Sabtu, 30 April 2011

Kisah Di Balik Sebuah Reuni Part II By. Merlin Herlina

Cerita ini kupersembahkan kepada Anda, segenap Pembaca. Yang dengan setia mengikuti kisah Yen Ndui, dari awal hingga akhir.... 


reuni.jpg (564×469)Setelah menikah, Yen Ndui diboyong oleh Tuan Sun ke Xinhui. 
Xinhui terletak di sebelah timur Khaiphing. Dulunya, Xinhui juga merupakan sebuah Kabupaten. Namun kini di bawah pemerintah Komunis China, Xinhui, Khaiphing dan tiga wilayah lain yang saling berdekatan: Thaishan, Heshan dan Enphing, digabung ke dalam satu distrik bernama Jiangmen. 
Xinhui terletak di sebelah barat daya Zhujiang—Sungai Mutiara, yang terkenal di Propinsi Guandong. Tanahnya subur sehingga baik untuk bercocok tanam. Hasil pertaniannya yang amat terkenal adalah beras dan jeruk. Konon, jeruk sunkist yang terkenal itu berasal dari sini. 
Yen Ndui tinggal bersama seluruh keluarga suaminya di sebuah rumah besar milik juragan jeruk tersebut. Benar kata Nenek Buyut, Tuan Sun memang masih memiliki seorang Ibu. Nyonya Tua Sun berusia pertengahan enam puluhan. Tubuhnya masih tegap dan dari parasnya masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya. Rambutnya masih lebat meski beberapa helai di antaranya telah memutih. Namun, pulasan semir rambut hitam buatan Prancis berhasil menyamarkan uban-uban tersebut. 
Perlahan-lahan, Yen Ndui menyadari kalau Ibu Mertuanya itu welas asih serta memiliki integritas yang amat mendalam. Ketika pertama kali melihat Yen Ndui, Nyonya Tua Sun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ditegurnya Tuan Sun.
"Astaga! Putraku, apakah kali ini kau tidak salah memilih mempelai? Lihat usianya yang masih belia itu! Dia bahkan hanya setahun lebih tua dari Yingying, putri sulungmu!" 
Tapi Tuan Sun berlagak tidak peduli dengan perkataan Ibunya. 
Yen Ndui pun memulai kehidupannya sebagai seorang istri. Dandanannya mulai berubah selayaknya wanita yang sudah menikah. Hal ini menyebabkan Yen Ndui terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. 
Menjadi istri muda seorang juragan kaya jika dilihat dari luar tidak jelek-jelek amat. Tuan Sun menyediakan segala kebutuhan materi. Sandang dan pangan tercukupi. Bahkan Tuan Sun memberi Yen Ndui dua orang pelayan wanita untuk membersihkan kamar, menyisir rambutnya serta mencucikan baju-bajunya. 
Namun di balik semua itu, seorang istri muda juga punya kesukaran sendiri. Yen Ndui tak mampu mengelak dari isri-istri lain suaminya yang senantiasa memandangnya seperti duri dalam daging. Belum lagi sikap canggung yang diterimanya dari anak-anak Tuan Sun yang usianya nyaris sebaya dengannya. Dua putra sulung Tuan Sun dari istri pertama malah empat, dan dua tahun lebih tua daripada Yen Ndui. Sewaktu pertama kali diperkenalkan kepadaYen Ndui, keduanya tampak ragu-ragu memanggilnya dengan sebutan Asim—Bibi. 
Tapi Nyonya Tua Sun adalah Ibu Mertua yang baik dan penuh pengertian. Dia senantiasa membimbing Yen Ndui. Dia tidak pernah bermaksud pilih kasih terhadap para menantunya yang lain. Nyonya Tua Sun hanya mempertimbangkan karena usia Yen Ndui masih sangat muda, masih banyak hal yang belum dipahami olehnya. Yen Ndui terkadang merasa justru Ibu Mertuanya ini memperlakukannya lebih baik ketimbang Ibu kandungnya sendiri. Pada masa itu, di China memiliki semacam tradisi dimana orang yang paling berkuasa atas wanita yang sudah menikah adalah sang Ibu Mertua. Seorang Ibu Mertua berhak memperlakukan menantu perempuannya dengan sewenang-wenang, dan sang Menantu tidak diperkenankan membantah, melainkan dia harus patuh. Memperoleh ibu mertua seperti Nyonya Tua Sun merupakan berkah tersendiri bagi Yen Ndui. 
Ada pula satu kebiasaan di keluarga Tuan Sun yang cukup disenangi Yen Ndui. 
Pada sore hari menjelang matahari terbenam, biasanya kaum-kaum perempuan di kediaman tersebut duduk-duduk berkumpul di halaman sambil menunggu para pria kembali dari ladang. Di halaman yang cukup luas itu, ada sebuah pohon banyan besar berdaun rindang. Di bawah pohon itulah para wanita biasanya duduk-duduk menghabiskan waktu di sore hari. 
Situasi pada sore hari seperti itu biasanya sangat kondusif. Para istri Tuan Sun saling bercengkrama dan menyapa Yen Ndui dengan ramah. Meski demikian, Yen Ndui curiga semua sikap baik itu hanya sandiwara belaka sebab pada saat seperti itu, Nyonya Tua Sun juga turut hadir bersama mereka. Pada kesempatan ini, biasanya mereka berkelakar atau saling bertukar gosip 
Kadang-kadang pula, putri sulung Tuan Sun, Yingying, hadir di tengah-tengah mereka. Yingying gemar membacakan cerita-cerita klasik dari buku-buku yang dikirimkan oleh salah satu saudara lelaki Ibunya dari Hongkong. Favorit keluarga Sun adalah kisah klasik Hong Lou Meng—Impian dari Kamar Merah. Yen Ndui amat suka dengan gaya Yingying dalam bercerita, terutama jika gadis itu membaca sajak. Yingying menguasai teknik pin pin ce ce (naik turun nada ketika membaca sajak klasik mandarin) dengan amat sempurna. Ada sebuah sajak dalam Hong Lou Meng yang paling sering diulang Yingying. Bunyi syairnya seperti ini: 
'Hari ini aku menabur bunga dan orang itu menertawakanku 
Tahun ini dia akan dikubur, apakah aku tahu siapa orangnya? 
Suatu pagi di musim semi warna merah semakin tua 
Kapan bunga berguguran dan manusia berpulang, aku dan dia tak tahu!' 
  
Sajak itu kemudian menjadi satu-satunya syair klasik Tionghoa yang diingat Yen Ndui selama sisa hayatnya. *** 
 Enam tahun setelah menikah dengan Yen Ndui, Tuan Sun meninggal dunia karena sakit. 
Waktu itu usia Yen Ndui baru sembilan belas tahun, masih muda dan cantik. Hal ini membuat Nyonya Tua Sun prihatin. Terlebih, tidak seperti istri-istri Tuan Sun yang lain, dari pernikahannya ini, Yen Ndui tidak dikaruniai seorang pun putra maupun putri. 
Usai upacara pemakaman, Nyonya Tua Sun memanggil Yen Ndui. Diajaknya menantunya itu berbicara empat mata. 
"Anakku," panggil Nyonya Tua Sun dengan lembut. "Setelah acara berkabung selesai, apa yang hendak kau lakukan?" 
Alis Yen Ndui berkerut. "Apa maksud Ibu? Yen Ndui tidak mengerti." 
Nyonya Tua Sun berdeham sejenak agar suaranya menjadi lebih jelas. "Maksudku, apakah kau punya rencana untuk masa depanmu?" 
Yen Ndui terpana, kemudian menundukkan kepala sambil menggeleng. Seumur-umur, baru kali ini Yen Ndui ditanya soal masa depannya. 
Nyonya Tua Sun melanjutkan, "Aku bermaksud mengembalikanmu ke rumah orangtuamu...." 
Yen Ndui terkejut. Ditengadahkan kepalanya menatap Nyonya Tua Sun kembali. Pada masa itu, seorang wanita yang dikembalikan ke rumah orangtuanya merupakan ungkapan halus untuk kata 'cerai'. 
"Kamu jangan salah paham dulu, Nak," ujar Nyonya Tua Sun begitu melihat perubahan di wajah Yen Ndui. "Maksudku baik. Tidakkah kau sadar kalau kau masih muda? Jalanmu di depan masih panjang. Amat sangat disayangkan apabila kau hanya menghabiskan sisa hidupmu sebagai janda di rumah ini. Dengan kembalinya kamu ke rumah orangtuamu, aku berharap mereka dapat mengatur pernikahanmu dengan pria lain yang lebih sepadan, dan kalian akan membentuk keluarga bahagia" 
"Tapi Ibu, suamiku baru saja meninggal. Aku tak berniat memikirkan untuk menikah lagi," tukas Yen Ndui. 
Nyonya Tua Sun menghela napas. "Aku mengerti mengapa kau berkata seperti itu. Dalam pandangan masyarakat kita, tidak terlalu pantas bagi seorang wanita untuk menikah dua kali meski dia telah berstatus janda. Namun zaman mulai berubah. Aturan semacam itu kini tak bisa terlalu diikuti lagi. Aku ingin menegaskan padamu, Nak. Kau berhak untuk hidup bahagia!" 
Yen Ndui memandang wajah Nyonya Tua Sun seolah-olah tak percaya. Lalu sejurus kemudian dia berkata.
"Aku paham dengan maksud Ibu sekarang. Namun, jika Ibu benar-benar hendak mengembalikanku kepada orangtuaku, aku tidak tahu akan pulang kemana lagi. Ayah dan Ibuku sudah tidak berada di Tiongkok. Mereka berdua telah pergi ke Nan Yang." (Nan Yang merupakan sebutan untuk Indonesia sebelum zaman kemerdekaan). 
"Oh, jadi kedua orangtuamu semuanya sudah pindah ke Nan Yang?" Nyonya Tua Sun tampak terkejut. "Kukira dulu hanya Ayahmu saja yang pergi, dan Ibumu tetap tinggal."
"Tidak, Ibu menyusul Ayah ke Nan Yang tidak lama setelah aku menikah." 
"Apakah kamu tahu tepatnya di Nan Yang sebelah mana kedua orangtuamu tinggal sekarang?" 
Yen Ndui berpikir sejenak kemudian menggeleng lemah. 
"Ayah pergi ke Nan Yang sewaktu aku berusia lima tahun. Kejadiannya sudah limabelas tahun yang lalu, dan selama itu pula aku tidak pernah mendengar kabar berita tentangnya. Ibuku pun demikian. Usai kepergiannya enam tahun yang lalu, beliau belum pernah mengirim surat apapun kepadaku sehingga aku tak tahu Ibu kini berada di mana. Apakah Ibu telah bertemu dengan Ayahku atau tidak, aku juga tidak tahu." 
Nyonya Tua Sun tampak tepekur mendengar penuturan Yen Ndui. Lalu dia mengajukan pertanyaan lagi. 
"Apakah kau merindukan kedua orangtuamu, Nak?" 
Yen Ndui mengangkat wajah dan memandang Ibu Mertuanya dalam-dalam. Matanya seketika terlihat mulai berair. 
"Tentu saja, Ibu. Hampir setiap waktu aku memikirkan mereka. Aku sering bertanya-tanya seperti apa rupa mereka sekarang setelah sekian lama tak bertemu. Jika aku muncul di hadapan mereka, apakah mereka masih bisa mengenaliku? Aku sering mengimpikan mereka dalam tidurku. Jika Ibu bertanya apa yang paling ingin kulakukan usai kepergian suamiku, aku akan menjawab bahwa aku ingin sekali pergi mencari Ayah-Ibuku." 
Airmata Yen Ndui tidak terbendung lagi. Di hadapan Nyonya Tua Sun, dia menangis tersedu-sedu. 
Nyonya Tua Sun bangkit dari kursinya lalu menghampiri Yen Ndui. Dengan lembut dia memeluk menantu termudanya itu seraya menepuk-nepuk punggungnya perlahan-lahan. Jauh di dalam lubuk hatinya, Nyonya Tua Sun berikrar untuk membantu Yen Ndui agar bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. *** 
Dalam waktu singkat, kabar tentang pembicaraan Nyonya Tua Sun dengan Yen Ndui tersiar keluar. 
Tanpa mengetahui secara rinci apa isi pembicaraan tersebut, para janda Tuan Sun yang lain mulai mengambil kesimpulan sendiri dan mempergunjingkan Yen Ndui. 
"Kudengar, Nyonya Tua hendak 'membebaskan' Yen Ndui dan mengembalikannya kepada orang tuanya," ujar Istri Ketiga Tuan Sun memulai pembicaraan. 
"Hah! Aku sangat yakin kalau hal itulah yang ditungu-tunggu oleh Nyonya Keempat kita," sindir Istri Kedua Tuan Sun. "Dia kan masih muda, dengan 'pembebasannya', dia bisa mencari lelaki lain dan menikah lagi...." 
Terdengar derai tawa di antara kedua perempuan itu. 
Istri Pertama Tuan Sun yang mendengar percakapan itu mendengus, "Huh! Dasar wanita tak tahu malu!" hinanya. "Pada zaman dahulu, seorang janda biasanya bunuh diri untuk menyusul suaminya ke alam baka atau menggunduli rambutnya menjadi biksuni. Jika Nyonya Keempat seorang wanita yang setia, seharusnya dia melakukan salah satu dari dua hal di atas, bukan begitu?" 
Kedua istri Tuan Sun yang lain mengangguk setuju. 
Ketika pembicaraan ini terdengar sampai ke telinga Nyonya Tua Sun. Nyonya tua itu amat marah. Dengan geram dia berkata.
"Siapa yang begitu lancang mengeluarkan kata-kata seperti itu tentang Yen Ndui? Apakah kalian ingin menekannya? Apakah kalian senang jika melihatnya mati dalam kesengsaraan? Kuperingatkan, selama aku masih hidup, tak ada satu pun wanita yang kubiarkan mati merana lalu menjadi arwah penasaran dalam keluarga ini!" semprotnya gusar. "Barang siapa yang berani berkata-kata buruk tentang Yen Ndui, aku akan membuat perhitungan dengannya!" 
Sejak saat itu, ketiga istri Tuan Sun tidak ada yang berani mengungkit perihal 'pembebasan' Yen Ndui lagi. *** 
Satu tahun berlalu. 
Masa berkabung bagi Tuan Sun telah usai. Upacara Yuan San—peresmian kubur, juga telah dilaksanakan. Nyonya Tua Sun memanggil Yen Ndui sekali lagi dan bicara empat mata dengannya. 
"Aku memiliki sebuah rencana yang hendak kurundingkan denganmu, Anakku. Jika kau setuju, aku akan membantumu mengurus semua hal yang diperlukan." 
"Rencana apakah itu, Ibu?" tanya Yen Ndui penasaran ingin tahu. 
Nyonya Tua Sun memandang Yen Ndui penuh arti. "Kau masih ingin mencari orangtuamu, bukan?" 
Yen Ndui membalas tatapan ibu mertuanya dengan mata berkilat-kilat. 
"Ya, tentu saja saya masih memiliki niat itu, Ibu!" 
Nyonya Tua Sun tersenyum sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang akan membuat perasaan Yen Ndui melambung tinggi. 
"Anakku, jika kau kuizinkan pergi ke Nan Yang buat mencari orang tuamu, apakah kau siap?" 
Mata Yen Ndui membelalak. Digenggamnya tangan Nyonya Tua Sun erat-erat. 
"Ke Nan Yang?! Anda mengizinkan aku ke Nan Yang?!" 
Nyonya Tua Sun mengangguk. 
"Ah! Sie Thien Sie Ti—terima kasih Langit dan Bumi!" seru Yen Ndui bersyukur. "Ibu, bagaimana... bagaimana aku berterima kasih dan membalas jasa-jasa Anda?" 
Suara Yen Ndui tercekat dirundung haru. Nyonya Tua Sun yang turut merasakan kebahagiaan Yen Ndui menenangkan menantunya sejenak, lalu mulai menjelaskan rencananya secara rinci. 
"Aku mempunyai kerabat yang tinggal di Nan Yang. Mereka adalah sepasang suami istri bermarga Chen. Suami-istri itu lebih dulu pergi ke Nan Yang lima tahun lalu untuk memulai suatu usaha. Sekarang karena usahanya sudah maju, mereka bermaksud menjemput kedua anak mereka yang sebelumnya dititipkan pada salah satu kerabat buat pindah ke Nan Yang."
Mata Yen Ndui tampak mulai berkaca-kaca. Disimaknya takzim ulasan Ibu Mertuanya yang baik hati tersebut. 
"Aku merasa, ini adalah kesempatan yang tepat. Karena suami-istri Chen masih terhitung sanak keluarga, maka aku bisa tenang menitipkanmu kepada mereka. Kau akan pergi ke Nan Yang bersama mereka minggu depan. Mereka juga telah setuju agar kau tinggal bersama mereka sampai kau menemukan kedua orangtuamu." 
Yen Ndui tak mampu berkata-kata mendengar mendengar penjelasan Nyonya Tua Sun. Dipandanginya wajah ibu mertuanya itu dengan penuh perasaan bahagia. Airmatanya menitik. *** 
Tujuh hari kemudian, Yen Ndui telah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah keluarga Sun. 
Sekitar pukul delapan pagi, Yen Ndui keluar rumah dengan didampingi Ibu Mertuanya. Ketiga janda mendiang suaminya yang lain hanya memandang dari kejauhan dan enggan mendekat. Beberapa pelayan membantu menaikkan kopor-kopor Yen Ndui ke atas kereta kuda. Keluarga Chen yang terdiri atas sepasang suami istri beserta kedua anak mereka yang berusia sepuluh dan sebelas tahun telah tampak menunggu. 
Nyonya Tua Sun mengantar Yen Ndui sampai ke depan kereta. Yen Ndui berbalik, menatap wajah Ibu Mertuanya dalam-dalam seolah hendak merekamnya dalam ingatan. 
Nyonya Tua Sun membelai wajah Yen Ndui sambil berkata lembut. "Mulai sekarang, kau adalah wanita yang merdeka. Berjuanglah untuk mencari kebahagiaanmu sendiri, dan semoga kau bisa cepat bertemu dengan kedua orangtuamu di Nan Yang...." 
Yen Ndui masih memandang wajah Ibu Mertuanya. Matanya mulai berkaca-kaca ketika dia berujar.
"Seumur hidupku, aku tidak akan pernah melupakan budi baik Ibu. Jika aku tak diberi kesempatan membalasnya dalam kehidupan ini, semoga aku diberi kesempatan membalasnya pada kehidupan yang akan datang...." 
"Anakku, dalam hidup manusia, perjumpaan dan perpisahan adalah hal yang biasa terjadi," tukas Nyonya Tua Sun. "Tapi, jika kehidupan akan datang itu memang ada, aku akan memohon kepada Lao Tian—Tuhan—agar kau diizinkan menjadi putriku dan hidup berdampingan bersamaku lagi...." 
Nyonya Tua Sun tak dapat menahan airmatanya yang juga telah merebak ke pelupuk matanya.
Yen Ndui berkata lagi, "Setelah perpisahan ini, aku tidak tahu kapan bisa bertemu dengan Ibu lagi. Oleh karena itu, izinkan aku ber-kowtow kepada Ibu sebagai tanda bakti dan terima kasih atas jasa-jasa Ibu kepadaku selama ini." 
Nyonya Tua Sun bermaksud mencegah. Akan tetapi Yen Ndui telah menjatuhkan lututnya dan membungkuk. Dahi menyentuh tanah berpasir dan dia menghormat kepada Ibu Mertuanya itu sebanyak tiga kali. 
Airmata Nyonya Tua Sun bercucuran deras. Setelah Yen Ndui berdiri, dipeluknya menantu termudanya itu untuk yang terakhir kalinya sambil berkata terisak-isak. "Anakku, jaga dirimu baik-baik...." 
"Ibu juga... harus merawat diri baik-baik...." 
Nyonya Tua Sun melepaskan pelukannya dan Yen Ndui mulai beranjak. Dia bersama keluarga Chen menaiki kereta kuda. Setelah di dalam kereta, Yen Ndui menyibak tirai jendela dan menatap rumah keluarga Sun untuk yang terakhir kalinya. Sebab sejak hari itu, Yen Ndui tidak pernah lagi ditakdirkan untuk kembali ke China ataupun bertemu dengan keluarga Sun lagi. *** 
Yen Ndui dan keluarga Chen berangkat menuju Nan Yang melalui pelabuhan Hongkong. 
Keluarga Chen ternyata tinggal di sebuah kota yang terletak di ujung utara Pulau Celebes—kini Sulawesi. Setelah naik kapal selama kurang lebih sebulan, sampailah Yen Ndui di kota tersebut: Manado. 
Yen Ndui tinggal bersama keluarga Chen di rumah mereka yang terletak pada salah satu gang sempit di wilayah Malalayang. Suami-istri Chen sangat baik. Mereka tidak segan-segan membantu Yen Ndui beradaptasi dengan lingkungan barunya. 
Dengan segera Yen Ndui merasa bakal betah dan akan menyukai kota itu. Penduduk lokalnya ramah-ramah dan ringan tangan membantu. Wanita-wanitanya cantik dan berkulit putih mirip gadis-gadis Tionghoa. Sebagian besar penduduk lokalnya beragama Nasrani. Satu kebiasaan penduduk di sana yang awalnya membuat Yen Ndui tercengang adalah: mereka senang pesta dan dansa! Kebiasaan itu bahkan menular sampai kepada para imigran yang datang ke Manado. 
Kebiasaan penduduk Manado lainnya yang menurut Yen Ndui mirip dengan kebiasaan orang-orang Tionghoa suku Guandong adalah menikmati kuliner ekstrim. Daging-daging anjing, kelelawar, kucing serta tikus dijual bebas di pasar-pasar. Penduduk setempat dengan begitu mahir mengolah daging-daging tersebut dalam bumbu-bumbu khas menjadi makanan yang bagi sebagian orang bahkan menyebutnya lezat.
Meski keluarga Chen sangat baik, Yen Ndui tetap merasa tidak enak apabila dia hanya berpangku tangan menumpang di rumah mereka. Kebetulan Nyonya Chen mempunyai usaha kecil-kecilan membuat kue basah tradisional Tionghoa. Yen Ndui dengan senang hati membantunya. Mula-mula dia hanya membantu dalam proses pembuatan, sampai akhirnya dia juga turut menjajakan kue-kue tersebut dari satu rumah ke rumah yang lain. Sewaktu menjual kue, Yen Ndui menggunakan kesempatan ini buat mencari kedua orangtuanya. Setiap kali ada orang yang membeli kuenya, Yen Ndui pasti akan bertanya.
"Tuan, Nyonya... kenalkah Anda dengan pria bernama Ciang Wengwah? Dia berasal dari dusun Liu Cun Mei, desa Sha Kok, kabupaten Khaiphing, propinsi Guandong. Dia adalah Ayahku.... Kami berpisah belasan tahun yang lalu tanpa saling memberi kabar, dan kini aku datang untuk mencarinya...." 
Meski belum mendapat titik terang mengenai keberadaan orangtuanya, namun Yen Ndui tidak pernah berputus asa.
"Paman, Bibi... apakah Anda pernah bertemu dengan seorang wanita bermarga Ciu yang tengah mencari suaminya yang bernama Ciang Wengwah? Jika Anda mengenalnya, aku mohon sudi kiranya memberitahuku dimana dia berada sebab dia adalah Ibuku...." 
Demikianlah Yen Ndui terus mencari kedua orangtuanya sembari menjajakan kuenya ke seantero Manado. Terkadang dia berjualan di pelabuhan. Jika ada kapal merapat, khususnya kapal-kapal yang memuat orang-orang Tionghoa perantauan, Yen Ndui akan berusaha memperhatikan satu-persatu penumpang yang turun dengan seksama. Dan jika dia menjumpai salah seorang kenalannya yang akan berangkat ke kota lain, Yen Ndui akan berusaha menitipkan pesan yang sama kepada mereka.
"Jika Anda bertemu dengan pria bernama Ciang Wengwah atau wanita bermarga Ciu dari Guandong, tolong tanyakan kepada mereka: 'Apakah kalian punya putri bernama Yen Ndui?' Jika mereka menjawab iya, berarti merekalah Ayah dan Ibuku." 
Yen Ndui terus memakai cara-cara itu buat mencari orangtuanya hingga berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, namun semuanya belum membuahkan hasil. Sampai suatu hari, ketika Yen Ndui sudah dua tahun menetap di Manado, salah seorang tetangga keluarga Chen datang tergesa-gesa mencari Yen Ndui di rumah. 
"Yen Ndui, lekas kemari! Aku sudah menemukan Ayahmu! Ayo cepat ikut aku!" 
Tanpa berpikir panjang, Yen Ndui segera memperbaiki penampilannya ala kadarnya dan melesat mengikuti tetangganya yang seorang wanita paruh baya. Wanita itu membawa Yen Ndui ke sebuah rumah di gang sebelah, yang diketahui Yen Ndui sebagai rumah salah satu kerabat wanita tersebut. 
"Itu dia," bisik wanita itu di telinga Yen Ndui ketika mereka sampai di rumah tersebut.. "Dia adalah keluarga jauh istri kerabatku itu. Marganya Ciang dan namanya Wengwah. Dia baru tiba pagi tadi kemari dan konon sedang mencari putrinya yang hilang. Ayo lekas kau hampiri dia...." 
Yen Ndui dengan gugup memasuki rumah dan berjalan menghampiri sosok seorang pria yang tengah duduk memunggunginya. Pria itu langsung berdiri dari kursinya sewaktu mendengar seseorang mendekat dan dia berbalik.... 
"Ayah..." Secara refleks Yen Ndui memanggil, namun sejurus kemudian dia terdiam. 
"Apa?" Pria di hadapan Yen Ndui tampak kebingungan. "Maaf, Nona. Kau memanggilku apa tadi...?" 
Yen Ndui merasa wajahnya merah karena malu. Buru-buru dia berkata, "Ah, maaf! Saya salah orang rupanya.... Maaf!" 
Yen Ndui menatap wajah pria itu dengan lebih seksama lagi. Pria itu kurus tinggi dengan wajah cekung berusia empat puluhan dan mempunyai tahi lalat besar di bawah pelupuk mata sebelah kirinya. 'Ah, bodohnya aku!' makinya dalam hati. 'Mana mungkin ini Ayah?' 
Dengan langkah gegas, Yen Ndui meninggalkan rumah tersebut. Sesampainya di rumah, Nyonya Chen menanyainya.
"Bagaimana, apakah dia betul Ayahmu?" 
Kekecewaan Yen Ndui tumpah dalam bentuk airmata keputusasaan. "Bukan!" pekiknya lirih. "Pria itu bukan Ayah.... Dia hanya orang yang dikirim Lao Tian buat mengolok-olok diriku...." *** 
Kekeliruan yang dialaminya waktu itu tetap tidak membuat Yen Ndui surut berusaha. Dia terus saja gigih mencari, terus bertanya dan percaya bahwa suatu hari nanti dia pasti akan bertemu dengan Ayah-Ibunya. 
Suami-istri Chen mengagumi ketekunan Yen Ndui sekaligus prihatin padanya.
"Bukannya aku bermaksud menjatuhkan semangatmu, Yen Ndui," kata Tuan Chen suatu hari. "Nan Yang ini sangat luas, dan Manado bukanlah kota satu-satunya di Nan Yang." 
"Menurutku, kedua orangtuamu sudah pasti tidak berada di kota ini. Kemungkinan besar mereka tinggal di kota lain, seperti Medan di Pulau Andalas—kini Sumatra." 
"Atau jangan-jangan di San Pao Long—Semarang, Pulau Jawa," celutuk Nyonya Chen. 
"Bisa juga mereka sekarang di Singkawang, Pulau Borneo—kini Kalimantan," sambung Tuan Chen lagi. "Bahkan di selatan Pulau Celebes ini ada sebuah kota yang juga banyak dihuni oleh pendatang Tionghoa, namanya Makassar." 
Begitu mendengar Tuan Chen menyebutkan aneka nama kota di Nan Yang, untuk sejenak Yen Ndui bergeming. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pencarian kedua orangtuanya ini ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Walau perlahan-lahan semangat Yen Ndui yang semula besar menjadi surut, keinginannya untuk mencari kedua orangtuanya tidaklah benar-benar hilang. 
Setelah tiga tahun Yen Ndui tinggal di Manado, suami-istri Chen mencomblanginya dengan seorang duda berusia akhir tiga puluhan. Pria itu juga bermarga Chen dan masih terhitung famili Tuan Chen. Chenlang—panggilan Yen Ndui kepada calon suaminya ini di kemudian hari, berprofesi sebagai pengrajin emas. Istri pertamanya meninggal karena sakit sewaktu masih di Guandong, dan setelah kematian istrinya itulah Chenlang memutuskan untuk merantau ke Nan Yang. 
Yen Ndui dan Chenlang akhirnya menikah. Dan baru pada pernikahan keduanya ini Yen Ndui benar-benar merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga. Chenlang memang bukan pria kaya yang bisa memberi kelimpahan materi kepada istrinya. Namun dalam kehidupan perkawinan mereka itu, Chenlang senantiasa mengasihi dan menghargai Yen Ndui. 
Yen Ndui pun amat mengasihi Chenlang. Kehidupan keluarga mereka berlangsung langgeng dan bahagia. Keduanya dikaruniai dua orang anak, yakni sepasang putra dan putri yang masing-masing diberi nama: A Loi dan Chaiyin. *** 
Makassar, Agustus 1945. 
Sudah beberapa hari ini Kakek Buyut tampak gelisah. 
Dia tak bisa duduk diam atau berselera melakukan apapun. Sepanjang hari wajahnya muram dan senantiasa mendesah. 
Bagaimana mungkin hatinya bisa tenteram sementara dalam kepalanya Kakek Buyut sibuk berpikir? 
Semenjak dua kota di Jepang, Nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh Sekutu, situasi semakin tidak menenteramkan. Sewaktu-waktu, sirene tanda bahaya berbunyi meraung-raung, memberi tanda kepada seluruh penduduk agar segera berlindung di bawah lubang-lubang yang dibuat di halaman lalu ditutup dengan dedauan atau tanaman lainnya. Suara-suara pesawat tempur membahana di atas langit sana dan sesekali, terdengar ledakan bom yang meski meledak di tempat yang cukup jauh, suara dan getarannya terasa sampai ke lubang-lubang perlindungan tersebut. 
Ketika suasana semakin chaos dan tak dapat dibendung lagi, penduduk kota Makassar sebagian besar mengungsi ke daerah pinggiran kota. Kakek Buyut beserta seluruh keluarganya juga turut mengungsi. Dalam hatinya, Kakek Buyut merasa perih sekali melihat istri, anak-anak, menantu beserta cucu-cucunya berhari-hari berjalan kaki ke tempat pengungsian. Hal ini tentunya tidak pernah dibayangkan Kakek Buyut sewaktu pertama kali beliau memutuskan untuk hijrah ke Nan Yang. Niat Kakek Buyut sebelumnya adalah untuk mendapat kehidupan yang lebih baik, tidak tahunya sekarang beliau bersama seluruh keluarganya mengalami nasib yang hampir sama dengan separuh populasi dunia saat itu: terjebak dalam pusaran Perang Dunia II. Ternyata kesimpulannya, di mana pun manusia berada, asal dia masih hidup di dunia ini, yang namanya kesulitan serta cobaan tidak akan pernah berhenti menghampiri. 
Kakek Buyut memikirkan nasib keluarganya. Semenjak Nenek Buyut berhasil menyusulnya ke Nan Yang duapuluh tujuh tahun yang lalu, mereka kembali dikaruniai dua orang anak. Anak kedua Kakek dan Nenek Buyut adalah seorang putra kelahiran tahun 1919 bernama Kuangthing. Kuangthing inilah yang kelak menjadi Kakekku dari pihak Ayah. Anak bungsu Kakek Buyut adalah seorang putri kelahiran 1932 yang diberi nama Liming. Selain Kuangthing dan Liming, Kakek dan Nenek Buyut juga mengadopsi seorang putri angkat bernama Leiho. 
Pada saat Perang Dunia II meletus, Kuangthing dan adik angkatnya Leiho sudah menikah. Istri Kuangthing bernama Cungho, putri seorang penjahit kaya di pecinan Makassar. Sampai pada tahun 1945, Kuangthing dan Cungho telah dikaruniai tiga orang putra. Leiho sendiri menikah dengan seorang pengrajin emas bermarga Ciu (Zhou dalam mandarin Hanyu Pinyin), dan mereka juga baru dikaruniai seorang putra. 
Selain memikirkan keluarganya yang ada di Makassar, pikiran Kakek Buyut juga melayang memikirkan putri sulungnya, Yen Ndui yang entah kini berada di mana. Sewaktu pertengahan 1930-an, Kakek Buyut pernah mengutus seseorang buat mencari Yen Ndui ke Xinhui. Akan tetapi orang itu kembali ke Makassar sambil membawa berita miris.
"Aku tidak berhasil menemukan putrimu, Tuan! Rumah besar milik keluarga Sun itu kini telah berganti pemilik. Tuan Sun telah meninggal duapuluh tahun lalu, dan semenjak itu putra-putranya saling memperebutkan harta warisan hingga rumah tersebut dijual. Seluruh keluarga Sun kini tercerai-berai dan hidup berpencar. Menurut bekas tetangga Tuan Sun, putrimu, Yen Ndui, telah dibebaskan oleh Ibu Mertuanya setahun setelah kematian suaminya. Dia lalu ikut salah satu kerabat Nyonya Besar ke Nan Yang. Hanya saja, di kota Nan Yang sebelah mana tak seorang pun yang tahu, sebab semenjak kepergiannya, Yen Ndui tidak pernah lagi mengirim kabar tentang dirinya."
Semangat Kakek Buyut seolah terbang usai mendengar penuturan orang suruhannya itu. Harapannya untuk bisa mengetahui keberadaaan putri sulungnya kini nyaris pupus sudah. Pada malam-malam chaos perang, di barak pengungsian, Kakek Buyut tak henti-hentinya bermimpi didatangi sosok seorang wanita muda yang bertampang mengerikan dan sekujur tubuhnya berlumuran darah. 
"Ayah...," panggil wanita itu. "Aku putrimu, Yen Ndui. Lihatlah akibatnya Ayah meninggalkanku dulu.... Ibu menikahkanku terlalu cepat dengan Tuan Sun, dan aku telah menjanda. Sekarang, aku menjadi arwah penasaran... tubuhku hancur karena terkena pecahan bom. Ayah... aku ingin tubuhku kembali... aku memintanya padamu karena kau adalah Ayahku...." 
Kakek Buyut biasanya baru terbangun setelah Nenek Buyut mengguncang-guncang tubuhnya. 
"Suamiku, bangun! Kau mengigau...." 
Kakek Buyut membuka mata dan melihat istrinya. Setelah itu, barulah beliau agak tenang. Diceritakannya mimpinya itu kepada istrinya. Namun Nenek Buyut hanya menanggapi ringan.
"Ah, itu kan cuma mimpi. Belakangan ini, kita memang sering melihat pemandangan mengenaskan. Mayat-mayat korban bom tergeletak di mana-mana. Pemandangan seperti itu akhirnya merasuki sampai ke alam bawah sadarmu, hingga akhirnya kau mimpi buruk." 
"Tapi bagaimana kalau itu memang benar? Bagaimana kalau ternyata Yen Ndui benar-benar telah meninggal akibat serangan bom?" 
"Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak, Suamiku. Putri kita anak yang baik. Lao Tian pasti melindunginya sama seperti terhadap anak-anak kita yang lain...." 
Kakek Buyut memendam amarah dan kesedihan dalam dada. Dengan lirih dia menyebut nama putri sulungnya itu. "Yen Ndui.... Oh, Yen Ndui...." *** 
Manado, setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI. 
Sudah beberapa hari ini Yen Ndui dan suaminya, Chenlang, diliputi keresahan. Putra sulung mereka yang berusia delapanbelas tahun, A Loi, baru-baru ini mengutarakan keinginannya untuk pindah ke kota Makassar.
"Ayah, Ibu, mengapa kita tidak pindah saja ke Makassar? Menurut teman-temanku yang sudah pindah ke sana, di Makassar peluang untuk usaha dan bisnis saat ini sangat bagus. Mengapa kita tidak mencoba untuk ikut mengadu peruntungan di sana?" 
"Anakku, kau jangan keburu nafsu," ujar Yen Ndui bijak. "Belum tentu kalau kita pindah di sana peruntungan kita akan semakin baik." 
"Tidak istriku, A Loi benar," Chenlang menyela. "Aku pun sebenarnya sudah lama berkeinginan pindah ke sana, hanya saja terhalang oleh suasana kacau-balau sehabis perang. Aku sudah sering mendengar banyak orang yang meramalkan Makassar akan menjadi kota pelabuhan yang besar, bahkan yang teramai di sebelah timur Nan Yang ini." 
Yen Ndui tepekur. Pindah dari Manado berarti meninggalkan kota yang selama ini telah dianggapnya sebagai kampung halaman kedua setelah Guandong. Itu berarti pula Yen Ndui akan berpisah dengan sahabat-sahabatnya yang telah duapuluh tahun dikenalnya sehingga sudah bagaikan sanak-saudara. 
Chaiyin, adik perempuan A Loi yang berusia limabelas tahun menggamit lengan Yen Ndui. Dengan setengah memohon, Chaiyin berkata. "Mengapa Ibu masih menimbang-nimbang? Kalau memang Ayah dan Kakak sudah setuju, mari kita sekeluarga pindah saja ke Makassar...."
Yen Ndui terdiam mendengar perkataan-perkataan suami dan anaknya itu silih berganti. Tiba-tiba Yen Ndui teringat dengan perkataan Tua Chen kepadanya belasan tahun yang lalu.
"... bahkan di selatan Pulau Celebes ini ada sebuah kota yang juga banyak dihuni oleh pendatang Tionghoa, namanya Makassar...." 
Tiba-tiba sesuatu muncul dalam benak Yen Ndui. 'Ah, kenapa tidak kugunakan kesempatan ini buat mencari orang tuaku sekali lagi?' Lalu, Yen Ndui manatap ke arah suaminya yang juga tengah memandangnya. 
"Bagaimana, Chenlang? Apakah kau benar-benar ingin pindah ke Makassar?" 
Chenlang menatap Yen Ndui dengan penuh arti. "Kalau kau menyetujuinya, Istriku, kita semua pasti akan mengikutinya," jawab Chenlang. 
Mata Yen Ndui seketika bercahaya dan bibirnya menyunggingkan senyum. "Baik! Keputusanku bulat! Aku setuju kita sekeluarga pindah ke Makassar!" 
Perkataan itu meluncur keluar dari bibir Yen Ndui dengan lancar. Tak lama berselang, terdengar sorak kegembiraan A Loi memenuhi seluruh ruangan tersebut. *** 
Yen Ndui beserta seluruh keluarganya akhirnya pindah ke Makassar. 
Chenlang berhasil menyewa sebuah rumah dengan harga yang pantas di daerah pinggiran pecinan, dekat dengan pelabuhan. Rumah-rumah di lingkungan tersebut berjejer-jejer dan modelnya serupa. Tetangga di sekitar rumah mereka berasal dari berbagai daerah. Kebanyakan memang keturunan Tionghoa, namun ada pula penduduk lokal Bugis-Makassar yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. 
Bangunan pada sisi sebelah kanan rumah Yen Ndui dihuni oleh keluarga Hokkian bermarga Ma. Keluarga Ma terdiri atas sepasang suami-istri muda yang memiliki seorang putra berusia balita. Tuan Ma bekerja sebagai karyawan di toko onderdil sepeda milik Ampek -nya (bahasa Hokkian untuk kakak lelaki dari pihak Ayah), yang terletak di tengah pecinan kota Makassar. Istrinya, Nyonya Ma, ibu rumah tangga biasa. Keluarga Yen Ndui dengan segera dapat akrab dengan suami-istri Ma ini. Apalagi mereka dengan sukacita mau membantu keluarga Yen Ndui untuk mengenalkan lebih jauh tentang kota Makassar. 
Keluarga Ma telah menetap di Makassar kurang lebih tujuh tahun. Paling tidak, kenalan mereka di Makassar lebih banyak ketimbang Yen Ndui dan Chenlang. Yen Ndui lalu memutuskan untuk menceritakan tentang 'misi' lainnya ke Makassar. Selain mengadu peruntungan yang lebih baik di kota baru ini, dia memang bermaksud mencari kedua orangtuanya. Keluarga Ma mendengarkan dengan seksama sewaktu Yen Ndui menyebutkan nama lengkap Ayah-Ibunya, beserta ciri-ciri mereka yang samar-samar masih melekat di ingatannya. 
"Suamiku, apakah kau punya kenalan yang seperti diceritakan Kakak Yen Ndui?" tanya Nyonya Ma kepada suaminya usai mendengar Yen Ndui bercerita. 
Tuan Ma mangut-mangut. "Sayangnya, aku tidak punya kenalan yang berciri-ciri seperti itu," jawabnya sambil mengingat-ingat. Lalu dia berkata ke arah Yen Ndui. "Kota Makassar sekarang sudah tidak sekecil dulu. Ada begitu banyak pendatang di kota ini, khususnya orang-orang Tionghoa. Ada yang datang dari Guandong, Hokkian, Khe (Hakka), Hainan, dan lain-lain. Kebanyakan orang-orang Tionghoa itu pun tidak semuanya saling mengenal satu lain."
Yen Ndui sedikit kecewa. Namun seperti biasa, dia hanya menyimak pasrah.
"Kebanyakan dari mereka hanya berinteraksi lewat hubungan dagang atau bertetangga seperti kita sekarang. Selain dari itu, masing-masing bergabung dalam paguyuban-paguyuban sesuai dengan propinsi tempat asal mereka di Tiongkok dulu. Aku sendiri ikut paguyuban keluarga Hokkian dari daerah Hing Hua. Sedangkan orang-orang Guandong, setahuku memiliki tiga paguyuban besar di sini: Guandong Khaiphing, Guandong Thaishan, dan Guandong Xinhui...." tambah Tuan Ma, detail menjelaskan. 
"Kalau begitu, aku bisa pergi ke rumah ketua pengurus paguyuban Guandong Khaiphing buat menanyakan perihal Ayah-Ibuku," seru Yen Ndui dengan mata berbinar-binar. "Tuan Ma, tahukah Anda di mana alamatnya?" 
Tuan Ma mendesah lalu menggeleng-geleng. "Sayang sekali aku tak tahu, Kak. Kebanyakan paguyuban tersebut tidak mempunyai kantor resmi, dan biasanya hanya memakai rumah salah satu anggota buat mengadakan pertemuan atau acara-acara penting lainnya secara bergilir. Tapi Kakak tidak perlu khawatir, aku akan tetap mencoba membantu Kakak. Di toko tempatku bekerja, ada banyak pelanggan orang Tionghoa sering keluar-masuk. Jika aku kebetulan menemukan pelanggan yang ternyata adalah orang Guandong Khaiphing, aku akan coba menanyakan perihal orangtua Kakak pada mereka." 
Yen Ndui amat berterima kasih atas bantuan Tuan Ma. 
Dan waktu terus bergulir. Di kota yang baru ini, Chenlang dan A Loi harus berusaha dari awal lagi. Untuk sementara waktu mereka magang di sebuah toko emas di jalan Klenteng—kini nama jalan itu Sulawesi. Sementara itu, Yen Ndui yang sudah terbiasa sibuk, tak tahan apabila hanya berdiam diri saja di rumah. Kebetulan, kemampuannya dalam membuat kue-kue basah tradisional Tionghoa sudah tidak diragukan lagi. Dengan sedikit uang dari tabungannya, Yen Ndui memulai usahanya menjual kue. Nyonya Ma mendampinginya ke pasar, memberitahunya di toko mana menjual tepung yang harganya murah dengan mutu bagus, atau toko mana yang menjual gula pasir dalam jumlah banyak dengan potongan harga, dan juga memberitahu pedagang mana yang menjual kacang hijau terbaik untuk dibuat taosa—jenang dari kacang hijau. Nyonya Ma juga membantu Yen Ndui mengolah kue-kue tersebut kemudian menjajakannya. Awalnya mereka berjualan hanya di daerah sekitar tempat tinggal saja. Kue-kue buatan Yen Ndui dalam waktu singkat menjadi populer dan laris karena rasanya memang enak. Melihat kemajuan itu, Nyonya Ma mengusulkan untuk ekspansi.
"Mengapa Kakak tidak mencoba membuat lebih banyak kue, dan menjualnya ke tengah-tengah pecinan? Pasti lebih banyak orang yang membeli." 
'Ah, usul yang bagus!' pikir Yen Ndui. Maka, dia dan Nyonya Ma pun membuat lebih banyak kue lagi untuk dijajakan.Yen Ndui dan Nyonya Ma berbagi daerah jualan. Kalau Nyonya Ma berjualan di daerah sekitar tempat tinggal mereka saja, maka Yen Ndui-lah yang berjualan ke daerah tengah pecinan. *** 
Hari itu, Yen Ndui menjajakan kue-kue dagangannya ke daerah tengah pecinan. 
Setelah satu-dua kali ikut Nyonya Ma, Yen Ndui pun akhirnya bisa menghafal sedikit-sedikit kawasan ini. 
"Jangan khawatir bisa sampai tersesat di daerah ini," Nyonya Ma memberi tahu, suatu ketika. "Daerah ini sangat mudah diingat karena jalan-jalannya lurus dan tembus-menembus hingga ke jalan-jalan utama. Tapi kalau Kakak masih bingung jalan kembali ke rumah, jangan sungkan-sungkan bertanya kepada orang-orang yang tinggal di sini. Mereka biasanya dengan senang hati mau memberi tahu jalurnya." 
Pagi itu, menjelang pukul sepuluh, Yen Ndui membawa tampah kue di atas kepalanya sambil berjalan melewati Je'ra Cinayya (bahasa Makassar untuk pekuburan Tionghoa). Menurut Nyonya Ma pula, pekuburan Tionghoa itu usianya sudah hampir dua abad, menampung ratusan atau bahkan hampir ribuan jenazah para pendatang Tionghoa di kota Makassar. Tapi belakangan ini tersiar kabar bahwa pemerintah kota Makassar yang baru mulai berencana hendak menggusur tanah pekuburan tersebut. Je'ra Cinayya yang baru akan dipindahkan ke daerah Panaikang di sebelah timur kota Makassar, bersamaan dengan pekuburan Nasrani yang terletak di sebelah selatannya. Di atas tanah bekas Je'ra Cinayya yang lama akan dibangun rumah-rumah tinggal, pertokoan, dan pasar sentral. Wilayah ini nantinya menjadi salah satu cikal-bakal daerah perdagangan teramai di pecinan kota Makassar . 
Yen Ndui terus melangkahkan kaki sepanjang tembok pembatas Je'ra Cinayya dengan jalan raya. Pada sebuah perempatan, Yen Ndui berhenti sejenak mengamati sebuah bangunan bertingkat tiga di seberang Je'ra Cinayya tersebut. Melihat hiolo—paidon, tempat merancap dupa—yang menempel pada salah satu sisi pintu, Yen Ndui menyimpulkan kalau pemilik rumah tersebut pasti merupakan orang Tionghoa. Ketika Yen Ndui sedang asyik berpikir, tiba-tiba pintu rumah yang tadinya tertutup, dibuka oleh seorang wanita. Wanita itu sepertinya seorang ibu muda dengan seorang anak lelaki yang berusia empat atau lima tahun berdiri di sampingnya. Rumah, wanita dan anaknya itu bagaikan magnet yang menarik Yen Ndui. Dia menyeberangi jalan dan mencoba menghampiri ibu dan anak itu. 
"Thai Thai—Nyonya," sapa Yen Ndui santun dalam bahasa mandarin. "Maukah Anda membeli kue-kue saya?" 
Wanita Muda itu pada awalnya sedikit terkejut disapa Yen Ndui. Namun belum sempat dia berkata-kata, anak lelaki di sampingnya telah sibuk menarik-narik roknya sambil berceloteh.
"Ibu, A Hong mau makan kue! Bibi ini sepertinya menjual kue-kue yang enak. Ayolah, Ibu, belikan A Hong, ya?" 
Yen Ndui terkejut mendengar anak laki-laki itu berbicara dalam bahasa Guandong Khaiphing yang fasih. Dipandanginya ibu anak tersebut, si Wanita Muda tadi yang kini tengah memandang putranya dengan penuh kasih. 
"Kau ingin makan kue? Baiklah, akan Ibu belikan. Ayo, lekas ambil piring di dalam." 
Anak laki-laki itu melesat masuk ke dalam rumah, dan dalam waktu singkat dia telah keluar membawa sebuah piring besi. Yen Ndui menurunkan tampah kuenya dan membuka kain penutupnya. Anak lelaki itu mulai sibuk memilih, didampingi ibunya. 
Tapi sang Ibu tidak sepenuhnya mengawasi putranya. Sebaliknya, dia melihat Yen Ndui seolah menyelidik. 'Dari mana asalnya wanita ini?' Mungkin itu yang sedang dipikirkannya. Melihat cara berpakaian Yen Ndui, Wanita Muda itu pasti kebingungan. Setelah bertahun-tahun tinggal di Manado, Yen Ndui telah mengganti baju chipao dan cheongsam-nya dengan kebaya dan kain sarung. Sebuah perbedaan yang mencolok antara Tionghoa perantauan yang berkembang di Makassar dan kota-kota lainnya di Indonesia. 
Dari sudut matanya Yen Ndui melihat Wanita Muda itu seolah sedang berpikir,  Apakah wanita ini seorang Guandong, Hokkian atau Khe? Jangan-jangan dia seorang Chiaushen—Tionghoa peranakan. Atau barangkali wanita Manado? Bahasa mandarinnya lumayan bagus....' 
Yen Ndui pura-pura tidak memperhatikan Wanita Muda tersebut, dan hanya melayani si Bocah Lelaki kecil yang sibuk memilih kue. 
"Aku mau kue yang berwarna merah dan bentuknya seperti kura-kura itu.... Aku mau kue bolu kukus merah muda yang ini.... Aku juga mau kue wijen goreng yang ini...."
Kali ini barulah si Wanita Muda menoleh pada putranya sambil berkata heran, "A Hong, kau membeli sebanyak itu untuk kau habiskan sendiri?" 
Anak lelaki itu memandang ibunya dengan wajah mungilnya yang lugu. "Tentu saja tidak! Aku hanya akan makan satu. Yang lainnya akan kuberikan kepada Kakek, Nenek, dan Ayah...." 
"Wah, anak yang baik...," puji Yen Ndui. "Thai Thai, Anda beruntung punya putra secerdas ini." 
Ibu anak itu tersenyum simpul. Ketika Yen Ndui sudah hampir selesai memindahkan kue-kue pilihan si Bocah Lelaki ke dalam piring, dari dalam rumah muncullah wanita lain—seorang gadis berusia empatbelas atau limabelas tahun. Tubuhnya kurus dan kulitnya hitam manis. Tapi sepasang mata sipitnya memberi tahu Yen Ndui bahwa dia seorang gadis Tionghoa, terlebih ketika dia berbicara dengan bahasa Guandong Khaiphing yang fasih.
"Shao Shao—Kakak Ipar, sedang membeli apa?" 
Si Wanita Muda menoleh ke arah adik iparnya itu seraya berkata, "Eh, Liming, kau rupanya! Aku sedang membeli kue. Apakah kau juga mau?" 
Gadis yang bernama Liming itu menghampiri tampah. Setelah melihat-lihat beberapa saat, dia menunjuk sebuah kue yang berwarna putih dan bentuknya menyerupai bakpao. 
"Pawa ini isinya apa?" 
Kakak iparnya tidak tahu bahwa Yen Ndui mengetahui pembicaraan mereka, menerjemahkan pertanyaan Liming dalam bahasa Guandong ke dalam bahasa mandarin. Yen Ndui pun menjawab dalam bahasa mandarin pula.
"Pawa ini berisi cacahan kacang tanah dan gula pasir, dicampur wijen, Thai Thai." 
Liming mengambil pawa sambil berkata, "Baik, kuambil yang ini saja." 
Si Wanita Muda itu lalu mengambil dompet kecil yang tersimpan dalam sakunya. Dibayarnya semua kue yang dibeli oleh putra dan adik iparnya. Setelah saling mengucapkan terima kasih, si Wanita Muda itu sudah akan memasuki rumah bersama dengan putra dan adik iparnya. Tiba-tiba Yen Ndui merasa seluruh keberaniannya terkumpul buat menanyai si Wanita muda tadi. Dia berjalan menghampiri Wanita Muda itu, mencegat langkahnya dan berkata.
"Thai Thai, tunggu sebentar! Bolehkah saya bertanya?" 
Wanita Muda itu berbalik, begitu pula dengan adik iparnya yang bernama Liming itu. Putranya juga ikut berhenti dan memandangi Yen Ndui dengan perasaan ingin tahu. 
"Iya, Cie Cie—kakak perempuan? Adakah yang bisa saya bantu?" Si Wanita Muda menjawab pertanyaan Yen Ndui dengan pertanyaan pula.
"Apakah Nyonya berasal dari Guandong Khaiphing?" tanya Yen Ndui, kali ini dalam bahasa Guandong Khaiphing. 
Si Wanita Muda dan Liming membelalakkan mata.
"Saya dan suami saya sudah merupakan orang-orang Tionghoa kelahiran Makassar, Cie Cie," jawab si Wanita Muda. "Hanya orangtua kami yang memang masih berasal dari Guandong Khaiphing." 
"Anu...,"Yen Ndui merasa lidahnya agak kelu. "Sebenarnya, saya pun berasal dari Guandong Khaiphing. Tepatnya dari dusun Liu Cun Mei, desa Sha Kok. Sudah duapuluh tahun ini saya mencari kedua orangtua saya. Ayah saya pergi ke Nan Yang ini ketika saya baru berusia lima tahun, dan Ibu saya menyusulnya sewaktu saya berusia tigabelas tahun. Sejak kepergian Ayah, tak satu pun kabar berita yang saya peroleh tentangnya. Begitu pula dengan Ibu. Itu sebabnya saya tidak tahu di mana kini mereka berada, apakah masih hidup atau sudah meninggal...." 
Si Wanita Muda itu menyimak dengan seksama. Ketika Yen Ndui berhenti berbicara karena menyaput sudut matanya yang mulai basah dengan punggung tangannya, si Wanita Muda itu berkata.
"Kedua mertua saya juga berasal dari dusun Liu Cun Mei, desa Sha Kok, di Guandong Khaiphing. Siapakah nama kedua orangtua Cie Cie? Beritahu saya supaya saya bisa menanyakannya kepada kedua mertua saya. Siapa tahu mereka mengenalinya." 
Yen Ndui menatap si Wanita Muda. "Ayah saya bermarga Ciang, bernama Wengwah.... Ibu saya bermarga Ciu, dia tak punya nama dan orang-orang dulunya hanya memanggilnya 'Anak Perempuan Ketiga'...." 
Tiba-tiba Wanita Muda itu mundur sejenak, dan menatap Yen Ndui dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung rambut. 
"Maaf, Cie Cie, kalau boleh tahu, siapakah nama Anda?" 
"Marga saya, Ciang. Nama saya Yen Ndui. Dulu sebelum Ibu pergi menyusul Ayah saya ke Nan Yang ini, saya dinikahkan dengan seorang pria bermarga Sun dari Xinhui. Enam tahun kemudian suami saya meninggal, dan saya 'dibebaskan' oleh Ibu Mertua saya. Saya lalu ikut salah satu kerabat ke Nan Yang ini buat mencari orangtua saya. Namun di kota tempat saya tinggal dulu, sebelum menetap di kota ini, saya sama sekali belum berhasil menemukan mereka. Sekarang duapuluh tahun sudah berlalu semenjak kedatangan saya ke Nan Yang ini, saya masih terus berusaha mencari...." 
Yen Ndui terus bercerita sampai dia memperhatikan mimik muka Liming yang mendadak berubah. Gadis itu tampak terpana dan membelalakkan matanya sebesar bola pingpong. Kakak Iparnya, yang sedari tadi menyimak juga tampak shock. Apa yang barusan dikatakan Yen Ndui benar-benar telah mengejutkan mereka semua. 
Tiba-tiba, tanpa mendengar penjelasan Yen Ndui lebih lanjut lagi, Liming berlari masuk ke dalam rumah. Dia berteriak keras.
"Ayah! Ibu! Lekas keluar! Di depan pintu ada wanita yang mengaku bernama Yen Ndui! Dia... dia... sedang mencari kalian!" *** 
Kakek dan Nenek Buyut tadinya seolah tidak percaya dengan teriakan Liming. 
Kedua orang tua itu bergegas mengikuti Liming keluar buat menemui wanita yang mengaku bernama Yen Ndui. Di depan pintu, Kakek Buyut melihat menantu perempuannya masih terbengong-bengong menatap sosok seorang wanita berkebaya dan bersarung. Dan, sekarang wanita itu berdiri tepat di hadapan Kakek dan Nenek Buyut! 
Kakek dan Nenek Buyut terdiam beberapa saat. Mereka menyipitkan mata memandang dengan seksama wanita yang juga sedang balas menatap mereka. Sejurus kemudan terdengar suara-suara teriakan yang hampir bersamaan. 
"Putriku?!" 
"Ayah?! Ibu?!" 
"Lao Tian! Ini, ini... benar-benar putriku!" 
Dan kemudian tangis kebahagiaan pecah di antara mereka. *** 
Inilah kisah di balik sebuah reuni. Kisah tentang seorang anak perempuan yang tak pernah berputus asa mencari Ayah-Ibunya, yang telah dipisahkan oleh jarak dan waktu selama duapuluh tahun. 
Makassar merupakan kota terakhir yang ditinggali Yen Ndui hingga akhir hayatnya, dan kisah tentang dirinya telah diceritakan turun-temurun dalam keluargaku hingga pada generasiku sekarang. Untuk menutup kisah reuni ini, izinkan aku mengakhirinya dengan sebuah puisi dari zaman Dinasti Ming. 
'Ketika kepahitan berakhir, manis mulai terasa 
Setelah kemalangan, datanglah bahagia 
Sepasang Pedang Fengcheng telah berpadu 
Mutiara Hepu kembali ke tempat semula 
Pelajar lanjut usia lulus ujian negara 
Pengemis menemukan harta terpendam 
Bagai bunga yang mekar, si Wanita memperoleh suaminya kembali 
Bagai rumput yang bertunas, anak yatim menemukan Ayahnya 
Kebahagiaan ini melebihi bertemu kawan di rantau 
Sambutannya melebihi hujan yang ditunggu setelah kemarau panjang 
Bagai sepasang angsa yang terpisah bertemu kembali di lautan 
Pertemuan, bisa terjadi di mana saja.' ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger