Sabtu, 30 April 2011

Kisah Di Balik Sebuah Reuni Part I By. Merlin Herlina

Kakek Buyutku dari pihak Ayah bernama Ciang Wengwah atau Zhang Wenhua dalam dialek mandarin Hanyu Pinyin.
Beliau lahir pada tahun 1880, di sebuah dusun bernama Liu Cun Mei, Kecamatan Sha Kok, Kabupaten Khaiphing, Propinsi Guandong, China bagian Selatan.
Kakek Buyut terlahir sebagai putra sulung dari dua bersaudara dimana adiknya yang beberapa tahun lebih muda juga adalah seorang lelaki. Kedua orangtua Kakek Buyut hanyalah sepasang suami-istri petani miskin, yang tenaganya disewa oleh tuan-tuan tanah kaya guna menggarap sawah-sawah mereka.
Seingat Kakek Buyut, ketika masih kecil ada seorang pria berwajah cendekiawan yang mengajarinya membaca dan menulis. Pria itu adalah salah seorang tetangganya. Namun pada dasarnya Kakek Buyut tidak terlalu senang belajar. Kemungkinan besar karena kurang termotivasi oleh Ayah-Ibunya.
Kedua orangtuanya senantiasa berujar, "Sekolah bukanlah hal yang utama bagi keluarga miskin seperti kita. Yang paling penting adalah, kau cepat tumbuh besar dan cukup kuat untuk bekerja di sawah supaya kita bisa makan."
Demikianlah pemikiran sederhana keluarga miskin Tionghoa zaman dulu. Perut lebih penting ketimbang pendidikan. Akibatnya, Kakek Buyut hanya bisa mengenali sedikit sekali huruf.
Kakek Buyut menikah pada usia duapuluh dua tahun. Mempelai wanitanya seorang gadis bermarga Ciu (Zhou dalam dialek mandarin Hanyu Pinyin), dan baru berusia empatbelas tahun. Nona Ciu juga berasal dari keluarga petani miskin di dusun yang sama dengan Kakek Buyut. Kedua orangtuanya memiliki kebiasaan untuk tidak menamai anak perempuan. Nona Ciu yang kemudian menjadi Nenek Buyutku ini biasanya hanya dipanggil Ai Sam Ndui—anak perempuan ketiga. *** 
 Nenek Buyut tidak pernah bersekolah maka dari itu beliau buta huruf.
Karena bukan berasal dari keluarga terpandang, Nenek Buyut beserta saudari-saudarinya tidak pernah menjalankan ritual 'membebat kaki'.
Pada masa itu di Tiongkok, seorang gadis baru dianggap menarik apabila memiliki kaki 'San Chun Cing Lien' – teratai emas tiga inci. Namun untuk memiliki kaki seperti itu sungguh tidak mudah. Sejak usia dua tahun, seorang bocah perempuan harus menahan sakit yang luar biasa, dimana kedua telapak kaki mereka ditekuk, lalu diikat dengan kain yang amat panjang. Proses tersebut berlangsung selama bertahun-tahun, menyebabkan patahnya tulang-tulang telapak kaki dan rasa sakit yang luar biasa apabila berjalan jauh. Diam-diam, Nenek Buyut bersyukur tidak mengalami siksaan semacam itu.
Pada awal pernikahan mereka, Kakek dan Nenek Buyut dikaruniai dua orang anak lelaki namun usia keduanya tidak lama. Putra pertama mereka meninggal ketika masih berupa janin usia enam bulan. Waktu itu Nenek Buyut kurang berhati-hati menjaga dirinya dan masih memaksakan diri untuk bekerja di sawah sementara perutnya semakin membesar. Akibatnya, janinya pun keguguran. Putra kedua meninggal sebelum mencapai usia setahun. Kali ini akibat over dosis. Ketidakmampuan Kakek dan Nenek Buyut dalam membaca menyebabkan mereka tidak bisa memberi obat dengan dosis tepat kepada putra mereka yang sedang sakit. Pikiran mereka sederhana sekali. Putra mereka pasti akan lekas sembuh apabila diberi dosis obat beberapa kali lebih banyak dari anjuran tabib.
Pada saat Nenek Buyut mengandung untuk ketiga kalinya, beliau diawasi dengan ketat oleh seluruh keluarganya. Bayinya lahir dengan selamat, bertepatan pada hari festival Chong Yang – festival bunga yang jatuh pada tanggal sembilan bulan sembilan lunar. Pada hari itu, orang-orang Tionghoa biasanya pelesir ke tempat-tempat tinggi seperti gunung-gunung atau bukit-bukit. Mereka menikmati arak Chrysantemum serta memakai daun tumbuhan dogwood sebagai hiasan pada rambut mereka.
Semula Kakek dan Nenek Buyut tidak terlalu senang karena anak ketiga ini adalah seorang perempuan. Namun lama-kelamaan, Kakek Buyut menjadi semakin menyukainya. Bayi perempuan itu berkulit putih halus, mungil, lucu dan cantik. Kakek Buyut senang sekali menggendongnya dan membawanya berkeliling. Orang-orang yang melihat anak perempuan itu tak satu pun yang tidak memuji kalau anak itu cantik
Anak perempuan itu diberi nama Yen Ndui (Yannu, dalam mandarin Hanyu Pinyin), yang berharfiah 'Gadis Walet'. Ketika hampir mencapai usia setahun, Kakek Buyut iseng-iseng membawa Yen Ndui ke seorang peramal untuk diramal Ba Zi atau nasib masa depannya. Peramal tersebut menghitung-hitung berdasarkan tahun, bulan, tanggal serta jam kelahiran Yen Ndui. Setelah melakukan perhitungan, peramal itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana hasil ramalannya, Shifu – guru?" tanya Kakek Buyut.
Peramal itu menjawab, "Angka sembilan ganda dalam tanggal kelahirannya terlalu kuat bagi seorang anak perempuan seperti putrimu, Tuan. Kalau saja dia seorang lelaki, kelak dia akan menjadi orang terpandang. Tapi karena dia seorang perempuan, yang terjadi justru sebaliknya...."
Wajah Kakek Buyut berubah keruh ketika beliau menggendong Yen Ndui meninggalkan tempat si Peramal. Dipilihnya untuk tidak mempercayai kata-kata dari peramal tersebut. *** 
Pada saat Yen Ndui berusia lima tahun, Kakek Buyut memutuskan untuk merantau keluar dari Tiongkok.
Sebelumnya, Kakek Buyut sempat bimbang antara dua pilihan, pergi ke Amerika atau ke Nan Yang – nama lama untuk kepulauan Indonesia dalam bahasa mandarin. Tapi kemudian beliau memantapkan diri memilih Nan Yang. Di Amerika, seorang pria Tionghoa miskin dan tidak mengenal banyak huruf seperti dirinya hanya akan menjadi kuli tambang emas di San Fransisco atau menjadi buruh pembuat rel kereta api di California dan Texas. Sebaliknya, di Nan Yang peluang untuk memperoleh pekerjaan yang layak lebih besar. Kakek Buyut telah mendengar dari rekan-rekan sekampungnya yang merantau di Nan Yang dan kembali sebagai orang sukses. Kakek Buyut mengimpikan hal serupa. Beliau bercita-cita memutuskan rantai kemiskinan yang telah mendera keluarganya turun-temurun. Apakah ini salah? Tentu tidak! Bukankah hak dasar bagi setiap manusia untuk memperoleh kehidupan lebih baik?
Pada hari baik yang telah dipilih, Kakek Buyut berpamitan dengan seluruh kerabatnya, istri dan putrinya serta adik laki-lakinya. Kakek Buyut juga menziarahi makam kedua orangtuanya untuk yang terakhir kali. Setelah itu, beliau berangkat ke Macao, sebuah kota pelabuhan yang jaraknya sekitar seratus kilometer di sebelah Timur Khaiphing. Dari sana, Kakek Buyut bersama beberapa kenalannya berangkat menuju Nan Yang.
Di atas kapal, Kakek Buyut mengikuti saran beberapa kawannya untuk memotong kepang rambutnya.
"Di Nan Yang, tak ada lagi pria Tionghoa yang memelihara kuncir," kata mereka.
Maka Kakek Buyut pun memotong pendek rambutnya dan membuang kepangnya di laut lepas untuk menandai satu awal baru dalam hidupnya. *** 
Semenjak kepergian Kakek Buyut,Yen Ndui praktis hanya diasuh oleh Ibunya.
Nenek Buyut mendidiknya dengan kolot sekali. Ketika anak-anak seusianya, baik lelaki maupun perempuan sudah mulai bersekolah, Yen Ndui tetap tinggal di rumah. Belakangan, Nenek Buyut menawarkannya kepada seorang tuan tanah untuk dijadikan pelayan kecil sewaktu Yen Ndui berusia tujuh tahun. Awalnya, si Majikan hanya menyuruh Yen Ndui melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Tapi lama-kelamaan disuruhnya bocah perempuan itu untuk mencuci berember-ember pakaian, membersihkan jendela dan pintu rumahnya yang tinggi-tinggi, sampai menggembalakan kambing-kambing miliknya.
Yen Ndui paling suka dengan pekerjaan mengembalakan kambing. Sebab, di dekat padang rumput tempat kambing-kambing digembalakan ada sebuah sekolah. Gurunya adalah seorang pria paruh baya berwajah ramah. Beliau senantiasa sabar dalam mendidik murid-muridnya yang berusia antara lima hingga empatbelas tahun. Beliau mengajar membaca dan menulis dalam bahasa mandarin. Guru tersebut tak pernah mengeluh walau harus mengajar murid-murid yang sebagian besar berasal dari keluarga petani kurang mampu, dan kadang-kadang hanya bisa membayarnya dengan beberapa liter beras atau hasil kebun lainnya.
Karena tidak diizinkan untuk bersekolah, maka yang bisa dilakukan Yen Ndui hanyalah mengintip ke ruang kelas jika proses belajar-mengajar sedang berlangsung. Yen Ndui sebenarnya dianugerahi sebuah otak yang encer. Dengan cepat ditangkapnya ajaran-ajaran Sang Bapak Guru. Dalam tempo singkat, Yen Ndui telah dapat melafalkan huruf-huruf dalam bahasa mandarin dengan fasih dan menuliskannya di atas tanah dengan sebatang ranting pohon.
Yen Ndui mengikuti kelas secara sembunyi-sembunyi dan khawatir kepergok. Tapi pada suatu hari, Sang Bapak Guru mendapatinya sedang menjulur-julurkan leher di luar jendela mengikuti pelajaran. Yen Ndui begitu malu ketika tertangkap basah. Dia sudah bergegas hendak lari ketika sebuah suara menghentikannya.
"Hei, berhenti! Jangan pergi dulu, Nak!"
Rupanya suara Sang Bapak Guru. Beliau dengan tergesa-gesa keluar dari kelas untuk mencegat Yen Ndui.
"Siapa namamu? Di mana kamu tinggal?" tanyanya ramah.
"Nama... namaku... Yen Ndui....," ujar Yen Ndui terbata-bata. "Ak-aku... tinggal di sana...."
Yen Ndui menunjuk arah rumahnya, dan Bapak Guru itu mengangguk.
"Apakah kamu senang dengan sekolah?" tanya Bapak Guru itu lagi.
"Ya, saya senang!" jawab Yen Ndui sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.
"Lalu, kenapa kamu tidak sekolah?"
Yen Ndui melongos. "Karena Ibu tidak mengizinkan aku untuk sekolah...."
Bapak Guru itu merasa iba. Dibiarkannya Yen Ndui pergi karena melihat bocah itu gelisah. Usai jam sekolah, Sang Bapak Guru pergi mencari rumah Yen Ndui. Dan setelah bertanya kepada orang-orang, ditemukannya juga rumah gadis cilik itu.
Bapak Guru itu menemui Nenek Buyut. Diutarakannya keinginannya untuk menerima Yen Ndui sebagai muridnya. Akan tetapi Nenek Buyut menolak.
"Kami hanya keluarga petani miskin dan kini suamiku sedang merantau. Kebutuhan untuk makan sehari-hari saja sulit kami penuhi, apalagi biaya untuk sekolah," Nenek Buyut berkomentar.
"Kalau masalahnya adalah biaya, itu tak jadi soal, Nyonya," jawab Bapak Guru sopan. "Meski tak dibayar sekalipun, saya tetap bersedia mengajar putri Anda."
"Tapi apakah itu ada gunanya?" ledek Nenek Buyut. "Anak perempuan seperti Yen Ndui suatu hari nanti akan menikah dan hanya akan menjadi ibu rumah tangga biasa. Pada waktu itu, apakah semua pelajaran yang Bapak Guru ajarkan akan dipakainya? Menyekolahkannya sama saja dengan membuang waktu dengan sia-sia!"
"Nyonya jangan berpikiran seperti itu," ujar Bapak Guru dengan sabar. "Tidakkah Nyonya mendengar kalau wanita-wanita Eropa dan Amerika yang datang ke Tiongkok semuanya pintar-pintar? Mereka semua mahir membaca dan menulis. Tidakkah Nyonya ingin suatu hari nanti putri Anda bisa seperti mereka? Lagipula di masa mendatang, wanita tidak lagi hanya sekedar sebagai ibu rumah tangga biasa. Suatu hari nanti mereka akan menjadi perawat, dokter atau bahkan guru seperti saya...."
Kuping Nenek Buyut panas mendengar ceramah Sang Bapak Guru.
"Pokoknya, aku tetap tidak mengizinkan Yen Ndui untuk bersekolah!" sahutnya keras kepala.
Sang Bapak Guru hanya bisa menghela napas dan pulang dengan penuh rasa sesal. *** 
Hari-hari berukutnya Yen Ndui tidak takut-takut lagi mengintip pelajaran dari luar kelas.
Bapak Guru itu tampak begitu baik. Beliau tidak pernah memarahi atau mengusir Yen Ndui. Sebaliknya, beliau tampaknya merestui usaha Yen Ndui sekaligus prihatin padanya. Pada musim hujan, Sang Bapak Guru memaksa Yen Ndui untuk masuk ke dalam kelas supaya dapat mengikuti pelajaran tanpa kebasahan. Yen Ndui amat girang. Terlebih ketika dia diberikan sebuah papan dan kapur tulis untuk menulis pertama kalinya.
Nenek Buyut sendiri mulanya tidak mempedulikan urusan Yen Ndui masuk sekolah atau pergi bekerja. Hingga pada suatu hari, majikan tempat Yen Ndui bekerja mendatanginya sambil marah-marah.
Pria kaya itu berkata ketus, "Putrimu sungguh tidak berguna! Hasil pekerjaannya senantiasa tidak becus! Disuruh mencuci, pakaianku kadang-kadang hanyut di sungai. Disuruh mengembalakan kambing, dia bukannya menjaga kambing-kambingku melainkan ngeloyor pergi mengintip anak-anak yang sedang bersekolah!"
Nenek Buyut memendam amarah terhadap putrinya. 
Majikan Yen Ndui kembali berteriak-teriak di hadapan Nenek Buyut, "Nyonya, aku mengupah putrimu untuk bekerja, dan bukan hanya sekedar makan gaji buta! Kalau kau memang ingin menyekolahkannya, sebaiknya kau bilang saja. Aku pasti akan memecatnya sekarang juga!"
Nenek Buyut terkejut sekaligus cemas mendengar kata-kata itu. Jika Yen Ndui berhenti bekerja, 'penyumbang nasi dalam periuk' keluarga ini akan berkurang. Nenek Buyut geram, memutar otak agar putrinya itu tetap bekerja.
Sore itu, seperti biasa Yen Ndui pasti sedang bersama Ibunya. Kedua Ibu dan anak itu duduk di bawah atap rumah mereka yang menghadap halaman kecil berpagar bambu. Nenek Buyut sedang menyiangi kacang kedelai untuk dibuat tahu sementara Yen Ndui mengambil sebilah ranting kayu bakar dan mulai menulis di atas tanah.
"Ibu, hari ini aku belajar menulis huruf xiao – berbakti. Huruf ini sungguh unik, coba Ibu lihat!"
Yen Ndui mulai menggores-gores tanah dengan ranting membentuk sebuah huruf sementara mulut mungilnya terus berceloteh kecil.
"Huruf xiao ini bentuknya seperti seorang anak yang membopong orangtuanya. Kata Pak Guru, huruf ini merupakan gabungan antara huruf lao – orangtua, dengan huruf zi – anak."
Nenek Buyut yang sedari tadi diam menahan amarah tak lagi mampu menahan diri. Disampirkannya tampah yang berisi kacang kedelai lalu bangkit menghampiri Yen Ndui. Ranting yang sedang dipakai Yen Ndui untuk menulis dirampas olehnya lalu dipakai untuk menyabet dan mencambuk putrinya itu. Nenek Buyut pun menumpahkan kemarahannya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk sekolah, hah? Siapa yang meyuruhmu untuk mempelajari huruf-huruf konyol itu? Apa kau pikir dengan mempelajari semua itu, kau akan berubah menjadi naga atau burung hong – phoenix?" (Naga atau burung hong merupakan simbolitas kejayaan dan kemakmuran bagi orang Tionghoa. Mereka sangat percaya kalau sepasang simbolik berupa binatang berbentuk ular naga dan burung hong—sejenis cenderawasih berbulu ekor panjang—penghuni surga tersebut merupakan totemis yang mendukung nilai-nilai tersebut).
"Kau tidak melakukan pekerjaanmu dengan baik! Tadi siang majikanmu kemari dan marah-marah kepada Ibu. Kau harus tahu kita ini keluarga susah dan tak punya cukup uang! Sekolah tidak bisa mengenyangkan perutmu! Tapi kalau kau bekerja, kau akan punya uang buat membeli makanan! Apa kau paham soal itu? Apa kau mengerti tentang itu?"
Nenek Buyut terus berteriak memarahi Yen Ndui sambil mencecar putrinya itu dengan sabetan-sabetan ranting.Yen Ndui yang tidak sigap dengan reaksi Ibunya tak bisa melarikan diri. Dia berusaha menangkis sabetan-sabetan yang diarahkan kepadanya seraya menangis memohon ampun.
"Ampun, ampun, Ibu! Yen Ndui tahu, Yen Ndui bersalah! Yen Ndui janji tak akan mengulanginya lagi... Yen Ndui janji...."
Nenek Buyut baru berhenti memukul setelah mendengar Yen Ndui berjanji dan menangis tersedu kesakitan!
Yen Ndui berlari masuk ke dalam rumah sebelum para tetangga yang menyaksikan peristiwa tadi menghampiri untuk menghiburnya. Di dalam kamarnya Yen Ndui menangis keras-keras sambil bergumam lirih.
"Kalau Ayah ada, aku pasti tak akan dipukul! Kalau Ayah ada, aku pasti tidak menjadi pembantu di rumah orang! Kalau Ayah ada... aku pasti bisa sekolah!" *** 
Beberapa hari kemudian, Yen Ndui tidak berani menghampiri gedung sekolah.
Sang Bapak Guru heran melihat perubahan sikapnya. Tapi belakangan sewaktu melihat bilur-bilur luka di sepanjang pergelangan tangan, kaki, dan wajah anak itu, serta mendengar cerita dari salah seorang muridnya yang kebetulan adalah tetangga Yen Ndui, Bapak Guru itu pun mafhum.
Tapi bukan Yen Ndui namanya kalau dia tidak berusaha untuk mencoba lagi. Kali ini, Yen Ndui lebih berhati-hati. Diurusnya kambing-kambing gembalaannya baik-baik baru kemudian menghampiri kelas yang sedang berlangsung.
Sang Bapak Guru amat senang melihat Yen Ndui di luar jendela meski tak diungkapkannya. Tiba-tiba saja beliau mengumumkan kepada murid-muridnya.
"Bagaimana kalau hari ini kita belajar tentang nama-nama binatang?" lontarnya.
Para murid mulai celingak-celinguk bersemangat. Bapak Guru melanjutkan lagi, "Bagaimana kalau kita mulai dengan hewan unggas, yang bisa terbang. Burung, misalnya?"
Seorang murid perempuan dalam kelas mengacungkan tangan kanannya dan berseru, "Pak Guru, bagaimana bentuk huruf kanji untuk yanzi—burung walet?"
"Aha!" sahut Bapak Guru. "Pertanyaan bagus, Nak! Aku akan menuliskannya di papan tulis ini. Coba perhatikan baik-baik."
Sang Bapak Guru pun mulai menggoreskan kapur di atas papan tulis menulis huruf yanzi.
Murid perempuan itu mengacung lagi sambil berseru, "Pak Guru, apakah huruf yan ini sama dengan huruf yen dalam nama Yen Ndui—tetanggaku itu? Sebab kata orang-orang, nama Yen Ndui berarti Yanzinu – gadis walet. Apakah itu benar, Pak Guru?"
Bapak Guru mengangguk seraya berujar, "Betul sekali, Nak! Kedua huruf itu memang sama. Lihat, aku akan menambah huruf nu – Ndui, yang berarti gadis atau anak perempuan. Nah, inilah huruf dari nama Yen Ndui...."
Di luar jendela, Yen Ndui memperhatikan dengan seksama Sang Bapak Guru sewaktu menulis namanya. Dipungutnya sebatang ranting dan dia mulai menggores namanya di atas tanah.
Akhirnya, Yen Ndui berhasil menulis namanya sendiri. *** 
Sementara itu, waktu melesat bagaikan anak panah.
Tanpa terasa, sudah tujuh tahun berlalu sejak kepergian Kakek Buyut di Nan Yang.
Sejak saat itu pula, tak pernah ada satu kabar pun diterima oleh sanak keluarganya di kampung halaman. Nenek Buyut mulai khawatir, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Kakek Buyut di tanah rantau. Atau lebih buruk lagi, Kakek Buyut telah melupakan dirinya dan Yen Ndui. Siapa tahu di Nan Yang, Kakek Buyut menikah lagi dengan wanita lain serta memiliki anak-anak lain dari wanita itu—seperti yang biasa didengar oleh Nenek Buyut tentang pria-pria Tionghoa di perantauan. Nenek Buyut tak sanggup membayangkan dirinya dimadu, apalagi kalau membayangkan dirinya dilupakan begitu saja oleh suaminya.
Nenek Buyut mulai berpikir untuk menyusul suaminya ke Nan Yang. Mencari di mana letak pastinya suaminya berada tidak jadi soal. Namun yang menjadi masalah adalah, Nenek Buyut tidak punya ongkos buat naik kapal ke Nan Yang. Berhari-hari Nenek Buyut pusing memikirkan solusi dari masalahnya itu. Sampai pada suatu hari, seseorang datang seolah membawa harapan. ***
Tuan Sun dari Kecamatan Xinhui, pada suatu hari datang menemui Nenek Buyut. Dia seorang juragan jeruk kaya-raya sekaligus pemilik tanah perkebunan jeruk yang luas sekali di Xinhui.
Pada hari Tuan Sun datang menemui Nenek Buyut, dia bermaksud untuk melamar Yen Ndui sebagai istri keempatnya. Tuan Sun telah berusia awal empat puluhan dan dia tertarik melihat paras Yen Ndui yang manis. Nenek Buyut tidak berpikir panjang. Atas keputusannya sendiri, beliau menyetujui lamaran Tuan Sun untuk menikahi putrinya.
Yen Ndui amat terkejut ketika diberitahu akan segera menikah. Dia sempat protes kepada Ibunya, namun Nenek Buyut mengemukakan alasan.
"Anak gadis yang telah dipinang, tak boleh menolak. Jika dia sampai menolak pinangan sebanyak tiga kali, maka untuk selamanya dia akan menjadi perawan tua."
"Tapi usiaku baru tigabelas tahun, Ibu."
"Ah, itu bukan apa-apa. Dulu sewaktu Ibu menikah dengan Ayahmu, usia Ibu hanya beberapa bulan lebih tua darimu sekarang. Lagipula, di keluarga kita cukup banyak anak gadis yang menikah sejak usia dua belastahun."
Wajah Yen Ndui memucat karena takut. Berikutnya, hampir setiap hari dia menangis. Yen Ndui benar-benar belum siap untuk menikah. Malang benar gadis itu, tak ada seorang pun yang bisa menolongnya keluar dari permasalahnya. Para ayi – bibi dari pihak Ibu, tak mampu mempengaruhi keputusan saudari mereka. Sedangkan shu shu – paman, adik lelaki Ayah, tidak berwewenang membatalkan rencana pernikahan ini.
Pada malam sebelum hari pernikahannya, Yen Ndui justru dimarahi oleh Nenek Buyut, "Bisakah kamu berhenti menangis? Lihat kedua matamu bengkak seperti mata ikan maskoki. Pria mana yang mau punya mempelai seperti itu?"
Seorang ayi mendengarnya, dan menegur Nenek Buyut, "Meimei – adik perempuanku, jangan terlalu keras memarahi putrimu. Dia tentu saja cemas sebab besok akan menjadi pengantin. Sebaiknya biarkan dia cepat tidur malam ini."
Tapi sepanjang malam itu, Yen Ndui justru tak bisa tidur nyenyak. Keesokan subuhnya dia dibangunkan oleh salah satu ayi. Yen Ndui lalu dibawa ke kamar mandi, dimandikan dalam gentong berisi air hangat dicampur daun jeruk. Setelah itu dia dibawa kembali ke kamar untuk didandani. Seorang wanita uzur menyisir rambut Yen Ndui sambil mengumandangkan pantun-pantun perkawinan. Wanita uzur itu adalah seorang wanita yang telah menikah selama puluhan tahun dan telah memiliki banyak anak serta cucu. Pantun-pantun yang diucapkannya merupakan pantun dalam ritual 'menyisir rambut sang mempelai perawan'. Konon dengan dipilihnya wanita uzur ini sebagai penyisir rambut, sang mempelai diharapkan memiliki usia pernikahan yang panjang dengan dianugerahi banyak anak dan cucu nantinya.
Ketika matahari menyingsing, Yen Ndui telah berdandan lengkap dengan atribut-atribut pengantinnya. Dia duduk diam sambil berjuang keras menahan airmatanya agar tidak tumpah melunturi bedaknya. Ketika waktu si – jam ular (antara pukul 9-11 pagi) baru dimulai, datanglah rombongan tandu pengantin kiriman Tuan Sun buat menjemput Yen Ndui. Para ayi lekas-lekas menutup wajah Yen Ndui dengan kerudung merah lalu membimbingnya memasuki tandu. Sebelum tandu berangkat, Nenek Buyut menyeruakkan kepalanya masuk ke dalam tandu dan menyingkap sedikit kerudung putrinya sambil berkata.
"Mulai sekarang, kau jangan bertingkah seperti anak kecil lagi. Sesampainya di rumah suamimu kau harus patuh. Ibu dengar kalau Tuan Sun masih memiliki seorang Ibu. Belajarlah melayani Ibu Mertuamu dengan baik, mengerti?"
Yen Ndui mengangguk pelan dalam kebisuannya. Sebelum Nenek Buyut menutup kerudungnya, Yen Ndui sempat melihat Ibunya itu menggigit bibir menahan airmata yang hendak jatuh di pelupuk matanya. Ah, rupanya Ibunya pun merasa berat dengan perpisahan ini.
Selama perjalanan menuju tempat Tuan Sun, Yen Ndui tak henti-hentinya menangis dalam tandu. ***
Bagaimana dengan nasib Kakek Buyut setelah merantau di Nan Yang?
Awalnya, tidak semulus seperti yang diduga sebelumnya. Rupanya Nan Yang merupakan sebuah kepulauan yang amat luas dengan banyak kota-kota besar di masing-masing pulau. Kakek Buyut sempat berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya sampai akhirnya merasa kalau kota Makassar yang terletak di sebelah selatan pulau bernama Celebes, merupakan tempat yang paling cocok buat menetap.
Sesampainya di Makassar pun, Kakek Buyut tidak langsung menetap secara permanen. Beliau lebih sering ke daerah-daerah pedalaman Celebes buat mencari hasil-hasil bumi seperti kayu, coklat dan cengkeh. Karena merasa selalu berpindah-pindah tempat tinggal, Kakek Buyut merasa belum saatnya untuk menulis surat memberitahu keberadaannya di Nan Yang kepada keluarga di kampung.
Selain itu, pada tahun-tahun awal kedatangannya di Nan Yang, Kakek Buyut tertimpa musibah. Perbedaan iklim di Nan Yang yang cenderung lebih panas dan lembab ketimbang di Guandong menyebabkan Kakek Buyut jatuh sakit. Bukan hanya itu, setahun kemudian Kakek Buyut mendirikan usaha kongsi dengan salah seorang kenalannya. Namun kenalannya itu bukannya bekerjasama, melainkan menipunya dan membawa kabur seluruh uang milik Kakek Buyut. Akibatnya, Kakek Buyut harus mulai dari bawah lagi. Kejadian ini memberi pelajaran bagi Kakek Buyut. Beliau bertekad bahwa kelak suatu hari nanti jika memiliki putra, anak itu harus disekolahkannya agar mengenal huruf—supaya tidak mengalami penipuan seperti yang dirasakannya.
Sedikit demi sedikit dikumpul akan menjadi banyak, usaha yang tidak putus-putus akan mendatangkan hasil. Setelah bertahun-tahun hidup di Makassar, Kakek Buyut menjadi kerasan di kota itu. Beliau kini memiliki banyak kenalan dan mulai bisa berbicara dalam bahasa Melayu, Makassar dan Belanda. Usaha hasil buminya mulai menanjak dan Kakek Buyut sudah bisa membeli sebidang tanah di daerah pecinan untuk dibangun rumah sederhana.
Kini, Kakek Buyut mulai memikirkan istri dan putrinya. Delapan tahun sudah beliau meninggalkan mereka. Kini saatnya untuk pulang dan menjemput mereka buat tinggal bersama di Nan Yang. Bagaimana kira-kira rupa istrinya sekarang? Apakah masih sejudes dulu? (Nenek Buyut dulu terkenal karena kegalakannya). Bagaimana pula kabar putri mereka Yen Ndui? Sewaktu Kakek Buyut keluar dari China, anak itu baru berusia lima tahun. Kini anak itu pasti telah menjelma menjadi remaja putri berusia empatbelas tahun yang cantik.
Ah, ingin sekali Kakek Buyut lekas-lekas kembali ke China menemui istri dan anaknya itu. Beliau dengan bangga akan berkata kepada mereka agar segera ikut bersamanya ke Nan Yang. Sebelum berangkat naik kapal, Kakek Buyut akan membawa Yen Ndui singgah terlebih dahulu di Hongkong. Di Hongkong nantinya, Yen Ndui akan dibelikan baju-baju baru yang indah-indah beserta sepatu-sepatu cantik, sebagai wujud permintaan maaf Kakek Buyut karena telah meninggalkannya terlalu lama.
Tapi sepertinya Kakek Buyut tak perlu repot-repot harus menempuh perjalanan seperempat bumi buat kembali ke Guandong. Seminggu sebelum keberangkatannya, pintu rumahnya digedor-gedor oleh seseorang. Dan ketika membuka pintu, Kakek Buyut nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nenek Buyut berdiri tepat di depan pintu, di hadapannya!
"Hah? Apakah benar-benar kau...." Kakek Buyut sampai mengucek-ngucek matanya mengira dia sedang bermimpi. "Tidak mungkin...."
"Ya, ini aku istrimu, Suamiku!" seru Nenek Buyut histeris. "Aku datang kemari untuk menyusulmu. Tahukah kau betapa susahnya mencarimu?! Aku sempat tersesat di dua kota sebelumnya...."
Nenek Buyut berkata sambil terisak-isak. 
"Astaga! Lao Tian – Ya, Tuhan! Padahal aku telah bermaksud minggu depan akan pulang ke Guandong buat menjemput kalian. Kenapa justru sekarang kau yang lebih dulu kemari?"
Nenek Buyut menjawab dengan baur amarah, rindu, sedih sekaligus bahagia.
"Aku sangat cemas memikirkanmu karena bertahun-tahun kau pergi tanpa kabar berita. Aku cemas... jangan-jangan terjadi sesuatu denganmu, atau kau menikah lagi dan melupakan kami di China...."
Mendengar alasan terakhir istrinya itu, Kakek Buyut protes. "Istriku, aku bukan tipe pria yang 'mengganti teman ketika diriku semakin berkuasa dan mengganti istri setelah semakin kaya'. Aku tidak seperti itu!"
"Ya, tetapi siapa yang bisa menduga kejadian apa yang akan menimpamu, sementara tak ada selembar surat pun yang kau kirimkan kepada kami di kampung...."
Kakek Buyut mendesah. Ternyata beliau juga melakukan kekeliruan. Seharusnya beliau bisa meminta seorang kenalan untuk menulis surat buat keluarganya di Guandong. Surat itu nantinya pasti bisa dibacakan kepada keluarganya oleh salah satu tetangga mereka yang melek huruf. Kenapa juga hal itu tidak terpikirkan sebelumnya?
"Sudahlah, kita tak perlu saling menyalahkan. Aku senang dengan kedatanganmu kemari, Istriku. Sekarang, aku tinggal membatalkan keberangkatanku saja. Oh ya, di mana Yen Ndui? Mengapa aku tidak melihatnya sejak tadi?"
Wajah Nenek Buyut langsung pucat begitu suaminya menyebut nama putri mereka. Mendadak, Nenek Buyut merasa tidak siap untuk menjelaskan perihal Yen Ndui.
Kakek Buyut menangkap perubahan pada wajah istrinya.
"Kau tidak membawanya? Atau kau meninggalkannya di penginapan, barangkali?"
Nenek Buyut tetap bungkam.
"Ada apa sebenarnya? Mengapa kau diam saja, Istriku?"
Akhirnya, Nenek Buyut mengumpulkan keberanian untuk menjawab. "Yen Ndui... dia sudah kunikahkan...."
"Apa? Menikah?" Kakek Buyut terperanjat bukan main. "Ka-kapan? Dengan siapa?!"
"Kira-kira setengah tahun yang lalu. Dia kunikahkan dengan Tuan Sun dari Xinhui."
"Hah?! Tuan Sun, si Juragan Jeruk itu?!" Kakek Buyut semakin terperanjat. "Yang benar saja?! Masa...."
Kakek Buyut tak dapat meneruskan kata-katanya. Nenek Buyut mulai cemas melihat perubahan sikap suaminya. Selama ini, diketahuinya suaminya itu seorang penyabar. Akan tetapi begitu emosinya meledak, Kakek Buyut akan berubah menjadi sosok yang amat menakutkan.
"Putri kita itu baru berusia tigabelas tahun, dan kau sudah menikahkannya! Tuan Sun bahkan lebih tua beberapa tahun dari aku, dia lebih cocok jadi ayah Yen Ndui ketimbang suaminya! Istriku, di mana kau letakkan akal sehatmu itu?!"
Nenek Buyut tak berani memandang wajah suaminya yang sedang murka itu.
Dengan terbata-bata, Nenek Buyut berkata, "Ak-aku... terpaksa menikahkannya karena... aku butuh uang buat ongkos mencarimu kemari...."
Mata Kakek Buyut membelalak. "Jadi kau memanfaatkan putri kita dengan cara menikahkannya, dan memakai maskawinnya buat menyusulku kemari?!"
Nenek Buyut mengangguk perlahan.
"Ya ampun... Lao Tian.... " Kakek Buyut menepuk jidatnya keras. "Aku sama sekali tidak menyangka... putriku...." teriak Kakek Buyut murka.
Nenek Buyut lunglai, dan menangis ketakutan. 
Kakek Buyut shock, menghentak-hentakkan kakinya kalap. Dia mengacung-acungkan tangannya ke atas, memanggil-manggil nama putrinya sembari mengucurkan airmata. 
"Yen Ndui...! Oh, Yen Ndui...!" ©
(Bersambung ke Kisah di Balik Sebuah Reuni Bagian II)

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger