Sabtu, 30 April 2011

Surat Untuk Saka By. Lan Fang

Bulan dan matahari adalah pasangan abadi yang selalu hadir pada saat yang berbeda.
Mereka tidak pernah sepaham, datang dan pergi pada saat yang berbeda pula.
Namun serupa cinta yang tulus, mereka selalu hadir untuk menerangi gulita dengan sinarnya yang benderang.
(Effendy Wongso)


Ini mungkin sangat jadul. Kuno. Pada zaman yang segalanya serba mudah dan cepat ini, aku masih ngebela-belain menulis surat untukmu. Padahal komputer ada di mana-mana. Kabel telepon tinggal dihubungkan ke laptop. Warnet pun bertebaran dari tengah kota sampai pojok kampung. Tinggal ketik e-mail dan send, maka hanya sepersekian detik kau pasti sudah menerima suratku ini. 
Atau aku memencet tombol-tombol di telepon selularku saja. 
Ak sdg kgen pdmu 1 jt x!! 
sent to: sakai 
081535818xx 
02.11.2007 
15.48.52 
Dan aku tidak perlu menunggu sekian menit, sekian jam, sekian hari, sekian bulan, seperti selayaknya menunggu sepucuk suratmu seperti saat kita remaja dulu. Tidak perlu menunggu Pak Pos yang berkata, "Surat dari pacar ya? Sudah ditunggu-tunggu, ya?" 
Sudah jelas dengan ia menebar senyum menggoda sambil menahan amplop yang sudah tidak sabar hendak kubuka. Lalu dengan tergesa, aku harus menyobek pinggir amplop dengan hati-hati agar lembar kertas suratmu tidak ikut sobek, barulah aku bisa membaca kabar darimu. Ah, tepatnya membaca cerita darimu. 
Bukankah kau seorang tukang cerita, Sakai? 
Dan tahukah kau, setelah itu, lembar-lembar ceritamu selalu kukumpulkan. Kusisipkan di halaman-halaman buku harianku. Juga kuselipkan di helai-helai ingatanku. Karena aku selalu suka dengan cerita-ceritamu. Ceritamu selalu membuatku merasa jadi gadis paling cantik di dunia. Gadis yang paling kau rindukan. 
Padahal bukankah kita belum pernah bertemu, Sakai? 
"Kita sudah pernah bertemu. Aku sudah mengenalmu di kehidupan sebelum ini," begitu tulismu di suratmu yang berikutnya waktu itu. 
Surat yang kuyakini bahwa aku juga mempunyai rindu yang sama. Rindu yang sudah kita punyai sejak kehidupan sebelum ini. 
"Ini hanya masalah waktu, mana yang datang lebih dahulu. Cuma itu," sergahmu menegaskan. 
Jadi sekarang aku pun tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menunggu balasanmu. Hanya dalam sekian detik, telepon selularku menerima pesan darimu. 


Sms tadi kau kirimkan kepada berapa orang? Aku yang ke berapa? 
Sent by: sakai 
081535818xx 
13.11.2007 
15.49.03 


Aku langsung membalasnya. 


Hya utkmu. Cma km. Km saja. Km. Titik! 
Sent to: sakai 
081535818xx 
13.11.2007 
15.49.05 


Tapi kau tak percaya. Kau memberikan jawaban yang mengecewakan. 


Nah, sms yang ini sudah kau kirimkan ke berapa orang? Aku yang ke berapa? 
Sent by: sakai 
081535818xx 
13.11.2007 
15.49.07 
 Lalu bagaimana aku bisa membuatmu percaya, Sakai? 
Akhirnya kuputuskan untuk menulis surat ini untukmu. Surat yang kutulis dengan tulisan tanganku sendiri. Jadi tidak mungkin aku mengirim surat yang sama dengan tulisan tanganku kepada beberapa orang, bukan? Surat ini juga akan kukirimkan padamu melalui kantor pos. Biar suara Pak Pos saja yang mengabarkan ada rindu yang datang dari masa lalu. Kita akan jadi remaja lagi seperti dulu yang cuma tahu cinta bewarna merah jambu. 
Jadi surat ini hanya untukmu. Cuma kamu. Kamu saja. Kamu. Titik! 
Sekarang percayakah kau padaku, Sakai? 
Ternyata waktu sangat ajaib. Mendadak saja Ia mempertemukan kita di sebuah kongres cerpen di Banjarmasin. Kau datang dari Sumatera. Aku berangkat dari Jawa. Dan di Kalimantan, rindu masa lalu itu bertemu. Apakah ada yang lebih menakjubkan dari itu? Bukankah benar-benar seperti sebuah cerita pendek yang sering kau tulis dahulu? Cerita yang tidak pernah kulupa. Tetapi ketika kita bertatap mata, sudah jelas bukan sekadar cerita. 
"Kamu benar-benar jadul! Kuno! Sok kembali ke masa lalu!" serumu. 
"Masa lalu adalah waktu yang paling jujur," sahutku tak perduli.
Kemudian kita terjebak pada masa lalu yang kembali datang. Kau kembali jadi tukang cerita. Kau bongkar simpul-simpul kenangan yang sudah kutidurkan. Seperti dahulu. Aku selalu suka ceritamu. Kau membuatku merasa menjadi perempuan paling cantik yang kau panggil dari masa lalu. Perempuan yang paling kamu rindu. 
Tapi bagiku, sekarang ada sedikit yang berbeda. Aku memang masih pendengar cerita setiamu. Tetapi sekarang kau bukan lagi pencerita mimpi dan cinta. Kau sudah jadi pencerita luar biasa, sedang aku masih suka dongeng basi tentang hati. 
Kenangan membuat kita terombang ambing di atas gelombang masa lalu. Kita habiskan malam dan siang seperti kisah yang tak ingin berpisah. Dan tidak kusangka sama sekali ternyata kau adalah laki-laki yang sangat lembut. Suaramu seperti bisik rumput. Senyummu seempuk lumut. Ditambah cengkok Melayumu yang terdengar sangat seksi, rasanya rugi jika aku tidak menyimakmu baik-baik. 
Riak Sungai Barito yang kita kunjungi subuh itu pun seperti menyiratkan kelembutanmu. Alunannya tidak seheboh gelombang yang menampar tepian pantai. Tetapi cuma seperti ciuman curi-curi. Riak-riak kecil yang sekadar menempel untuk lalu sejenak kemudian datang lagi... ke tubuh dermaga. 
Saat itu aku terdiam, terpana, terpaku di bibir dermaga. Padahal kau sudah di dek klotok yang akan membawa kita mengarung sungai panjang ini. Kamu mengulurkan tangan untuk membantuku meniti sebilah papan untuk turun ke dek klotok karena badan klotok bergoyang-goyang. Memang bukan digoyang gelombang besar, tetapi bukankah alunan riak kecil walaupun sejenak juga bisa membuat kita tergelincir? Apalagi riak datang silih berganti. Seperti itu riak yang mampir ke hatiku. Riak kecil seperti kecupan bertubi telah melemparkan sebutir rindu jauh yang datang tiba-tiba. Tapi bukan rindu masa lalu. Ini rindu yang akan datang sedang aku berdiri pada masa sekarang. 
Dermaga yang kita hampiri cuma dermaga sederhana. Sebuah dermaga kecil dari susunan kayu-kayu. Tapi cukup bersih dan lapang walaupun warna air di Sungai Barito secokelat kakao. Di tepinya berjajar tiang lampu hias dan beberapa pohon palem yang langsing. Di bibirnya, merapat ujung klotok yang akan membawa penumpang mengelilingi Sungai Barito. Setelah klotok mengarungi ujung ke ujung, maka akan membawa penumpangnya kembali ke dermaga. 
Yah, kembali untuk kembali. 
Sakai, ini membuatku teringat kepada seseorang. Sebelum kita bertemu di Banjarmasin, ada seseorang mengirim e-mail kepadaku. E-mail itu gambar sebuah dermaga yang dipotret dari alam mimpi. Dermaga itu kelihatan luas, rapi, bersih, dan modern. Warna lautnya serupa warna langit. Sampai tidak bisa dibedakan di mana batas bumi. Aku bisa membayangkan iringan lumba-lumba menari di sana . Katanya, suatu saat, ia akan mengajakku untuk mengunjungi dermaga mimpi itu. 
Ia berkata, "Aku suka sekali dengan dermaga. Karena selalu memberi rasa yang meneduhkan. Sesederhana apa pun dermaga tetap sebuah dermaga. Di dermaga, semua yang pergi pasti rindu untuk kembali." 
Kembali untuk kembali, Sakai! 
Sekarang pertanyaan yang kerap kau tanyakan padaku mendadak mampir di hatiku. Kepada siapa sajakah ia mengirimkan gambar dermaga itu? Bukankah tidak sulit hanya mengklik tuts forward? Dan aku perempuan ke berapa yang dikirimi gambar itu? 
Maka setelah kita duduk di buritan klotok, aku tidak mampu menahan jemariku untuk segera memencet tombol-tombol ponselku. Kupikir, aku harus segera menanyakan hal itu kepadanya. Kali ini, aku tidak perlu menggunakan cara jadul dan kuno, seperti yang kupergunakan denganmu. Karena ia laki-laki praktis pada masa datang. Dan pada masa datang, siapa yang cepat maka dialah yang dapat 
Gbar dermaga itu sdh km kirim ke brp org? Ak yg ke brp? 
Sent to: dermaga 
031.709829xx 
27.10.2007 
04.57.12 
Belum ada jawaban. Memang langit masih berwarna abu-abu. Terang belum sempurna. Jadi mungkin ia masih bermimpi tentang dermaga. Apakah aku ada hadir di sana? Tidak bisa kucegah hatiku jadi seperti badan klotok yang terayun-ayun di tengah sungai. Kuharap nanti jawabannya melegakanku. Bukan lega yang pura-pura. 
Kulihat warna subuh sangat teduh. Di langit kita bisa memandang dua bola raksasa berada di posisi berseberangan. Matahari yang akan terbit di sebelah kiri. Bulan yang hampir hilang di sebelah kanan. Dan kita duduk berdampingan. Bersisian menyeruput teh hangat berasa sepat yang sedap. Diam tersihir harum sungai yang asin. 
Di sepanjang sungai, banyak gethek lalu lalang. Mengangkut kelapa, labu, dan semangka. Juga ada yang berjualan kopi, teh, wadai dan nasi. Ada beberapa kapal tanker dengan cerobong mengeluarkan asap bersisipan dengan klotok yang kita tumpangi. Asapnya membuat mataku kelilipan. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu, wajahmu sudah begitu dekat dengan wajahku. Meniupkan embusan untuk mataku yang berkedip-kedip keperihan. Kemudian jemarimu memetik sebuah debu yang mampir di rambutku. 
Aih, hatiku rasanya nyut-nyut, Sakai. 
Belum pernah ada yang semesra itu padaku. 
"Karena kamu bukan perempuan yang mesra," sahutmu ketika kuungkap hal itu dengan terus terang. 
Kurasa kali ini kau keliru. Tidak tahukah kau bahwa aku pecinta yang sempurna? 
"Kau perempuan pencemburu tetapi tidak mau dicemburui. Kau ingin memiliki tetapi tidak mau dimiliki. Rupanya terlalu sulit untuk mencintaimu. Sesulit untuk berbicara dalam arti sesungguhnya denganmu," sambungmu panjang lebar. 
"Aku tidak sulit," sahutku. 
"Bagaimana tidak sulit? Saat ini kau bersamaku tetapi kau sedang memikirkan laki-laki lain, kan?" sahutmu dengan nada datar sekali sampai aku berusaha keras untuk menebak apa artinya. 
"Baiklah, mari kita bicara dalam arti sesungguhnya," kurasa aku tidak sedang berusaha mencari dalih. 
Lalu ka bercerita tentang dirimu, istri, dan anak-anakmu. Kau mempunyai tiga buah cinta dan istri yang sangat memahami betapa kau mencintai dunia buku. Kukatakan bahwa memiliki jantung jiwa seperti itu sudah seperti menggenggam surga. 
"Bagaimana dengan suamimu? Baikkah ia kepadamu? Dan bagaimana anak-anakmu? Sehat-sehatkah mereka?" tanyamu. 
Kujawab, bahwa suamiku adalah suami paling baik di dunia. Dan anak-anakku adalah anak-anak paling lucu di dunia. 
Puaskah kau dengan jawabanku, Sakai? 
Ternyata tidak. 
"Dan bagaimana dengan kau sendiri? Baikkah? Gembirakah? Sempurnakah kebahagiaanmu?" Kau menyambung dengan pertanyaan lain. 
"Baik. Gembira. Bahagia. Sempurna," jawabku sambil melarikan pandangan ke arah matahari yang mengintip dari balik sirap rumah yang berdiri di tepi sungai. Kulihat perempuan-perempuan mulai keluar dari rumah. Kita bisa melihat mereka dengan jelas di sepanjang sungai. Mereka hanya mengenakan tapih saja. Air Sungai Barito mengguyur tubuh mereka. Kepala sampai kaki mereka pun basah. Maka tapih mencetak lekat garis tubuh. Wajah mereka memancarkan kecantikan alam semesta. Kecantikan yang tidak akan kau lihat pada wajah perempuan-perempuan di kota besar. 
Dan mereka tertawa. Bukankah itu artinya gembira? Tetapi apakah gembira sama dengan bahagia? Apakah tertawa sudah bisa diartikan sebagai gembira dan bahagia yang sempurna? 
Perlahan terang mulai menampakkan diri. Terang selalu membuat semua menjadi telanjang. Aku tidak mau matahari menelanjangi hatiku karena jawaban di hatiku berbeda. 
Tahukah kau apa yang dikatakan hatiku? 
Lebih baik kutuliskan saja. Agar matahari tidak bisa mencuri dengarnya. 
Sakai, aku bukan ibu yang baik. Aku bukan istri yang gembira. Tetapi aku sedang bahagia karena aku punya cinta yang purnama. 
Tapi kau masih saja belum puas. Kau masih mengejarku dengan pertanyaan lain. Sepertinya kau sudah serupa matahari yang bisa menelisik sampai ke sudut tergelap. 
"Siapa yang barusan kau sms? Kenapa meng-sms-nya? Apa yang kau sms untuknya?" Pertanyaanmu tetap dengan nada datar. 
Ah, apakah harus kukatakan yang sesungguhnya, Sakai, bahwa dia laki-laki di dermaga mimpi. 
Ia menungguku segera kembali. 
Jadi aku ingin segera kembali! © 


Keterangan:
Klotok: kapal kecil dengan mesin dinamo. 
Gethek : perahu kecil yang dikayuh. 
Wadai: kue. 
Tapih: kain sebatas dada. 
Sirap: atap rumah masyarakat Banjarmasin yang terbuat dari kayu ulin. 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger