Selasa, 03 Mei 2011

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) DAN MODEL PEMBELAJARAN ROLE-PLAYING

Kooperatif  terpadu membaca dan menulis

CIRC merupakan program yang komprehensif untuk mengajari pembelajaran membaca, menulis dan seni berbahasa pada kelas yang lebih tinggi di sekolah dasar.
Unsur-unsur dari tipe CIRC ini adalah sebagai berikut :
1)      Kelompok membaca, siswa dibagi berdasarkan tingkat kemampuan membaca.
2)      Tim, siswa dibagi dalam pasangan-pasangan dalam kelompok membaca mereka.
3)      Kegiatan- kegiatan yang berhubungan dengan  cerita, (membaca berpasangan, menulis cerita, mengungkapkan kata-kata dengan keras, makna kata, menceritakan kembali, ejaan).
4)      Pemeriksaan oleh pasangan.
5)      Tes, siswa diberi tes pemahaman tentang cerita.


LANGKAH-LANGKAH CIRC
1)      Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
2)      Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
3)      Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi  tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis dalam lembar kerja
4)      Mempresentasikan/membaca hasil kelompok
5)      Guru membuat kesimpulan
6)      Penutup


MATERI  DAN  ALASAN

Materi yang kami sajikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (CIRC) ini, yakni tentang “lingkungan Alam”. Pentingnya pelestarian makhluk hidup dari kepunahan. Dari tema tersebut kami dapatkan suatu artikel disurat kabar Kompas, edisi senin,15 Oktober 2009. Sebagai bahan kliping yang akan dilaksanakan. Dengan mengacu pada asumsi bahwa : Apabila kelestarian makhluk hidup tidak dijaga mulai saat ini, hewan dan tumbuhan dapat punah. Anak cucu kita tentu sangat rugi karena tidak dapat mengenal hewan dan tumbuhan itu.
Materi ini diambil dari buku paket sains SD kelas 6 pada bab 4 tentang Pelestarian makhluk hidup. Terdapat pada halaman 71 (erlangga).

ALASAN:
a.       Peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat
b.      Memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik, khususnya dalam membaca dan menulis.
c.       Belajar akan lebih baik jika peserta didik terlibat secara aktif dalam kelompok.
d.     Meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain.
e.      Merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan.

Hal-hal yang kami gunakan dalam materi tentang pelestarian makhluk hidup ini mengacu pada :
a.       Strategi pembelajaran kooperatif (Cooperative learning)
Rangkaian  kegiatan belajar yang dilakukan siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
b.      Metode kerja kelompok
Sagala(2006), cara pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok,dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pembelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama.
c.       Media berbasis cetakan
Meliputi bahan-bahan yang disiapkan diatas kertas untuk pengajaran dan informasi.


ROLE-PLAYING

Role-playing adalah suatu aktivitas pembelajaran terencana yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang spesifik. Bahwa problem yang akan dikerjakan mambawa pada eksplorasi yang bersifat praktis.
Dalam Role-playing, peserta melakukan  tawar- menawar antara ekspektasi-ekspektasi sosial suatu peran-peran tertentu, interpretasi dinamik mereka tentang peran tersebut dan tingkat dimana orang lain menerima pandangan mereka tentang peran tersebut.

DALAM PROSES ROLE-PLAYING PESERTA DIMINTA UNTUK :
·       Mengandaikan suatu peran khusus, apakah sebagai mereka sendiri atau sebagai orang lain.
·     Masuk dalam suatu situasi yang bersifat simulasi atau scenario, yang berdasar dipilih berdasar relevansi dengan pengetahuan yang sedang dipelajari peserta atau  materi kurikulum.
·     Bertindak persis sebagaimana pandangan mereka terhadap orang yang diperankan dalam situasi-situasi tertentu ini, dengan menyepakati untuk bertindak. “seolah-olah” peran-peran tersebut adalah peran-peran mereka sendiri (jones,1980). Dan bertindak berdasar asumsi tersebut (Milroy,1982).
·       Menggunakan pengalaman-pengalaman peran yang sama pada masa lalu untuk mengisi apa yang hilang dalam suatu peran singkat yang ditentukan (low dan lewis, 1994).


ROLE-PLAYING digunakan dikelas untuk dapat membuktikan diri sebagai suatu media pendidikan yang ampuh,dimana saja terdapat peran-peran yang dapat didefinisikan dengan jelas, yang memiliki interaksi yang mungkin di eksplorasi dalam keadaan yang bersifat  simulasi/skenario.

Langkah – Langkah Role Playing
  1. Guru menyusun atau menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
  2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum KBM.
  3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang.
  4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
  5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.
  6. Masing – masing siswa duduk dikelompoknya, masing-masing  sambil memperhatikan,mengamati skenario yang sedang diperagakan.
  7. Setelah selesai dipentaskan ,masing-masing  siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas.
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
  9.  Guru memberikan kesimpulan secara umum.
  10. Evaluasi.
  11. Penutup.



Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh guru sebelum masuk kelas dan memulai Role Playing ,yakni :
1.      Mengenal Peserta Didik
Pastikan jumlah murid ,agar ruangan  yang digunakan dapat menampung semua murid  .sesuaikan peran yang diberikan dengan tingkatan umur anak.Membina kerjasama dan kemampuan anak dalam berkolaborasi,untuk dapat mengetahui sejauh mana minat dan kemampuan peserta didik sesuai dengan materi yang akan diperankan dalam Role Playing.
2.      Menentukan  Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran untuk memudahkan guru dalam mencapai
Pembelajaran yang diharapkan.
3.      Kapan menggunakan Role-playing
Pada saat akan menggunakan strategi ini, buatlah beberapa pertanyaan yang kemudian dapat anda jawab sendiri. Contoh :
·         Bergunakah problem khusus ini bila dieksplorasi dengan Role-playing?
·         Adakah peran-peran dan skenario yang jelas dapat dieksplorasi peserta didik?
4.      Mengidentifikasi skenario
Skenario memberi  informasi tentang apa yang harus diketahui peserta didik sebagai pemegang peran serta informasi tentang sudut mana yang harus mereka masuki dalam gambaran tersebut.
5.      Menempatkan peran
Pemilihan peran tergantung pada skenario yang dibuat tentang masalah yang ingin ditampilkan pada peserta didik.
6.      Guru berpartisipasi sebagai pemeran atau mengamati saja, serta bertindak sebagai pengatur waktu.
7.      Merencanakan waktu yang baik
8.      Mengumpulkan sumber informasi yang relevan.

MATERI DAN ALASAN
Materi yang kami anggap cocok  untuk penerapan model  pembelajaran ini, yakni tema tentang “Hemat Energi”.Materi ini tidak begitu jauh dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Dengan memahami pentingnya penghematan energy,dapat dibuat semacam skenario/dialog dalam keseharian yang  menekankan penghematan energi dirumah dapat membantu mengurangi pengeluaran keluarga. Jadi, uang yang tersisa dapat digunakan untuk membeli kebutuhan lainnya.
Dari hal tersebut dapat dibuat suatu skenario yang dapat  memperkuat kemampuan berbahasa dan pengetahuan anak tentang betapa pentingnya energy. Sehingga mereka menghargai kegunaan energi  tersebut dan menggunakan seperlunya. Dengan  menghemat penggunaan energy, sumber energy bumi tidak cepat habis, dapat mengurangi biaya dan mengurangi polusi.
Materi ini diambil dari buku paket sains SD kelas 6  pada Bab 8 dengan judul Penghematan Energi. Terdapat pada halaman 141 (penerbit: Erlangga).
Alasan mengapa guru/ pengajar perlu melibatkan peserta didiknya dalam Role-Playing,sebab:
·         Mendemonstrasikan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang diperoleh.
·         Membandingkan dan mengkontraskan posisi/peran yang diambil dalam pokok permasalahan.
·         Menerapkan pengetahuan pada pemecahan masalah
·         Menjadikan problem yang abstrak jadi konkrit
·         Mendorong pembelajaran seumur hidup.

Hal-hal yang kami gunakan dalam materi tentang hemat Energi ini mengacu pada:
a.       Pendekatan berbasis isu (Issue-Based Approach)
Dimana pemain secara akatif mengeksplorasi suatu isu dengan mengandaikan peran-peran dari manusia dalam kehidupan yang sesungguhnya yang berselisih satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan yang dilandasi seperangkat kepentingan-kepentingan pribadi yang jelas. Dengan mempertengkarkan peran-peran dalam pendekatan berbasis isu, peserta didik ditempatkan pada suatu posisi dimana mereka dapat”menjelaskan apa yang menjadi kepercayaan bagi pihak lain”.(Mlroy,1982).

b.      Metode simulasi
Diharapkan dengan metode simulasi ini anak akan memperoleh pemahaman akan konsep yang disimulasikan dari proses kegiatannya mereka dapat menguasai suatu keterampilan sebagai bekal mereka dalam kehidupannya. Metode ini memungkinkan siswa aktif belajar menghayati, memahami dam memperoleh ketermpilan tertentu tanpa memerlukan obyek atau situasi yang sebenarnya yang umumnya susah didapatkan.
c.       Media berbasis  manusia
dengan menggunakan audio-visual melalui pandangan dan pendengaran. Media manusia dapat mengarahkan dan mempengaruhi proses belajar melalui eksplorasi terbimbing dengan menganalisis dari waktu ke waktu. Apa yang terjadi pada lingkungan belajar?.  Dalam role-playing ini kami menyiapkan sebuah skenario /dialog antar murid yang berhubungan dengan hemat energy.
d.      Strategi heuristik
Strategi ini menghendaki siswa untuk terlibat aktif dalam proses pengolahan pesan-pesan belajar. Peran guru: menciptakan suasana berpikir sehingga murid berani bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger