Minggu, 01 Mei 2011

Jangan Pergi, Teta! By. Aan Almaidah Anwar

Kertas absensi bergulir lambat. Tinggal sederet lagi. Yoga menanti tak sabar. Diperhatikannya satu per satu, hingga matanya sampai ke seseorang yang tengah duduk di sebelahnya. Sejak kuliah dimulai sampai detik ini, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan dari orang di sebelahnya. Dengan mata yang lurus ke arah dosen, ia tampak begitu tenang tanpa ekspresi - dan tidak menunjukkan setitik semangat dalam mengikuti kuliah. Hal ini tidak hanya sekali-dua diperhatikan Yoga, namun sejak kuliah tahun ajaran dimulai! Tanpa disadari, Yoga merasa sangat tertarik pada teman kuliahnya yang misterius ini.

Absensi bergerak dari sisi kanannya. Tanpa melirik pun Yoga sadar, bahwa kini gilirannya. Namun dengan kemampuan akting yang luar biasa, matanya tetap tertuju ke depan, seolah begitu antusias mengikuti pembicaraan dosen. Dan, tanpa menoleh, Yoga mengerti betapa gelisahnya gadis di sebelah melihat kertas absensi yang dia sodorkan hanya melambai di udara.
"Kamu...." Hanya itu yang terucap.
"Oh!" Yoga pura-pura tersentak. Bergegas disambarnya kertas tersebut. Tanpa perlu meneliti lebih lanjut, sebaris nama di atas baris kosong baginya terekam jelas, Teta R. Hanya itu.
Selesai membubuhkan tanda tangan, dialihkannya kertas absensi itu ke samping kiri. Kemudian dia menoleh hati-hati.
"Namu kamu Teta, ya?"
Reaksi gadis itu terlihat begitu aneh. Wajahnya memerah, pias, dan gelisah! mata yang tadinya tidak beralih dari depan ruangan, kini menatap Yoga pelan-pelan, lantas berpaling kikuk. Terasa ada sesuatu menyelubungi wajahnya.
"Nama saya Yogaswara." Yoga menngulurkan tangan dengan ramah. Perasaannya kian mendesak untuk mengenal gadis itu lebih mendalam. Dia semakin tidak mampu membendung keheranan kala tangan mereka berpadu. Tangan gadis itu terasa dingin.
Yoga mengangkat wajahnya, cemas. "Kamu sakit, ya? Kalau sakit, saya antar pulang."
"Tidak," suaranya nyaris tenggelam. Gadis itu menarik tangannya cepat-cepat, lantas memalingkan wajahnya kembali pada posisi semula.
Ketika mata kuliah kedua dimulai, Yoga menemukan bangku di sebelahnya telah tak berpenghuni.

***

Beberapa hari setelah itu, seraut wajah gugup yang pernah dikenalnya, nyaris menghilang. Yoga sendiri hampir lupa bahwa ia pernah berkenalan dengan Teta R - gadis yang menurut informasi lebih suka mengucilkan diri dan terkucil. Kesibukannya sebagai ketua kelompok, praktis menambah beban dan tanggung jawabnya di luar jam kuliah. Di lain pihak, cucu Hawa kenalannya kian hari kian tak terhitung. Siapa yang tidak kenal Yogaswara di kelompok mereka?
Yoga menepi sesaat, memberi jalan pada anak Sosek yang akan keluar dari ruangan yang mereka tempati sesudahnya. Kalau tidak ada yang mengalah demikian, pasti tubuh mereka saling terhimpit satu sama lain di mulut pintu.
Sudah banyak kursi yang terisi. Beberapa anak yang baru masuk saling berebut kursi di tempat-tempat strategis. Ada juga yang berteriak memesan tempat kepada temannya yang telah duduk terlebih dahulu. Dengan tenang, Yoga menyusuri bagian pinggir ruangan, di sisi tembok. Dan tanpa ragu mengempaskan dirinya di sebuah kursi, agak menyudut.
Tiga menit berlalu, dosen belum juga masuk ruangan. Yoga masih sibuk mengedarkan pandang ke sekitar. sebelum terpaku ke arah pintu masuk. Seorang gadis melangkah masuk sedikit tergesa, lantas meneliti barisan bangku dengan wajah tertunduk. Rambut ikalnya bergerak manja saat dia menuju kursi kosong di sudut, tepat di depan tempat duduk Yoga!
Yoga menatap dari belakang. Celana panjang putih yang membalut kakinya tampak serasi dengan kaus grandslam putih di bagian atas. Bukan main! Agaknya dia mulai mengerti bahwa Teta bukan berasal dari kelas menengah. Buktinya....
Namun mengapa sikapnya tidak membuktikan hal yang sama?
Tepat di saat kuliah berakhir, Yoga mengambil inisiatif nekad. Tiba-tiba saja perasaan itu muncul kembali. Dia ingin mengenal siapa Teta sebenarnya. Dan keputusan itu segera dilakukannya ketika mereka keluar ruangan berdesakan. Yoga menyelinap gesit, memburu warna putih-putih di depannya.
"Yog!" Isa menghadangnya di depan pintu keluar. "Bagaimana informasi tentang vokal grup...?"
"Nanti saja," sela Yoga tergesa. "Lima menit lagi aku kembali, ada urusan penting!" Lantas langkahnya pun seolah melayang.
Yoga terpaku di ujung jalan kecil. Hanya ada tiga rumah di sisi jalan tersebut; dan jelas dilihatnya Teta menghilang di balik pagar tinggi sebuah rumah megah. Bukan main! Keningnya berkerut sedikit. Dia tidak salah menebak, Teta pasti anak orang kaya. Masih terekam dua mobil keluaran terbaru di parkir di halaman.
Perlahan Yoga berbalik. Dari belakang punggungnya masih tersengar ramai salak anjing bersahutan.

***

Denting piano mengalun sayup dari dalam. Tidak berapa lama terdengar jeritan manja sebelum alunan nada kian mengeras, lantas berhenti mendadak. Yoga masih berdiri di depan pagar rumah setinggi dagu. Dia mulai jenuh menunggu seperti ini, padahal tadi telah berulang kali dia memperkenalkan diri sebagai teman sekelompok Teta Rosanti, pada gadis kedua yang empunya rumah. Namun, bukannya sambutan ramah yang diterimanya, malah ditegaskan untuk menunggu di luar saja. Di luar halaman, pula!
Ditekannya rasa kesal. Yoga cukup maklum menerima perbuatan semacam itu. Bukankah di abad nuklir ini hanya kecurigaan yang patut disodorkan untuk menyambut kehadiran orang-orang asing?
"Hai!" Mata berbinar itu telah berdiri di balik jeruji pagar. Terdengar bunyi kunci pagar dibuka. Yoga nyaris ternganga. Teta? Walaupun hanya kata 'hai' yang terucap, alangkah hangatnya nada itu dilontarkan! Apakah dia tidak salah dengar?
"Masuk Yog, lama menunggu ya? Sori. Habis, pembantuku tidak kenal kamu, sih. Tumben."
Teta membuka pagar setengah lebar. Yoga menatapnya sejenak sebelum melepas senyum yang diliputi keheranan. Dia tidak habis pikir atas sambutan yang kini diterimanya.
"Ada apa, Yog?" Teta menentang mata Yoga dengan tajam ketika mereka telah duduk berhadapan di kursi rotan di samping halaman. Raut wajahnya sangat tenang, tidak gugup, tidak pias, dan tidak seperti yang pernah dilihat Yoga beberapa waktu lalu di ruang kuliah. Sebelum sempat menjawab, masih didengar Yoga satu pertanyaan yang terasa menyudutkan halus. "Rasanya kita belum pernah tukaran alamat, kan?"
Yoga terpaksa melempar senyum kecut. Tadinya dia ingin mengajak Teta bercakap-cakap dan mengorek keterangan mengapa selama ini gadis itu selalu mengasingkan diri. Tetapi yang dihadapinya sama sekali di luar dugaan! Kali ini Teta tampil di hadapannya dengan kepercayaan diri penuh! Lantas, apa yang harus dijawab?
Perlahan dia mengumpulkan kekuatan.
"Saya... ingin mengajakmu bergabung dalam vokal grup kelompok. Teta kan pintar main...." Yoga menggerakkan sesepuluh jemari tangannya di udara.
"Dari mana Yoga tahu saya bisa main piano?"
"Lho, tadi saya dengar...."
"Berarti itu bukan alasan utama!" sanggah Teta cepat. Lagi-lagi bibirnya mengukir senyum datar. Yoga terhenyak sesaat. Cerdik juga gadis ini! Dia tahu bahwa itu hanyalah alasan yang dibuat-buat. Yoga berpikir sejenak, sebelum memutuskan untuk berkata sejujurnya.
"Saya... saya hanya ingin mengenalmu, Teta. Saya ingin berteman denganmu."
"Yog, jadi kamu prihatin melihat nasib saya di kampus yang tanpa teman itu? Saya tidak butuh perhatian kalau demikian. Walaupun saya menjadi temanmu, tetapi apa yang kamu dapatkan dari saya? Tidak akan ada, Yog!"
Garis wajah di hadapannya berubah mengeras selesai mengucapkan kalimat terakhir. Yoga menelan ludah sesaat. Padahal gadis ini mempunyai banyak kelebihan dibanding yang lain, bisik batinnya seraya mengamati wajah di depannya.
"Mungkin bagimu demikian, tetapi tidak untuk saya. Bagi saya, Teta, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Jadi, makna persahabatan tidak lain untuk saling mengisi dan memberi." Perlahan Yoga bangkit. "Maaf, saya mengganggu waktumu. Barangkali sekarang kamu belum percaya atas itikad saya ini."
Teta hanya membisu. Dia turut beranjak mengantarkan Yoga hingga ke batas pagar. Ketika menutup pintu pagar, Yoga masih sempat membalik. Dilihatnya tatapan Teta mengarah padanya, tanpa makna.

***

Yoga menebar senyum samar ke sekeliling, di mana wajah-wajah tegang telah menantinya sejak lama. Hari ini hasil ujian. Matematika dibagikan. Sebagai ketua kelompok, dia diserahi tanggung jawab dalam membagikan kertas-kertas ujian teman sekelompok oleh dosen yang bersangkutan. Tiba-tiba matanya terpaku pada seseorang di tengah ruangan. Teta. Bibir gadis itu terlihat pucat, tergigit. Wajahnya kelabu. Yoga menatap khawatir. Sakitkah dia? Sebelum sempat berpikir lama, suara-suara lain bergemuruh di ruangan.
"Cepat sedikit, Yog! Jangan membuat orang panik!"
"Alaaa, Yog! Apa sih yang kamu tunggu?"
"Yoga! Cepat bagikan, dong!"
"Tenang, tenang." Yoga menepis semua pertanyaan di hatinya. Perlahan diejannya nama-nama yang tercantum di pojok kanan hasil ujian. Nama orang yang dipanggil melangkah maju. Ada yang tersenyum setelah melihat hasil ujiannya, ada yang menutup muka sesaat lantas berlalu dengan pasrah, ada juga yang acuh tak acuh.
"Teta... Rosanti...," eja Yoga perlahan. Namun, detik itu pula, ia terkesima melihat kertas ujian di tangannya. Di saat keningnya berkerut tak percaya, sebuah hentakan kasar telah menyambar kertas ujian di tangannya. Sepasang mata berbinar marah menerjang matanya, sebelum pergi dengan langkah tak terkontrol.
Dari sudut mata, Yoga melihat gerak-gerik Teta setelah mengambil tempat kembali. Wajahnya berganti warna. Kelabu, merah, pucat, tetapi tidak terlihat tanda-tanda akan menangis. Gadis itu menunduk seraya menggigit bibir seperti tadi. Yoga membacakan nama-nama selanjutnya agak tergesa. Tidak dipedulikannya beberapa temannya yang menggerutu di kiri-kanannya setelah melihat hasil ujian mereka.
"Protes ke dosen saja!" saran Yoga seraya meloncati tangga tribun kelas. Matanya menyelidik gelisah. Teman-teman yang tengah berdiri dari kursi masing-masing menuju pintu keluar menghalangi pandangannya.
Di halaman kampus, Yoga menatap jalan kecil tempat Teta biasa lewat. Meskipun berlari Teta melewati jalan itu tadi, pasti masih bisa terkejar olehnya. Dan pasti dia tidak melewati tempat ini, batin Yoga. Sesaat dia membalik, lantas melangkah menuju taman kampus. Sesampai di sana berulang kali dia mengedarkan pandang, namun bayang Teta tak terekam.
Perlahan Yoga melangkah. Teta benar-benar menghilang. Dalam waktu sekian detik, gadis itu lolos dari matanya. Apakah dia malu? Tetapi, mengapa dia harus marah?
Nyaris putus asa Yoga memutuskan untuk kembali. Tidak ada gunanya menunggu Teta berlama-lama, pikirnya. Mudah-mudahan saja mereka masih bisa bertemu jika kuliah nanti. Dan mudah-mudahan saja Teta masih bersedia diajak bicara.
Mendadak langkah Yoga terhenti. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dekat pintu gerbang kampus, di sisi pohon tua berumur ratusan tahun, seseorang tengah duduk diam. Teta!
"Kamu...," hanya itu yang terucap. Yoga mendekat dan jongkok tepat di depan gadis itu.
Teta buru-buru memalingkan wajah. Dari samping masih terlihat tanda air mengering di pipinya.
"Kenapa menangis, Teta? Ini baru ujian pertama. Masih ada waktu untuk memperbaikinya."
"Kamu pasti akan menghina saya!" tiba-tiba gadis itu meledak. Bibirnya bergetar hebat, sehebat dia menggigitnya. "Semua orang akan menghina saya! Karena saya tidak seperti Teta yang dulu, yang bisa jadi juara! Padahal mereka mengharapkan saya terlalu banyak. Saya tidak bisa! Saya tidak bisa!" Bahunya berguncang keras. Aliran kristal di pipinya kian menderas.
Yoga menatap kaku. Dia semakin tidak mengerti. Perasaan simpati mendorong tangannya terulur ke depan, namun segera ditarik kembali. Yoga juga tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka, walaupun sungguh di dasar hati dia sangat ingin menghibur gadis itu. Tetapi, bagaimana caranya?
"Saya tidak menghina kamu," ujarnya pelan. "Kamu percaya masih banyak teman kita yang mendapatkan nilai rendah? Bukan kamu saja! Jangan down begitu, Teta. Pergunakan waktu yang ada untuk membangkitkan semangat belajarmu."
"Tetapi saya tidak bisa," desis Teta menggigil. "Saya tidak bisa, Yog! Saya sudah berusaha, sudah belajar. Nyatanya, hasil saya...." Kepalanya terkulai kembali. Hening sejenak. "Saya tidak pernah bisa membahagiakan mereka," sambungnya lirih.
Mereka? Yoga berpikir sejenak. Terdengar bunyi gemerisik di sebelah. Teta telah bangkit. Yoga turut beranjak. Ditatapnya Teta dalam-dalam.
"Saya tidak mengerti, Teta," akunya jujur. "Seandainya kamu bisa menjelaskan sedikit, mengapa kamu bersikeras tidak bisa? Padahal untuk hidup diperlukan tekad dan usaha."
Kali ini, entah untuk keberapa kali, mata mereka beradu. Teta menggeleng berkali-kali. Di bibirnya terpampang senyum giris. Di balik balur matanya yang sembab, tersimpan berjuta teka-teki. Dan Yoga hanya mampu menghela napas panjang saat Teta meninggalkannya perlahan-lahan.
Di hatinya tersembul tanda tanya besar. Teta, siapakah kamu sebenarnya?

***

Yoga menarik napas kesal ketika melihat darah yang mengucur semakin deras. Mengapa Teta harus berlari saat melihatnya? Bukankah dia bukan hantu? Dan mengapa di saat menyeberang jalan dia lupa melihat sekeliling? Akibatnya hantaman sepeda motor tadi membuatnya terpelanting, nyeri, dan darah pun keluar. Yoga mencoba bangkit. Ufh, sakit!
"Yog," nada cemas terkandung di dalamnya, "Kamu sakit?"
Pertanyaan bodoh! Yoga memutar tubuhnya keras-keras.
"Kamu... marah?" tanya gadis itu, lemah.
"Kamu pikir saya ini hantu, ya?! Atau, kamu pikir saya naksir kamu, sehingga mau-maunya mengejar kamu sampai ke rumah?! Jangan sombong, Teta! Jangan mengira karena berpuluh penghargaan yang kamu terima sebagai pianis muda terhebat di kota ini, lantas semua cowok harus menaruh simpati padamu!"
"Yoga!"
"Dan jangan mengira dengan satu kehebatan kamu berhasil mengarungi kehidupan? Kamu hebat, Teta. Tapi juga sombong, dan lemah! Mengapa kamu sering bolos? Mengapa takut melihat saya? Karena takut kekurangan-kekuranganmu pada bidang akademis diketahui orang? Kamu sama sekali tidak fair!"
Sepasang mata di depannya seketika berubah redup. Yoga sama sekali tidak mengira buah dari kalimatnya mengakibatkan Teta bergetar hebat. Dengan bahu berguncang keras, gadis itu berbalik, berlari kencang menyusuri jalan kecil menuju rumahnya. Yoga tertunduk, berjalan terpincang-pincang menuju klinik kampus.
Dari Mei yang kos di rumah Teta, anak kelompok lain, Yoga berhasil menjaring informasi penting. Dan salah satu yang dianggap Yoga penting adalah tentang kehebatan bakat Teta menarikan jemarinya di atas tuts piano, serta keinginan kuatnya untuk melanjutkan sekolah musi di luar negeri.
"Mengapa Teta tidak pergi saja?"
"Dilarang keluarga, karena mereka beranggapan kehidupan tanpa gelar itu sulit di zaman sekarang."
Yoga merenung. Terngiang kembali kata-kata Teta saat mengucapkan 'tidak bisa' disertai raut wajah pias ketika nilai ujuannya jatuh. Jadi, inikah?!
Sayang, ketika dia hendak menanyakan langsung, Teta malah menghindar. Dan ketika dia mencoba mengejar, hasilnya: luka dalam di kaki kanannya!

***

Yoga menghunjamkan mata ke pintu masuk. Untuk yang kesekian kali dia terpaksa menahan napas kecewa. Kecemasan merayap di dasar hatinya. hampir dua minggu berjalan, penantiannya tetap tidak membuahkan hasil! keinginannya utnuk menemui Teta langsung di rumah, berhasil ditahan sekuat tenaga - ketika Mei menyebarkan berita itu saat ditemuinya.
"Jangan diganggu deh, Yog. Kayaknya Teta banyak masalah. Yah, kalau tidak suka kuliah di sini, kenapa maksain diri, ya?"
Yoga masih mencoba menelusuri pintu masuk. Jangan-jangan Teta terlambat.... Namun, hingga dosen memasuki ruangan, raut pucat yang memiliki kekuatan tersembuyi di baliknya, tetap tak terlihat.
Embusan napasnya terdengar berat. Perasaan aneh itu menggigit kembali. Ah, seandainya Teta mengerti. Mengapa Teta harus merasa sendiri? Mengapa tidak mempercayai persahabatan yang ditawarkan orang terhadapnya, termasuk dari dia sendiri, dari Yogaswara?

***

Yoga meniti jalan berkerikil itu dengan hati-hati. Langkahnya seolah tak bersemangat.
"Yoga!"
Dadanya bagaikan tersengat. Diputarnya tubuh seketika. Tetapi bukan Teta yang datang. Harapannya seolah terempas. Dia pikir, Teta....
"Ada apa, Mei?"
"Ada surat dari Teta," Mei memandangnya sekilas.
"Sudah boleh ke rumahnya?" Yoga memandang penuh harap. Mei terlihat ragu. Diangkatnya wajah.
"Baca saja sendiri. Yuk, aku duluan! Ada kuliah Biologi!" sahutnya tergesa, sebelum bergegas menjauh. Yoga mengernitkan dahi. Pandangannya jatuh pada sepucuk surat beramplop putih di tangannya. Sekali lagi matanya menatap curiga ke arah Mei yang menirus dari pandangannya.

Terima kasih, Yoga. Kamulah orang pertama yang menyadarkan saya, bahwa seseorang harus mengambil keputusan berat dalam memilih jalan hidupnya, untuk lebih mengenal dirinya. Tadinya saya kira dengan berkata 'ya' dan mengalah, saya mampu membahagiakan keluarga yang sangat menyayangi saya.
Dulu saya selalu merasa tidak akan sanggup membalas kasih sayang keluarga yang terlalu berlimpah. Di samping itu, saya berpendapat untuk apa membantah jika hanya akan membuat kelurga - mereka, orang-orang tercinta itu - kecewa dan sakit hati. Bukankah leukemia yang akan menggiring saya semakin dekat pada gerbang kehidupan? Maka, saya pun kuliah di sini, walaupun tiap kuliah pikiran saya melayang dan terbang.
Lantas, saya merasa tersudutkan sendiri, Yoga. Saya merasa beban itu diperuntukkan hanya untuk saya. Bayang kegagalan selalu menghantui saya. Di lain pihak, sakit yang bertambah, menjadikan rasa aman dalam hati saya, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk tidak hadir di ruang kuliah.
Bila sekarang kamu bertanya mengapa saya pergi juga memperdalam sekolah musik dan meninggalkan kuliah; jawabnya, karena kehadiran kamu! Saya mengerti, seseorang tidak baik bersikap setengah-setengah di dalam menerjuni sesuatu. Tetapi saya berhasrat mengisi akhir hidup saya dengan sesuatu yang lebih berarti.
Doakan, jika kembali nanti, saya telah menjadi orang berhasil. Itu pun jika saya diperkenankan kembali oleh-Nya.
Sungguh, Yoga, saya tidak akan mampu melupakanmu.

Teta R

Yoga terdiam, lama. Mendadak saja kamar di rumah kosnya itu menjadi sempit, menyesakkan. Seandainya saja dia bisa mencegah kepergian Teta, dan menyarankan agar Teta memperdalam musik setelah dia selesai mencapai gelar....
Namun segalanya telah terlambat!
Teta pergi setelah menemukan wujud kepribadiannya sendiri dalam berkata 'tidak'. Yoga mengerti, amat sangat mengerti, hal itu dilakukan Teta karena gadis itu tidak bisa menunggu lebih lama.
Perasaan itu kembali bergulir di hatinya. Sakit, dan kecewa. Seandainya Teta sadar bahwa tujuannya mendekati Teta selain membantu menemukan keseimbangan, juga untuk membantunya dalam bidang akademis....
Sekarang, dia benar-benar merasa kehilangan. Mengapa harus pergi, Teta?

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger