Jumat, 29 April 2011

Dua Perempuan By. Gita Nuari


Dua perempuan ibu dan anak, yang sama-sama sudah menjanda, pagi itu sedang memandangi indahnya alam semesta dari jendela ruang tamu rumahnya. Sambil menikmati udara pagi yang berembus lewat jendela itu, mereka juga sedang menunggu pujaan hatinya masing-masing.
"Siapa di antara pujaan hati kita yang akan datang lebih dulu?" tanya sang Ibu kepada anaknya yang semata wayang itu.
"Aku tidak tahu, Bu," sahut Ratih, sang anak. "Mungkin Oom Prapto, pacar Ibu dulu."
Sang Ibu mengelak, "Firasat ibu, yang muncul duluan pasti kekasihmu, Tandur. Karena dia selalu lebih cepat datangnya ketimbang Oom Prapto."
"Kalau begitu, kita tunggu saja sama-sama. Mudah-mudahan mereka datangnya bebarengan, biar di antara kita tidak ada yang kesepian," harap Ratih sedikit bijak. Sang Ibu tersenyum.
Di sepanjang waktu menunggu pujaan hatinya datang, langit menampakkan kecerahannya. Awan gemawan menjelma kapas putih menggumpal di langit luas. Untuk mengisi suasana yang kadang agak kaku itu, mereka saling membenahi gaunnya masing-masing. Sang Ibu membetulkan kerah baju yang dipakai anaknya, kadang sang anak membetulkan letak selendang yang sering turun dari pundak ibumya.
"Apa Ibu tahu musik kesukaan Oom Prapto?" tanya Ratih di tengah kebimbangan yang mulai merayap di hati mereka masing-masing.
"Ibu belum tahu persis musik kesukaan Oom Prapto. Tapi Ibu pernah dibawakan kaset musik biola Idris Sardi olehnya," jawab sang Ibu.
"Kalau mendengar musik berduaan dengan kekasih pasti romantis, ya Bu?"
"Soal romantis itu tergantung suasana, Rat," tukas ibunya sambil tersenyum. Ratih melempar tatapan matanya ke langit yang luas membentang. Sang Ibu mengikutinya ke arah mata anaknya menatap. Lalu berkata, "Kamu sendiri apa sudah tahu kegemaran Tandur, Rat?"
"Mas Tandur paling suka bersiul bila tak ada percakapan di antara kami," sahut Ratih. Sang Ibu tertawa. Selendang yang dipakai ibunya kembali turun dari pundaknya. Tapi kali ini sang Ibu sendiri yang membetulkannya.
"Itu salah satu kebiasaan kaum pria untuk menutupi perasaan hatinya," kata sang Ibu menanggapi.
"Maksud Ibu?" tanya Ratih ingin tahu.
"Pada saat dia bersiul, kita tidak tahu apa yang sedang dirasakannya. Karena bersiul adalah solusi lain untuk menghidupkan jalan pikiran."
Ratih termenung. Kalimat yang meluncur dari mulut ibunya teramat misteri. Sama seperti cuaca di minggu pagi yang cerah namun begitu misteri untuk ditafsirkan kelanjutannya. Ya, di minggu pagi yang cerah, kedua pujaan hati mereka berjanji akan datang bertandang untuk membicarakan kelangsungan hubungan mereka yang selama ini agak tersendat. Tapi sampai petang habis, sampai cerah jadi layu, kedua pujaan hatinya tak kunjung datang untuk menepati janjinya. Hati ibu menguap disebabkan bara kecewa, hati Ratih belah didera janji ingkar kekasihnya.
"Jika janji tak ditepati, apakah Ibu benci kepada yang memberi janji?" tanya Ratih ketika mereka menuju peraduan.
"Kenapa harus membenci. Semua bisa terjadi tanpa kita duga. Duabelas tahun Ibu menjanda, paham betul pada sifat laki-laki."
"Lalu Oom Prapto, bagaimana pendapat Ibu?" selidik Ratih.
"Ibu anggap, dia sudah jadi kepompong sewaktu dia lupa pada arah jalan menuju rumah kita!"
Tak sadar Ratih tertawa keras. Sang Ibu yang bicara spontan pun ikut hanyut dalam tawa anaknya.
"Kalau Tandur bagaimana, apakah kamu masih percaya padanya?" sodok sang Ibu ingin tahu juga pandangan anaknya terhadap kekasihnya.
"Kalau sekarang, aku lebih percaya tukang sulap daripada dia, Bu!"
Kali ini ibunyalah yang tertawa lepas. Dan mereka masih tersenyum sewaktu sama-sama menarik selimut tidurnya untuk pergi ke lautan mimpi.***
 Dua lelaki, Prapto dan Tandur, benar-benar lenyap. Mereka tak pernah datang lagi ke rumah dua janda ini. Dan anehnya, kedua janda ini memilih untuk tidak memikirkan mereka lagi. Juga tak ada niat untuk mengontak atau berkirim sms. Api yang mereka nyalakan telah mereka padamkan sendiri.
Di hari libur berikutnya, kedua janda ini, mengisi waktu luangnya dengan berlibur ke tepi pantai. Ditatapinya garis langit di ujung mata memandang. Debur ombak tak habis-habisnya menerpa batu karang yang ada di depannya. Anak-anak kecil dengan bertelanjang kaki menggali pasir dengan tangannya. Mereka membentuk gunung-gunungan dari pasir pantai Namun hanya sekejap gunung ciptaan mereka itu untuk kemudiah hancur oleh ombak laut yang datang datang menerpa silih berganti. Anak-anak yang masih polos itu itu tertawa lepas melihat gunung ciptaannya lumer digerus air laut.
"Rumah kita tak akan sepi jika ada anak kecil," ungkap Ratih yang tampak terenyuh melihat anak-anak yang berlarian didepannya begitu ceria. Menghibur dan tampak amat berarti kehadirannya.
"Anak memang segalanya bagi kita. Tapi sayang, dalam berumahtangga, Ibu hanya punya satu anak yaitu kamu seorang," timpal sang Ibu yang turut merasakan rasa hampa yang menerpa hati anaknya.
"Kalau aku tidak mandul, mungkin aku sekarang sudah punya anak, dan Mas Herman tidak mungkin kawin lagi dengan wanita lain. Dan aku tak mungkin kenal dengan lelaki yang bernama Tandur."
"Masalah anak adalah masalah Ibu juga, Ratih," sela ibunya.
"Apakah Ibu masih ingin melahirkan anak?" tanya Ratih spontan.
Sang Ibu terhenyak, "Oh, tidak Ratih. Anak tidak harus Ibu yang melahirkan. Ibu sudah tua. Kamulah yang seharusnya punya keturunan. Anak kamu adalah cucu Ibu. Itu sudah cukup."
"Tampaknya apa yang Ibu bilang itu tidak mungkin. Sebab dokter sudah mengatakan aku mandul."
Sang Ibu menuntun tangan Ratih untuk berjalan menyusur tepi pantai. Sedang anak-anak yang jadi inti pembicaraan mereka tetap asyik berlarian di tepi pantai bermain-main dengan ombak.
"Kita mengadopsi anak saja," cetus Ratih tiba-tiba.
Sang Ibu terkejut. "Ada-ada saja kamu, Rat," tukas sang Ibu.
"Kenapa? Apa Ibu tidak setuju?"
Sang Ibu menggeleng. "Hati kita tidak akan semurni ketika kita mengasihi anak kita sendiri."
"Kalau kita mencintainya, kita akan tulus memberi kasih sayang pada anak yang kita asuh."
Sang Ibu menatap jauh ke ujung lautan. "Kita akan kebingungan bila anak itu di suatu saat menanyakan asal-usulnya jika dia besar nanti."
"Tapi Ratih menginginkannya, Bu. Soal asal-usulnya, bisa kita bicarakan nanti."
Sang Ibu menoleh. "Serius kamu, Rat?"
Ratih mengangguk. Perlahan memeluk ibunya. Sang Ibu tiba-tiba tertawa
"Lho, kok Ibu tertawa?! Apa keinginanku ini lucu?" Ratih tersinggung.
"Ibu tertawa karena ingat keadaan kita apakah kita masih bisa mengurus bayi, membedong, memakaikan popok? Apakah kita tidak kaku nantinya? Dan bukankah kamu tahu, Ibu sudah duapuluh delapan tahun sampai kamu sebesar ini, Ibu belum pernah lagi mengurus bayi."
"Tapi kita kan wanita, Bu. Sudah kodratnya bahwa wanita lebih bisa mengurus bayi ketimbang kaum pria," tukas Ratih antusias.
"Jadi kamu tidak berniat mencari calon suami lagi?" tanya sang Ibu.
"Soal jodoh, kita serahkan saja pada Tuhan. Yang terpenting sekarang, hidup kita jangan sampai tersia-siakan. Kita harus mengabdikan diri kita pada sesuatu yang lebih berguna."
"Ternyata kamu lebih pintar daripada Ibu, Rat," tukas sang Ibu sambil membalas pelukan putrinya.
Dari ujung lautan tampak terlihat gelombang berkejaran menuju pantai. Angin bertiup menerpa wajah mereka.
"Akan kamu beri nama siapa untuk anak yang akan kita adopsi nanti?" tanya sang Ibu mulai merespon keinginan anaknya.
"Kalau laki-laki, akan kita gabungkan dengan nama-nama mantan suami kita," usul sang Anak enteng.
"Jadi kalau perempuan, apa nama kita yang kamu gabungkan?"
"Betul, Bu. Dengan maksud agar kita tidak merasa kehilangan dengan nama-nama yang pernah hidup bersama kita."
"Kalau begitu kita kita adopsi saja dua anak sekaligus, lelaki dan perempuan," usul sang Ibu sambil mencubit pipi anaknya.
"Usul yang baik, biar kita jadi sama-sama repot!" tukas Ratih sambil tertawa.
Lalu mereka turun ke laut, membiarkan ombak menerpa kaki mereka sampai ke atas lutut. Tawa mereka terbawa angin menyatu dengan debur-debur gelombang di pantai. © 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger