Jumat, 29 April 2011

Pada Sebuah Reuni By. Gita Nuari

PROLOG


Betapa naifnya kita mengarungi kehidupan ini dalam baur rasa. Kepurbaan kenikmatan semu seolah gergasi yang senantasa menelikung kita sehingga lemas tak berdaya, dan mati pada akhirnya. Inilah jalinan episode per episode manakala senja mulai menelungkup kita dalam gulita. Sungguh pun di seberang sana, seorang perempuan dengan segebung kesetiaan menanti. Memelihara satu nama di pojok hatinya yang paling dalam. Dan sekarang, mestikah kukhianati atas nama perselingkuhan?!
Ya, Tuhan!
Bimbing aku di dalam cahayaMu yang benderang. Sebab di sini aku mulai lamur oleh rembang petang yang meranggas....***
Aku putar tangkai pintu kamar hotel bernomor 112 di lantai sebelas, sebuah hotel bintang lima di Jakarta.
"Kamar ini tempat kita reuni," kataku kepada Alen dan Rosi, dua teman wanitaku sesama di SMA dulu.
Tak ada yang menjawab tapi kulihat di mata mereka sangat menyetujui aku memilih hotel untuk pertemuan kami kali ini. Kami masuk beriringan. AC langsung kuhidupkan. Aroma wangi dari penyegar udara menyusup ke hidung kami.
Rosi membuka lebar gorden jendela. Tampak batang-batang cahaya dari lampu ratusan kendaraan membentuk lengkungan yang searah di bawah sana. Alen melepas tas cangkingnya lalu dilemparkan ke atas sofa, sedangkan Rosi memilih ranjang yang empuk untuk meletakan bawaannya.
"Silakan siapa dulu mandi. Kukira akan lebih nyaman setelah semuanya mandi," saranku. 
"Ide yang baik. Kalau begitu aku yang mandi duluan. Badanku gerah sekali." Rosi meraih tasnya dan mengeluarkan gaun tidur bermotif flora warna merah bata, terus masuk ke kamar mandi. Alen membuka sepatunya satu persatu dengan agak kesulitan karena sempit. Lalu blasernya, yang dari awal ketemu masih menutupi pakaian kerjanya — kali ini lebih mudah mencopotnya. Aku pun tak ketinggalan. Kubuka pakaian kerjaku dan menggantikannya dengan kaos berkerah.
"Perutmu semakin gendut, Boy!" celetuk Alen. Ia ternyata sempat memperhatikan tubuhku.
"Pinggulmu juga mulai menghilangkan bentuk pinggangmu. Di SMA dulu kau ramping sekali," balasku.
Alen tertawa. Terdengar Rosi membuka kran. Aku menduga ia sedang berendam di bak mandi.
"Berapa anakmu sekarang?" tanya Alen.
"Tiga. Nomor satu dan dua tahun ini tamat di kelasnya masing-masing. Kau?"
Alen terdiam. Aku menggantungkan kemejaku di kapstok. "Entahlah. Duapuluh dua tahun aku menikah, belum satu pun dikaruniai anak. Entah siapa yang mandul."
"Kenapa kalian tak periksakan diri ke dokter?"
"Aku dan suamiku bertahan untuk tidak ingin tahu siapa di antara kami yang mandul."
"Gila!" celetukku.
Rosi keluar dari kamar mandi. Gaun tidur yang dia kenakan malam itu sangat transparan. Tapi dia acuh saja ketika aku memandangnya.
"Giliran aku sekarang," kata Alen sambil bergegas mengambil salinan dari dalam tasnya, dan langsung masuk ke kamar mandi. Pasti dia akan cepat sekali membuka pakaiannya untuk melihat pinggulnya yang kusinggung tadi, pikirku. Rosi menarik anak kursi, mengeluarkan lipstik dari dalam tasnya lalu memoles bibirnya perlahan di depan kaca rias. Aku ingat, bibir itu pernah kukulum di sebuah taman belakang sekolah. Bentuk bibir yang sangat kukagumi sampai sekarang ini.
"Anakmu ada yang sudah selesai kuliahnya?" tanyaku membuyarkan konsentrasinya bersolek.
"Tinggal dua semester," jawabnya singkat.
"Anak kandung?"
"Anak kandungku. Anak bawaan suamiku dari istri pertama sudah selesai semua."
Aku hampiri dia. Aku pijiti pundaknya. Mata kami beradu pandang di cermin.
"Kau pernah bertemu Alen sebelum ini?" tanyanya sedikit dibakar api cemburu.
"Pernah sekali. Tapi kami tidak melakukan apa-apa."
"Kenapa?"
"Ah, kau, kenapa curiga? Meski kita pernah terlibat cinta segitiga sewaktu di SMA dulu, aku masih menjaga norma-norma. Karena itu sudah kesepakatan kita untuk tidak terlampau jauh berhubungan," jelasku.
Rosi tersenyum kecut. Aku cium kepalanya. Aroma rambut yang belum pernah berubah sampai sekarang.
Pintu kamar mandi terbuka. Alen keluar dengan gaun tidur yang lebih transparan melebihi gaun yang dikenakan Rosi. Hatiku berdebar. Aku tidak muda lagi, tapi birahiku berkata lain. Cepat aku menyesuaikan diri. Aku tak boleh tersihir oleh keadaan yang dibuat oleh kedua mantan kekasihku sewaktu kami di SMA dulu.
"Hm, kita pesan makan apa untuk malam ini?" tawarku kepada mereka berdua, jelas untuk mengalihkan konsentrasiku yang mulai menakal.
"Aku mau yang tidak mengandung lemak, dan minumannya jangan yang berakohol," pinta Rosi.
Alen menyetujui.
Aku catat beberapa menu yang tersaji di buku menu hotel itu. Aku bel pelayan hotel. Pelayan muncul tidak lama berselang, dan kuserahkan pesanan yang telah kucatat. Sementara Rosi dan Alen berias, aku sempatkan diri untuk mandi.***
 Aku dengar mereka berbincang tentang masa lalunya. Ada tawa Alen yang terpingkal-pingkal, ada batuk Rosi karena tersedak oleh permen yang dia kunyah. Aku sempat melihat garis ketuaan di pipi dan lengan Rosi tadi. Aku rasakan kehalusan kulitnya di masa muda, mulai pudar sewaktu kugenggam diawal kami bertemu. Rambut panjangnya yang dulu sangat kukagumi, kini telah tiada. Kali ini dipotong pendek. Di usia memasuki pertengahan kepala empat, ia lebih sering memotong pendek rambutnya. Tidak betah, katanya. Alasan yang masuk akal kukira. Konon, rambut pendek, lebih tampak muda lima tahun dari usia sebenarnya. Sedang pada diri Alen, yang dapat kuamati adalah buah dadanya yang mulai turun. Itu dapat kuketahui sewaktu dia membetulkan letak gaun tidurnya yang agak kebesaran di bagian leher
Tapi aku senang kami bisa bertemu dalam acara reuni yang digagas oleh mereka berdua. Akhirnya aku bisa mengetahui keadaan mereka masing-masing. Mereka tidak sungkan, tidak risih. Bahkan kami tak canggung-canggung lagi membahas urusan ranjang di rumah tangga kami masing-masing. Usia kami cuma terpaut dua sampai tiga tahun lebih. Tapi, ah, mereka seperti dua capit kepiting yang tersembunyi. Dan aku, kalajengking yang menyimpan antup di ujung ekor. Entah siapa yang lebih bahaya? Aku mendengar deru kendaraan di bawah sana, geliat malam yang penuh misteri.
Aku sudah selesai mandi. Ternyata makanan yang kupesan sudah tersaji di atas meja. Kami turunkan semua ke lantai. Kami setuju menganggap pertemuan kali ini seolah sama sewaktu kami kemping bersama-sama ke Gunung Gede. Makan hanya beralas tikar dan duduk melingkar.
"Kau ingat, Rosi, Si Alen cemburu kan sewaktu kau memeluk pinggangku, dimana aku hampir terjatuh dari jalan yang menurun?" ungkapku mengenang masa lalu kami.
"Ah, itu akal-akalan kau saja supaya Rosi menyentuhmu! Ya, kan?" tembak Rosi, lalu tertawa.
"Aku juga pernah bikin Si Boy cemburu. Ingat nggak kamu, Len, waktu Si James minta foto bersama, aku peluk James dari belakang. Eh, nggak tahunya ada yang cemburu di belakang kita!"
"Siapa?" sodok Alen.
"Siapa lagi kalau bukan lelaki di depan kita ini," cetus Rosi.
"No, no!" bantahku. "Justru kalian yang uring-uringan saat melihat aku mengantar Dinda menuju air terjun untuk mengambil air. Kalian curiga kan kalau Si Dinda sudah kuapa-apakan?"
"Memangnya kau apakan Dinda di air terjun itu?" tanya Alen. Wajahnya termangu menunggu.
"Kiss!" kataku.
"Dasar bajingan!" Alen memukul punggungku pakai bantal guling.
Tidak berapa lama, akhirnya kami sudahi makan malam dengan dihiasi senda gurau.
"Kalau bukan dengan kau, aku merasa risih tidur satu ranjang bertiga!" kata Rosi bergeser ke tempat tidur yang diikuti Alen. Aku matikan lampu besar dan menyalakan lampu tidur. 
"Sebabnya?" tanyaku ingin tahu, dan terus duduk di tepi tempat tidur dengan posisi bersandar
"Mau tahu saja!" celetuk Rosi sambil mencibir
Deru kendaraan di bawah sana mulai surut. Obrolan pindah ke atas tempat tidur.
"Aku mau tanya, kenapa kau bisa memilih Genta jadi istrimu, bukan salah satu di antara cewek-cewek ini yang pernah kau pacari?" tanya Alen sambil membuka selimut tidur.
"Bukankah setelah lulus SMA kita putus komunikasi? Jadi waktu aku mengawini Genta di Samarinda, aku kesulitan mencari alamat kalian. Karena waktu aku ke Samarinda, sama sekali tak ada data kalian yang terbawa. Aku cuma bawa diri. Sedangkan kabar tentang kalian, aku dapat dari Syam. Syam-lah yang mengabariku kalau Rosi dipinang seorang duda, dan kau Alen, katanya kau kawin dengan teman kakakmu. Apa benar itu semua?"
Alen yang duluan menjawab, "Sebelum aku bersuamikan Tino, suamiku yang sekarang ini, aku sempat menjalin hubungan dengan Heru, anak pengusaha garmen. Tapi cuma bertahan dua tahun. Kami putus karena ada orang ketiga di pihak Heru. Lalu aku menjalin hubungan lagi dengan seorang wartawan. Tapi itu kuanggap main-main. Sebab kedatangannya nggak bisa dipastikan. Aku nggak suka seperti itu. Jadi kuakhiri saja. Dua tahun aku menjomblo. Saat kosong, teman kakakku datang ingin melamarku. Ya, karena datangnya baik-baik akhirnya pihak keluarga menerima. Aku oke-oke saja. Karena sebelumnya juga aku dengan Mas Tino itu sudah kenal dekat. Lalu kami kawin. Tapi keadaannya seperti yang kusampaikan tadi, kami belum dikaruniai anak."
"Sabar," sela Rosi sambil mengelus kening Alen.
"Usiaku sudah kepala empat, Ros! Rawan bagi perempuan?"
"Kalau begitu, kau yang beruntung, Rosi?" tebakku, memandang wajah Rosi yang disinari temaram lampu tidur.
Rosi menoleh ke arahku dengan tatapan protes.
"Kalian nggak tahu kalau nasibku tak sebagus kalian," kata Rosi mengawali curhatnya dengan wajah dingin.
"Kenapa, Rosi?" tanyaku lembut.
"Aku memang sempat pacaran dengan cowok lain sebelum aku punya suami ini. Tapi kalau kejadian yang sangat menghancurkan hatiku kala itu tak menimpaku, aku mungkin akan bersuamikan dengan lelaki pilihanku sendiri, bukan Raka suamiku sekarang. Aku sebenarnya diperkosa terlebih dahulu sebelum aku jadi istrinya. Itu kalau kalian mau tahu!" jelas Rosi sengit.
"Hah!" Aku dan Alen terkejut.
"Ya, aku diperkosa saat baru sebulan kami saling kenal. Tapi perkosaan itu tidak dianggap sebuah kriminalitas oleh kedua orangtuaku. Di mata mereka, kami dianggapnya melakukan hal atas dasar sama-sama suka. Tak ada unsur paksaan. Padahal tidak. Akhirnya aku dipaksa menerima duda itu jadi suamiku. Hatiku menjerit. Aku tak berdaya saat itu. Dan menerimanya walau hati hancur." Mata Rosi berlinang. Alen memeluk mantan kekasihku itu dari belakang. Dan Alen yang mantan kekasihku juga, kubiarkan membimbing hati Rosi yang terpukul dengan elusan lembut ke matanya yang basah.
Tiba-tiba HP Alen berbunyi. Alen mengangkatnya.
"Hah, suamiku! Bilang bagimana ini?" bisiknya, belum memencet tuts hidup. 
Rosi terkejut. Aku bingung.
"Bilang, kau nginap di rumahku!" bisik Rosi sambil menyeka airmatanya sendiri dengan kertas tisyu. Alen mengangguk.
"Ya, hallo Mas?" sambut Alen setelah menenangkan diri.
"Gimana reuninya?" suara suami Alen dari seberang.
"Biasa saja. Kan cuma saling curhat."
"Oya, posisi kamu di mana?"
"Acara reuni di rumah Rosi, jadi aku sekarang menginap di rumah Rosi. Mau bicara sama Rosi, Mas?"
"Ah, nggak usah. Salam saja. Hati-hati ya, sayang!" pesan suami Alen. Alen mengiyakan. Lalu pembicaran diputus. Hati Alen plong.
"Benar-benar ide brilian!" cetusku sambil memandang mata Rosi yang sudah kering dari airmata.
"Ya, kita harus cerdas. Masak kita harus bilang kalau kita lagi ada di hotel bersama kau, Boy!" sahut Rosi. Tapi lima menit kemudian HP Rosi yang gantian berbunyi malam itu. Rosi cepat mengangkatnya.
"Ya, Pa?" sahut Rosi tenang.
"Kamu di mana? Gimana reuninya, menarik?" tanya suami Rosi dari seberang.
"Acaranya seru, Pa. Sekarang Mama ada di rumah Alen. Papa mau bicara sama Alen? Alen ada, nih!"
"Coba, mana?" kata suami Rosi penasaran. Rosi secepatnya menyerahkan HP-nya ke Alen dengan mata mengedip, memberi aba-aba kepada teman akrabnya itu. Alen mengangguk.
"Hallo Mas Raka, apa kabar?" sapa Alen.
"Acaranya meriah nih, pantas sampai suaminya tidak ada yang diajak. Kan pengen kumpul dengan kalian!"
"Oh, kali ini khusus cewek-cewek tempo dulu, dan semua kumpul di rumah Alen."
"Oke deh, kalau begitu," kata Raka, suami Rosi dari seberang. Alen mengembalikan HP yang hubungannya belum terputus kepada Rosi.
"Percaya kan, Pa? Oke Pa, sebentar lagi aku juga bobo," sambung Rosi setelah menerima kembali HP-nya.
"Hati-hati ya, mesti itu di rumah teman," pesan suami Rosi kemudian.
"Tentu, Pa. Selamat malam." Percakapan diputus. Rosi tertawa setelah menutup percakapan dengan suaminya. Kedua mantan kekasihku itu saling berpelukan. Aku merasa geli dibuatnya. Sebuah dunia telah dibuat seolah sebuah kanvas yang siap diberi warna apa saja oleh mereka berdua.
"Salut aku padamu, Ros!" sanjung Alen sambil menjentik ujung dagunya.
"Wanita-wanita kecewa kok dibilang harus hati-hati. Justru semakin nggak hati-hati!" sahut Rosi.
"Ya, aku juga merasa seperti itu. Dan aku cukup senang bisa bertemu kalian di sini," timpal Alen.
"Sekarang bagaimana?" tanyaku sambil melompat ke tengah-tengah antara mereka berdua berbaring.
"Terserah," kata Rosi sambil menutup selimut ke tubuh kami bertiga.
Tiba-tiba HP-ku berdering. Aku terkesima. Malam seperti membungkam oleh giris yang luar biasa. Samar ada wajah lesi yang menatapku dengan segumpal kepedihan di seberang sana. Seraut wajah yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untukku. Dirawatnya aku dengan telaten kala sakit. Dihiburnya aku kala gundah dan stres. Dicintainya aku melebihi dirinya sendiri. Dan dilahirkannya anak-anakku dengan mempertaruhkan kehilangan nyawanya sendiri!
Aku mendongak.
Langit-langit kamar hotel seolah hendak runtuh menimpa kepalaku yang dibebat dosa. Rosi dan Alen menatapku bingung.
"Aku harus pulang!" © 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger