Jumat, 29 April 2011

Bintang Tak Akan Jatuh By. T. Sandi Situmorang

Tiara, semua yang ada padamu hanyalah keindahan dan kesempurnaan. Andai saja kamu buatan pabrik, tentulah kamu rakitan seorang maestro dengan komponen pilihan utama. Tidak saja kamu cantik. Tapi juga pintar. Rendah hati, ramah dan baik. Mungkin penilaianku sangat subjektif. Tapi memang begitulah kamu. 
Tiara. Aku mencintaimu. Bahkan amat sangat mencintaimu. Cintaku padamu melebihi apapun di muka bumi ini. Termasuk diriku sendiri. 
Mungkin terdengar gombal. Tapi begitulah adanya. Dan aku yakin aku bukanlah satu-satunya pria yang mencintaimu. Tapi aku juga yakin tak ada pria yang mencintaimu melebihi aku. Katakan Tiara, apapun kulakukan demi menyenangkan hatimu. Dan apapun akan kuberikan demi mendapat cintamu. 
Tiara.... 
"Aduh...." 
"Melamun lagi? Kamu tahu tidak, kucingku kebanyakan melamun, sorenya mati kelindas kereta api." 
Aku mengelus kepalaku yang ditimpuk Joko dengan tasnya. "Itu kucingmu. Kucingku lain lagi ceritanya." 
"Apa?" 
"Pagi melamun, sorenya diadopsi sama Nafa Urbach." 
Joko terbahak. "Ngarang!" 
Aku mesem. Bayangan Tiara hilang dari benak. Namun justru sosoknya yang kini hadir di depan. Tanpa menoleh kanan-kiri apalagi ke atas, Tiara melenggang indah menuju bangkunya yang berada paling depan sebelah kanan. 
Makin hari Tiara makin cantik saja. Dengan rambut model apapun, selalu sesuai dengan wajahnya. Andai dimodelin rambut Rohaye, barangkali Tiara tetap cantik. Atau bisa jadi kian kiyut. 
Tiara, I really love you. So much. 
"Hei...," Joko mencolek bahuku. 
"Apa?" 
"Lihat, Tiara makin cantik saja. Tapi sayang...." 
"Kenapa?" tanyaku penasaran. 
"Sayang dia nggak mau sama aku." 
"Habis wajah kamu jelek. Nggak komersil." 
Joko mencibir. "Kayak kamu itu kebagusan saja." 
"Wajahku memang nggak menarik. Tapi aku punya percaya diri yang tinggi." 
"Itu bukan percaya diri namanya. Tapi nggak tahu diri." 
"Lihat saja. Aku akan mendapatkan Tiara." 
"Mimpi!" ejek Joko, menahan senyum. 
Tiara cantik, itu semua orang tahu. Banyak lelaki yang jatuh cinta padanya, itu juga sudah menjadi rahasia umum. Tapi kalau aku terobsesi untuk mendapatkan Tiara, itu hanya aku yang tahu. 
Setahuku Tiara belum punya pacar. Tapi andai pun sudah punya pacar, langkahku tak akan surut. Selagi janur kuning belum menggantung di depan rumahnya, Tiara masih bebas memilih. Apalagi di zaman edan ini, yang punya anak saja masih ada yang mengejar.***
"Hai...." 
"Hai juga!" 
"Nggak turun ke kantin?" 
"Malas." 
Aku mengambil tempat di kursi sebelah Tiara. Kebetulan jam istirahat. Kebetulannya lagi Lia teman sebangku Tiara sudah turun ke kantin. 
"Kamu nggak ke kantin?" 
"Malas juga." 
Tiara tersenyum mendengar jawabanku yang tidak kreatif. 
"Asyik sekali. Baca apa?" 
Tiara menunjukkan buku di tangannya padaku. 
"Oh, suka baca novel?" 
"Iya. Khususnya Marga T sama Mira W. Ceritanya ringan dan mudah dicerna." 
"Supernova suka nggak?" tanyaku asal. 
"Pernah baca sih. Bukannya terhibur, yang ada kepalaku pusing. Ribet banget." 
"Sama, dong!" 
"Kamu suka baca novel juga?" 
"Terkadang. Kalau lagi suntuk atau nggak ada kegiatan." 
"Kamu suka siapa? Agatha, ya?" 
Aku bingung. Tapi akhirnya kuanggukkan saja kepalaku. Untungnya Tiara tak bertanya lebih lanjut. Karena aku tidak tahu siapa itu Agatha. Mungkin Agathawati, atau mungkin juga Agatha Dewi. 
Tiara terlihat antusias. "Di rumah banyak buku Agatha. Kebetulan abangku ngefans sama dia. Kalau kamu mau datang saja ke rumah." 
"Kapan aku boleh datang?" 
"Terserah kamu." 
"Malam Minggu, boleh?" tanyaku ragu-ragu. 
Tiara diam sejenak. Tapi akhirnya mengangguk. 
Aku tersenyum senang. Dadaku buncah. Ah, Tiara. Ternyata tak sesulit dugaanku untuk mendapatkanmu. ***
"Kamu terlihat dekat sama Tiara." 
"Siapa dulu, dong. Robert!" kataku sambil menepuk dada. 
Joko mencibir. "Kamu pelet dia?" bisiknya kemudian. 
Aku melotot sama sahabat kentalku itu. "Pikirmu aku cowok pengecut, yang hanya berani mengambil jalan pintas?!" 
Kembali Joko mencibir. "Kalau nggak mana mungkin Tiara mau dekat-dekat sama kamu. Kamu kan jelek banget." 
"Berapa kali aku harus bilang, kegantengan bukan segalanya. Masih ada sesuatu yang lebih penting di atas itu." 
"Apa?" 
"Cinta dan perhatian. Plus kasih sayang." 
Joko terbahak. Seolah mengejek ucapanku barusan. Terus terang aku sakit hati mendengar tawanya itu. 
"Kalau hanya itu, setiap orang juga punya untuk cewek secantik Tiara. Tapi harta dan tampang, tidak semua orang punya." 
"Terserah anggapan kamu. Yang pasti Tiara memilih aku sebagai cowok yang paling dekat dengannya untuk saat ini. Itu karena aku punya keistimewaan, dong!" 
"Dukun kamu barangkali, sakti luar biasa." 
Aku menatap Joko tak suka. "Terserah apa kata kamu."***
Pagi di sekolah. Di ruang kelas, hanya ada aku sama Tiara. Memang semenjak dekat dengan Tiara, aku selalu berusaha untuk datang sepagi mungkin. Biar bisa berduaan. Agar kami semakin akrab dan lebih mengenal pribadi masing-masing. 
"Beth, minggu depan aku ulangtahun." 
"Oya?" 
"Rencananya mau aku rayain." 
"Di hotel atau cafe?" 
"Di rumah saja. Aku bisa minta bantuan kamu?" tanyanya ragu-ragu. 
"Bisa, dong!" sahutku cepat dengan dada membusung. Cowok mana yang tidak berbangga hati bila diminta bantuannya oleh seorang cewek yang amat dicintainya. "Bantuan apa?" 
"Banyak. Misalnya membagikan undangan, menghias ruangan. Pokoknya kayak seksi repot begitu, deh!" 
"Kalau itu mah kecil. Kebetulan aku sering mendekor ruangan pesta di kompleks rumah aku." 
Tiara tersenyum. Manis banget. Aku menneguk ludah. Kalau saja aku punya keberanian, sudah kucium pipinya itu. 
"Bayangkan, Jok! Tiara memintaku untuk terlibat di pesta ulangtahunnya minggu depan," ucapku semangat begitu Joko duduk di sampingku. 
"Memangnya di pesta Tiara nanti ada badutnya?" 
"Apa hubungannya keterlibatanku di pesta ulang tahun Tiara sama badut?" 
"Bukannya Tiara meminta kamu jadi badut?" 
"Bukan, Setan!" 
"Lantas?" 
"Tiara memintaku membagikan undangan dan mendekor ruangan pestanya." 
"Dan kamu bangga dengan permintaannya itu?" 
"Tentu saja. Berarti Tiara membutuhkan aku." 
Joko terbahak. Aku menatapnya jengkel. Karena kupikir tak ada yang lucu dan pantas untuk ditertawakan. 
"Apanya yang lucu?" 
"Kamu itu, sudah dibodohin, bangga lagi. Dia itu cuma mau manfaatin tenaga kamu. Kirain dia meminta kamu jadi pendampingnya." 
Aku mencibir. Dasar Joko sirik dengan rezekiku. Soalnya aku tahu, kalau dia juga ada hati sama Tiara. Coba kalau dia yang dimintai tolong sama Tiara, pasti dia juga nggak nolak. 
"Cemburu?" 
"Cemburu sama kamu?" Mendelik mata Joko. "Yang benar saja. Tiara itu bukan level kita. Kamu saja yang nggak tahu diri dan mau dibodohi sama dia."***
Di pesta ulang tahun Tiara. Aku duduk kecapekan di teras belakang rumah. Nafasku ngos-ngosan. Aku memang capek luar biasa. Dari pagi sampai tadi kerja terus. Nggak ada istirahatnya. Semua memang aku kebut sendirian. Dari mengangkati sofa-sofa ke luar ruangan, mendekor ruangan, sampai mengambil pesanan kue ulangtahun. Aku babat sendirian. 
Meski letihnya setengah mati, aku cukup senang bisa membahagiakan Tiara. Setidaknya Tiara jadi tahu kalau aku ini bisa diandalkan. Aku tersenyum bangga. Segera aku bangkit. Kudengar suara-suara dari ruang depan. Tamu-tamu sudah datang rupanya. Aku harus segera mandi dan tampil maksimal. Biar sebanding kalau nantinya berdiri di samping Tiara saat pemotongan kue. 
Untung aku bawa baju dan peralatan mandi. Aku mandi di kamar mandi pembantu. Kedua pipiku kusabuni sampai benar-benar kinclong. Barangkali saja nanti dapat jatah ciuman dari Tiara.. 
Sehabis mandi, aku dandan sebentar. Memakai jas kawin Ayahku dulu yang kuambil diam-diam. Sekalian juga memakai dasi kupu-kupu yang kupinjam dari Mas Seno, tetanggaku. Kusisir rambutku yang keriting. Biar nggak terlihat seperti sarang tawon. Setelah semuanya cukup pantas, aku masuk ke ruangan tengah yang telah kusulap menjadi arena pesta. 
Aku berjalan dengan dada membusung dan wajah terangkat. Kulepas senyum ke segala arah dan sudut. Kurasakan seluruh mata tertuju padaku. Andai aku selebritis, pastinya kilatan blitz akan mengarah padaku saja. 
Kudekati Tiara yang tengah berbincang dengan Lia. Duh, aku terpesona melihatnya. Dia terlihat seperti bidadari dengan balutan gaun berwarna biru muda begitu. Bahunya yang terbuka terlihat sangat mulus dan kinclong. 
"Beth, bisa tolong aku?" 
"Apa yang nggak bisa aku bantu buat kamu. Robert gitu, loh!" 
Tiara tersenyum senang. "Tolong dong, aturin kendaraan di luar. Katanya semrawut. Jadi susah parkirnya. Sekalian kamu jaga juga. Biar nggak ada yang hilang." 
"Oke. Itu sih kecil." 
"Kamu baik, deh!" Tiara menowel pipi kananku. Aku terkaget karenanya. 
Aku keluar. Memang benar mobil parkir semrawut. Ada yang melintang kanan, ada yang melintang kiri. Waduh, baru belajar setir mobil barangkali semuanya. Parkir saja tidak becus. 
"Woi, dekorator merangkap jadi tukang parkir juga?" 
Aku menoleh. Joko tertawa terbahak melihatku. Aku mencibir jelek. 
"Ngapain kamu datang? Memangnya diundang?" 
Tanpa menjawab Joko mengacungkan undangan di tangannya. 
"Bawa kado nggak? Kalau nggak, nggak boleh masuk." 
"Tuh ada yang mau parkir." 
Aku menoleh. Mobil sedan mulus terlihat masuk. Aku berlari menyongsong. Joko tertawa-tawa masuk ke dalam. 
"Kiri! Kiri! Terus! Ya, hop!" 
Seorang pria keluar dari dalam mobil. 
"Lama benar datangnya, Mas! Parkiran sudah semrawut, nih." 
Matanya memicing menatapku. "Apa hubungannya parkiran sama aku?" 
"Bukannya Mas satpam di rumah ini?" 
"Enak saja. Aku ini pilot. Bukan satpam. Baca nih. Nggak pernah naik pesawat, ya?! Kasihan deh, lu!" 
Aku garuk kepala. Eh, benar juga. Sial deh. Kirain satpam. Seragamnya mirip sih. 
"Maaf deh, Mas." 
"Kerja yang benar. Jaga mobil aku. Awas kalau sampai lecet." 
"Iya...." 
Dia berlalu. Gagah nian gayanya. Kulihat ia membawa seikat bunga. 
Kudengar lagu selamat ulangtahun mengalun dari dalam. Aku harus ada di samping Tiara, nih. Segera aku masuk. Kulihat si Pilot tadi berdiri di samping Tiara. Ia membantu Tiara memotong tart tiga tingkat itu. Tiara memberikan potongan itu padanya. Baru sekali para undangan meneriakkan kata cium, si Pilot itu sudah mencaplok bibir Tiara. Anehnya Tiara cuma ketawa saja. 
Dadaku terbakar melihatnya. 
"Teman-teman, ini namanya Mas Teguh. Pacar Tiara. Tiara sangat bahagia, meski sangat sibuk, Mas Teguh masih menyempatkan diri untuk datang ke pesta ini." 
Aku terperanjat. Pria itu pacarnya? Jadi....selama ini Tiara menganggapku apa? 
Kaki kuhentak kesal. Aku berbalik. 
"Beth, mau kemana?" Joko mengejarku. 
"Pulang!" sahutku ketus. 
Di parkiran kulihat mobil mulus tadi. Aku tersenyum licik. Kukempeskan seluruh ban mobil itu. Biarin deh. Nggak berani mengempeskan orangnya, mobilnya juga jadi. 
Joko cuma angkat bahu. Lantas ia berbalik kembali masuk ke ruangan. 
"Jok, tega kamu ya...." 
Matanya memicing. 
"Teman lagi sedih, malah kamu tinggalkan begitu saja." 
Joko terbahak. "Aku juga bilang apa? Kamu yang kege-eran. Jadi pulang saja sendiri. Gila aja aku tinggalkan makanan-makanan enak di dalam." 
Aku terdiam. Lunglai aku melangkah pulang. Tiba-tiba perutku terasa perih, baru terasa laparnya sekarang. Terbayang makanan-makanan enak di ruang pesta tadi. Liurku berlomba keluar. Kebimbangan menyergap. Terus pulang atau berbalik. 
Akhirnya aku berbalik. Seperti kata Joko. Gila aja meninggalkan makanan-makanan enak. Nggak dapat orangnya, dapat makanannya juga jadi. Akan aku habiskan semuanya. Biar si Pilot itu nggak dapat apa-apa. Biar perutnya kempes mirip ban mobilnya. Hahahaha.... ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger