Sabtu, 30 April 2011

Cuan Ndui By. Merlin Herlina

Setiap rumah memiliki kitab yang sukar dibaca —
Masing-masing keluarga mempunyai masalah yang sulit diungkapkan 
(Pepatah China)
Keluarga Tionghoa sebagian besar adalah patrilineal – atau mengikuti garis keturunan dari pihak Ayah. Dalam struktur keluarga semacam ini, peranan anak lelaki amatlah penting. Mereka tidak hanya sekedar sebagai penerus marga atau klan – tetapi juga selaku penerus adat-istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur mereka.
Bagi orang Tionghoa, keberadaan anak lelaki dalam sebuah keluarga juga bisa meningkatkan prestise. Tidak heran jika pada jaman kerajaan-kerajaan di Tiongkok dulu, sering terdengar kisah-kisah tragedi tentang seorang wanita yang ingin mengukuhkan posisinya di mata keluarga dengan cara mengganti anak perempuan mereka dengan anak laki-laki lain. Peristiwa semacam ini terkenal dengan istilah 'Menukar Burung Hong dengan Naga'.
Pada akhirnya, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam struktur sosial masyarakat Tionghoa pada masa-masa itu sering terjadi ketimpangan gender.
Dan, jika kita masih menilik berdasarkan sudut pandang dari jaman itu, maka Almarhumah Nenekku dari pihak Ayah, bisa dikatakan sebagai wanita yang beruntung.
Bagaimana tidak? Dari hasil pernikahannya dengan Kakek, Nenek dikaruniai empat orang anak yang semuanya adalah lelaki. Paman Tertuaku lahir pada tahun 1941, Paman Kaseng-ku lahir pada tahun 1943, disusul Paman Keduaku pada tahun 1945, dan yang terakhir adalah Ayahku, kelahiran 1947.
Banyak yang mengira kalau Nenekku, tentunya amat berbahagia memiliki empat orang putra sekaligus. Dengan memiliki banyak putra, posisi Nenek tentu saja sangat aman dalam keluarga. Dia pasti merupakan menantu kesayangan dan suaminya tentunya tidak berkeinginan mencari istri muda lagi seperti kebanyakan pria Tionghoa lainnya yang memberi alasan ber-poligami karena istri pertama mereka tidak bisa melahirkan seorang putra.
Namun sesungguhnya, yang tidak diketahui oleh orang-orang kebanyakan, Nenekku justru merindukan kehadiran seorang putri. Anggaplah Nenekku adalah seorang feminis. Bisa jadi juga, mungkin di masa mudanya dulu, Nenek terlalu banyak membaca kisah-kisah tentang para wanita hebat — seperti Fa Mulan, si Gadis berbakti yang menggantikan posisi Ayahnya maju ke medan perang atau Shangguan Wan'er, wanita cerdas dari masa Dinasti Tang yang merupakan diplomat wanita pertama di Tiongkok. Pada intinya, Nenekku tidak terlalu mendewa-dewakan anak lelaki seperti kebanyakan orang Tionghoa lainnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Nenekku sering berkata, "Anak perempuan bisa tumbuh sebaik anak lelaki asal mereka dididik dengan benar dan diberi kesempatan yang sama dengan anak dalam mencapai cita-citanya."
Secara tidak langsung pada jamannya, Nenek telah mendukung pandangan RA.Kartini tentang kemajuan kaum perempuan serta kesamaan hak antara lelaki dan perempuan.
Kembali ke keinginan Nenek yang begitu mendambakan anak perempuan, juga tidak banyak yang tahu, kalau sebenarnya Nenek dulu punya seorang anak perempuan. Ya, Nenek pernah melahirkan seorang anak perempuan. Anak itu amat dikasihinya namun sayang tak dapat dibesarkan olehnya.
Mengapa?
Anda akan segera tahu apabila Anda membaca kisah ini hingga tuntas.***
 Setahun usai kelahiran putra sulungnya, pada tahun 1942, Nenek melahirkan seorang putri.
Bayi perempuan itu amat disayang Nenek.Untuknya, Nenek menjahitkan banyak baju bayi yang bagus-bagus serta menghiasinya dengan sulaman-sulaman yang indah-indah. Nenek berharap, agar bayi perempuannya yang mungil dan montok itu bisa tumbuh sehat dan menjadi gadis yang cantik.
Nenek sudah membayangkan, putrinya itu akan tumbuh dalam didikan dan belaian kasih sayangnya. Akan disekolahkannya anak perempuan itu sampai setinggi-tingginya. Akan diwariskannya pula kepada anak perempuan itu segala ilmu yang diketahuinya: melukis, membuat cerita, menulis puisi hingga kaligrafi.Siapa tahu suatu hari nanti anak perempuan itu seberani Fa Mulan, atau secerdas Shangguan Wan'er.
Nenek juga membayangkan kalau putrinya itu kelak menjadi gadis cantik istimewa dengan bakat-bakatnya. Dan jika tiba waktunya untuk menikah nanti, dia akan menemukan calon suami yang sepadan dari keluarga baik-baik. Satu harapan Nenek, semoga kelak anak perempuannya itu tidak memperoleh Ibu Mertua sekolot Nenek Buyut (Ibu dari Kakek – Mertua perempuan Nenek).
Namun kebahagiaan Nenek mulai terusik tatkala putrinya berusia enam bulan. Ketika itu hampir sepanjang malam selama tiga hari berturut-turut, bayi itu menangis terus. Badannya panas dan bola matanya sering melotot ke atas. Napasnya pendek-pendek, seperti orang sakit asma.
Nenek cemas. Pada hari keempat, bersama Kakek, Nenek membawa putrinya itu ke rumah sakit. Dokter Jepang yang memeriksa memberitahu hasilnya kepada Kakek dan Nenek. Putri mereka mengalami gangguan pernapasan parah – kemungkinan besar adalah penyakit asma. Nenek langsung lemas ketika mendengarnya. Nenek tidak habis pikir, bagaimana mungkin anak perempuan kesayangannya itu mengalami sakit semacam itu di usianya yang sekecil itu?
Pulangnya, Nenek merawat putrinya dengan amat telaten. Di samping itu, Nenek juga rajin berdoa agar putrinya lekas sembuh dan diagnosa Dokter Jepang itu salah. Waktu itu, pengobatan terhadap penyakit asma masih sangat minim dan penyakit tersebut bisa menghantui penderitanya seumur hidup.
Namun dari hari ke hari, kondisi bayi perempuan itu tetap tidak menentu. Sampai akhirnya pada suatu sore seminggu usai diperiksa, bayi perempuan itu berhenti bernapas dan tubuhnya tidak bergerak lagi. Dia telah meninggal.
Nenek amat sedih dan menangisi putrinya. Bagaimana mungkin Nenek bisa dengan begitu mudah melepas kepergian putrinya sementara setumpuk harapan dan impian telah beliau titipkan pada si Mungil, putrinya?
"Mengapa Tuhan tidak adil, memberi penyakit seperti itu kepada putriku?" Nenek tak henti-hentinya meyesal dalam hati. Naluri seorang ibu telah membuat Nenek berpikir bahwa akan lebih baik jika dia saja yang menanggung sakit semacam itu – dan bukan putrinya.
Melihat Nenek sesentimentil itu, Nenek Buyut mencibir. "Huh! Untuk apa menjadi cengeng seperti itu? Anak semacam itu tak perlu ditangisi! Lihat diriku! Aku pernah melahirkan tujuh kali – tapi di antara ketujuh anakku itu, yang hidup cuma tiga orang. Aku tidak pernah menangisi mereka! Yang sudah meninggal biarkan saja! Lagipula, kalau tetap hidup pun, anak perempuan itu hanya akan menyusahkan saja karena penyakit yang dideritanya itu!"
Sambil terisak-isak, Nenek memandang sekilas ke arah Ibu Mertuanya itu dengan perasaan sakit hati. Belum puas berkata-kata, Nenek Buyut menyambung lagi. "Di dalam adat kita, seoarang anak jika meninggal tidak layak untuk ditangisi! Buat apa menangisi anak yang tidak berbakti seperti itu? Meninggal ketika usia masih kecil dan belum bisa membalas budi orang tua yang merawatnya...."
Akhirnya karena melihat Nenek terlalu sedih untuk menyentuh jasad putrinya, Nenek Buyut pun mengambil alih. Digantinya pakaian bayi itu dengan pakaian baru berwarna putih. Lalu, dia membungkus bayi itu dengan kain perca dan ditaruhnya di atas tampah beras. Tahukah Anda di mana jenazah bayi itu disemayamkan? Menurut Nenek Buyut, tak ada tempat lebih baik buat meletakkan jenazah 'anak tak berbakti' seperti itu selain di kamar mandi!
Kamar mandi?
Ya, di dalam kamar mandi. Jenazah bayi yang telah dikafani dan diletakkan di atas tampah beras itu ditaruh di atas bak mandi, tepat di samping water closet.
Malamnya, ipar-ipar perempuan Nenek berdatangan. Mereka tidak setuju dengan sikap Nenek Buyut yang tidak berempati terhadap kesedihan Nenek. Namun, tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan selain menghibur dan membesarkan hati Nenek.
Ketika malam semakin larut, salah seorang ipar perempuan Nenek pamit sejenak ke kamar mandi. Usai buang hajat, tiba-tiba dia mendengar suara gemerisik. Dilihatnya bungkusan jenazah bayi itu bergerak-gerak. Dengan cepat dibukanya bungkusan itu, dan sejurus kemudian, ipar perempuan Nenek berteriak.
"Shao-Shao – Kakak Ipar! Cepat kemari! Anak perempuanmu belum meninggal! Dia... dia hidup kembali!"***
Nenek amat gembira begitu mengetahui putrinya ternyata hidup kembali. Rasa syukur tak henti-hentinya dipanjatkan olehnya dan kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.
Setelah peristiwa itu, Nenek dan Kakek sepakat untuk mengubah nama anak perempuan mereka. Kami tak pernah tahu persis apa nama yang diberikan sebelumnya kepada anak perempuan itu. Tapi yang jelas, nama baru itulah yang kami kenal di kemudian hari.
Cuan Ndui – itulah namanya. Dalam dialek Kuantong Khaiphing, 'Cuan' berarti kembali dan 'Ndui' berarti anak perempuan. Secara halus, nama Cuan Ndui berarti 'Anak perempuan yang diizinkan hidup sekali lagi'.***
Cuan Ndui tetap hidup bersama keluarganya hingga satu setengah tahun berikutnya. Penyakitnya tetap membuntuti dan sering kambuh sewaktu-waktu. Nenek pun sering diperingati oleh Ibu Mertuanya kalau sebenarnya Cuan Ndui hanya tinggal menunggu waktu saja. Akan tetapi Nenek tidak pernah menyerah. Selama Cuan Ndui masih hidup dan bernapas, Nenek tetap akan mengupayakan usaha apapun agar dia bisa sembuh – meski berbagai dokter telah menganalisis mendukung pernyataan Nenek Buyut. Hal itu mustahil karena ternyata penyakit Cuan Ndui yang sebenarnya adalah kelainan paru-paru akut dan kemungkinan untuk sembuh amatlah kecil.
Tidak lama usai melewati ulangtahunnya yang kedua, Cuan Ndui kembali menghembuskan napas terakhirnya. Sekali lagi Nenek Buyut membungkus jenazahnya dengan kain perca, menaruhnya di atas tampah beras dan menyemayamkannya di dalam kamar mandi. Kali ini, Nenek sudah lebih tabah dan tidak terlalu bersedih lagi. Beliau menganggap mungkin ini sudah merupakan kehendak Yang Di Atas.
Namun, pada malam sebelum Cuan Ndui dimakamkan, hampir setiap satu jam sekali Nenek masuk ke dalam kamar mandi buat memegang jasad Cuan Ndui. Siapa tahu dia hidup kembali seperti satu setengah tahun yang lalu. Akan tetapi kali ini keajaiban tidak terjadi. Cuan Ndui benar-benar telah pergi, untuk selama-lamanya....***
Pada hampir semua kebudayaan Oriental, kematian seorang anak di bawah usia lima tahun bukanlah suatu hal yang patut ditangisi secara berlebihan. Anak yang meninggal di usia sedini itu ibarat sebuah usaha yang sudah susah payah dimodali tapi tetap harus jatuh bangkrut juga. Menangisinya, hanyalah merupakan sebuah pekerjaan yang sia-sia.
Contohlah di Korea, negara penganut paham Konfusianisme terbesar kedua di dunia setelah China. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menonton sebuah film Korea dengan setting sebelum Perang Dunia II. Pada salah satu adegan dikisahkan sang tokoh utama, seorang wanita keturunan bangsawan tengah berjuang melahirkan anak pertama yang telah dinantikannya selama bertahun-tahun. Namun setelah lahir, bayi itu justru meninggal akibat terlilit tali pusar. Tak seorang pun dalam keluarga besar tersebut yang menangisi anak itu selain Ibu yang melahirkannya beserta seorang pelayan tua. Jenazah bayi itu lalu dibungkus kain dan dimasukkan ke dalam sebuah guci. Selanjutnya, guci tersebut dibawa ke padang belantara luar kota untuk dimakamkan, tanpa papan nisan atau penanda segala.
Nasib yang kurang lebih hampir sama juga menimpa jenazah Cuan Ndui. Jika Anda membayangkan sebuah pemakaman khas tradisional Tionghoa yang megah, hal ini tidak berlaku buat Cuan Ndui. Keluarganya tidak membelikannya peti mati dari kayu berbahan terbaik buat menyimpan jasadnya. Tampah beras – itulah peti matinya. Anda mengira,seluruh kaluarganya akan mengenakan baju berkabung putih dari kain belacu kasar? Tidak, tidak ada yang seperti itu. Malah semestinya orangtuanya tidak boleh menangisi kematian Cuan Ndui sebab dia bukanlah 'anak yang berbakti'. Anda berpikir yang menjemput jenazah Cuan Ndui dan membawanya ke pemakaman adalah sebuah arak-arakan kereta jenazah mewah yang dihias bunga-bunga berkabung? Tidak, tidak ada yang seperti itu. Yang menjemput jenazah Cuan Ndui hanyalah seorang tukang gali kubur yang dipanggil Nenek Buyut pada malam sebelumnya. Tukang gali kubur itu datang dengan mengendarai sepeda. Ketika Nenek Buyut menyerahkan jenazah Cuan Ndui, tukang gali kubur itu menerimanya kemudian mengikatnya di bagian belakang sepedanya seperti mengikat buntelan barang. Selanjutnya, tukang kubur itu membawa jenazah Cuan Ndui pergi untuk dikuburkan, tanpa disaksikan oleh satu pun pihak keluarga.
Siang hari, Nenek Buyut mengambil sebuah kaleng susu bekas. Dibungkusnya kaleng susu itu dengan kertas layang-layang warna merah. Kemudian, diisinya dengan pasir hingga hampir penuh. Jadilah kaleng bekas itu hiolo dan diletakkan di samping altar Dewa Bumi di atas lantai. Petang harinya, Nenek sudah bisa memasang dupa di hiolo tersebut untuk mendoakan arwah Cuan Ndui.
Dalam kepercayaan suku Kuantong Khaiphing kami, anak-anak yang meninggal seperti itu akan dijemput oleh leluhur-leluhur kami di alam baka dan selanjutnya dia akan tinggal bersama mereka.***
Usai kematian Cuan Ndui, keinginan Nenek untuk mendapat anak perempuan lagi, semakin besar. Namun, Nenek harus menelan kekecewaan karena ketiga adik Cuan Ndui yang dilahirkannya kemudian, semuanya adalah lelaki. Akhirnya, Nenek pun memendam kerinduan yang besar akan kehadiran seorang anak perempuan dalam hidupnya. Dia mendambakan seorang anak perempuan yang bisa diajaknya bercengkrama, berbagi cerita-cerita khas wanita serta melakukan sesuatu bersama-sama selayaknya yang dilakukan Ibu-Ibu lain bersama putri-putri mereka.
Pada awal tahun 1960-an, Paman Tertua–putra sulung Nenek–menikah dengan seorang gadis Tionghoa kelahiran Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Keinginan Nenek yang menginginkan seorang anak perempuan pun menjelma menjadi harapan menimang cucu perempuan. Sayang, anak sulung Paman Tertua yang lahir pada tahun 1963 adalah seorang putra. Baru pada tahun 1966, Paman Tertua dikaruniai seorang putri sebagai anak kedua. Bayi perempuan itu mungil dan montok seperti Cuan Ndui. Nenek amat senang bukan kepalang. Beliau mendapat kehormatan buat menamai bayi perempuan itu. Nenek tidak sembarangan memilih nama. Nama yang diberikan Nenek kepada putri Paman Tertua itu adalah Meng Zhen. Dalam dialek Kuantong Khaiphing-nya disebut Mbong Cin. 'Mbong' berarti impian dan 'Cin' berarti nyata. Secara tidak langsung arti nama cucu perempuan pertama Nenek itu adalah 'Impian yang telah menjadi kenyataan'. © 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger