Sabtu, 30 April 2011

Leiho, Datanglah Kebajikan Part II By. Merlin Herlina

Pada saat Nenek dan Kakekku menikah, Leiho telah dua tahun tinggal bersama keluarga barunya.
Ketika baru menikah, Kakek pernah berkata kepada Nenek kalau dia memiliki tiga orang saudara perempuan. Kakak perempuannya bernama Yen Ndui, masih tinggal di China dan seumur-umur belum pernah ditemuinya. Adik perempuannya ada dua orang yakni: Leiho dan Liming.
Awalnya, Nenek tidak pernah tahu bahwa salah satu adik iparnya merupakan anak angkat. Sampai pada suatu hari, tanpa sengaja Nenek mengetahuinya lewat peristiwa berikut.
"Hayo, Kau Ndui, lekas kemari dan makan! Aku akan menyuapimu," Leiho memanggil Liming. Kau Ndui—Gadis Gukguk adalah nama lain Liming.
"Tidak mau! Aku tidak mau makan!" seru Liming.
Kakek yang kebetulan lewat menegur adik bungsunya itu.
"Kau jangan bandel seperti itu, Kau Ndui. Ayo cepat duduk yang manis biar Ciecie Leiho menyuapimu."
Liming mendelik ke arah Kakek, tak senang. "Siapa bilang dia Ciecie-ku? Aku tak sudi punya Ciecie seperti dia!"
"Kau Ndui!!" seru Kakek dengan keras. "Jangan berkata seperti itu kepada Ciecie Leiho!"
Liming melihat ke arah Kakek dengan pandangan menantang dan tak takut sama sekali. "Lha, kenyataanya memang begitu, kan? Dia cuma anak pungut! Asal-usulnya tidak jelas entah dari mana!"
"Liming!" seru Kakek lagi. "Masih sekecil ini tabiatmu sudah seburuk itu! Aku akan memberimu 'sedikit pelajaran'!"
Kakek mengulurkan tangan hendak menjewer kuping Lnming, tetapi gadis cilik itu dengan cepat berkelit ke arah pintu. Sebelum sosoknya hilang, dia masih sempat berbalik dan melihat ke arah Leiho. Lalu, sambil nyengir dengan gaya kurang ajar, Liming menjulurkan lidahnya keluar mengejek Ciecie-nya itu.
Nenek terpana menyaksikan hal tersebut. Belum pernah dilihatnya bocah perempuan sekurang ajar Liming yang dengan tega mempermainkan kakak perempuannya. Dilihatnya wajah Leiho yang tertunduk lesu, diam-diam menyimpan kepedihannya sendiri.
Dari penampilannya, sukar dipercaya apabila mengatakan Leiho dan Liming bukan kakak beradik. Kedua saudari itu sama-sama berkulit hitam manis dan berperawakan kecil. Hanya saja, apabila dilihat dari dekat, mata Leiho memang lebih besar ketimbang Liming.
Sekarang, Nenek pun mengerti. Pantas saja ketika pertama kali bertemu Leiho, Nenek mendapati gadis itu berbicara terbata-bata sampai-sampai Nenek sempat mengira kalau adik iparnya itu gagap. Tetapi anehnya, terkadang jika sedang bersemangat, Leiho akan berbicara cepat dalam bahasa yang sama sekali tidak dimengerti oleh siapa pun. Diam-diam, Nenek menaruh perhatian terhadap Leiho.
Nenek memperhatikan kalau hanya Kakek Buyutlah yang paling memperhatikan Leiho. Sedangkan Nenek Buyut dan Liming tiada hari tanpa memarahi dan mengolok-olok gadis itu. Bukankah Kong Zi—Konfucius pernah berkata, 'Apabila setiap orang menganggap orangtua orang lain seperti orangtua sendiri dan anak orang lain sebagai anak sendiri, maka dunia yang diciptakan bagi semua orang ini pun akan menjadi harmonis'. Sungguh disayangkan apabila hanya karena statusnya sebagai anak angkat Leiho mesti menerima bual-bualan dari Ibu dan adik angkatnya.
Nenek berusaha menjalin hubungan baik dengan adik iparnya yang satu ini. Awalnya, Leiho tidak langsung percaya dan menjaga jarak sebab khawatir Nenek akan bersikap tidak ubahnya seperti Nenek Buyut dan Liming. Tapi lama-kelamaan, akhirnya Leiho mau bersahabat dengan kakak iparnya itu. Nenek membuktikan bahwa sikap tulus dan senyum tanpa pamrih bisa memenangkan kepercayaan dari seseorang.***
 Sewaktu memutuskan menikah dengan Kakek, Nenek tidak pernah tahu kalau ternyata calon Ibu Mertuanya itu seorang wanita tua yang kolot sekali.
Nenek Buyut masih memegang prinsip kuno orang Tionghoa bahwa seorang Ibu Mertua berkuasa penuh atas menantu perempuannya serta berhak memperlakukan menantunya itu dengan semena-mena, tanpa boleh dibantah.
Maka setelah menikah dengan Kakek, Nenek pun mulai mengalami hal-hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Nenek Buyut menyuruhnya memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Nenek yang sebelum menikah adalah putri orang kaya tak mampu melakukan semua itu. Ayah Nenek adalah seorang penjahit terkenal di pecinan, langganan para Meneer Belanda. Di rumahnya dulu Nenek memiliki banyak pembantu sehingga dia dan adik perempuannya tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga.
Ketika mengetahui hal itu, Nenek Buyut seakan memperoleh kesenangan baru dengan memarahi dan mengolok-olok menantunya itu.
"Orang-orang berkata bahwa aku tentunya beruntung memiliki menantu perempuan yang cantik, putih dan pintar. Tapi tahukah mereka kalau menantuku itu membersihkan rumah dan mencuci pakaian pun tak becus! Bahkan, memasang kayu bakar dan menanak nasi pun dia tak bisa! Haiya... bagaimana mungkin dia bisa disebut wanita sejati?" sindirnya lagi.
Nenek hanya terdiam menelan ludah. 
"Ada pepatah lama yang mengatakan: 'Kalau menikah dengan anjing ikut anjing, kalau menikahi orang miskin ikut orang miskin'! Sayang sekali putraku tidak bisa seperti Ayahmu yang menyediakan lusinan pembantu sehingga tugas-tugas rumah tangga ini semuanya mesti kau kerjakan sendiri!"
Nenek mendengar kata-kata itu setiap hari, hampir beberapa jam sekali. Setiap kali apabila Nenek Buyut mendapati kesalahannya, Nenek pun akan memperoleh 'kata-kata mutiara' tersebut. Walau demikian, Nenek sama sekali tidak pernah membantah dan menerima begitu saja celaan-celaan itu.
Leiho terkesan oleh kesabaran Nenek. Karenanya, diam-diam dia membantu kakak iparnya itu. Leiho senantiasa mendampingi Nenek, mangajari serta menasehatinya.
"Shao Shao—Kakak Ipar, jangan membuat kopi dengan cara seperti itu, nanti aromanya akan hilang...."
Nenek mulai belajar sedikit demi sedikit apa yang diajarkan oleh Leiho.
"Shao Shao, coba pakai cara begini sewaktu menjemurnya! Aku pernah melihat Ibu melakukannya. Cara ini lebih praktis dan mudah...."
Nenek mulai beradaptasi.
"Shao Shao, jangan meletakkan barang itu di situ! Nanti Ibu akan memarahimu lagi...."
Demikianlah hubungan Nenek dan Leiho semakin akrab berkat bantuan-bantuan serta aneka tips rahasia yang diberikan olehnya. Lambat-laun, Nenek akhirnya terhindar dari omelan-omelan Nenek Buyut.
Pada akhirnya, Nenek pun mulai menganggap Leiho sebagai saudara sekaligus sahabat yang paling bisa diandalkan. Hubungan yang erat ini masih terus berlangsung sampai rambut keduanya beruban dan usia mereka bertambah tua.***
Pada suatu siang, Nenek dan Leiho sedang duduk-duduk di dapur.
Sebagian besar tugas dapur hari itu telah selesai. Mereka tinggal menantikan mendidihnya air yang sementara direbus. Di dekat kompor kayu bakar kedua perempuan itu bercakap-cakap.
Pada kesempatan ini Leiho berkata, "Shao Shao, kudengar kau dulu adalah murid yang cerdas ketika bersekolah dulu. Maukah kau mengajariku membaca dan menulis mandarin? Aku sampai sekarang masih kesulitan berbicara dalam bahasa Guandong Khaiphing, apalagi mandarin...."
"Tentu saja boleh. Aku bersedia mengajarimu," jawab Nenek.
Leiho menggoyang-goyangkan kepala sambil berkata lagi, "Selama ini cuma Ayah dan Kokoh—kakak lelaki, yang mengajariku jika sedang tak sibuk. Ibu jarang peduli. Dia dan Liming malah menertawakanku setiap kali aku salah bicara sehingga aku malu dan takut salah."
Nenek mendengar sambil menggeleng-gelengkan kepala. Nenek jelas tidak setuju dengan orang-orang yang senang menertawakan kelemahan orang lain. Nenek lalu membesarkan hati Leiho.
"Kau jangan malu atau pun takut salah. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan sebelum dia menjadi mahir.Yang perlu kau lakukan hanyalah terus berlatih. Meski keliru pada awalnya tetapi itu masih lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Apa kau paham?"
Leiho mengangguk.
"Baiklah," lanjut Nenek. "Sebagai permulaan, sekarang apa yang hendak kau pelajari?"
Mata Leiho berbinar. "Aku ingin belajar menulis namaku sendiri!" sahutnya.
Maka, Nenek pun mengambil sebatang kayu bakar dari perapian yang ujungnya menghitam. Lalu, di atas dinding dapur yang kekuningan, Nenek menulis nama Leiho dengan kayu arang tersebut.
"Namamu terdiri dari dua kata, lei dan ho Dalam bahasa mandarin, kedua kata ini dilafalkan sebagai lai dan hao. Lei atau lai berarti datanglah, sedangkan ho atau hao berarti kebajikan. Kau dinamakan demikian dengan harapan agar kedatanganmu di rumah ini bisa membawa kebajikan dalam keluarga."
Leiho memandang tulisan namanya di dinding dapur dengan terkesima. "Ya," bisiknya. "Dulu Ayah juga pernah berkata seperti itu padaku."
Setelah memandang tulisan namanya selama beberapa saat, Leiho mulai menirunya. Sembari berusaha menulis kata lei, dia bertanya kepada Nenek.
"Shao Shao, tahukah kau mengapa Liming biasa dipanggil Kau Ndui—Gadis Gukguk? Bukankah itu personifikasi gonggongan anjing, dan maknanya kurang bagus? Masa anak perempuan panggilannya seperti anjing?"
Nenek tersenyum mendengar perkataan Leiho. Dia pun mulai bertutur kepada adik iparnya itu.
"Orang Tionghoa zaman dulu punya sebuah kepercayaan. Apabila seorang anak ketika kecil sering rewel dan sakit-sakitan, hal itu biasanya disebabkan oleh namanya yang bermakna terlalu tinggi. Konon, roh-roh jahat senang mengganggu anak-anak yang namanya indah-indah serta enak didengar. Arti nama Liming sesungguhnya adalah 'elok dan cerdas'. Aku pernah dengar dari Kokoh bahwa sewaktu kecil, Liming sering jatuh sakit. Itu sebabnya Ibu mengubah panggilannya menjadi Kau Ndui—Gadis Gukguk, dengan harapan supaya roh-roh jahat tidak mengganggunya. Ajaibnya, menurutk Kokoh, semenjak dipanggil seperti itu, kesehatan Liming berangsur-angsur pulih, bahkan sampai sekarang dia jarang sakit."
Leiho mendengar kisah itu dengan terkesima. Dengan mata membelalak dia berseru, "Benar-benar cara memberi nama yang aneh!" 
Sejurus kemudian, Leiho kembali menekuni tulisannya. Kali ini dia tengah berusaha menulis huruf ho.
"Ayah biasa memanggilku dengan sebutan Ho Ndui—Gadis Bajik. Aku terkadang malu apabila dipanggil seperti itu. Sebab aku sangsi, apakah memang benar aku anak yang baik?"
Nenek tersenyum lagi sambil menyambung, "Tentu saja kau anak yang baik."
"Ayah juga biasa menyebut hiang kau padaku. Aku tak tahu apa artinya. Akan tetapi aku rasa itu juga berarti baik sebab Ayah mengucapkannya dengan penuh kegembiraan."
"Wah, itu memang pujian, Leiho. Hiang kau berarti penurut dan berbakti. Kau memang pantas disebut seperti itu."
Wajah Leiho memerah karena perkataan yang dilontarkan Nenek. Dia lalu menanggapi.
"Tapi Ibu sering memarahiku. Meski aku tak terlalu paham maksudnya, aku bisa melihat mimik wajahnya yang galak ke arahku. Kadang-kadang dia melontarkan kata-kata pun chuat dan mbo yong padaku. Shao Shao tahu apa arti dari kedua kata-kata itu?"
"Itu...," Nenek berhenti sejenak. 'Ah, kenapa kata-kata itu diucapkan kepada Leiho?' Nenek membatin. Namun tetap diungkapkannya juga dengan terpaksa. "Kedua kata itu maknanya kurang baik," ujar Nenek sedih. "Pun Chuat berarti 'tolol' atau 'bodoh'. Bahasa mandarinnya disebut pen tan. Sedang kata mbo yong, dalam bahasa mandarin disebut mei you yong, keduanya sama-sama berarti 'tidak berguna'."
Leiho berpikir sebentar guna mencerna perkataan Nenek. Tak lama kemudian dia tertawa-tawa sambil bergumam, "Pantas saja Ibu mengatakan itu setiap kali aku salah dalam melakukan sesuatu. Tidak heran pula kalau dia sering mengucapkan kedua kata-kata itu padaku sambil kesal dan menggerutu. Rupanya artinya seperti itu...."
Malamnya, Nenek mendengar pertengkaran antara Leiho dan Liming lagi. Seperti biasa, Liming si Anak Nakal itu tengah mempermainkan Leiho yang hendak menyuapinya. Bukannya duduk baik di atas kursi, Liming malah berlarian ke sana kemari sehingga Leiho mesti mengejar-ngejarnya.
"Aduh, Kau Ndui, jangan mondar-mandir begitu! Bagaimana aku bisa menyuapimu kalau kau berkeliaran terus...," keluh Leiho
Liming melihat ke arah Leiho dan mendengus, "Aku tidak minta kau untuk menyuapiku, kok! Aku kan sudah pernah bilang, aku tidak mau disuapi olehmu!"
Leiho gemas. Dia mulai berkata tegas, "Bisakah kau sesekali mematuhi aku? Kalau kau tidak mau makan, nanti aku yang akan dimarahi Ibu karena dikiranya aku tidak mengurusmu!"
Tingkah Liming semakin menjadi-jadi. "Untuk apa aku harus mematuhimu? Kau kan bukan Ciecie-ku!" Setelah berkata demikian, Liming menjulurkan lidahnya mengejek Leiho.
Kekesalan Leiho memuncak. Piring yang sedang dipegangnya dibanting ke atas meja hingga sendoknya terpelanting. Leiho berkacak pinggang. Kedua matanya dengan tajam memandang ke arah Liming lurus-lurus seolah hendak menelan anak itu bulat-bulat.
"Baiklah, kalau kau tidak mau makan! Biar saja kau kurus kering seperti anak yang kena cacingan! Aku sudah muak denganmu! Aku tak mau menyuapimu makan lagi!"
Liming terkejut dan terpana. Dipandangnya Leiho seolah tak percaya. Selama dua tahun ini Liming tak henti-hentinya mempermainkan, mengejek dan bahkan memarahi kakak angkatnya itu. Namun baru pada hari inilah Liming melihat Leiho tidak lagi menerima begitu saja perlakuannya. Dia melawan!
Leiho melanjutkan amukannya lagi. Dia berkata dengan suara keras, "Siapa juga yang mau punya Meimei—adik perempuan macam kau? Kau nakal, sering berkelakuan tidak sopan dan pembantah! Kau juga pun chuat—bodoh, dan..." Leiho memutar kedua bola matanya, mencari-cari kata-kata yang tepat. ".... Mbo yong—tidak berguna!" seru Leiho menyelesaikan kalimatnya.
Liming benar-benar shock! Matanya membelalak besar sekali dan mulutnya menganga. Beberapa saat kemudian, Liming menangis sembari mencari Nenek Buyut dan melapor.
"Huhuhu... Ibu... Leiho barusan memarahiku! Dia mengataiku.... Katanya... aku ini... 'tidak berguna'! Huhuhu....!"***
Pada tahun 1941, Nenek melahirkan putra sulungnya, Paman Tertuaku. 
Ketika Paman Tertua mulai belajar berbicara, Nenek pun mengajarinya memanggil nama-nama anggota keluarga.
"Papa, Mama...."
"Pap... pa, Mam... ma...."
"Akong, Ahu—Kakek, Nenek...." 
"A... kung, A... fhu...."
Tiba-tiba Leiho melintas dan melambaikan tangan dengan jenaka ke arah Paman Tertua.
"Chie... Chie...," Paman Tertua mengumam sambil menunjuk ke arah Leiho.
"Siapa yang kau panggil Ciecie?" Nenek bertanya keheranan. Setelah melihat ke arah yang ditunjuk Paman Tertua, barulah Nenek mengerti.
"Oh, ternyata Leiho. Panggilannya bukan Ciecie—kakak perempuan, Nak. Semestinya Gei Ku—Bibi kedua dari pihak Ayah."
"Bukan...! Dia itu Chie Chie...," Paman Tertua bersikeras menolak mengubah panggilannya.
Nenek pada akhirnya menyerah pada keinginan putra sulungnya. Untuk selamanya, Paman Tertua memanggil Leiho 'Ciecie'. Kekeliruan ini diteruskan kepada Paman Kaseng, kemudian Paman Kedua, dan yang terakhir adalah Ayahku sendiri. Akhirnya, keempat putra Nenek tersebut tak ada satu pun yang memanggil Leiho dengan sebutan 'Bibi'.
Keempat putra Nenek sangat akrab dengan Leiho. Sejak kecil mereka sudah sangat dekat dengan 'Ciecie' mereka yang satu ini.
Sebaliknya dengan Leiho, hubungan antara Paman Tertua dengan Liming berlangsung dingin dan senantiasa dipenuhi pertengkaran. Ketika Paman Tertua lahir, Liming berusia sembilan tahun. Sewaktu mengetahui bahwa si Keponakan Baru ternyata lebih 'mencuri' perhatian seluruh keluarga ketimbang dirinya, muncullah perasaan iri dalam diri Liming. Sejak kecil Paman Tertua sering disakiti oleh Liming, terutama jika dia baru saja memperoleh hadiah atau pujian dari Kakek dan Nenek Buyut. Liming tidak segan-segan untuk mencubit, memukul, atau bahkan merusak hadiah Paman Tertua sebagai wujud dari kedengkiannya.
Ketika Paman Tertua mulai belajar bicara, Nenek mengajari Paman Tertua untuk memanggil Liming dengan sebutan Chiang Ku—Bibi Bungsu. Belakangan, ketika Paman Tertua sudah menguasai lebih banyak kata, dia menjuluki Liming dengan sebuah sebutan dalam bahasa mandarin yang dikarangnya sendiri: Siong Te Chiang Ku—Bibi Bungsu nan Galak!
Dan julukan tersebut diwariskannya pula kepada adik-adiknya, termasuk Ayahku.***
Pada awal tahun 1940-an, Jepang menduduki kepulauan Nan Yang menggantikan orang-orang Belanda yang sudah hampir dua setengah abad menjajah daerah ini.
Meski pada awalnya tentara-tentara Jepang berlaku cukup ramah kepada para imigran Tionghoa di Nan Yang, namun para Huachiao—Tionghoa perantauan tersebut tetap waspada terhadap mereka. Meski terpisah ribuan kilometer dari tanah leluhur di China, para Huachiao yang bermukim di Nan Yang tetap tahu tentang kebusukan tindak-tanduk para prajurit Jepang, terutama setelah peristiwa pembantaian orang-orang China di Nanjing bulan Desember 1937. (Dunia internasional mengenalnya dengan insiden Nanjing Massacre atau Pembantaian Nanjing 1937).
Dan kecurigaan para Huachiao terbukti. Setelah para tentara Jepang menahan, menyiksa dan membunuh banyak sekali orang-orang Belanda serta peranakan Indo, mereka mulai melirik para Huachiao. Para prajurit Jepang terkenal amat membenci orang-orang terpelajar seperti cendekiawan dan guru. Di China, pada tahun-tahun penjajahan Jepang, orang-orang terpelajar mesti bersembunyi atau menyamarkan identitas mereka. Sebab jika ditemukan oleh tentara Jepang, mereka akan ditangkap dan disiksa tanpa ampun. Tak jarang sebagian besar dari mereka langsung menemui ajal usai penyiksaan itu. Pemerintah Jepang amat membenci kalangan ini karena dianggap sebagai akar pergerakan China melawan Jepang saat itu.
Maka, di Nan Yang para tentara Jepang mulai menangkap satu per satu Huachiao terutama yang berprofesi sebagai guru atau bekas karyawan perusahaan Belanda. Suami dari adik perempuan Nenek yang berprofesi sebagai guru adalah salah satu yang ditangkap, diinterogasi dan disiksa. Kakek juga turut diawasi. Kemampuan Kakek dalam menguasai Bahasa Belanda dan Inggris membuatnya dicurigai oleh para prajurit Jepang sebagai mata-mata. Meski demikian, kecurigaan itu sama sekali tidak pernah terbukti.
Bagi Kakek Buyut sendiri, kedatangan tentara-tentara Jepang merupakan momok, terutama di rumahnya yang memiliki dua orang anak gadis. Para prajurit Jepang senang mengincar anak-anak gadis yang belum menikah untuk dijadikan Jugun Ianfu—pelacur budak perang. Dan, Kakek Buyut sudah mendengar beraneka kekejaman yang dialami oleh para Jugun Ianfu.
Maka, pada tahun-tahun itu, Leiho dan Liming tidak pernah keluar rumah sebab dilarang oleh Kakek Buyut. Meski demikian, hati Kakek Buyut tetap waswas. Terutama jika memikirkan Leiho yang usianya telah menginjak remaja.
Pada tahun 1942, Kakek Buyut memutuskan menikahkan Leiho dengan seorang pengrajin emas bermarga Ciu (Zhou, dalam dialek Hanyu Pinyin). Pernikahannya berlangsung sederhana di tengah suasana penuh tekanan penjajahan. Meski demikian Kakek Buyut sudah merasa lebih lega. Paling tidak, Leiho sudah lolos dari incaran para prajurit Jepang. *** 
Tahun-tahun berikutnya, Nenek tidak pernah melupakan jasa-jasa Leiho padanya.
Salah satu jasa Leiho yang paling melekat dalam ingatan Nenek adalah ketika Leiho menemukan putri Nenek yang bernama Cuan Ndui, yang semula dikira telah meninggal dan disemayamkan dalam kamar mandi, ternyata masih dalam keadaan hidup. Leiho senantiasa hadir pada saat Nenek dalam keadaan sedih maupun senang. Ketika kakak perempuan Kakek bertemu kembali dengan keluarganya, ketiganya langsung akrab. Dengan segera mereka dijuluki 'Tiga Serangkai dalam Keluarga'.
Dari pernikahannya dengan Ciukong (panggilan untuk suami Leiho), kedua suami-istri ini dikaruniai empat orang anak. Di kemudian hari, cucu-cucu Nenekku (termasuk aku), mengenal keempat bersaudara ini dengan sebutan: Paman A Fang (kelahiran 1943), Bibi Lingsiu (kelahiran 1947), Paman A Cok (kelahiran 1951) dan Bibi A Khau (kelahiran 1961).
Keempat putra-putri Leiho bergaul sangat akrab dengan keluarga Nenek.
Nenek bahkan pernah bercanda dengan mengatakan, "Siapa bilang aku cuma punya empat putra? Datanglah ke rumahku dan Anda akan melihat ada delapan orang anak dari yang umurnya paling besar hingga paling kecil, semuanya berkumpul di rumah!"***
Makassar, pertengahan tahun 2001.
Paman Kaseng merupakan satu-satunya saudara Ayahku yang menetap di luar kota Makassar.
Beliau beserta seluruh keluarganya pindah ke Maumere, NTT, pada awal tahun 1970-an. Beliau dan istrinya yang kami panggil Seng Mbu—Bibi Seng, dikaruniai lima orang anak. Salah satu anaknya bernama A Lung.
A Lung adalah putra satu-satunya Paman Kaseng, kelahiran tahun 1971. Dia tinggal di Denpasar, Bali, dan memiliki usaha pembuatan cinderamata sendiri. Pada awal tahun 2000, A Lung adalah tipikal pemuda yang sesuai dengan sebuah pepatah kuno Tionghoa: San She Er Li—pada usia tiga puluh, seorang pria seharusnya sudah mandiri. Dia berwajah tampan dan bertubuh tegap, setidaknya begitulah menurut anggapan kami, para sepupu. Gelar dan ijazah sarjana sudah diperolehnya. Usaha sendiri juga telah memberikan penghasilan finansial yang bisa dibilang melebihi dari cukup. Lantas, apalagi yang kurang?
Yang kurang adalah sampai menjelang usia tiga puluh tahun A Lung masih membujang dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berkeluarga. Seluruh keluarga mulai cemas, terlebih Paman Kaseng dan Seng Mbu. Setiap kali jika A Lung berkunjung atau menelepon ke Makassar, dia akan diberondong pertanyaan-pertanyaan.
"Kapan nikahnya? Sudah punya calon? Siapa orangnya?"
Tapi A Lung hanya memberikan senyuman sambil menjawab, "Belum... belum punya calon. Orangnya belum ada...."
Dan pertanyaan berikutnya akan segera menyusul, "Mengapa? Masih tunggu apalagi, sih?" 
Biasanya A Lung menjawab dengan masih tetap tersenyum, "Tunggu saja tanggal mainnya, ya?"
Lalu, pada pertengahan tahun 2001 itu, kami mulai mencium ada sesuatu yang disembunyikan A Lung. Dia rajin bolak-balik Denpasar-Makassar, terutama pada waktu weekend. Biasanya A Lung datang pada hari Jumat sore dan baru kembali ke Denpasar Minggu sore. Setiap kali kami menanyakan tujuan kedatangannya, A Lung menjawab kalau dia datang dalam rangka kunjungan bisnis. Anehnya, kami melihatnya datang dengan membawa bagasi yang sedikit sekali dan berpenampilan santai. Sama sekali bukan seperti orang yang hendak mengurus masalah bisnis.
Belakangan kami semakin curiga. Terlebih ketika salah satu dari kami, saudara sepupunya, memergokinya jalan berdua dengan seorang gadis di sebuah mal. Sayang sekali ketika sepupuku itu berusaha melihat lebih dekat gadis tersebut, keduanya telah menghilang masuk ke dalam taksi.
Kami mulai memberondong A Lung dengan pertanyaan-pertanyaan lagi, "Siapa cewek itu? Namanya siapa? Tinggal di mana?" 
Namun A Lung tetap merahasiakan identitas gadis itu. "Ah, masih pedekate. Nanti ya, kalau tiba saatnya akan saya beritahu...."
Kami semakin penasaran. Misterius sekali ceweknya si A Lung ini! 
Kemudian, penghujung Maret tahun 2002, bertepatan dengan waktu Ching Ming—ziarah kubur, A Lung datang lagi ke Makassar. Kali ini dia tidak sendirian. Ayah-Ibunya turut hadir dari Maumere dan seluruh saudara-saudara perempuannya turut berdatangan kemari. Kami melihat adanya indikasi peristiwa besar sebentar lagi akan terjadi.
"Jadi? Calonnya sudah akan diumumkan, nih?" Kami menggoda A Lung.
A Lung nyengir sambil berkata, "Iya...."
"Siapa? Siapa?"
Nyengir A Lung semakin lebar.
"Kalian kenal kok, orangnya.... Namanya Fonny...."
Kami terpaku mendengar nama itu disebut A Lung. Tiba-tiba salah satu dari kami bergumam, "Jangan-jangan, Fonny anaknya...." Suaranya direndahkan sehingga tidak terdengar jelas, tetapi A Lung sudah sempat menangkap maksudnya. Dia tertawa.
"Ya,betul! Itulah orangnya!"
Sepupu kami yang bergumam itu sontak terkejut, membekap mulutnya sendiri dan berseru, "Masa?! Astaga! Rupanya selama ini kalian berdua pintar sekali merahasiakannya, ya?"
A Lung terus saja tertawa. Dan ketika sepupu kami itu menjelaskan hal tersebut, kami semua bereaksi kurang-lebih sama dengannya. Kami semua terkejut, melayangkan protes ke arah A Lung lewat seruan-seruan.
"Wah! Ternyata...! Selama ini kalian main kucing-kucingan...! Curang! Tapi bagaimana pun, selamat, ya!"
Tentu saja kami mengenal Fonny, pacarnya si A Lung ini. Ketika kecil, kami biasa bertemu dan bermain bersama dalam acara-acara keluarga. Ayahnya adalah sepupu dari Ayah-Ayah kami, dan selama ini kami memanggilnya dengan sebutan: Shu Shu Cok—Paman A Cok. Neneknya juga sudah barang tentu kami kenal. Beliau kini menjadi salah satu tetua yang cukup dihormati di keluarga kami. Kami memanggilnya Ku Hu—Nenek, saudara perempuan Kakek. Dialah Leiho, adik angkat Kakek.***
A Lung dan Fonny menikah pada penghujung bulan November tahun 2002. Resepsinya berlangsung meriah di dua kota: Makassar dan Denpasar.
Pada saat mereka menikah, keduanya dianggap sebagai pasangan yang serasi karena nama mereka sudah mengisyaratkan kalau mereka berjodoh. Nama A Lung berarti naga, sedang di dalam nama Fonny terkandung huruf Fong (Hong dalam bahasa mandarin Hanyu Pinyin), berarti burung phoenix. Naga dan burung phoenix adalah pasangan yang cocok. Kedua binatang ini merupakan mitologi dan simbol pernikahan China, mewakili mempelai pria dan wanita.
Hingga pada saat tulisan ini selesai kurampungkan, sepasang suami-istri itu tengah hidup berbahagia di Denpasar, Bali. Keduanya telah dikaruniai dua orang anak yang masing-masing bernama Kevin dan Karin.
Dengan adanya pernikahan antar anak-anak, hubungan antara Paman Kaseng dengan keluarga Paman A Cok dan Ibunya, Leiho semakin erat. Akan tetapi, Paman Kaseng masih belum bisa mengubah kebiasaannya untuk memanggil Leiho dengan Chin Cia—Keluarga Besan. Dalam beberapa kesempatan, kami justru mendapatinya masih keseleo memanggil Leiho dengan sebutan Ciecie—Kakak Perempuan.
Ehm, apa pun panggilannya, dia tetaplah Leiho, si Putri Adopsi, adik perempuan Kakek yang namanya berarti: Datanglah Kebajikan!
Dan sepertinya nama itu memang tepat dipilih untuknya! ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger