Jumat, 29 April 2011

Pahitnya Dusta     By. T. Sandi Situmorang

Malam adalah retas sembilu
ketika cinta terburai
dan remah dusta bagai duri
sakit luar biasa


Aku berlari bersama gamang
gergasi gulita mengejarku
salahkah aku terlahir dalam raga
yang tak sepurna rembulan?
ketika sinarnya tak lagi melindap indah
dan pasi bagai halimun
di kawah dan gigir jurang hati


— Cinta Tak Lagi Melindap Indah
Effendy Wongso
Ari Sayang (Wina memang terbiasa menyebut diari berwarna hijau lumut miliknya itu dengan sebutan Ari), mungkin kamu mulai bosan mendengar ceritaku akhir-akhir ini yang melulu mengenai Teguh. Habis bagaimana, aku memang sedang jatuh cinta pada cowok itu. 
Kata teman-teman, dia anak orang miskin. Tapi aku tidak perduli dengan semua itu. Teguh kelihatan dewasa, tenang dan pintar. Pokoknya, aku cinta setengah mati sama dia. 
Kamu tahu tidak, Ri! Sekarang aku lagi hepi berat. Tadi istirahat sekolah, tanpa sengaja aku tabrakan sama Teguh di pintu perpustakaan. Salahku juga memang, mau keluar terburu-buru dan nggak ngeliat jalan. Makanya aku menabrak Teguh yang mau masuk. Waduh, senangnya. Soalnya wajahku terbenam di dadanya. Seru, deh! 
Teguh nggak marah. Malah dia tersenyum. Manis banget. Aku cuma bisa melongo. Sedikit menyesal kenapa aku nggak pura-pura terjatuh. Barangkali saja Teguh akan mengulurkan tangan, memapahku untuk berdiri. Hihihi... agak norak ya, Ri?! Tapi biarin, deh! Namanya juga lagi kasmaran. 
Wina berhenti sejenak. Membaca ulang tulisan di buku hariannya. Ia tercenung sambil berusaha merangkai kata apa yang akan ditulisnya lagi. 
Tapi kira-kira Teguh mau nggak ya, Ri, sama aku. Aku kan nggak cantik. Mana pendek dan gemuk lagi. Kadang aku suka sedih, kenapa aku terlahir tidak cantik. Tidak seperti kakakku itu. Hingga akhirnya tak satu pun cowok yang berusaha mendekatiku. Padahal teman-temanku sudah punya pacar semuanya. 
Ah, andai saja Teguh mau jadi pacarku.... 
Tulisan Wina berhenti lagi. Kali ini diraihnya boneka panda yang sedari tadi membisu di samping. Wina terlentang dengan boneka dipelukan. Menatap langit-langit kamar yang berwarna biru muda. Di sana ia seperti melihat Teguh tersenyum padanya. 
Tidak ada sejam kemudian, kedua mata Wina telah terpejam. Di bibirnya ada senyuman. Barangkali ia tengah bermimpi indah. 
Pintu kamar terbuka. Mama melangkah masuk. Kepala Mama menggeleng-geleng melihat Wina yang ketiduran. Diselimutinya tubuh Wina. Sebelum mematikan lampu, mata Mama tertumbuk pada buku harian Wina yang terbuka. ***
Istirahat pertama. Biasanya saat seperti ini Wina pasti berada di perpustakaan. Maka Teguh mengayun langkah ke sana. Dari pintu perpustakaan ia lihat Wina duduk pada salah satu bangku, menekuri buku yang terbuka di depannya dengan serius. 
Tanpa suara Teguh mengambil tempat di depan. Ditatapnya gadis yang tetap tidak bereaksi dengan kehadirannya itu. 
"Hai...." 
Wina mengangkat wajah. Terbersit sebuah senyuman di bibirnya begitu tahu kalau Teguh yang duduk di depannya. 
"Serius sekali. Baca apa?" 
Wina mengangkat buku di tangannya. Hem, sebuah novel sastra dari angkatan Balai Pustaka. 
"Berniat jadi sastrawati?" 
"Cukup jadi pengarang cerpen remaja saja." 
"Honor pengarang itu kecil." 
"Uang bukan segalanya, kan?" 
Teguh mendegut ludah. 
"Kamu mau baca buku juga?" 
"Pengen ngobrol sama kamu aja." 
Wina melengak. Jawaban Teguh barusan bagai anak panah yang menohok tepat di ulu hatinya. Hingga ia rasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dadanya kembang kempis. Tapi ia suka dengan debaran itu. 
"Tentang apa?" 
"Tentang apa, ya?" Mengerut kening Teguh. Hingga alis mata yang hitam dan lebat itu saling beradu. "Pokoknya pengen ngobrol saja." 
Merona kedua pipi Wina. Ia jengah. Teguh tidak seperti biasanya. Kali ini dia terasa berbeda. Sangat perhatian dan lembut. Sementara sorot matanya kala menatap, membuat dengkul Wina bergetar dan lemas. 
"Kamu nggak ke kantin?" 
"Nggak lapar." 
"Gimana kalau kita ngobrol di taman sekolah saja? Di sini udaranya terasa pengap. Belum lagi orang merasa terganggu dengan suara kita." 
Oh, Tuhan! Apa yang Kau bisikkan ke telinga Teguh hingga dia begitu manis padaku, bisik Wina dalam hati. 
"Bagaimana, Win?" 
"Boleh." 
Wina bangkit duluan. Lalu Teguh menyusul dari belakang. Tapi tiba-tiba Teguh mensejajari langkahnya dan dengan memberanikan diri menggenggam jemari tangan Wina yang kayak jempol semua.***
Wina berdiri di depan cermin besar dalam kamar. Dengan seksama, ia pandang tubuhnya yang terlihat dari atas kepala sampai kaki, dalam cermin. 
Tinggi tubuhnya hanya 150 cm dengan berat hampir 70 kilo. Meski kulitnya putih mulus, dia tidak terlihat menarik. Mungkin karena pipinya terlalu bulat. Ditambah dengan tumpukan lemak di leher dan pinggangnya. 
Harus ia akui, kalau dia tidak cantik. Sangat berbeda dengan kakaknya yang pacar seorang pengarang cerpen itu. 
Tapi Wina coba menghibur diri sendiri. Seperti kata orang-orang di tivi, kecantikan tidak hanya dipandang dari fisik semata. Ada kecantikan yang terpancar dari dalam hati, yang biasa disebut dengan inner beauty. 
Dan menurut majalah yang pernah dia baca, tidak semua pria tertarik kepada wanita karena kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik karena inner beauty-nya. 
Mungkin Teguh termasuk yang terakhir tadi. Yah, setelah hampir dua minggu melakukan pendekatan, akhirnya sore tadi Teguh menyatakan cinta padanya. 
"Mungkin bagimu terlalu cepat kalau aku mengatakan sangat menyukaimu. Tapi dua minggu mengenalmu lebih dekat, aku sudah tahu kalau ternyata kau sangat istimewa. Hatimu sangat lembut. Bersamamu, aku merasa damai dan bahagia. Akan lebih menyenangkan kalau kita merajut hari depan bersama," kata Teguh seraya meremas jemari tangan Wina. "Maukah kau menjadi pacarku?" lanjutnya kemudian dengan menatap mata Wina amat mesra. 
Coba bayangkan, perempuan mana yang tidak runtuh hatinya dipuja sedemikian rupa oleh cowok ganteng. Dan perempuan mana yang tidak pasrah saja ditatap sedemikian mesra oleh cowok sekelas bintang film. 
Wina mengangguk malu-malu. Dan kursi di taman kota menjadi saksi betapa bahagianya mereka sore tadi. Di saat Teguh bermaksud mencium bibirnya, Wina mengelak halus. Hingga bibir Teguh menempel di pipinya yang gembul.***
"Tinggalkan dia!" 
"Apa maksudmu?" 
"Dia hanya ingin memerasmu." 
"Kamu tak berhak menuduh Teguh sehina itu," meninggi suara Wina. 
Rere tertawa sinis, membuat rasa dongkol Wina menjadi berlipat. 
"Lihat saja, semenjak pacaran sama kamu dia berubah drastis. Punya banyak baju baru, sepatu mahal, jam tangan selalu berganti-ganti dan sangat royal kepada teman-teman. Malah yang aku dengar, dia tidak lagi jualan rokok di lampu merah sepulang sekolah." 
"Kamu menuduh aku yang membandari dia?" 
"Siapa lagi?" 
"Jangan sembarangan, Re! Aku tak setolol dugaanmu," ujar Wina, sebelum meninggalkan sahabatnya itu. 
Rere mengikuti dari belakang. 
"Win...." 
Wina mengibas tangan. 
"Kalau bukan kamu, dari mana dia mendapat uang sebanyak itu." 
"Dia masih punya orangtua." 
"Aku tahu keadaan keluarga mereka." 
Wina menghentikan langkah. Garang ia menatap Rere. "Apa maumu sebenarnya?" 
"Jangan berpikiran jelek. Aku hanya tidak ingin kamu diperalat." 
"Teguh tulus mencintaiku." 
"Mana mungkin." 
"Aku memang jelek, Re! Tapi Teguh tidak seperti kamu, menilai seseorang hanya dari kulit saja. Satu hal yang perlu kamu tahu, sepeser pun Teguh tidak pernah meminta uang dariku."***
Enam bulan yang lalu, Teguh pernah memasuki cafe mewah ini. Jadi ini kali kedua dia ke sini, untuk menemui wanita yang sama. Hanya bedanya, enam bulan yang lalu dia yang diundang kemari. Sedangkan hari ini, dia yang meminta wanita itu untuk datang kemari. 
Mereka duduk berhadapan di meja yang sama seperti enam bulan yang lalu. 
"Ada apa?" 
"Saya mengundurkan diri, Tante!" kata Teguh pelan dengan kepala menunduk. 
"Maksudmu?" 
"Saya tidak mau lagi menerima uang dari Tante." 
"Kenapa? Apa kurang banyak?" 
Teguh mengangkat wajah dan menggeleng. Menatap Tante Mien dengan takut-takut. 
"Jadi?" 
"Saya... saya merasa berdosa kepada Wina, karena telah memanfaatkannya. Apalagi setelah enam bulan bersamanya, saya merasa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Wina begitu baik dan...." 
"Masih ingat dengan perjanjian kita? Kamu Tante bayar dua juta perbulannya hanya untuk pura-pura jadi pacarnya, bukan untuk mencintainya. Karena Tante tahu, kamu tidak sebanding dengan anak Tante." 
"Tapi...." 
Ucapan Teguh terputus. Di depannya tiba-tiba Wina berdiri. Teguh terkejut. Begitu juga Tante Mien, mama Wina. Bagaimana Wina juga bisa berada di sini? 
"Ternyata Rere benar, kamu hanya ingin memanfaatkanku," jeritnya sebelum berlari meninggalkan cafe itu. 
Teguh bermaksud mengejar. Tapi Tante Mien menahan tangannya. 
"Jangan coba-coba mendekati anak Tante!" desisnya tajam. Ia tinggalkan Teguh sendirian di tempat itu.***
"Mama jahat!" pekik Wina sambil menelungkupkan wajah di balik bantal. 
"Salah Mama memang. Tapi semua Mama lakukan semata-mata hanya ingin membahagianmu. Mama tahu kalau kamu begitu mencintainya. Berharap suatu hari ia menjadi milikmu. Lalu Mama selidiki latar belakangnya, setelah tahu semua, Mama yakin dia pasti mau disogok dengan uang." 
Isak Wina terhenti. Kepalanya terangkat menatap Mama. 
"Maafkan Mama karena tanpa sengaja pernah membaca buku harianmu." 
Kembali Wina menelungkupkan wajahnya di bantal. Rasa marah, benci, sedih dan malu bergumul jadi satu di hatinya. ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger