ide. Siswa mungkin juga akan diminta untuk berbagi ide-ide pasangan pasangan lain atau seluruh kelompok.
3.      Setiap siswa dalam kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi. Ada kemungkinan bahwa seorang siswa dapat mencoba untuk mendominasi. Guru dapat memeriksa hal ini tidak terjadi.
4.      Tinggi derajat interaksi. Pada satu saat semua siswa akan secara aktif terlibat dalam tujuan berbicara dan mendengarkan. Bandingkan dengan praktek yang biasanya, guru bertanya di mana hanya satu atau dua siswa akan secara aktif terlibat.
5.      Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2004:57).
Kegiatan “berpikir-berpasaangan-berbagi” dalam model Think Pair and Share memberikan keuntungan. Siswa secara individu dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time), Sehingga kualitas jawaban juga dapat meningkat. Menurut Jones (2002), akuntabilitas berkembang karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya, kemudian pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa jarang atau bahkan tidak pernah berbicara didepan kelas paling tidak memberikan ide atau jawaban karena pasangannya.
Format tugas diskusi berpasangan sebagai berikut :
Nama Siswa                :
Nama Pasangan           :
Tanggal                       :
Question or Prompt
What I Thought
What My Partner Thought
What We Will Share

















B. Contoh Materi yang sesuai
Kelas 5 (Benda dan Sifatnya)
Perubahan Wujud Benda
Wujud benda dapat dibedakan menjadi benda padat, benda cair, benda gas, dan selain itu juga ada proses perubahan benda. Misalnya :
1.      Melarut Dalam Air
Melarut merupakan proses bercampur dengan zat lain secara merata. Misalnya gula pasir dilarutkan dalan air dan dalam proses melarut biasanya terjadi perubahan wujud warna dan rasa.
2.      Pembakaran Benda
Dalam proses pembakaran dapat menghasilkan zat baru. Misalnya kertas yang dibakar berubah warna menjadi hitam dan bentuknya menjadi hancur yaitu menjadi abu.
3.      Perubahan Wujud Sementara
Perubahan wujud sementara adalah perubahan yang dapat bolak-balik. Misalnya es yang dipanaskan berubah menjadi cair dan jika didinginkan air tersebut kembali menjadi es. Jadi pemanasan dan pendinginan dapat menyebabkan perubahan wujud benda.
C. Alasan
Kelompok kami mengambil materi tentang perubahan wujud benda karena materi tersebut cocok dengan metode think pair and share, siswa lebih banyak melakukan tugas kelompok dan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang lebih tepat dan menarik, dimana siswa dapat belajar secara kooperatif, dapat bertanya meskipun tidak pada guru secara langsung, dan mengemukakan pendapat.
Tahap “berpikir“ dalam pembelajran think pair and share merupakan langkan awal yang baik untuk memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran selanjutnya. Selain itu, dala tahap ini siswa diberi kesempatan untuk menentukan sendiri jawaban dan permasalahan yang disampaikan oleh guru dan menuliskan hasil pemikiran masing-masing sehingga kemampuan berpikir individu turut berkembang. Langkah ini lebih efektif daripada guru menyampaikan suatu permasalahan atau pertanyaan, kemudian menanyakan jawabannya kepada siswa satu persatu dalam kegiatan selanjutnya yaitu berdiskusi dengan pasangannya, siswa yang tidak atau jarang berbicara di depan kelas sekurang-kurangnya mengemukakan ide kepada pasangannya.   

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger