Jumat, 29 April 2011

Memilih Kematian By. Gita Nauri

"Apa, mati?! Oh, tidak! Aku hanya ingin mati di tangan istriku yang bernama Yohana. Bukan kau, kunyuk! tukasku dalam hati. Tetapi Dahlia makin bengis. Ludahnya berkali-kali mendarat ke wajahku. Aku naik pitam. Ingin sekali mencekik lehernya, atau menghantamkan benda apa saja ke tubuhnya jika ada kesempatan. Tetapi tidak kutemukan satu pun benda keras di dalam mobil untukku melawannya. Dahlia ternyata mengendus rencanaku. Maka dia mendorong punggungku dengan pucuk pistolnya keluar dari dalam mobil. Aku sedikit lega berada di alam terbuka. Banyak kesempatan untuk melawannya. Aku melihat sebatang kayu tergeletak di tanah. Aku buru kayu itu untuk kuhantamkan ke tangannya yang tengah memegang pistol. Tetapi lagi-lagi Dahlia membaca gelagatku. Satu tembakan diarahkan ke sebatang kayu yang gagal kuraih. Aku terkejut. Aku jadi amat takut sekali.


Aku merindukan mati di tangan istriku. Sungguh. Dan bahkan ingin secepatnya terlaksana. Tetapi mungkinkah istriku akan melakukan niatku itu, niat yang jarang diingini oleh suami yang ada di muka bumi ini. Keinginan mati di tangan istri ini tidak kusampaikan secara langsung kepada istriku. Tentunya kalau aku berterus-terang akan jadi hal yang aneh bagi istriku. Yohana, nama istriku itu, pasti akan mempertanyakan diriku kenapa, dan tentunya akan mengatakan aku ini gila. Ah, tidak. Dokter ahli jiwa yang memeriksaku mengatakan bahwa aku telah kembali sehat, alias normal. Jujur saja, aku merasa gemas sekali bila melihat istriku tengah menguliti kulit kentang atau sewaktu dia mengupasi kulit bawang di dapur. Aku ingin yang dikuliti adalah tubuhku.
Namun ketika kudekatkan diriku ke pisau yang dipegangnya, dia malah memelukku dan mengecup bibirku mesra. Mungkin dia mengira aku sedang merajuknya untuk bermesraan. Ah, tidak. Itu salah. Yang kuinginkan adalah kematian yang diproses oleh tangannya. Untuk hal ini aku sabar menunggu. Menunggu istriku kerasukan setan saat melihat diriku jadi sesuatu yang harus dia kuliti, sesuatu yang harus dia sayat-sayat seperti daging rendang, dicacah seperti daging cincang. Aku yakin, suatu saat keinginanku ini pasti terwujud. Tetapi, bukankah aku suami yang sangat dia cintai? Seorang pria terbaik di dalam hidupnya? Apapun anggapannya, aku tetap ingin mati di tangannya.***
 Kesempatan mati di tangan istriku selalu ada. Karena hampir setiap hari istriku belanja sesuatu yang harus dikupasnya menggunakan benda tajam. Semua bahan masakan yang dibelinya harus diracik dengan menggunakan pisau. Dipotong-potong hingga jadi beberapa bagian. Dan sewaktu istriku mencincang seekor ayam untuk digoreng, aku dekatkan leherku ke atas talenan dimana pisau yang dipegang istriku sedang berjalan-jalan di atas talenan itu. Istriku terhenyak.
"Apa-apaan sih kamu, Mas!" hardiknya sambil mengelakkan pisau yang dipegangnya dari leherku.
Dan sekali waktu, pernah kucoba lagi mendekatkan diriku di saat dia sedang mengiris-iris daging untuk dibuat rendang. Aku letakkan leherku di atas talenan secara tiba-tiba. Istriku menjerit karena hampir saja pisau yang dipegangnya mengenai leherku. Seketika itu juga pisau yang dipegangnya dia lempar ke pojok dapur. Lalu istriku memelukku dan meminta maaf atas keteledorannya. Sejurus kemudian dia menarikku ke dalam kamar. Membuka seluruh pakaianku. Beberapa menit kemudian dia membangkitkan gairah kelelakianku. Sejenak aku dibuat melayang. Akhirnya kami letih bersama. Setelah selesai, kepalaku diberi bantal dan kemudian disuruhnya aku tidur. Sialan! Aku benar-benar tertidur karena kecapekan.
Aku merindukan mati di tangan istriku. Sungguh. Dan kalau bisa secepatnya. Pasti asyik. Dan aku tak akan kecewa. Supaya niatku terlaksana, aku harus membuat istriku kesal dan sakit hati. Dengan begitu dia pasti kesal bahkan benci. Jika terus-menerus kubuat hatinya jengkel, lambat laun niat membunuh akan muncul dalam dirinya. Tetapi bagaimana, apakah aku bisa mempengaruhi setan agar mau menggoda hatinya untuk membunuhku tanpa rasa kasihan barang sedikit pun? Harus dicoba terus.
Suatu hari, istriku mengantarkan aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanku. Katanya, di belakang kepalaku terdapat benjolan sebesar bola pingpong. Setelah kuraba, ternyata memang ada benjolan di belakang kepalaku. Tetapi kata dokter yang memeriksanya, benjolan di belakang kepalaku tidak mengkhawatirkan. Nanti akan kempis sendiri. Aku baru ingat, benjolan itu timbul sewaktu istriku mendorong diriku ke tembok untuk menghindari sayatan pisau yang dipegangnya karena nyaris mengenai leherku. Memang waktu itu aku kembali dengan sengaja meletakkan kepalaku di atas talenan tempat istriku mencincang daging. Istriku menjerit dan segera mendorongku ke tembok. Dari situlah mungkin timbul benjolan di belakang kepalaku. Anehnya, saat itu istriku menangis karena merasa telah mengasariku. Sedangkan aku sendiri merasa menyesal kenapa istriku begitu sigap dan cepat menghindari kecelakaan yang akan menimpa diriku. Padahal sudah jelas kecelakaan itu aku yang merencanakan. Kini aku kembali berusaha agar istriku lengah. Sehingga kemana pun dia pergi aku wajib mengikutinya. Siapa tahu istriku lengah sewaktu akan melakukan pekerjaan yang menggunakan pisau.
"Yohana, kamu tidak beli daging lagi? Aku kepingin daging empal," tanyaku manja. 
"Untuk makan hari ini sudah tersedia. Sekarang kamu mandi saja dulu," sahutnya. 
"Aku mau mandi bersamamu," rajuk kemudian.
Istriku mengiyakan. Lalu kami masuk ke dalam kamar mandi. Kami telanjang. Terus saling sabunan. Tetapi tiba-tiba aku melihat beberapa ekor kecoa keluar dari lubang pembuangan air. Istriku tidak menjerit. Justru aku yang kaget dan jijik melihat kecoa yang begitu banyak keluar dari lubang pembuangan air itu.
"Tenang sayang," kata istriku sambil mengambil batu bata yang biasa digunakan untuk mengganjal daun pintu kamar mandi. Batu bata yang ada digenggamannya itu sertamerta dihantamkan ke tubuh kecoa itu berkali-kali. Ditumbukinya tubuh para kecoa yang terjebak di lubang pembuangan air itu sampai hancur. Oh, aku iri terhadap para kecoa yang dibantai istriku. Kecoa-kecoa itu mati dihantam batu bata. Tetapi aku sungguh amat menyesal, kenapa bukan diriku sebagai kecoa yang dibantai istriku di kamar mandi.
Pada hari berikutnya, istriku membeli ikan lele hidup. Banyak setengah kilo. Ikan lele itu dibawanya ke dapur. Aku mengikutinya dari belakang. Lalu ikan lele itu dituangkan ke lantai tempat mencuci perabotan dapur. Dengan menggunakan batu ulekan, kepala ikan lele itu dihantam satu persatu. Ikan-ikan itu menggelepar karena menahan rasa sakit. Ada yang baru dua kali hantaman ikan itu mati.
Tetapi ada pula yang baru lima kali pukulan baru mati. Hm, aku sungguh menikmati proses kematian ikan-ikan itu. Sewaktu tinggal dua ekor ikan lagi yang belum kena getok, istriku dikejutkan oleh suara panggilan dari halaman rumah. Istriku hanya menoleh, tak beranjak keluar. Barangkali istriku berpikir tidak ada urusan dengan orang luar. Maka dia sama sekali tidak meresponnya. Pada saat istriku menoleh tadi, secepat kilat aku letakkan kepalaku di antara ikan-ikan yang tengah menunggu dihantam batu ulekan. Kali ini istriku pasti akan lengah atas keselamatanku, dan aku menunggu hantaman batu ulekan yang ada ke kepalaku dengan terpejam. Tetapi apa lacur, istriku justru bangkit dan bergegas menuju ruang tamu karena mendengar telepon berdering. Sialan! Gagal lagi, gerutuku.***
Aku mulai dihantui rasa kecewa. Bermacam cara sudah aku lakukan untuk membikin panas hati istriku. Bermacam akal sudah kubikin agar istriku lengah pada keselamatan suaminya di rumah. Aku ingin istriku lengah. Aku ingin istriku membenci diriku. Hingga pada akhirnya dia bisa membunuhku dengan pisau atau benda apa saja, yang penting aku bisa mati di tangan istriku. Tetapi semua pancinganku selalu gagal. Akhirnya aku jadi cemas sendiri. Kesal. Gondok. Bosan dan lain sebagainya.
Tanpa sepengetahuan istriku, akhirnya aku pergi keluar rumah. Berjalan kaki menyusur trotoar. Melewati tempat-tempat yang pernah aku singgahi bersama teman, mantan pacar, mantan istriku yang amat kubenci. Atau pun bersama istriku yang sekarang ini. Bernostalgia? Ah, apakah ini jalan kenangan? Kalau iya, untuk apa aku mengenangnya?
Bukankah mengenang masa lalu sama halnya mengenang kebodohan, dengan kata lain sama halnya mengenang ketololan yang pernah kita buat? Dan konon, membuka lembaran lama adalah sebuah kemunduran? Sialan! Masa bodoh! Aku tak peduli. Yang terpenting sekarang ini adalah bagaimana mencari cara agar didalam hati istriku Yohana, timbul rasa kesal yang mengakibatkan punya rasa benci sehingga dia akhirnya membunuhku dengan tangannya sendiri. Itu saja.
Aku terus berjalan menuju jalan raya. Beraneka macam keramaian kulewati. Aku berdiri di atas jembatan layang, menengok ke bawah jembatan. Ratusan kendaraan bermotor deras meluncur di bawahku. Bunuh diri? Pikirku. Oh, tidak. Bukan kematian seperti itu yang kuinginkan. Bukankah sudah kukatakan diawal cerita, bahwa aku kepingin mati di tangan istriku. Titik. Soal kenapa aku memilih mati di tangan istri, jelas ada alasannya.
Selain unik, tentulah nikmat bagiku. Kalau mati dengan cara lain, bagi orang lain mungkin biasa saja. Seperti misalnya menubrukkan diri ke kereta yang sedang berjalan kencang atau ke mobil yang tengah melaju cepat. Atau bisa juga dengan cara gantung diri di pohon.
Tetapi itu sudah bukan berita aneh lagi bagi masyarakat luas. Masyarakat akan mengenang kematian semacam itu pada hari itu saja. Paling banter, tempat yang lebih terhormat untuk membicarakan kematian semacam itu paling-paling pada acara arisan ibu-ibu di rumah RT. Sedang aku ingin punya sensasi tersendiri. Dimana tubuhku dicincang oleh istriku sendiri. Seperti dia mencincang daging, atau sama persis ketika dia memotong ayam menjadi beberapa bagian untuk digoreng. Pasti asyik. Pasti syur.
Tetapi sial! Sewaktu aku sedang membayangkan istriku tengah melakukan penyincangan terhadap organ tubuhku, tiba-tiba sebuah mobil sedan berhenti tepat di depanku. Terputuslah keindahan lamunanku itu. Setan alas! umpatku kesal. Mobil itu datang dari arah belakang lalu mendadak berhenti dengan posisi sedikit menyerong di depanku. Aku diam berdiri menunggu. Ternyata pengemudinya seorang perempuan berkaca mata hitam. Itu kuketahui setelah perempuan itu membuka pintu mobil sebelah kiri. Aku menoleh dan mencoba mengenalinya. Belum jelas siapa perempuan di dalam mobil itu, terdengar suara mengancam.
"Aku minta kamu masuk," perintahnya sambil menodongkan sepucuk pistol ke arahku.
Aku terkejut. Apa-apaan ini? pikirku.
"Cepat masuk! Mencoba lari, mati kamu!" ancamnya lagi.
Didorong rasa takut akhirnya aku masuk ke dalam mobil itu. Perempuan itu membuka kacamatanya. Astaga! Dahlia?! pekikku dalam hati.
Dadaku sontak gemetar. Nama yang sudah sekian lama aku kubur kini tiba-tiba menjelma serigala d idepanku. Kenapa dia ada di kota ini? Bukankah dia semestinya masih berada di dalam penjara karena satu kilogram heroin yang aku taruh di bawah jok mobilnya ditemukan polisi sehingga dia ditangkap sejak lima tahun lalu? Gila! Pengadilan apa ini? Bukankah seharusnya dia mendapat hukuman minimal duapuluh tahun penjara jika seandainya dia terhindar dari hukuman mati? Negara apa ini? Sialan! umpatku dalam hati.
Mobil yang dia kemudikan melesat cepat di jalan bebas hambatan. Pistol di tanganya seakan menjilati rasa ketakutanku. Setelah mobil meluncur deras, Dahlia, mantan istriku pertama yang sering kukhianati dan kutipu gabis-habisan itu tampak mulai menyerocos.
"Setelah kamu berhasil menjebloskan aku ke penjara, lalu menceraikanku tanpa alasan yang jelas, terus kamu kawin lagi dengan Yohana, saingan bisnisku, kamu pikir aku akan menyerah begitu saja, dan bisa melupakan kelicikan kamu yang terang-terangan telah merugikan dirku serta merampas semua yang aku punya? Tidak bisa, Sukandar. Aku sakit hati. Aku dendam terhadapmu. Dan sekarang, nikmati saja pembalasan dari orang yang telah kamu rugikan begitu banyak," kata Dahlia serius.
Aku gemetar. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Aku jadi bingung, hilang akal. Kenapa aku tiba-tiba merasakan takut seperti ini. Takut perempuan sialan itu membunuhku.
Dalam pikiranku yang berkecamuk, mobil yang dikemudikan mantan istriku itu memasuki area perkebunan karet. Mau apa dia? Ingat pada uangnya yang aku curi dan kugunakan untuk kawin lagi dengan Yohana yang sekarang jadi istriku. Ah, istriku! Mendadak aku ingat istriku di rumah. Pasti dia sekarang lagi mencari-cariku untuk diajak makan bersama, ngemil makanan kecil sambil nonton televisi. Pasti Yohana sekarang sedang kelabakan mencari diriku. Kasihan sekali dia. Tetapi bagaimana, apa aku bisa lepas dari cengkeraman manusia satu ini?
"Hai, Sukandar!" Suara Dahlia memotong lamunanku. "Kamu adalah manusia yang paling bejat di dunia ini. Kamu sudah teramat gila! Daripada kamu gila berkepanjangan sehingga merepotkan banyak orang, lebih baik kamu mati saja!"
"Untuk sekedar kamu tahu, letusan pistolku tadi tak akan terdengar oleh siapa pun. Kamu jangan berharap akan ada orang lain datang ke sini untuk menyelamatkanmu. Hutan ini cukup sepi. Aku akan leluasa menghabisi nyawamu dengan caraku sendiri. Paham?"
Ketakutanku semakin menyengat. Tenagaku seperti terbenam di lumpur. Kerongkonganku kering dan lidahku berat mengucap. Sejenak aku melihat pistol yang tergenggam Dahlia semakin tegak mengarah ke tubuhku.
"Jangan Dahlia... aku mohon jangan lakukan. Kasihani aku, Dahlia," ratapku sambil bersujud di atas rumput. Meratap di bawah kakinya. Aku menghamba sebisa mungkin. Tetapi sia-sia. Dahlia minta aku kembali berdiri. Dan seiring kelelawar-kelelawar hutan keluar dari sarangnya pada senja hari, saat itu pula Dahlia menembakkan pistolnya ke dada kiriku, ke dada kananku, dan terakhir pistolnya itu ditembakkan ke perutku.
Tiga peluru bersarang di tubuhku. Habislah aku.
Tetapi kematian seperti ini sungguh bukan yang aku inginkan! © 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger