Sabtu, 30 April 2011

Leiho, Datanglah Kebajikan By. Merlin Herlina

Nan Yang – Kepulauan Indonesia, 1937


Bulan September tahun itu, Kakek Buyutku dari pihak Ayah, Ciang Wengwah, tengah berada di sebuah dataran tinggi yang jaraknya duaratus tigapuluh lima kilometer di sebelah utara kota Makassar. Dataran tinggi tersebut bernama Enrekang.
Semenjak bermigrasi dari Guandong, China, ke Makassar, Nan Yang, duapuluh tujuh tahun silam, Kakek Buyut telah puluhan kali menjejakkan kakinya ke bumi Massenrempulu ini. Beliau sering ke sana terutama untuk mencari barang-barang hasil hutan seperti rotan dan kayu untuk dibawa ke Makassar lalu ditawarkan kepada cukong-cukong pembuat mebel yang sebagian besar juga adalah para imigran Tionghoa dari propinsi Guandong
Di Enrekang, Kakek Buyut punya seorang kenalan penduduk setempat, seorang pria yang bernama I Nuhung yang berprofesi sebagai pencari kayu. Dia sering keluar-masuk hutan untuk memperoleh bahan-bahan seperti yang diinginkan oleh Kakek Buyut. I Nuhung bisa berkomunikasi dengan Kakek Buyut dengan baik sebab dia fasih berbicara dalam bahasa Melayu ketimbang penduduk lainnya di daerah tersebut.
Setiap kali kunjungan Kakek Buyut ke Enrekang, beliau pasti akan menginap di rumah I Nuhung yang berupa rumah panggung sederhana dan keseluruhannya terbuat dari kayu. Setiap Kakek Buyut menginap, I Nuhung amat senang dan memperlakukan Kakek Buyut selayaknya tamu kehormatan.
Awalnya Kakek Buyut merasa tidak enak dengan perlakuan tersebut. Beliau merasa sungkan jika setiap kali kedatangannya, akan merepotkan I Nuhung dan keluarganya.
Namun, I Nuhung menepis anggapan Kakek dengan berkata, "Kalau Baba—Tuan, tidak mau tinggal di rumah saya selama berada di sini, itu sama dengan menolak kebaikan saya dan hal itu akan menyinggung perasaan saya...."
Maka Kakek Buyut pun akhirnya menerima undangan I Nuhung untuk menginap di rumahnya setiap kali beliau berkunjung ke Enrekang.
I Nuhung seorang duda. Istrinya meninggal ketika putri mereka satu-satunya, baru berusia setahun. I Nuhung memberi nama putrinya itu: Hasniah. Dan selama bertahun-tahun, tanpa menikah lagi, I Nuhung membesarkan putrinya itu sendiarian.
Kakek Buyut berpendapat Hasniah anak yang baik. Dia sangat patuh juga hormat kepada Ayahnya. Sehari-hari Ayah dan putri itu berbicara dalam bahasa Bugis dialek Enrekang yang artinya kurang begitu dipahami Kakek Buyut. Namun meski tidak menguasai bahasa Melayu sefasih Ayahnya, Hasniah tetap bisa berkomunikasi dengan Kakek Buyut setiap kali beliau datang berkunjung. Kadang-kadang antara tamu dan anak si Tuan Rumah tersebut perlu berbahasa isyarat untuk mempertegas hal-hal tertentu.
Namun, pada kunjungan bulan September tahun itu, Kakek Buyut mendapati keadaan I Nuhung berbeda dari biasanya. Pria pencari kayu itu sedang terbaring sakit. Dia demam dan sekujur tubuhnya menggigil hebat terutama di malam hari. Awalnya semua orang berpendapat kalau I Nuhung hanya sakit biasa. Pada hari ketiga, sakitnya tak kunjung sembuh juga sehingga dia pun pergi mengunjungi sanro (dukun) untuk berobat. Tetapi sepulangnya dari sanro, I Nuhung bukannya sembuh. Sebaliknya, kondisinya semakin parah.
Kakek Buyut melihat gejala-gejala sakitnya I Nuhung dan menarik kesimpulan. "Pak Nuhung, sebaiknya kita segera pergi ke rumah sakit buat memeriksa penyakitmu," ujar Kakek Buyut khawatir.
"Rumah sakit?" ujar I Nuhung dengan tidak percaya. "Di mana ada rumah sakit di Enrekang ini? Rumah sakit terdekat dari sini terletak di Parepare, dan jaraknya hampir seratus kilometer dari sini. Lagipula saya sudah diperiksa sanro. Jangan khawatir Baba, sebentar lagi saya pasti akan sembuh. Saya sudah biasa kena sakit begini!"
I Nuhung berkata di sela-sela usahanya menahan bunyi giginya yang bergemelutuk karena menggigil.
"Jangan menyepelekan sakitmu ini, Pak Nuhung. Kelihatannya, sanro pun sudah tak manjur lagi mengobatinya. Jika saya meilihat gejalanya, ini sepertinya malaria.... "
Namun I Nuhung bersikeras tidak mau berobat ke rumah sakit. Keesokan harinya, kondisinya semakin parah. Dia bahkan tak bisa lagi bangkit dari tempat tidurnya.
"Seluruh badanku terasa ngilu, Baba...." keluh I Nuhung dengan suaranya yang parau. "Baba benar, kali ini sanro sudah tidak mampan mengobati saya. Saya kira... 'waktunya' sudah hampir tiba...."
"Apa maksudnya 'waktunya' sudah hampir tiba? Pak Nuhung, jangan bicara seperti itu!" Kakek Buyut berujar. Tetapi diam-diam beliau mulai cemas memikirkan pembicaraan I Nuhung yang mulai ngelantur itu. Disemangatinya orang sakit itu. "Ingat, masih ada Hasniah, anak perempuanmu satu-satunya. Pak Nuhung harus bisa sembuh demi dia...."
Kakek Buyut sulit membayangkan Hasniah yang kelak akan menjadi yatim-piatu apabila I Nuhung benar-benar 'pergi' meninggalkannya. Memikirkan kemungkinan itu, Kakek Buyut teringat akan putri sulungnya, Yen Ndui, yang ditinggalkan oleh Nenek Buyut ketika masih berusia tigabelas tahun di Guandong.
"Itulah yang membuatku resah, Baba...." sahut I Nuhung. "Saya tak bisa pergi dengan tenang apabila belum mengetahui Hasniah akan tinggal dengan siapa. Saya sudah tidak punya sanak-keluarga buat menitipkan anak itu. Begini saja...." I Nuhung memandang Kakek Buyut dengan tatapan nanar. "Bersediakah Baba membawa Hasniah ikut bersama Anda untuk tinggal di Makassar, jika sesuatu terjadi dengan saya?"
Kakek Buyut semakin cemas. "Pak Nuhung, saya sudah bilang: 'jangan berpikir yang tidak-tidak'!"
I Nuhung mencengkeram erat pergelangan tangan Kakek Buyut sampai-sampai Kakek Buyut bisa merasakan telapak tangan yang basah dan dingin menekan kulitnya.
"Baba, saya mohon Baba mau berjanji...." ucap I Nuhung sambil tersengal-sengal. "Biarkan Hasniah ikut Baba... dia bisa bekerja di rumah Baba. Dia bisa menjadi pembantu yang baik...."
Hati Kakek Buyut pedih mendengarnya. "Saya tidak akan pernah menganggap atau memperlakukan putrimu sebagai pembantu, Pak Nuhung...," ujar Kakek Buyut. "Kalaupun kelak dia ikut bersama saya, saya pasti akan menjaga dan merawatnya seperti anak sendiri...."
I Nuhung melepaskan genggamannya dan mendesah lega. "Ah, Baba baik sekali...."
Kakek Buyut memperbaiki posisi tubuh I Nuhung, dan mendesaknya agar tetap berbaring.
"Saya akan ke Parepare sore ini juga buat membelikanmu pil kina. Obat itu paling mujarab untuk sakit malaria. Setelah memperoleh obat tersebut, saya akan segera kembali."
I Nuhung bergumam sesuatu dengan kalimat tak jelas. Kedengarannya dia hendak protes. Akan tetapi Kakek Buyut telah beranjak meninggalkannya.
Sore itu juga, Kakek Buyut berangkat ke Parepare untuk membeli pil kina bagi I Nuhung dengan menumpang sebuah bendi.*** 
 Kakek Buyut sampai di Parepare pada waktu tengah malam, dan baru bisa membeli pil kina di rumah sakit kecil milik orang Belanda keesokan paginya.
Usai memperoleh obat tersebut, Kakek Buyut buru-buru menumpang bendi kembali ke Enrekang. Selama perjalanan itu, Kakek Buyut tak henti-hentinya berharap agar dia lekas sampai ke rumah I Nuhung. Namun, jalan sempit berbatu yang dilalui, disertai jalur yang meliuk-liuk pegunungan, membuat perjalanan ini tidak secepat yang diharapkan Kakek Buyut.
Sesampainya Kakek Buyut di Enrekang, hari sudah sore. Ketika Beliau memasuki halaman rumah I Nuhung, Kakek Buyut sungguh terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Begitu banyak orang yang berkumpul di depan rumah panggung tersebut. Di halaman depan terdapat beberapa pria sedang membuat keranda dari bambu. Suara jerit tangis terdengar dari dalam rumah. Salah seorang tetangga I Nuhung berkata kepada Kakek Buyut.
"Baba, Anda terlambat kembali... I Nuhung sudah meninggal siang tadi seusai lohor...."
Kakek Buyut bergegas menaiki tangga kayu menuju atas rumah. Di ruang dalam rumah panggung tersebut, jenazah I Nuhung telah terbaring, sekujur tubuhya terbungkus oleh kain kafan putih.
"Pak Nuhung!" jerit Kakek Buyut seraya menghambur ke pinggir jenazah yang telah kaku tak bergerak itu. "Kenapa bisa begini...? Kenapa Pak Nuhung tidak menunggu saya pulang membawa obat...?"
Kakek Buyut diliputi keputusasaan. Beliau menyesal sekali mengapa beberapa hari sebelumnya beliau tidak memaksa I Nuhung pergi berobat atau pergi membeli pil kina lebih cepat. Semestinya Beliau tidak langsung mempercayai kata-kata I Nuhung bahwa kondisinya akan baik-baik saja, waktu itu.
Kakek Buyut menengadahkan kepalanya seraya memendam kesedihan di dalam dadanya. Di seberangnya, pada sisi jenazah I Nuhung, Kakek Buyut melihat Hasniah yang tengah menangis sedih. Melihat kondisi gadis itu, hati Kakek Buyut semakin berduka.***
I Nuhung dimakamkan sore itu juga sebelum magrib.
Usai pemakaman, Kakek Buyut berbicara kepada Hasniah dalam bahasa Melayu yang dimengerti namun tidak bisa dijawab dengan fasih olehnya.
"Hasniah," panggil Kakek Buyut. "Kamu mau ikut dengan saya ke Makassar?"
Mata Hasniah membelalak tak percaya. "Ke... Makassar, Baba?" tanyanya gugup.
"Ya," Kakek Buyut menjawab. "Saya berencana mengangkatmu sebagai anak, Hasniah. Ini sudah saya janjikan kepada Ayahmu sewaktu dia sakit. Sekarang tinggal menunggu keputusanmu, Nak. Kalau kamu setuju, saya dengan senang hati mengadopsimu. Tetapi kalau kamu keberatan, saya tidak memaksa. Hanya saja, Ayahmu pernah bilang kalau kalian sudah tidak punya sanak-keluarga lagi. Jadi, kalau kamu tetap di sini, kamu akan tinggal dengan siapa?"
Hasniah mengangguk perlahan.
Kakek Buyut tak mau langsung menyimpulkan keputusan gadis itu. Ditanyainya lagi gadis itu dengan lembut, "Jadi, Hasniah betul mau ikut dengan saya ke Makassar?"
Hasniah mengangguk lagi. Kakek Buyut mendesah perlahan. Dielus-elusnya kepala Hasniah dengan perasaan sayang. Melihat Hasniah kala itu, Kakek Buyut kembali membayangkan putri sulungnya, Yen Ndui. Hatinya diliputi kerinduan.***
Kakek Buyut membawa Hasniah ke Makassar seminggu usai pamakaman I Nuhung.
Perjalanan kali ini merupakan perjalanan terjauh yang pertama kali dilakukan Hasniah seumur hidupnya, waktu itu. Dia dan Kakek Buyut melewati banyak tempat. Begitu banyak hamparan sawah dan ladang yang dilihat Hasniah. Begitu juga dengan laut dan hutan. Karena selama ini Hasniah dan Ayahnya tinggal di dataran tinggi, melihat laut merupakan pengalaman pertama bagi Hasniah. Untuk pertama kali dalam hidupnya kala itu, Hasniah melihat hamparan air yang begitu luas, memantulkan warna langit biru di atasnya disertai bau hangat dan asin menerpa kulitnya.
Setelah tiga hari berjalan, sampailah Hasniah di rumah Kakek Buyut di kawasan pecinan, Makassar. Sewaktu melihat bangunan rumah itu, Hasniah sempat terheran-heran melihat bangunan bertingkat tiga dan hampir seluruhnya terbuat dari batu bata tersebut menjulang di hadapannya. Kakek Buyut membimbing Hasniah memasuki rumah dan bermaksud mengenalkannya kepada Nenek Buyut.
Nenek Buyut pada awalnya tidak terlalu menyukai Hasniah. Dia mencurigai Kakek Buyut
"Anak siapa dia? Apakah dia salah satu anak dari istri mudamu yang selama ini kau sembunyikan di luar kota?"
Kakek Buyut gusar sekali sewaktu mendengar tuduhan istrinya itu. Beliau menghentakkan kaki.
"Sudah berapa kali kubilang, aku bukan pria seperti itu! Kita sudah puluhan tahun menikah, masa sampai sekarang kau masih tidak mempercayaiku juga? Anak ini bukan anakku dengan wanita lain, tetapi anak salah satu kenalanku di Enrekang. Sebelum dia menjadi yatim-piatu seperti sekarang, aku telah berjanji kepada Ayahnya untuk merawatnya dan mengangkatnya sebagai anak."
Nenek Buyut memicingkan mata. "Oh,begitu?" sindirnya masih dengan nada sinis.
"Kau jangan bersikap penuh curiga seperti itu, Istriku," tegur Kakek Buyut. "Tidakkah kau bersimpati padanya? Mungkin ini sudah kehendak Lao Tian—Tuhan, untuk menitipkan anak ini kepada kita. Kumohon, Istriku, demi putri sulung kita yang dulu kau tinggalkan di Guandong, berbuat baiklah kepada anak ini dengan cara mengadopsinya."
Nenek Buyut menghampiri Hasniah dan memandangnya lekat-lekat dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Anak ini kurus sekali," ujar Nenek Buyut sambil memegang pergelangan tangan Hasniah. "Dan kotor pula...."
Kakek Buyut berkata kepada istrinya, "Harap kau memakluminya, Istriku. Anak ini kan tidak lahir di kota seperti kita, sejak kecil dia dan Ayahnya tinggal di daerah pedalaman yang jauh. Jangankan menyabuni badannya, barangkali mandi saja dia jarang...."
"Haiya, kalau mau menjadi putriku, dia harus rapi dan bersih!" seru Nenek Buyut.
Sejurus kemudian Nenek Buyut menarik Hasniah ke kamar mandi tanpa menghiraukan perkataan-perkataan Kakek Buyut selanjutnya. Di dalam kamar mandi Nenek Buyut mengguyur Hasniah dengan berember-ember air. Dia mulai menggosok kulit Hasniah keras-keras dan mencuci rambutnya sehingga gadis itu meronta-ronta. Hasnih menjerit-jerit dalam bahasa Bugis yang sama sekali tidak dimengerti oleh Nenek Buyut. Aroma wangi sabun mandi memang terasa sangat menyegarkan bagi Hasniah. Namun pengalaman pertama dimandikan oleh Nenek Buyut membuat Hasniah trauma dan tak ingin diulanginya untuk kedua kalinya!***
"Mulai sekarang, panggil aku, Ayah," ujar Kakek Buyut kepada Hasniah usai gadis itu mandi dan mengenakan pakaian bersih. Rambutnya yang lebat dan panjang telah dikepang dua oleh Nenek Buyut. Dengan baju cheongsam yang dikenakannya, siapa pun tak akan menduga kalau gadis itu sesungguhnya bukan orang Tionghoa.
"Dan dia," Kakek Buyut menunjuk ke arah istrinya. "Mulai sekarang dipanggil Ibu."
Hasniah melihat sekilas ke arah wanita yang siang tadi telah menyeretnya dan memandikannya itu. Pandangan sangar wanita itu membuatnya bergidik.
"Nah, kalau ini, Kuangthing. Dia akan menjadi Kokoh—kakak lelakimu."
Hasniah mengikuti telunjuk Kakek Buyut ke arah seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun. Pemuda itu sedang tersenyum ke arahnya. Hasniah dengan canggung membalas senyum itu.
"Lalu, ini akan menjadi Meimei—adik perempuanmu."
Kakek Buyut menarik seorang bocah perempuan berusia lima tahun yang sedari tadi bersembunyi di belakang Nenek Buyut. Gadis cilik itu mencoba menggeliat dan berontak dari cengkeraman Ayahnya. Namun, Kakek Buyut berhasil merengkuh pinggang kecilnya dan menahannya.
"Sini, Liming! Ayo beri salam pada Ciecie—kakak perempuanmu!"
Liming berhenti bergerak dan mengerjap-ngerjapkan matanya memandang Hasniah. Beberapa lama kemudian, dia berteriak, "Aku tak mau memanggilnya Ciecie! Dia bukan Ciecie-ku!"
Hasniah tersentak dengan perkataan itu. Untuk pertama kalinya dia baru menyadari tentang kemungkinan penolakan yang akan diterimanya dari keluarga barunya ini. Dan baru saja calon adik barunya telah menolaknya!
Kakek Buyut berusaha menaklukkan Liming, "Gadis nakal, jangan berlaku tidak sopan terhadap yang lebih tua! Ayo lekas panggil dia Ciecie!"
Liming kembali menggeliat dan kali ini dia berhasil melepaskan diri.
"Tidak mau!" serunya keras kepala, lalu lekas-lekas lari bersembunyi.
Kakek Buyut menghela napas melihat kelakuan putri bungsunya itu. Ditegurnya Nenek Buyut yang sedari tadi tampak diam saja.
"Lihat kelakuannya! Ini akibat kamu yang terlalu memanjakannya, Istriku. Si Liming ini benar-benar mei you li mao—tak punya sopan-santun! Tidak seperti Yen Ndui dulu."
Nenek Buyut mendelik ke arah suaminya seraya berkata, "Lha! Dia kan putrimu juga! Bukankah kamu sendiri juga sering memanjakannya karena menganggapnya sebagai pengganti Yen Ndui? Mendidik anak bukan hanya tanggung jawab Ibunya seorang, Ayahnya juga turut berperan! Sekarang setelah kelakuannya seperti itu kau bisanya hanya menyalahkanku."
Kakek Buyut gondok karena kalah bersilat lidah dengan istrinya. Apa yang dikatakakan Nenek Buyut memang benar, beliau juga memanjakan Liming demi menebus penyesalannya terhadap putri sulungnya, Yen Ndui. Namun seperti kata orang-orang, 'terlalu memanjakan anak bisa berbahaya'. Di usianya yang baru lima tahun itu, Liming telah menjelma menjadi bocah perempuan pemberang dan nakal. Dia tidak akan sungkan-sungkan untuk ngambek apabila keinginannya tidak terpenuhi.
Kakek Buyut menghela napas dan berkata kembali ke arah Hasniah. "Maafkan kejadian tadi, Nak.Oh ya, ada sesuatu hal yang hendak aku sampaikan padamu. Karena sudah menjadi putriku, maka kamu akan kuberi nama baru. Keluarga kita bermarga Ciang, maka mulai sekarang margamu adalah Ciang. Nama Tionghoa yang akan kamu gunakan mulai sekarang sekarang adalah Leiho. Lei dalam bahasa Guandong Khaiphing berarti datanglah sedang ho berarti baik atau kebajikan. Jadi arti namamu adalah 'datanglah kebajikan'. Sebab aku berharap dengan kedatanganmu ini, ' segala kebajikan akan memenuhi keluarga kita'!"
"Bagaimana dengan tanggal kelahirannya? Kita harus menentukan apa shio—horoskop China Leiho, bukan?" Nenek Buyut menyelutuk.
"Ah, ya!" Kakek Buyut baru tersadar. "Nak, apakah sebelumnya Ayahmu pernah memberi tahumu kapan kamu dilahirkan?"
Hasniah menggeleng. "Bapak tidak pernah bilang...," ujarnya.
Maka Nenek Buyut pun berkata antusias, "Begini saja, karena tahun ini adalah tahun Ting Chou—Kerbau Api, maka kita anggap saja dia kelahiran tahun kerbau dan telah berusia tiga belas tahun. Itu berarti, Leiho lahir pada tahun Yi Chou—Kerbau Kayu (tahun 1925)."
Kakek Buyut mangut-mangut mendengar usul Nenek Buyut. "Ide yang bagus, aku setuju sepenuhnya dengan pendapatmu, Istriku."
Maka, sejak saat itu Hasniah telah berganti nama menjadi Ciang Leiho. Pada semua surat-surat dokumen, mulai dari KTP hingga Kartu Keluarga di kemudian hari, tertulis bahwa tahun kelahirannya adalah 1925.
Begitulah ceritanya sampai Kakek dan Nenek Buyut memiliki seorang putri lagi yang ber-shio Kerbau.©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger