Jumat, 29 April 2011

Perempuan yang Selalu Menggenggam Telur By. T. Sandi Situmorang

Tidak ada yang istimewa. Hanya sebutir telur ayam kampung. Berwarna putih keruh. Tidak ada sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Biasa saja. Andai saja perempuan itu tidak selalu menggenggamnya. Sepanjang waktu. Membawa kemana ia pergi. Konon saat tidur dan mandi, perempuan itu selalu menggenggamnya. Hanya berpindah antara tangan kanan dan kiri.
Tentu menjadi sebuah pergunjingan. Desa bukan seperti kota . Di desa ini, segala sesuatu cepat tersebar. Tingkah laku warga, aneh sedikit saja, menjadi topik hangat di warung-warung kopi, kedai sembako, bahkan di pematang sawah sekalipun.
"Sudah gila kurasa. Selalu dia pegang telur itu."
"Barangkali dia sudah ngebet minta kawin." 
"Mana mungkin. Kekasihnya baru saja pergi merantau."
"Aku lihat semenjak kekasihnya pergi merantaulah dia jadi aneh begitu."
"Barangkali dia rindu dengan kekasihnya itu."
"Hus, tidak baik bicara begitu. Tak ada hubungan rindu kekasih dengan selalu menggenggam telur itu."
"Mungkin saja, kan?"
"Janganlah berburuk sangka. Tak baik. Dia itu perempuan suci. Tidak mungkin dia suka memegang telur kekasihnya."
"Ah, mungkin saja. Urusan seperti itu tak memandang orang suci atau tidak. Semua suka." 
"Memang. Tapi "
Begitulah yang kerap terjadi di warung kopi. Topik pembicaraan selalu mengenai perempuan itu. Setiap hari. Berulang-ulang. Dibicarakan oleh orang yang sama. Mereka seolah lupa topik pembicaraan yang mereka suka selama ini: pejabat yang korupsi, dana BLT yang tersendat, sampai masalah judi buntut yang tidak jelas lagi buntutnya.***
"Kau tahu, orang-orang desa semua membicarakanmu."
"Kenapa?" tanya perempuan itu sambil mengelus-elus telur di tangannya. Warnanya tidak lagi putih keruh, tapi sudah putih kebiru-biruan.
"Karena telur itu tidak pernah lepas dari tanganmu."
"Tidak mungkin lepas. Ini masa depanku."
"Masa depan bagaimana?"
"Cukup hanya aku yang tahu."
"Kau terlalu berahasia. Meski dengan aku, sahabatmu sendiri. Itu sebab orang desa menggunjingkanmu. Kau dicap perempuan aneh."
Perempuan itu tersenyum. Matanya menerawang jauh. Terbang melintasi langit biru yang terhampar bak karpet di langit luas. Sementara tangannya masih mengelus-elus telur itu. Tidak akan ia lepas telur itu dari tangannya. Sampai waktunya tiba.
"Bahkan ada yang bilang, kau kegatalan. Ingin kawin."
Senyum perempuan itu pecah menjadi tawa. Pipinya yang kuning langsat tampak memerah. Kawin. Ah, siapa yang tidak ingin kawin. Terlebih dengan seseorang yang mampu menggetarkan hati. Seseorang yang selalu membuat jantungnya menggelepar-gelepar jika mereka bersentuhan.
"Kenapa tertawa?"
"Aku memang ingin kawin. Tapi tidak sampai kegatalan."
"Ayolah, ceritakan padaku kenapa kau selalu menggenggam telur itu."
"Aku tidak mau bercerita kepada siapa pun," kata perempuan itu tegas. Matanya menerawang, jauh. ***
Senja hari. Di dalam sebuah gubuk. Di tengah sawah yang terhampar luas. Hijau. Batang-batang padi mengangguk-angguk seirama digoyang angin. Beberapa burung nekat mencuri butiran-butiran padi. Padahal orang-orangan sawah terlihat berjaga menyeramkan.
"Habis musim panen, aku akan pergi ke kota," kata seorang laki-laki yang berada dalam gubuk itu. Masih muda dan tidak jelek. Rambutnya model cepak. Tubuhnya terbentuk karena selalu berkutat di sawah.
"Untuk apa?" tanya perempuan yang duduk di sampingnya. Seorang perempuan berambut panjang. Berkulit kuning, cantik.
"Mengadu nasib."
"Maksudmu merantau?"
Laki-laki itu mengangguk, mantap.
"Hidup di kota itu keras. Kau hanya tamat SMP. Kau akan kalah sebelum perang dimulai."
"Kau tahu, temanku Marto, baru setahun merantau, ia sudah bisa mengirim uang untuk keluarganya. Dua juta, katanya. SD saja dia tidak tamat."
"Barangkali nasib dia sedang mujur."
"Makanya aku harus mencoba. Biar aku tahu, nasibku mujur atau tidak. Aku bosan selalu terkurung di desa ini. Aku mau melihat dunia luar, yang hebat. Gemerlap. Pasti menyenangkan."
"Lalu aku?" pelan suara perempuan itu.
"Kau di sini saja. Setelah di kota hidupku mapan, aku akan menjemputmu. Kita menikah, tinggal di kota."
Perempuan itu tersenyum. Indahnya ucapan itu. Laki-laki itu balas tersenyum. Tangannya yang kasar bergerak meraih tangan perempuan itu. Meremas lembut. Perempuan itu tersipu malu. Membuat si laki-laki kian berani. Tidak hanya meremas tangannya.
Di luar, padi-padi hijau tetap bergoyang, seirama tiupan angin. Burung-burung semakin nekat mematuk padi, meski mata orang-orangan sawah tetap melotot, menyaksikan.
Tiga bulan kemudian. Perempuan itu mengantar laki-laki itu ke terminal kecamatan. Ia genggam tangan laki-laki itu erat. Betapa berat untuk melepas. Berpisah sekian waktu yang tidak pasti, namun ia tahu akan sangat lama.
Sepuluh menit lagi bis bergerak. Laki-laki itu menggenggamkan sesuatu ke telapak tangan perempuan itu.
"Apa ini?"
"Kau harus berjanji, tidak akan pernah melepaskan sampai aku pulang, menjemputmu. Ini telur pertama dari ayam kesayanganku. Sebenarnya aku ingin memberikan ayam itu padamu. Untuk kau jaga. Tapi aku tahu kau tidak menyukai ayam. Maka kuberi telur ini. Kau harus menjaganya. Seperti kau menjaga rasamu hanya untukku. Buktikan kesetiaanmu dengan selalu menggenggam telur ini."
"Permintaanmu sulit. Tidak mungkin telur ini terus berada dalam genggamanku. Pasti akan menghambat kegiatan sehari-hariku."
"Tidak sulit jika kau punya niat."
Perempuan itu menatap telur dalam genggamannya. Sebuah telur ayam kampung. Putih bersih. Ia bersumpah akan menjaganya. Selalu menggenggam. Seperti ia selalu menggenggam cinta laki-laki itu dalam hatinya. Siang-malam. Suka maupun duka.***
Berita itu menyakitkan. Mampir berulang-ulang di telinganya. Ia tidak percaya. Ia percaya dengan laki-laki itu. Dengan ucapannya dulu. Laki-laki itu akan menjemputnya. Suatu hari. Entah kapan. Namun pasti.
Ia sanggup menjaga telur itu. Dua tahun berada dalam genggaman tangan. Dan laki-laki itu berada dalam genggaman hatinya. Meski tidak sedikit yang coba menggoyah. Ia tetap tegar. Meski harus diakui, terkadang ia goyah juga menghadang gempuran yang bertubi-tubi. Namun telur itu selalu mengingatkan. Menguatkan benteng pertahanan yang mulai melemah.
Meski surat dari laki-laki itu semakin jarang, timbul tenggelam. Akan tetap ia genggam.
"Aku mendengar sendiri dari ibunya. Ia sudah kawin di kota. Bahkan istrinya sudah hamil empat bulan."
Perempuan itu menggenggam erat telur di tangannya. Namun tidak sampai pecah. Dua tahun berada dalam genggaman, ia tahu sebatas mana kekuatan yang harus ia beri agar telur itu tidak pecah.
"Ia sudah melupakanmu. Bahkan meninggalkanmu."
Tidak mungkin. Ia tidak mau mendengar itu lagi. Terlalu menyakitkan.
"Biar kau percaya, singgahlah ke rumah orang tuanya. Lihat foto perkawinannya di sana. Karena kudengar, laki-laki itu mengirimkan foto perkawinan untuk orangtuanya."
Tangan perempuan itu bergetar. Bibirnya bergetar. Pundaknya bergetar. Hatinya juga bergetar.
Namun, telur itu tetap ia genggam. Sebelum ia mendengar dari mulut laki-laki itu. Atau setidaknya, ia yang melihat sendiri.***
"Lihat perempuan sinting itu. Sudah lebih tiga tahun dia selalu menggenggam telur itu."
"Aku pikir termasuk hebat juga dia. Selama tiga tahun selalu menggenggam telur. Tidak pecah pula."
"Aku tidak percaya telur yang digenggamnya itu adalah telur yang dia genggam tiga tahun yang lalu."
"Aku percaya. Lihat saja warnanya sudah aneh begitu."
"Dia begitu karena kekasihnya yang pergi merantau sudah menikah di kota."
"Dia selalu menggenggam telur itu jauh sebelum kekasihnya menikah di kota."
"Tepatnya, dia selalu menggenggam telur itu sejak kekasihnya merantau."
"Kita tidak tahu apa alasan perempuan itu selalu menggenggam telur itu. Tapi berita yang aku dengar, dalam waktu dekat ini, kekasihnya dulu akan datang bersama anak dan istrinya."
Perempuan itu mendengar perbincangan di warung sembako itu. Ah, kekasihnya akan datang juga akhirnya. Meski laki-laki itu datang bukan untuk menjemputnya, ia bahagia.***
Stasiun kecamatan. Perempuan itu berdiri menatap bis yang masuk terminal. Telur itu ada pada genggaman tangan kanan. Matanya menatap lekat setiap penumpang yang turun.
Hari ini laki-laki itu akan datang. Bersama anak dan istrinya. Begitu berita yang ia dengar. Sayang berita itu kurang lengkap. Karena tidak jelas akan datang sekitar jam berapa.
Tidak apa. Ia bersedia menunggu dari pagi. Hingga malam sekalipun.
Kepalanya pusing melihat lalu lalang orang dan kendaraan yang semrawut. Ia putuskan menunggu di gerbang desa. Sama saja. Nanti laki-laki itu akan melewati gerbang itu juga. Karena itu satu-satunya jalan untuk memasuki desa.
Tengah hari. Ia berdiri di gapura desa. Bayangan dirinya hanya sejengkal panjangnya. Perempuan itu mematung, persis tugu selamat datang. Peluh bercucuran di wajah, bahkan di seluruh tubuh. Matanya menatap lurus ke ujung jalan.
Matanya berkedip. Genggaman telur di tangan semakin erat. Laki-laki itu sudah datang. Bersama seorang wanita dan bocah di gendongan. Berjalan mendekatinya. Semakin dekat.
Mereka berhadapan. Wajah perempuan itu dingin menatap. Meski ada bilur rindu, ia sadari tidak tepat untuk memburainya. Maka ia tekan saja dalam hati.
Tanpa dialog. Tanpa suara. Perempuan itu mengangkat tangan. Mencampakkan telur itu tepat di wajah laki-laki itu. Baunya busuk. Berhembus ditiup angin ke segala sudut desa.
Perempuan itu berbalik. Melangkah riang. Ia bahagia. Meski terasa ada yang hilang dari tangannya.
Ia bahagia, bisa memenuhi janji. Meski bukan seperti inginnya. ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger