Sabtu, 30 April 2011

Nenek Weng dan Calon Cucu Menantu By Merlin Herlina

Tahun 1966, Kakek Buyutku dari pihak Ayah, Ciang Wengwah, berulang tahun yang ke-87 tahun.
Pada perayaan hari ulang tahunnya di bulan April tahun itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, keluarga mengadakan pesta kecil dengan hanya mengundang kerabat dan kawan-kawan Kakek Buyut berkunjung ke rumah. Meski demikian, karena waktu itu belum ada istilah penyewaan gedung dan jasa katering, otomatis acara ini pun membuat sibuk para penghuni rumah terutama para kaum wanita.
Pada hari menjelang berlangsungnya acara kumpul-kumpul tersebut, Neneklah yang terlihat paling sibuk karena dia akan bertindak selaku Nyonya Rumah. Bukan hanya kesibukan menata rumah dan mengatur kursi bagi para tamu yang akan hadir. Tetapi juga mengatur perjamuan. Semua makanan untuk keperluan sembahyang dan pesta masih harus dibuat dan dimasak sendiri. Beberapa jenis kue ulangtahun seperti onde-onde kukus gula merah dan pawa kacang (bakpao khas China) berbentuk buah persik sudah harus dibuat dua hari sebelum acara. Beruntunglah salah satu saudara perempuan Kakek, Yen Ndui pandai membuat kue-kue tradisional seperti itu. Setiap kali ada acara semacam ini, Yen Ndui pasti datang untuk membantu Nenek.
Selain Yen Ndui, saudara perempuan Kakek lainnya yang juga datang ke rumah untuk membantu adalah Leiho, adik angkat Kakek. Nenek merasa lega setiap kali kedua iparnya datang membantunya dalam acara hajatan seperti itu. Selain keduanya, Nenek juga tidak lupa berterima kasih kepada satu orang yang juga penting dalam terlaksananya acara perjamuan seperti ini. Dia adalah seorang pria bermarga He, bernama Lu. Nenek dan keluarga lainnya memanggilnya dengan sebutan He Lu Pa, singkatan dari He Lu Appa yang berarti Paman He Lu.***
Paman He Lu adalah besan Kakek dan Nenek. Beliau adalah orang Tionghoa yang juga berasal dari propinsi Guandong. Ketika pertama kali pindah ke Nan Yang (sebutan Indonesia pada masa lampau) puluhan tahun silam, dia memutuskan untuk menetap di kota Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sebuah kota kabupaten yang jauhnya seratus duapuluh kilometer di sebelah selatan kota Makassar. Namun meski tinggal di Bantaeng, Paman He Lu sering ke Makassar. Ini dikarenakan beberapa kerabatnya juga tinggal di kota ini. Putri kedua Paman He Lu yang bernama Mingcu, menikah dengan putra sulung Nenek, yang tak lain adalah Paman Tertuaku. Keduanya menikah lewat perjodohan pada tahun 1961, dan sampai tahun 1966 mereka baru dikaruniai dua orang anak masing-masing seorang lelaki dan perempuan.
Paman He Lu mempunyai hobi memasak. Hobi inilah yang membuatnya terkenal sebagai salah satu koki Tionghoa handal di Makassar saat itu. Dia sangat ahli dalam membuat makanan asin, mulai dari yang berbahan sederhana hingga yang paling rumit. Paman He Lu juga mahir memainkan wajan dan sudip di atas bara api yang menyala-nyala sehingga atraksi memasaknya kadang-kadang menarik perhatian. Segala jenis olahannya, baik itu di tim, direbus, ditumis, dipanggang atau digoreng, semuanya sangat lezat. Paman He Lu pandai sekali meramu bumbu-bumbu dan dia tahu persis kapan harus menggunakannya. Sehingga, untuk makanan sesederhana bubur ayam pun, apabila yang membuatnya adalah Paman He Lu, lidah para pencicipnya akan berdecak lezat usai menikmatinya.
Meski memiliki kemahiran dalam hal memasak, Paman He Lu sama sekali bukan orang yang sombong. Sebaliknya, dia sangat ramah dan senang menolong orang. Seperti contoh dengan adanya acara ulang tahun Kakek Buyut seperti ini. Tanpa diminta, Paman He Lu sudah duluan menawarkan bantuan untuk memasak aneka hidangan perjamuan yang lezat-lezat tanpa minta dibayar sepeser pun.
Biasanya, Paman He Lu akan berdiskusi dengan Nenek tentang jenis masakan apa saja yang akan dihidangkan dalam perjamuan. Setelah itu, Paman He Lu akan membuat daftar bahan-bahan yang diperlukan, termasuk bumbu-bumbu. Lalu sehari sebelum acara dia akan datang mengecek kesediaan bahan-bahan tersebut. Sebagai tambahan, kadang-kadang dia memberi tips memotong beberapa jenis sayuran atau daging. Kadang-kadang pula dia merendam daging untuk jenis masakan tertentu dengan aneka rempah, supaya ketika dimasak keesokan harinya bumbunya telah meresap.
Sayangnya, sikap suka menolong Paman He Lu tidak menurun pada putrinya. Mingcu paling jengah apabila harus menghadapi hajatan besar keluarga suaminya seperti ini. Rumah terasa hangar-bingar dan di mana-mana terlihat kesibukan. Mingcu sama sekali tidak tertarik untuk membantu. Setiap kali ada acara kumpul-kumpul semacam itu, Mingcu justru bersembunyi selama beberapa hari di kamarnya dan baru akan keluar kamar setelah acara selesai berlangsung.
Awalnya Nenek cukup toleran dengan sikap menantu sulungnya ini. Tapi lama-kelamaan, Nenek tak tahan lag untuk menegurnya. "Tolong kamu jangan bersikap seolah-olah tak peduli seperti itu. Tidakkah kamu melihat semua orang khususnya di dapur sangat sibuk? Apakah kau tidak merasa sungkan kalau para Ku Hu—sebutan untuk saudari-saudari Kakek, dan Ayahmu bahkan datang membantu sementara kamu hanya bersembunyi dan menghindar dari segala pekerjaan."
Mingcu kurang senang ditegur ibu mertuanya seperti itu. Keesokan harinya, dengan dalih ibunya sakit, Mingcu membawa kedua anaknya pamit dari Nenek dan pergi ke Bantaeng. Perasaan Nenek dongkol bukan main. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa atau melarang. Maka, dibiarkan menantunya itu kembali ke rumah orangtuanya.
Nenek Buyut yang melihat sikap Nenek itu kurang setuju. Dia berkomentar, "Kau terlalu lembek dengan menantumu itu, makanya dia selalu bersikap semaunya. Coba kalau kau menerapkan cara-caraku dulu kepada menantumu ini. Kujamin dia pasti akan tunduk dan takut padamu."
Nenek menggeleng-gelengkan kepala. Meski sikap Mingcu tidak sebaik yang diharapkannya, Nenek tetap tidak setuju dengan cara-cara 'penindasan' yang disarankan ibu mertunya.
Maka seperti biasa, sehari sebelum pesta berlangsung, Paman He Lu datang berkunjung untuk melakukan pengecekan. Dia datang dari Bantaeng sejak kemarin pagi dan menginap di rumah salah satu kerabatnya. Jadi, Paman He Lu tidak tahu kalau justru putrinya yang pulang ke Bantaeng. 
"Hei, Chin Cia—Besan, kau tampak sibuk sekali. Di manakah gerangan putriku? Kenapa dia tidak di sini dan membantu ibu mertuanya?" Paman He Lu menyapa Nenek ketika berjalan memasuki dapur. 
Lidah Nenek terasa kelu entah harus mengatakan apa. Kedua saudari Kakek yang sedang membuat adonan kue melirik ke arahnya. Mereka menunggu. Apakah ipar mereka yang terkenal penyabar ini akan mengadukan tingkah menantu perempuannya itu kepada ayahnya.
Tapi sebelum Nenek bisa berkata sesuatu, Nenek Buyut yang kebetulan juga berada di dapur itu segera menyelutuk kepada Paman He Lu.
"Aih, Paman He Lu, putrimu itu sungguh menantu yang tak berguna...."
Paman He Lu terkejut. Dia berujar dengan sedikit bingung, "Apa maksud Nenek Weng? Apakah putriku melakukan kesalahan di sini?"
Nenek Buyut segera menjawab pertanyaan Paman He Lu itu panjang lebar.
"Paman He Lu, kau tak tahu saja tingkah putrimu itu di sini seperti apa! Dia hidup bagaikan Nyonya Besar dan tak pernah peduli dengan segala urusan rumah tangga. Contohlah pada saat-saat menjelang acara ulangtahun suamiku seperti ini. Dia bukannya membantu kami yang sedang sibuk bukan kepalang, Eh, malahan dia dengan entengnya bilang kalau mau pulang ke Bantaeng karena Ibunya sakit."
"Apa?" Paman He Lu berseru seolah tidak percaya. "Seingatku, ketika aku meninggalkan Bantaeng kemarin pagi, istriku baik-baik saja dan sehat walafiat. Siapa bilang dia sakit?"
"Tanyakan itu pada putrimu!" sahut Nenek Buyut dengan ketus.
Wajah Paman He Lu mendadak berubah menjadi merah padam. Nenek berusaha menjelaskan kepada Paman He Lu.
"Kemarin sore Mingcu minta izin pulang ke Bantaeng karena katanya ibunya sakit. Dengan alasannya seperti itu, tentu saja aku tidak bisa melarang...."
"Beruntunglah putrimu mempunyai ibu mertua baik hati seperti menantuku," potong Nenek Buyut. "Kalau saja dia memperoleh mertua seperti aku, sudah pasti aku tidak akan dengan begitu mudah membiarkan dia bertingkah sesukanya!"
Paman He Lu tidak mampu berkata apa-apa mendengar penuturan Nenek Buyut. Hanya wajahnya saja yang terlihat semakin memerah dan dalam dadanya memendam amarah. Paman He Lu tidak berlama-lama di rumah itu. Usai mengecek kelengkapan bahan-bahan masakannya dan mendengar omelan Nenek Buyut panjang-lebar, dia mohon pamit. Tak seorang pun yang tahu kalau sore itu juga Paman He Lu menuju ke terminal dan naik mobil pulang ke Bantaeng.
Saat tiba di Bantaeng empat jam kemudian, hari telah malam. Tanpa banyak bicara, dia bergegas menuju rumahnya yang terletak di daerah pecinan Bantaeng. Istrinya tampak terkejut melihat kepulangan Paman He Lu. 
"Lho, kenapa kau pulang cepat sekali? Bukankah acara ulangtahun Kakek Weng baru akan berlangsung besok?"
Paman He Lu tidak menanggapi pertanyaan istrinya melainkan mengajukan pertanyaan, "Mana Mingcu?"
"Mingcu? Dia ada di atas bersama putri-putri kita yang lain. Dia tiba kemarin sore karena merasa tidak enak badan."
"Kalau sedang tidak sehat, kenapa masih bisa bertahan duduk di mobil empat jam untuk datang kemari?" Paman He Lu menimpali. "Putri kita yang satu ini terlalu banyak berdalih."
Paman He Lu melewati istrinya dan langsung naik ke lantai dua rumahnya. Di atas sana dia mendapati Mingcu, tengah bercanda bersama saudari-saudarinya yang lain. Mingcu tampak tertawa-tawa, sama sekali tidak menunjukkan cirri-ciri sedang sakit.
"Mingcu!" seru Paman He Lu. Putri-putrinya yang tadinya asyik bersenda-gurau langsung berhenti. Semuanya menoleh ke arah Ayah mereka.
"Kau!" Paman He Lu menuding Mingcu. "Aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau kau seorang pengatur strategi yang hebat, rupanya. Demi menghindari kesibukan yang tengah dihadapi keluarga suamimu, kau beralasan bahwa ibumu sakit sehingga kau diizinkan pulang kemari. Setiba di sini, kau justru berbohong kepada ibumu kalau kaulah yang sakit."
Belum sempat Mingcu mengutarakan sesuatu untuk membela diri, Paman He Lu sudah menyergah duluan.
"Kau jangan berdalih macam-macam lagi! Hari ini aku telah mengetahui semua tingkah laku burukmu di rumah suamimu. Kau benar-benar telah membuat Ayah malu! Bayangkan, kuping Ayah sampai panas mendengar omelan dari Nenek Weng tentang dirimu!"
Mingcu tampak terkejut. Dia sama sekali tidak menduga kalau Ayahnya bakal mengetahui kelakuannya selama ini.
"Aku mau, saat ini juga kau dan kedua anakmu kembali ke Makassar!" Paman He Lu memerintah.
Mata Mingcu membelalak. "Apa?" serunya seolah tak percaya. "Tapi hari kan sudah malam...." protesnya.
Paman He Lu tetap pada keputusannya.
"Aku tidak peduli! Pokoknya kau dan kedua anakmu harus kembali ke rumah suamimu malam ini juga! Mobil yang kusewa telah menunggu di bawah! Jika kau tetap keras kepala dan tidak menurut, aku tidak sungkan-sungkan akan menyeretmu!"
Mingcu terdiam. Tak ada pilihan lain yang bisa dilakukannya selain melaksanakan perintah Ayahnya. ***
Keesokan malamnya, pesta ulang tahun Kakek Buyut berlangsung meriah.
Selain para kerabat, beberapa kawan baik Kakek Buyut juga hadir. Di antara para tamu tersebut, ada pula kakak lelaki Nenek yang biasa dipanggil Gei Ai Kheu—Paman Besar Kedua. Usai memberi selamat kepada Kakek Buyut, Gei Ai Kheu berbicara dengan Nenek pada sebuah pojok.
"Bagaimana, Meimei—Adik Perempuan? Tahun ini tampaknya kau harus menggelar pesta pernikahan sekali lagi...."
"Pesta pernikahan siapa?" Nenek tampak terkejut.
"Tentu saja pesta pernikahan putramu yang lain, Dik!" jawab Gei Ai Kheu. "Tanpa terasa, pernikahan A Hong sudah lima tahun berlalu. Sudah saatnya sekarang kau mencari menantu lagi."
A Hong adalah nama putra sulung Nenek. Nenek diam saja sementara mendengar kakaknya melanjutkan, "Coba kau lihat A Seng. Tahun ini usianya sudah duapuluh empat tahun. Dia sudah cukup umur untuk menikah. Mengapa kau tidak segera mengatur perjodohannya saja?" A Seng adalah nama lain dari Paman Kaseng, putra nomor dua Nenek.
Nenek manggut-manggut. "Benar, A Seng tahun ini sudah duapuluh emapt tahun. Tapi hingga sekarang aku belum pernah mendengar kalau dirinya telah memiliki teman wanita yang istimewa."
"A Seng itu pendiam dan pemalu, tidak sama dengan putra sulungmu A Hong yang periang dan mudah bergaul," Gei Ai Kheu menganalisis. "Justru karena sifatnya yang seperti itulah kita sebagai orangtua perlu membantu. Mengapa bukan kita saja yang membantu memilihkan seorang gadis untuknya?"
Nenek tertegun dengan perkataan Gei Ai Kheu barusan. "Memangnya Kokoh kenal dengan seorang gadis yang kira-kira cocok dengan A Seng?"
Gei Ai Kheu berpikir sebentar. "Sebenarnya ada. Dia adalah teman baik putri sulungku. Keduanya sudah bersahabat baik sejak masih sekolah dulu dan sampai sekarang masih menjalin persahabatan dengan baik. Gadis itu sering berkunjung ke rumah. Marganya Li dan namanya Meimei. Nama Mei pertamanya berarti cantik. Sedangkan nama Mei yang kedua berarti bunga sakura. Ayahnya seorang penjahit dan biasa dipanggil Paman Li. Keluarga mereka tinggal di sebuah gang buntu di jalan Bacan, dekat dari sini."
"Bagaimana menurut Kokoh tentang Li Meimei ini?" tanya Nenek mulai menunjukkan minat. "Berapa usianya? Apakah dia lebih muda atau lebih tua dari A Seng?"
Gei Ai Kheu menjawab, "Setahuku, Li Meimei tahun ini juga telah berusia dua puluh empat tahun. Jadi, dia seumur dengan A Seng. Menurutku gadis itu anak yang baik dan sopan. Dia juga seorang anak yang cerdas. Tahukah kamu, Li Meimei ini juga alumni dari Kau Cong Ti Yi Shiau SMA Teladan Tionghoa, sama sepertimu. Sewaktu lulus, dia termasuk salah satu dari sepuluh siswa peringkat teratas."
Nenek semakin tertarik dengan profil Li Meimei ini. Dia lalu berkata kepada Gei Ai Kheu, "Baiklah, aku akan coba bicarakan dulu hal ini dengan suamiku."
Di balik pojok dinding tempat Nenek berbicara dengan Gei Ai Kheu berbicara, tanpa diketahui oleh keduanya kalau Nenek Buyut diam-diam mendengar percakapan mereka. Ketika sedang asyik mendengar diam-diam itu, salah seorang sepupu Ayah yang bernama Lingsiu tiba-tiba muncul dan memergoki Nenek Buyut.
"Ahu! Ketika saya masih kecil, Ahu melarang saya untuk menguping. Tapi sekarang, saya justru melihat Ahu yang mencuri dengar percakapan orang!"
"Sstt... sstt!" Nenek Buyut meletakkan telunjuknya di bibir. Lalu dengan suara yang direndahkan seperti setengah berbisik, Nenek Buyut berkata, "Kalau kamu memang tidak boleh! Tapi kalau saya tentu saja bisa!"
Lingsiu mengangkat bahu sambil tersenyum-senyum. Dia tahu, tidak mau mengalah sudah menjadi salah satu sifat asli dari Ahu alias neneknya itu.***
Setelah menguping pembicaraan Nenek dan Gei Ai Kheu tempo hari, Nenek Buyut mulai menyusun sebuah rencana.
Pada hari Minggu setelah acara ulangtahun suaminya, Nenek Buyut bangun pagi-pagi seperti biasa. Namun hari Minggu itu, dia akan melaksanakan rencananya yang telah dipersiapkannya selama seminggu terakhir ini. Dan untuk mewujudkan renacana tersebut, Nenek Buyut memerlukan pendamping.
Nenek Buyut masuk ke kamar cucu perempuannya, Lingsiu. "Ci Nda—babi betina! Lekas bangun! Matahari sudah setinggi ini tetapi kau masih saja tidur! Malas, persis babi saja."
Lingsiu yang waktu itu memang berbaring, membuka matanya perlahan sambil berkata malas, "Aduh, Ahu, ini kan hari libur. Bangun terlambat juga tidak apa-apa, kan?"
Lingsiu menggeliat dan berbalik ke sisi yang lain.
"E-eh! Apa-apaan ini? Belum pernah aku melihat anak gadis yang begitu doyan tidur sepertimu! Ayo lekas bangun Ci Nda!" Nenek Buyut menarik selimut Lingsiu seraya mengeluarkan kata umpatan babi betina lagi. Tidak jelas mengapa Nenek Buyut menggunakan julukan itu untuk Lingsiu. Mungkin karena Lingsiu merupakan satu-satunya cucu perempuannya ber-shio babi api, kelahiran tahun 1947.
Lingsiu tetap tidak bergeming dari tempat tidur meski selimutnya telah ditarik Nenek Buyut benar-benar kewalahan. "Hei! Ayo lekas-lekaslah bangkit! Aku hendak mengajakmu jalan-jalan keluar rumah!"
Begitu mendengar 'jalan-jalan keluar rumah', Lingsiu langsung duduk tegak di atas tempat tidurnya. "Ahu mau mengajakku keluar? Kemana?"
"Aku mau mengajakmu mengunjungi salah seorang temanku di jalan Bacan. Sepulangnya dari sana kita singgah makan nyuk-nyang (bakso khas China, biasanya terbuat dari daging babi) dan es buah di kios kesukaanmu. Bagaimana?"
"Wah, kalau begitu aku mau ikut!" Lingsiu bersorak. "Sudah lama aku tidak makan nyuk-nyang dan es buah kegemaranku!"
Tampaknya, Lingsiu lebih girang karena mengetahui kalau nantinya dia akan ditraktir makan ketimbang menemui kenalan Nenek Buyut. Dengan bergegas Lingsiu turun dari tempat tidurnya, mandi dan berdandan. Setelah selesai, dia bergegas menemui Nenek Buyut yang telah menunggunya di ruang depan. Sebelum keluar rumah, Lingsiu masih sempat pamit kepada Nenekku.
"Bibi, aku dan Ahu pergi dulu!"
"Kalian mau ke mana?" tanya Nenek.
"Ke suatu tempat!" Nenek Buyut menyahut. "Kau tidak perlu tahu!"
Nenek mengangkat bahu dan memaklumi saja sikap penuh rahasia ibu mertuanya itu. Toh akhirnya kalau pulang nanti, Lingsiu pasti akan bercerita padanya.
Maka, Nenek Buyut dan Lingsiu pun keluar rumah dan menuju jalan Bacan. Jalan Bacan itu sebetulnya tidak terlalu jauh dari rumah Nenek, makanya mereka berdua cukup berjalan kaki saja ke sana. Pada pertengahan jalan, Lingsiu yang mulai merasa heran tak dapat menahan diri lagi bertanya kepada Nenek Buyut.
"Ahu, teman Ahu yang mana tinggal di jalan Bacan? Setahuku, Ahu tidak memiliki seorang pun kenalan yang tinggal di jalan itu."
"Aku memang tidak punya kenalan siapa-siapa di situ. Aku ke sana hari ini karena maksud lain." 
"Maksud apa?"
"Aku mau mengecek calon cucu menantuku!"
"Apa?"
Lingsiu tercengang. "Mengecek calon cucu menantu? Yang benar saja! Biasanya yang seperti itu kan tugasnya mei ren pho—mak comblang?" 
"Kadang-kadang mei ren pho itu suka membual. Mereka memang harus seperti itu karena kalau perjodohan berhasil, mereka akan mendapat angpao yang nilainya besar. Akan tetapi, terkadang, gadis yang mereka rekomendasikan biasanya tidak sebaik yang mereka bilang. Itu sebabnya aku merasa perlu mengecek sendiri."
Lingsiu manggut-manggut mendengar penjelasan Nenek Buyut. "Kokoh sepupu mana lagi nih, yang sekarang sedang dicarikan istri?" tanyanya kemudian.
"Ya, Kokoh A Seng-mu itulah!" jawab Nenek Buyut. "Umurnya sudah dua puluhempat tahun, jadi sudah pantas untuk menikah."
"Ooh! Apakah Ahu sudah menemukan calon yang cocok dengan Kokoh Aseng?"
"Nah, untuk itulah aku pergi ke jalan Bacan kali ini. Kemarin aku sempat mendengar pembicaraan Gei Ai Kheu dengan Bibimu. Kata Gei Ai Kheu, ada seorang gadis bernama Li Meimei tinggal di jalan Bacan. Ayahnya seorang penjahit. Aku ingin mengeceknya supaya tahu apakah dia betul-betul sebaik yang dibilang Gei Ai Kheu? Aku tidak mau kalau sampai mendapat cucu menantu seperti istri Kokoh A Hong-mu lagi."
Akhirnya Lingsiu pun paham kalau neneknya sebetulnya meragukan 'rekomendasi' Gei Ai Kheu. Lingsiu pun tidak bisa menahan kegeliannya. Dia tertawa cekikikan.
Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya sampailah Nenek Buyut dan Lingsiu di jalan Bacan. Nenek Buyut pun bergumam, "Kata Gei Ai Kheu, keluarga gadis itu tinggal di salah satu gang buntu di jalan ini...."
"Ahu, di sini ada dua atau tiga gang buntu. Kita mulai mencarinya dari mana?"
Nenek Buyut pun berjalan perlahan-lahan menelusuri jalan Bacan sambil memperhatikan gang-gang kecil di jalan tersebut. Lingsiu mengikutinya dari belakang. Sewaktu mereka sampai di gang pertama yang bagian depannya tertulis: 'lorong buntu', Nenek Buyut berdiri di depan lorong dan tiba-tiba berseru, "Hooi...! Saudara-saudara sekalian! Adakah yang tahu di mana rumah Paman Li si Penjahit itu?"
Lingsiu terkejut bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau Neneknya akan mencari rumah orang dengan cara berteriak seperti itu. Segera saja orang-orang yang berada di sekitar situ memperhatikan Nenek Buyut. Mereka melihatnya dengan tatapan, 'Kenapa pula Nenek Tua ini teriak-teriak di sini?'
Walau demikian, salah seorang di antara orang-orang itu ada juga yang menjawabi Nenek Buyut.
"Paman Li si Penjahit itu tidak tinggal di lorong buntu ini. Dia tinggal di lorong buntu berikutnya."
Nenek Buyut dan Lingsiu akhirnya meninggalkan gang buntu pertama itu dan menuju gang buntu berikutnya. Di depan gang buntu yang kedua, Nenek Buyut kembali berteriak keras-keras, "Hoooi, Li Meimei, keluar! Aku mau bertemu denganmu!"
Lingsiu amat terkejut. Segera dihampirinya Nenek Buyut sambil berbisik, "Ahu, jangan berteriak-teriak seperti itu! Kan malu jadinya!"
"Ah, kau ini tahu apa? Cara begini merupakan cara paling ampuh dalam mencari alamat." 
Seperti sebelumnya, orang-orang yang ada di sekitar situ pun mulai memperhatikan Nenek Buyut. Salah seorang pria menghampiri Nenek Buyut dan bertanya ramah, "Nenek sedang mencari Li Meimei, putri Paman Li si Penjahit itu?"
"Ya!"
"Dalam rangka apa Nenek mencarinya?" tanya pria itu ingin tahu.
Nenek Buyut kesal karena ditanya-tanya. "Kau tak perlu tahu!" hardiknya ketus. "Cukup kau tunjukkan saja yang mana rumahnya dan aku bisa sendiri menemuinya di sana!"
Pria itu mundur ke belakang dan dengan takut-takut berkata sambil menunjuk, "Itu... rumah sebelah kiri nomor dua sebelum tembok pembatas. Yang itulah rumah Paman Li."
Nenek Buyut bergegas meninggalkan pria itu yang masih terbengong-bengong. Lingsiu buru-buru mengikutinya. Dilihat dari gelagatnya, sepertinya 'pengecekan calon cucu menantu' hari ini bakal berlangsung heboh.
Nenek Buyut dan Lingsiu akhirnya sampai juga di rumah yang dimaksud. Kebetulan, Paman Li hari itu sedang berada di rumah menyelesaikan jahitannya. Mengira Nenek Buyut adalah salah satu calon pelanggan yang hendak menjahitkan baju padanya, Paman Li mempersilakan Nenek Buyut dan Lingsiu masuk ke dalam rumahnya dengan ramah.
Paman Li beramah-tamah sejenak dengan Nenek Buyut. Lingsiu yang duduk di samping Nenek Buyut mulai gelisah. Terlebih setelah melihat Paman Li sepertinya mulai tahu kalau mereka bukan salah satu calon pelanggan. Mata Nenek Buyut jelalatan memandang seisi ruangan itu. Lingsiu menganggap sikap Neneknya itu lebih mirip petugas inspeksi pajak ketimbang seorang Nenek yang hendak mengecek calon cucu mantunya. Karena merasa tegang, Lingsiu mulai merasa perutnya melilit.
Sejurus kemudian, tanpa basa-basi Nenek Buyut berkata, "Paman Li, aku mau bertemu dengan putrimu yang bernama Li Meimei. Suruhlah dia untuk keluar menemuiku!"
Paman Li merasa heran tapi tidak mengajukan pertanyaan apa-apa. Dia lalu masuk ke ruang dalam dan memanggil putrinya untuk keluar. Perasaan Lingsiu semakin tidak menentu. Perutnya terasa semakin terkunci.
"Ahu, kita pulang saja, yuk! Perutku mendadak sakit...." bisik Lingsiu.
Nenek Buyut melotot memandangi Lingsiu. "Ah, kau... pengacau pada saat-saat penting seperti ini!"
Tidak lama kemudian, dari ruang dalam Paman Li keluar bersama seorang gadis muda tinggi semampai. Tubuhnya langsing. Gadis itu melempar senyum ramah kepada Nenek Buyut dan Lingsiu. Kedua pipinya mengembang dan dia tampak manis sekali. Kali ini Lingsiu merasa isi perutnya berputar-putar.
Paman Li telah duduk kembali dan kini dia tengah bersiap mengajukan pertanyaan mengapa Nenek Buyut mencari putrinya itu, namun tidak jadi karena dilihatnya Lingsiu berbisik serius ke telinga Nenek Buyut.
"Ahu! Aku sudah tak tahan lagi! Kita pulang sekarang juga! SEKARANG!"
Nenek Buyut hendak melotot memarahi Lingsiu lagi. Akan tetapi, ketika dilihatnya dahi Lingsiu telah muncul butir-butir peluh, Nenek Buyut mengurungkan niatnya. Akhirnya dengan tergesa-gesa dan sikap canggung, Nenek Buyut dan Lingsiu mohon pamit dari Paman Li.
Melihat kondisi Lingsiu yang sedang 'kritis' itu, dalam perjalanan pulang, Nenek Buyut terpaksa menyewa becak. Tiba-tiba di atas becak, kondisi Lingsiu mendadak normal lagi.
"Sebenarnya kamu kenapa, sih? Tadi seperti orang yang mau semaput, tapi sekarang biasa kembali."
"Tadi itu aku hampir semaput gara-gara sikap Ahu. Coba lihat tatapan Paman Li yang melihat kita dengan begitu aneh seolah kita ini makhluk dari luar angkasa yang belum pernah dikenalnya, dan tiba-tiba saja datang ke rumahnya minta bertemu dengan putrinya, Li Meimei!"
Nenek Buyut mendengus. "Ah, tapi aku tidak melihat ada yang aneh kok dengan kejadian tadi."
Lilngsiu segera membalas perkataan Neneknya dengan berkata, "Tapi menurutku tetap tidak wajar! Belum pernah kulihat ada seorang Nenek yang pergi mengecek calon cucu menantunya begitu terang-terangan seperti Ahu tadi!" ***
Empatpuluh Satu Tahun Kemudian
Bulan September tahun itu, kami sekeluarga berkumpul di Denpasar, Bali guna menghadiri pernikahan dari salah satu sepupuku, putri bungsu dari Paman dan Bibi Kasengku.
Pada malam sebelum acara pernikahan, kami semua berkumpul di rumah Seng Mbu—panggilan kami untuk Bibi Seng. Kebetulan waktu itu, salah satu sepupu Ayah, Bibi Lingsiu, juga hadir di situ.
Lalu Cie Tely, putri sulung Seng Mbu yang tinggal di Jakarta tiba-tiba menyelutuk, "Mama, cerita dong! Bagaimana sih, pertama kali Mama dan Papa ketemu?"
Pertanyaan Cie Tely disambut antusias oleh kami semua. Khususnya aku yang sudah lama ingin menyusun cerita-cerita unik menenai keluargaku. 
Lalu, Seng Mbu yang memang terkenal ramah dan periang menjawab, "Ooh, bagaimana pertama kalinya bertemu dengan Papa kalian itu tidak terlalu mengesankan. Yang paling mengesankan adalah sebelum mengenal Papa kalian, Mama terlebih dahulu didatangi 'orang penting'."
"Siapa orang penting itu, Ma? Masak lebih mengesankan dari Papa, sih?" Cie Lusy, putri kedua Seng Mbu penasaran.
"Hm, 'orang penting' itu...?" Seng Mbu menggantungkan kalimatnya. "Kalian benar-benar mau tahu?"
Kami semua mengangguk cepat-cepat.
Seng Mbu tersenyum jahil kepada kami semua lalu berpaling ke arah Bibi Lingsiu yang telah membekap mulutnya dan tertawa cekikikan. Sambil menunjuk ke arah Bibi Lingsiu, Seng Mbu berkata, "Tuh, tanyakan pada Ling Ku Bibi Ling, siapa 'orang penting' itu!"
Maka kami semua pun menodong Bibi Lingsiu untuk bercerita. Di akhir cerita, tak satu pun di antara kami yang tidak tertawa. Cerita tentang 'orang penting' itu benar-benar telah menggegerkan suasana.
Geerrr! ©

Nenek Weng dan Anak-Anak Muda By Merlin Herlina

Pada salah satu jalan perempatan di jantung kota pecinan Makassar, terdapatlah sebuah toko peralatan teknik. Bangunan toko itu berlantai tiga, tidak terlalu banyak berubah seperti limapuluh tahun silam dimana bangunan tersebut masih ditempati oleh pemilik sebelumnya.
Pemilik sebelumnya adalah keluarga Kakekku dari pihak Ayah. Pemilik pertama sesungguhnya adalah Kakek Buyutku. Lalu ketika putra satu-satunya telah menikah, rumah tersebut diwariskan padanya. Ayahku beserta ketiga kakak lelakinya semua lahir di rumah itu. Dan rumah itu menyimpan banyak kenangan bagi Ayah, mulai dari masa kecil hingga beranjak dewasa.
Bukan cuma Ayah, masih banyak orang lain yang memiliki kenangan akan rumah itu. Sebagian besar cerita awal dari serial kisah-kisah seputar kehidupan awal keluarga Tionghoa-ku berlatar belakang di rumah itu. Setiap kali keluarga besar Ayah berkumpul pada sebuah acara, atau salah seorang kawan masa kecil Ayah datang untuk reuni, mereka pasti bernostalgia tentang kejadian-kejadian yang pernah mereka alami di rumah tersebut.
Kini, rumah yang terletak tepat di sudut Jalan Sangir dan Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo telah menjadi salah satu toko peralatan teknik terlaris di Makassar. Akan tetapi, limapuluh tahun sebelumnya, tidaklah demikian. Bangunan tersebut bukanlah tempat usaha yang ramai dan lebih banyak berfungsi sebagai tempat tinggal bagi sebuah keluarga Tionghoa bermarga Cang.***
Rumah itu berlantai tiga, dengan dinding-dinding bata dan loteng berlantai papan. Halamannya cukup luas dan bisa menampung sampai tiga buah mobil, jejeran balok-balok kayu, serta berlembar-lembar papan. Selepas tahun 1945, Kakekku tidak lagi bekerja di perusahaan Belandanya yang dulu. Beliau lalu membuka usaha bengkel. Dan, dengan adanya halaman yang luas itu tentu menjadi salah satu hal yang menguntungkan bagi bisnis bengkelnya. Kakek Buyutku sendiri masih cukup sering melaksanakan aktifitasnya sebagai tukang kayu meski usianya waktu itu sudah hampir tujuhpuluh tahun. Hanya saja, kalau dulu aktifitas ini dilakukannya sebagai profesi utama, kini beliau melakukannya hanya sekedar hobi. Itu sebabnya meski tak berusaha di bidang pertukangan kayu lagi, balok-balok kayu dan papan tetap tersedia di rumahnya. Pada saat senggang beliau biasanya membuat kursi atau meja kecil yang kemudian dipakai oleh keluarga sendiri.
Selain menampung barang-barang milik Kakek dan Kakek Buyut, pada salah satu sudut yang berlokasi di daerah barat daya halaman tersebut juga masih tersedia sepetak tanah bagi Nenek Buyut untuk mendukung hobinya berkebun. Kebiasaan bertani yang dibawanya dari Tiongkok itu tidak bisa dihilangkannya sama sekali. Dan pada sepetak tanah itulah Nenek Buyut menanam ubi jalar, daun ketumbar, selada dan pohon jambu biji. Tanaman-tanaman itu tumbuh subur karena dirawat dengan baik oleh Nenek Buyut. Beliau secara rutin menyiram dan memberi pupuk kandang atau kompos, serta membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanamannya.
Nah, sekarang aku hendak bercerita. Cerita tentang kisah-kisah antara Nenek Buyutku dengan cucu-cucunya yang merupakan generasi ketiga dari keluarga Tionghoa kami. Itu sebabnya cerita ini kuberi judul: 'Nenek Weng dan Anak-anak Muda.'***
Makasar, Juli 1955
Hari itu, Ayahku pulang dari sekolah lebih awal dari biasanya. Saat itu usianya delapan tahun. Suasana hatinya sedang riang gembira. Sebab, hari itu merupakan hari terakhir masuk sekolah. Terhitung mulai besok, sekolahnya libur panjang hingga sebulan penuh. Itu berarti, selama sebulan ini dia bisa bangun lebih terlambat dari biasanya, bermalas-malasan serta tidak disibukkan dengan PR dari sekolah. Dan yang paling ditunggu-tunggu oleh Ayah sebenarnya adalah dia bisa bermain sepuasnya dari pagi hingga sore tanpa ada yang mengingatkannya untuk berhenti dan pergi menekuni pelajarannya.
Di dalam benak Ayah sudah bergumul rencana-renacana apa yang akan dilakukannya liburan nanti. Apa sebaiknya dia mulai dengan bermain kelereng? Atau bermain layang-layang? Ayah sudah tak sabar ingin memamerkan kelereng model terbarunya kepada kawan-kawannya. Tapi dia juga merindukan bermain layang-layang di lantai paling atas rumahnya. Menikmati saat-saat menegangkan ketika benang layangannya yang sebelumnya telah direndam dengan pecahan beling, mengiris layang-layang lawan hingga putus. Jika nanti sudah bosan bermain kelereng atau layangan, dia bisa pergi berenang bersama saudara-saudaranya di pantai.
Ayah begitu asyik dengan pikirannya sendiri hingga begitu memasuki halaman rumah, dia tidak melihat Nenek Buyut yang tengah jongkok di petak kebunnya.
"Ho, ho, bagus sekali! Ada anak sekolahan pulang ke rumah tapi tidak menyalami orangtua!" tegur Nenek Buyut.
Ayah tampak terkejut dan menimpali. "Aku tidak melihat Ahu—Nenek, duduk di situ!" ujarnya membela diri.
"Oh, ya? Aku sebesar ini tidak terlihat olehmu? Pasti kau sedang melamun! Memangnya apa yang kau pikirkan? Menghabiskan liburanmu kali ini dengan bermain, hm?"
Ayah tersipu. Neneknya rupanya bisa menebak jalan pikirannya.
"Tapi kamu jangan terlalu senang! Aku sudah memberitahu gurumu untuk memberimu PR yang banyak supaya kau tidak bermain terus setiap hari."
Mata Ayah membelalak tidak percaya. "Ahu bohong! Guruku tidak memberi PR apapun untuk kukerjakan liburan ini."
Tentu maksud Nenek Buyut hanya untuk menakut-nakuti Ayah saja tapi tidak diutarakannya. Dengan geli, Nenek Buyut menahan senyumnya sembari berkata, "Dia memang tidak memberimu di sekolah tadi, api dia akan datang kemari dan memberi PR khusus untukmu!"
Wajah Ayah sesaat memelas. Tapi sejurus kemudian ditatapnya Nenek Buyut lurus-lurus.
"Ahu tahu dari mana kalau guruku bakal datang ke rumah?"Ayah mulai curiga kalau dia sedang 'dikerjai' oleh Neneknya.
Akan tetapi Nenek Buyut dengan cepat berkilah berujar, "Tak perlu kau tahu bagaimana aku mengetahui kedatangan gurumu. Sekarang kemarilah dan bantu aku memotong bambu-bambu ini!"
Ayah dengan enggan menuruti perintah Nenek Buyut. Ketika sudah berada di samping Nenek Buyut, barulah Ayah melihat bilah-bilah bambu berserakan di sekitarnya.
Ayah memungut sebilah bambu dan memotongnya sesuai petunjuk Nenek Buyut.
"Buat apa membuat bambu-bambu seperti ini, Ahu?" tanya Ayah.
Nenek Buyut menjawab, "Bambu-bambu ini untuk memagari tanaman-tanamanku. Musim liburan telah tiba. Aku khawatir beberapa tanamanku dicuri orang..." Nenek Buyut melirik ke arah Ayahku. "Liburan tahun lalu, labu-labu siamku yang sudah sebesar dua kepalan tangan hilang tak berbekas. Lalu waktu liburan singkat bulan April kemarin, lobak putihku yang kutanam dengan susah payah lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Hingga saat ini aku belum menemukan pencurinya. Suatu hari jika aku menangkapnya, entah satu atau dua orang, pokoknya akan kuhukum seberat-beratnya!"
Ayah dengan takjub memandang ke arah Neneknya.
Nenek Buyut juga balas menatapnya. Sepasang mata Nenek Buyut berkilat-kilat dan bibirnya mengeluarkan perkataan, "Sebenarnya aku curiga kalau yang melakukan pencurian ini adalah 'orang dalam' kita sendiri. Jangan-jangan...."
Nenek Buyut mencondongkan badannya ke arah Ayah sehingga Ayah agak ketakutan dan buru-buru berkata, "Bukan aku pelakunya, Ahu!"
"Kalau begitu siapa?" geram Nenek Buyut.
"Aku tidak tahu!"
Nenek Buyut menepuk kepala Ayah.
"Kalau aku sampai menangkap basah kamu mencuri di kebunku, rasakan sendiri akibatnya!"
Ayah menanggapi ancaman Neneknya dengan serius. Sambil mengusap-usap kepalanya, Ayah berikrar kepada Neneknya, "Pokoknya aku tidak berani!"
Pada saat bersamaan, dari dalam rumah muncullah Nenek. Melihat putra bungsunya sedang berbincang-bincang dengan ibu mertuanya, Nenek hendak ikutan nimbrung.
"Wah, wah, A Siu, kamu sedang bicara apa dengan Ahu-mu?" tanya Nenek. A Siu adalah nama kecil Ayah.
"Bukan bicara apa-apa!" sahut Nenek Buyut ketus.
Ayah melihat Ibu dan Neneknya bergantian dengan heran. Tapi Nenek hanya tersenyum simpul, mengisyaratkan kepada Ayah bahwa dia telah lumrah dengan sikap ibu mertuanya itu.
Pada saat Nenek tengah memperhatikan putra bungsunya sedang membantu ibu mertuanya memasang pagar bambu di sekeliling kebun, dari arah pintu pagar, masuklah seorang bocah lelaki lain berusia sembilan tahun. Dia masih mengenakan seragam sekolah dan memanggul tasnya.
"Ho Sung!" seru Ayah ketika melihat anak itu. Perasaan gembira terdengar jelas dari nada suaranya.
Bocah lelaki bernama Ho Sung itu menyeringai lebar ke arah Ayah. Lalu dia menyapa Nenek dan Nenek Buyut.
"Bibi, Nenek Weng, apa kabar? Bolehkah liburan kali ini aku tinggal lagi di sini?"
Belum sempat Nenek menjawab, ibu mertuanya sudah menyelutuk, "Memangnya kamu tidak punya rumah sampai harus menumpang di rumah orang lain setiap kali liburan?"
Kepala Ho Sung tertunduk. Sambil menatap sepatunya dia berkata lirih, "Kalau liburan, rumahku penuh sesak, Nenek Weng...."
Nenek tertegun mendengar penuturan Ho Sung. Nenek mengenal Ho Sung sebagai anak kedua dari keluarga Fong yang tinggal di ujung jalan sebelah utara. Kebetulan dia sekelas dengan Ayah. Dari cerita Ayah yang biasa Nenek dengar, Ho Sung itu bersaudara delapan orang. Pada hari-hari biasa, beberapa orang adiknya dititip ke rumah famili mereka dan baru dikembalikan pada saat liburan sekolah. Tidak heran mengapa setiap kali liburan sekolah Ho Sung selalu 'mengungsi' ke rumah orang lain—mengingat rumahnya yang kecil itu harus menampung sampai lebih dari sepuluh orang penghuni, otomatis suasananya akan lebih sesak dan gaduh daripada biasanya.
"Apa kau sudah memberitahu orangtuamu kalau kamu akan tinggal di sini selama liburan ini?" Nenek bertanya.
Ho Sung menggeleng. "Aku langsung kemari seusai pulang sekolah tadi dan tidak mampir ke rumah."
"Bagaimana kalau orangtuamu mencarimu?" tanya Nenek lagi.
Ho Sung tersenyum sumringah. "Bibi tak perlu khawatir. Aku sudah pernah bilang kepada Ayah-Ibuku: 'kalau dalam sehari aku tidak pulang ke rumah, kalian tak perlu cemas karena aku pasti berada di rumah Nenek Weng'. Hehehe...."
"Tapi bagaimanapun, kamu harus memberitahukan orangtuamu setiap kali kamu akan meninggalkan rumah, apalagi sampai menginap di rumah orang," Nenek mencoba memberi pengertian dengan lembut.
"Ya, Bibi," ujar Ho Sung sambil menundukkan kepala menyadari kekeliruannya.
Ayah meninggalkan pekerjaan memasang pagar bambunya dan menghampiri Ho Sung yang masih menundukkan kepala memandang sepatunya.
"Jadi bagaimana keputusannya? Apakah Ho Sung boleh menginap lagi di sini liburan kali ini? Boleh kan, Bu? boleh, ya?" Ayah mulai merengek kepada Nenek. "Dia bisa tidur di kamarku nanti. Aku mau kok, berbagi tempat tidurku dengannya."
Nenek tersenyum sambil mengusap kepala Ayah dengan lembut. "Tempat tidurmu terlalu kecil untuk dua orang. Sebaiknya kita masukkan satu kasur tambahan ke kamarmu supaya Ho Sung bisa tidur di sana."
Mata Ayah berbinar. "Jadi, Ho Sung bisa tinggal di sini selama liburan, kan?"
Nenek mengangguk, "Tentu saja bisa."
"Wah! Asyik! Aku punya tambahan satu kawan lagi di rumah!" Ayah bersorak. Lalu dia berpaling kepada Ho Sung yang tampak berseri-seri. "Tahukah kamu, liburan kali ini rumahku lebih pasti lebih ramai. Sepupuku, Afang dan adik perempuannya, Lingsiu juga akan tinggal di sini selama liburan ini."
"Apa? Kedua anak Leiho itu juga akan tinggal di sini?" pekik Nenek Buyut. Leiho adalah salah satu dari dua adik perempuan Kakek.
Ayah memandang wajah Neneknya dengan keheranan. "Lho, memangnya Ahu tidak suka kalau cucu-cucu Ahu berkumpul di sini, ya?"
"Bukan begitu," ujar Nenek Buyut memelas. "Hanya saja kalau lebih banyak anak, peluang ubi jalarku hilang akan lebih besar...."
Nenek Buyut memandang dengan akung ke arah tanaman ubi jalarnya yang mulai berdaun lebat. Artinya, umbi di bawahnya pasti sudah besar.
"Ahu kan sudah memagari semuanya, jadi tak perlu cemas oleh pencuri lagi," sahut Ayah cuek. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Nenek sambil berkata, "Ibu, aku lapar! Bolehkah aku makan lebih dulu?"
Nenek mengangguk menyetujui. "Boleh, di dalam Ibu sedah memasak daging kukus lilit pare kesukaanmu. Makanlah!"
Ayah tampak gembira mendengarnya. Diraihnya tangan Ho Sung sambil berkata, "Kamu pasti belum makan juga, bukan? Yuk, kita makan sama-sama!" 
Lalu kedua anak lelaki itu pun menghilang masuk kedalam rumah.
Nenek Buyut menghela napas seraya kembali menggerutu, "Kita tidak hanya menampung anak itu, tapi juga memberinya makan...."
Dan Nenek hanya tersenyum mendengarnya.***
Seusai makan siang, Ayah dan Ho Sung hendak pergi bermain kelereng di tetangga. Ayah menawarkan Ho Sung untuk menukar seragam sekolahnya dengan pakaian rumah milik Paman Kedua.
"Lalu, bajuku ini nanti akan dikemanakan?" tanya Ho Sung.
"Kasih saja ke Ibuku untuk dicuci," jawab Ayah.
"Wah, aku merasa tidak enak. Masa Bibi sudah mengizinkan aku tinggal di sini, bajuku masih juga dicucikan olehnya."
Nenek yang kebetulan lewat dan mendengar perkataan itu menyela, "Tidak apa-apa, kemarikan saja bajumu itu, Nak!"
Ho Sung berpikir sejenak lalu akhirnya memutuskan untuk mengikuti keinginan Ayah dan Nenek. Dia menyalin seragamnya dengan pakaian milik Paman Kedua. Setelah itu keduanya pun pergi bermain.
Sekitar pukul dua siang, Nyonya Fong datang ke rumah Ayah. Seperti yang sudah diduga Nenek sebelumnya, wanita itu pasti datang mencari putranya yang tidak pulang ke rumah usai jam sekolah.
"Ho Sung! Ho Sung! Kamu ada di sinikah?" Nyonya Fong berseru.
Nenek segera keluar dan menemui Nyonya Fong. "Tadi dia memang disini, tapi sekarang sedang pergi bermain dengan A Siu," kata Nenek.
"Oh, dia sedang keluar pergi bermain, ya?" Nyonya Fong berkata seraya memperbaiki posisi anak yang sedang digendong di punggungnya. Anak lain yang tadinya digandeng oleh Nyonya Fong mendongakkan kepala memandang Ibu dan adiknya.
"Aku datang untuk mengantarkan ini," Nyonya Fong menyerahkan sebuah bungkusan. "Ini adalah beberapa pakaian Ho Sung. Seusai jam sekolah tadi dia tidak pulang-pulang ke rumah. Makanya aku kemari. Soalnya anak itu pernah bilang kalau selama liburan dia akan tinggal di sini. Aku minta maaf sebelumnya karena anak itu telah merepotkan Anda, Nyonya."
"Ah, tidak merepotkan, kok. Justru bagus kalau Ho Sung kemari. Rumah ini suasananya akan lebih ramai. Kemarikan saja baju-bajunya, biar nanti aku yang berikan untuk Ho Sung."
"Nyonya baik sekali. Aku sangat berterima kasih atas perhatian yang Nyonya berikan untuk Ho Sung."
Nenek tersenyum sumringah. Dia berjalan menghampiri Nyonya Fong untuk menerima bungkusan pakaian Ho Sung. Ketika mengadakan serah-terima itulah, Nenek memperhatikan kalau perut Nyonya Fong membusung.
"Nyonya Fong, perutmu 'berisi' lagi, ya?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Nenek, dan membuat Nyonya Fong tersipu.
"Ya, ini calon anak kesembilan. Sekarang sudah memasuki bulan keempat."
"Oo," Nenek bergumam seraya melihat ke arah anak yang digendong Nyonya Fong, dan anak lain yang tangannya digandeng Nyonya Fong.
"Tapi dua anak terkecilmu baru berusia delapan bulan dan dua tahun, Nyonya Fong," komentar Nenek.
"Ya, hanya saja suamiku berkeinginan memiliki anak yang banyak. Kami berencana memiliki anak sampai sepuluh atau dua belas orang. Ibu mertuaku juga mendukung. Katanya, 'banyak anak itu banyak rejeki'!"
"Ah, itu anggapan orang-orang dulu, Nyonya Fong. Zaman sekarang saat kebutuhan sudah semakin banyak, punya anak dalam jumlah yang banyak itu juga harus dipertimbangkan baik-baik. Sebab, kita tidak mungkin mengabaikan keperluan salah satu anak untuk kepentingan anak lainnya."
Nyonya Fong manggut-manggut. Dia lalu berujar, "Keluarga kami memang bukan keluarga yang cukup mampu sehingga kadang-kadang kami harus meminta pengertian dari anak-anak yang lebih tua agar mau mengesampingkan keinginan mereka demi adik-adik mereka. Tapi, Nyonya, keluargamu sendiri berkecukupan. Mengapa Anda dan suami tidak berencana menambah anak lagi? Lagipula, bukankah dulu Nyonya mengidam-idamkan anak perempuan?"
Nenek tertawa. "Ah, punya empat orang anak lelaki yang bandel-bandel saja sudah cukup membuatku sakit kepala. Bagaimana pula kalau sampai belasan anak? Tentang anak perempuan, aku kini tak terlalu mempermasalahkannya lagi. Toh, sekarang aku telah memiliki beberapa keponakan perempuan. Jadi aku bisa mencurahkan kasih akungku juga kepada mereka."
Nyonya Fong tersenyum. Gumamnya, "Nyonya, Anda sungguh baik, mau menganggap anak orang lain seperti anak sendiri...."
Nenek menerima pujian tersebut dengan rendah hati. Setelah itu Nyonya Fong mohon pamit. Kedua wanita itu pun berpisah.***
Keesokan paginya, ketika Ayah dan Ho Sung berencana akan pergi bermain layangan seusai sarapan, mereka dikejutkan oleh jeritan Nenek Buyut dari arah kebunnya.
"Siapa yang mencuri ubi-ubi jalarku?!"
Ayah dan Ho Sung bergegas keluar dan mendapati pagar-pagar bambu yang dipasang di sekeliling tanaman Nenek Buyut khususnya di sepetak tanaman ubi jalar telah tercabut dan berserakan. Di situ juga tampak undukan-undukan tanah dari tanaman yang umbinya telah dicabut paksa. Sipakah pelaku semua ini?
Nenek Buyut melihat galak ke arah Ayah dan Ho Sung sambil berkecak pinggang.
"Kalian berdua! Katakan siapa di antara kalian yang mencuri ubi-ubi jalarku?"
"Bukan aku!" seru Ayah.
"Kalau begitu pasti kamu, Lo Fong Coei—Anak Marga Fong!" Nenek Buyut menuding Ho Sung.
Ho Sung terperanjat. Buru-buru dia berkata, "Bukan aku juga! Kalau pun aku punya sepuluh nyawa, aku tetap tidak berani mencuri tanamanmu, Nenek Weng!"
"Kalau begitu siapa? Kakak tertuamu dan A Fang sudah menghilang entah kemana sejak pagi tadi. Kakak Keduamu sedang sakit dan Kakak Kasengmu sedang di bengkel membantu Ayahmu. Sedangkan Lingsiu, sejak tadi kuperhatikan dia bersama Ibumu terus di dapur. Tersangka pelaku yang paling mencurigakan adalah kalian berdua. Ayo kalian berdua lekas mengaku saja!"
"Pokoknya bukan kami!" Ayah bersikeras membantah. "Kami juga tidak tahu yang mencuri ubi-ubi jalar itu, Ahu!"
Nenek akhirnya keluar dari dalam rumah dan mencoba menengahi. Dia berkata kepada Nenek Buyut, "Selama ini kita mengenal A Siu sebagai anak yang jujur. Kalau dia bilang bukan dia pelakunya, berarti memang bukan. Begitu pula dengan Ho Sung."
"Alah, kau masih juga membela mereka!" gerutu Nenek Buyut. "Oh, ubi-ubi jalarku yang malang, siapa yang mencuri kalian dariku? Padahal sebentar lagi kalian akan kupanen...."
Akhirnya Ayah dan Ho Sung dibujuk Nenek untuk merapikan kebun itu karena Nenek Buyut terus-terusan mengomel. Kedua anak lelaki itu pun terpaksa menunda keinginan mereka untuk cepat-cepat bermain dan merapikan kebun yang berantakan itu kembali. Nenek kembali masuk ke dalam rumah sambil menduga-duga siapa pelaku 'sesungguhnya' atas pencurian tadi.
Sewaktu Ayah dan Ho Sung tengah menutup lubang-lubang dengan tanah dan memasang pagar-pagar bambu kembali, seorang anak tetangga lain yang bernama Bakri masuk ke dalam pekarangan rumah dan memanggil mereka.
"Hoi, A Siu! Ho Sung! Jadi tidak kita bermain layangan? Anginnya benar-benar bagus sekarang. Kalau menjelang tengah hari biasanya akan berubah menjadi lebih kencang. Sayang kalau kita tidak menerbangkan layangan kita sekarang!"
"Tunggu! Kami sedang sibuk membereskan kebun Ahu-ku dulu!" sahut Ayah dengan kesal. Ho Sung mengisyaratkan kepada Bakri supaya dia tidak bertanya-tanya lagi.
Bakri mengangkat alis tanda mengerti dan pada akhirnya dia berujar, "Mari kubantu kalian agar cepat selesai!"
Ketiga anak itu pun bahu-membahu merapikan kebun. Kira-kira sejam kemudian, kebun telah rapi kembali dan ketiganya akhirnya pergi bermain.
Bersamaan dengan kepergian Ayah, Ho Sung dan Bakri, Paman Tertua dan A Fang kembali ke rumah sambil tertawa-tawa. Nenek mencegat mereka ketika dilihatnya kedua anak lelaki itu hendak naik ke lantai dua.
"A Hong, AFang! Dari mana saja kalian?" Nenek menyelidik.
Paman Tertua dan A Fang buru-buru menyembunyikan kedua tangan mereka di belakang punggung.
"Tidak dari mana-mana," sahut Paman Tertua. Tidak terlalu meyakinkan sehingga Nenek bertanya lagi.
"Apa yang kalian sembunyikan di belakang punggung?"
"Bukan apa-apa." Paman Tertua kembali menyahut dengan gugup.
Nenek berkata tegas, "Perlihatkan padaku!"
Paman Tertua dan A Fang akhirnya menyerah dan memperlihatkan benda-benda yang mereka sembunyikan: dua gulung kertas layang-layang warna merah dan hijau, satu kerangka layang-layang bambu, sebotol perekat, serta dua gulung benang.
"Dari mana kalian dapat uang membeli semua ini?" Nenek menyelidik.
A Fang diam dan menunduk.
Paman Tertua menjawab dengan acuh tak acuh, "Dari uang sakuku, tentu saja."
Nenek berpikir sejenak lalu berkata, "Tapi A Hong, bukankah kemarin malam kamu mengeluh bahwa uang jajanmu telah habis? Dan ketika kamu minta lagi, Ayahmu menolak karena jatahmu untuk minggu ini telah diberikannya untukmu?"
Mimik wajah Paman Tertua mulai berubah menjadi pucat.
"Sekarang katakan dengan jujur dari mana kalian memperoleh uang untuk membeli semua ini? A Fang?"
Nenek mengangkat alis dan menanyai A Fang lebih dulu. A Fang yang merasa kikuk dan ketakutan, akhirnya mau mengaku juga.
"Anu, anu... hm, kami mendapat uang dari hasil menjual ubi-ubi jalar Ahu di pasar tadi pagi...."
"Apa?" Nenek membelalak seolah tidak percaya. "Kalian tahu apa akibat perbuatan kalian itu? A Siu dan Ho Sung-lah yang dituduh oleh Ahu...."
Belum sempat Nenek menyelesaikan kalimatnya, Nenek Buyut mendadak muncul dan menjewer kuping kedua cucunya itu. Rupanya diam-diam, dia telah menguping sejak tadi.
"Jadi kalian berdua pelakunya, hm?"
"Aduh! Sakit, Ahu! Ampun, ampun!"
Paman Tertua dan A Fang mengaduh-aduh.
Nenek Buyut tidak melepaskan mereka melainkan semakin memelintir kuping mereka. "Kalian berdua benar-benar bernyali besar, ya? Sekarang, di mana sisa uang kalian itu?"
"Ini, ini, Ahu." Paman Tertua buru-buru merogoh dari dalam sakunya beberapa uang koin lalu diserahkannya kepada Nenek Buyut.
"Semua uang ini aku sita!" seru Nenek Buyut. "Sebagai hukuman, kalian berdua harus menanam kembali bibit-bibit ubi jalar yang baru. Bukan hanya itu. Kalian juga harus menyiram tanaman-tanamanku, memberi pupuk dan membersihkan gulmanya, tentu saja dalam pengawasanku supaya kalian tidak bisa mencuri lagi!"
"Apa? Mengurus tanaman Ahu selama sebulan?" Paman Tertua frustasi. Dia dan A Fang saling berpandangan lalu sama-sama terunduk lemas.***
Makassar, Juli 1966
Sore itu seperti biasa, Nenek Buyut tengah duduk-duduk di depan pintu rumah sambil mengipas-ngipas tubuhnya ketika Bakri, anak dari tetangga sebelah masuk ke pekarangan.
"Good evening, Grandma Weng, how are you today?" sapa Bakri ramah, dalam bahasa Inggris yang hanya diketahuinya sepatah-dua kata.
Nenek Buyut berhenti mengipas dan menyipitkan mata memandang Bakri yang tampak necis dengan dandanannya itu.
"Ndei kong bua? Goe tu em mbeng pak—ngomong apa sih? Saya tidak mengerti," tanya Nenek Buyut misuh-misuh dalam bahasa Guandong. 
Bakri yang sok tahu langsung menarik kesimpulan sendiri. "Ah, aku tahu apa yang dipikirkan Nenek Weng! Nenek Weng pasti bilang aku ini ganteng, kan?" cetusnya sembari menyisir-nyisir rambutnya yang mengkilap akibat kental pomade dengan jemarinya. 
Nenek Buyut mencibir, "Ih, luan lei ngawur!"
Tak lama kemudian, Ayah muncul dari dalam rumah. Sama seperti Bakri, dia tampak necis dan rapi. Nenek Buyut mafhum, jika Ayah dan Bakri berdandan seperti ini, berarti mereka berdua akan keluar bersama.
"Mau ke mana?" tanya Nenek Buyut.
"Ke bioskop, Ahu," Ayah menjawab.
"Nonton film apa?"
Kali ini Bakri yang menjawab, "Nonton filmnya James Bond, Nenek Weng: You Only Live Twice."
"Oh, film Barat yang penuh adegan peluk-pelukan dan cium-ciuman itu yang mau kalian tonton?"
"Jangan salah Nenek Weng," ralat Bakri. "Ini bukan sekedar film Barat yang peluk-pelukan. Ini film spy—mata-mata, yang penuh adegan tembak-tembakan dengan mesin-mesin canggih."
Nenek Weng masih tidak paham maksud Bakri. Dia berkata kepada Ayah. "Kenapa nonton film-film Barat seperti itu? Kenapa tidak menonton film-film Mandarin saja?"
"Saya malas menonton film Mandarin, Ahu," sergah Ayah. "Logatnya susah dimengerti dan terjemahannya seringkali membingungkan."
"Haiya! Ibumu dulu adalah lulusan Kau Cong Ti Yi Shiau—SMA Tionghoa teladan, yang pandai mengubah sajak dan puisi, serta menulis kaligrafi Mandarin. Masak kamu putranya tidak mengerti bahasa Mandarin sebaik dia? Bagaimana ini?"
Ayah menepis perkataan Nenek Buyut dengan berkata, "Ahu, meski aku anak Ibu, tidak mungkin aku persis sama dengan dia."
Ayah dan Bakri lalu mohon pamit untuk berangkat ke gedung bioskop.
Nenek Buyut masuk ke dalam rumah sambil menghela napas, "Anak muda Tionghoa zaman sekarang, sudah jarang yang bisa menguasai bahasa leluhurnya sendiri. Bagaimana di masa mendatang? Bisa-bisa keturunanku kelak, tak ada yang bisa mengucapkan sepatah kata Mandarin lagi!"
Nenek Buyut masuk ke dalam rumah dan ketika melewati kamar Lingsiu, dia berhenti sejenak lalu menengok ke dalam kamar cucu perempuannya itu. Dilihatnya Lingsiu sedang duduk santai sambil membaca.
Nenek Buyut menghampiri seraya berkata, "Apa yang sedang kau baca?"
Lingsiu menoleh karena terkejut. "Oh, Ahu," ujarnya. "Saya sedang melihat-lihat majalah mode."
Nenek Buyut turut mencondongkan badannya melihat majalah tersebut. Sambil menyipitkan mata, dia melihat-lihat sembari berkomentar, "Haiya, baju apa ini? Kenapa roknya pendek sekali dan belahan dadanya terlalu rendah? Sungguh tidak sopan apabila seorang gadis berpakaian seperti ini!"
Lingsiu mengerutkan alis mendengar komentar neneknya, "Ahu, ini trend pertengahan tahun 60-an. Semuanya serba mini dan model kerah terbuka. Mana bisa disamakan dengan zaman Ahu dulu, wanita harus memakai baju cheongsam atau chipao tertutup berlengan panjang dengan rok atau celana panjang pula."
"Kamu berani memakai pakaian seperti ini?" tanya Nenek Buyut.
"Ya, mengapa tidak?" sahut Lingsiu. "Bibi sekarang tengah membuatkan aku model yang ini." Lingsiu menunjuk gambar seorang model yang memakai baju terusan berpinggang tinggi dengan rok di atas lutut dan lubang leher yang lebar.
Nenek Buyut membelalakkan mata. "Yang benar saja? Model pakaian seperti itu akan membuatmu terlihat seperti orang hamil!"
"Ah, tidak kok! Model ini sedang musim sekali sekarang. Lagipula, kata Bibi aku cocok sekali dengan model baju seperti ini."
Nenek Buyut menggeleng-gelengkan kepala. Dia keluar dari kamar Lingsiu seraya bergumam, "Model baju wanita dari hari ke hari semakin pendek dan terbuka. Lama-lama di masa mendatang, mereka akan berani berpakaian semakin minim dari sekarang. Kalau aku sudah mati, mungkin anak zaman sekarang sudah tidak mengenakan pakaian lagi! Haiya, zaman benar-benar sudah edan!"
Nenek Buyut berjalan kembali ke arah ruang tamu. Di sana dilihatnya Nenek yang baru saja tiba dan duduk dekat jendela untuk mendapatkan cahaya matahari sore supaya bisa menjahit. Sambil memakai kacamatanya, Nenek mulai memasukkan benang ke dalam lubang jarum dan mulai menjahit kancing.
"Baju siapa itu?" Nenek Buyut bertanya.
Nenek menoleh sebentar seraya menjawab, "Milik Lingsiu. Sudah hampir selesai, tinggal menjahit kancing-kancingnya saja." Nenek memperlihatkan baju itu kepada ibu mertuanya. "Bagaimana menurut Ibu, modelnya bagus bukan?"
Kedua alis Nenek Buyut berkerut dan dia mencibir. "Ih, model apa ini? Roknya terlalu pendek dan lubang lehernya terlalu lebar. Seronok!"
"Ah, tidak seronok, kok. Model seperti ini memang cocok buat anak gadis. Kalau Lingsiu mengenakannya, pasti terlihat manis."
Nenek Buyut tetap mencibir. Pandangannya dialihkan pada baju yang modelnya tak disukainya itu.
Tiba-tiba, Nenek Buyut berseru memanggil Nenek.
"Cungho! Cungho! Lihat itu!"
Nenek menengadah ke arah yang ditunjuk ibu mertuanya. Rupanya di pekarangan, Paman Kedua sedang berdiri berbicara dengan seorang gadis.
"Siapa gadis itu, kenapa aku belum pernah melihatnya sebelumnya?' tanya Nenek Buyut.
Nenek mengangkat bahu. "Saya juga tidak tahu. Sepertinya aku baru pertama kali melihatnya sekarang."
"Anak siapa dia? Lihat gerak-geriknya, sepertinya bukan gadis baik-baik," Nenek Buyut mencela sewaktu dilihatnya gadis itu tertawa cekikikan.
"Oh, lihat! Masa dia berbicara sambil sengaja merapatkan tubuhnya ke arah A Fu. Mana boleh anak gadis bersikap seperti itu! Aku harus menegurnya!"
Nenek menahan pergelangan tangan Nenek Buyut. "Ibu, jangan! Mungkin mereka kebetulan sedang bercanda makanya terlihat seperti itu. Jangan dulu sembarangan memarahi anak gadis orang."
"Tapi kalau tidak ditegur bisa berbahaya! Kamu mau punya menantu perempuan seperti itu? Lei si—amit-amit! Bisa bikin malu keluarga kita saja!"
Nenek tetap menahan Nenek Buyut. "Belum tentu gadis itu pacarnya A Fu. Setahuku A Fu belum pernah cerita kalau dia punya teman wanita yang istimewa."
Nenek Buyut melepaskan tangannya dan tetap mengawasi sepasang muda-mudi itu dengan gusar.
"Zamanku dulu, mana ada muda-mudi yang belum menikah bicara serapat itu? Selain itu, gadis itu tampaknya tidak tahu malu! Belum menikah tapi berani mengunjungi rumah lelaki sendirian tanpa didampingi orang lain."
Di luar pekarangan, Paman Kedua masih berbicara dengan gadis itu. Sepertinya topik pembicaraan mereka semakin seru. Gadis itu seolah tak dapat mengendalikan diri dan tertawa keras sekali. Suara tawanya terdengar sampai ke dalam rumah.
Tidak hanya itu, gadis tersebut juga menepuk bahu serta mencubit lengan Paman Kedua dengan genit.
"Cukup sudah!" seru Nenek Buyut. "Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Tingkah gadis itu sudah keterlaluan!"
Lalu, sebelum Nenek sempat mencegahnya, Nenek Buyut telah melangkah keluar halaman. Disambarnya sebilah bambu yang panjangnya kira-kira semester. Lalu, tanpa tedeng aling-aling, Nenek Buyut berteriak ke gadis itu.
"Hei, kau! Lekas pergi dari sini! Jangan dekat-dekat cucuku! Wanita sepertimu bisa merusak keturunanku nantinya! Ayo, lekas angkat kakimu dari sini!" 
Paman Kedua dan gadis itu terkejut bukan kepalang.
"A Fu, siapa itu? Orang gila, ya?"
Belum sempat Paman Kedua menjawab, gadis itu telah kabur karena melihat Nenek Buyut yang berjalan ke arahnya sambil mengacung-acungkan bambu.
"Ahu, jangan!" jerit Paman Kedua. Ditahannya Nenek Buyut. Akan tetapi, Nenek Buyut masih sibuk memaki sambil mengacung-acungkan bambunya.
"Dasar gadis tidak tahu malu! Beraninya datang kemari dan menggoda cucuku!"
"Ahu, jangan bicara seperti itu terhadap temanku!" Paman Kedua membela gadis tersebut.
"Apanya yang 'jangan bicara seperti itu'? Kamu tidak lihat sikapnya tadi? Mana ada gadis baik-baik yang berbicara dan bertingkah genit seperti itu dengan laki-laki? Kuperingatkan kamu, jangan sampai gadis seperti itu kau persunting sebagai istrimu. Aku tak sudi punya cucu menantu macam begitu!"
"Siapa bilang aku akan menikah dengannya? Masak setiap kali aku punya teman wanita semuanya dibilang calon istri? Ahu salah paham. Aku dan gadis tadi cuma berteman. Aduh, sikap Ahu tadi benar-benar telah membuatku malu!"
"Apa? Saya telah mebuatmu malu? Yang benar saja! Padahal aku baru saja menyelamatkanmu dari cengkeraman iblis wanita...."
"Pokoknya Ahu telah membuatku malu, maluuuu sekali!" raung Paman Kedua. "Di dunia ini, kalau ada Nenek yang mempermalukan cucunya, Ahu-lah termasuk salah satunya!"
Hahahaha.... ©

Nenek Weng dan Menantu Perempuan By. Merlin Herlina

Nenek Buyutku dari pihak Ayah adalah seorang wanita Tionghoa asli kelahiran China daratan, tepatnya di Propinsi Guandong, Kabupaten Khaiphing, China bagian selatan. 
Beliau lahir pada penghujung abad ke-19, di sebuah keluarga kurang mampu yang punya kebiasaan untuk tidak menamai anak perempuan. Nama panggilannya kala itu hanya Ai Sam Ndui, yang jika diartikan dari bahasa Guandong Khaiphing berarti 'Anak Perempuan Ketiga'. 
Nenek Buyut menikah dengan Kakek Buyut ketika usianya masih sangat muda seperti pada umumnya kebiasaan zaman itu. Kakek Buyutku bernama Ciang Wengwah atau Zhang Wenhua, dalam dialek Mandarin hanyu pinyin. Orang-orang sekampungnya biasa memanggilnya Weng Pa—singkatan dari Weng Appa yang berarti Paman Weng. 
Maka, setelah menikah, Nenek Buyut tidak lagi dipanggil sebagai Ai Sam Ndui. 
Orang-orang mulai memanggilnya sesuai dengan nama suaminya. Weng Mbu, begitulah panggilannya, singkatan dari Weng Ambu yang berartu Bibi Weng. 
Ketika Weng Appa dan Weng Ambu telah memiliki cucu, panggilan mereka kembali berubah menjadi Kakek dan Nenek Weng. Untuk selanjutnya, aku akan memakai nama panggilan tersebut dalam cerita kali ini dan beberapa cerita selanjutnya. *** 
Pada awal pernikahan mereka, Kakek dan Nenek Buyut dikaruniai dua orang putra namun keduanya tidak berumur panjang. Kedua bocah itu meninggal ketika masih kecil akibat sakit. Kakek dan Nenek Buyut lalu dikaruniai seorang putri yang diberi nama Yen Ndui—Gadis Walet. Di kemudian hari, Yen Ndui inilah yang dianggap sebagai anak sulung mereka. 
Pada saat Yen Ndui berusia lima tahun, Kakek Buyut meninggalkan China menuju Nan Yang (nama lama untuk kepulauan Indonesia dalam bahasa Mandarin). Kepergian Kakek Buyut ke Nan Yang ini adalah untuk merantau dan memperoleh kehidupan yang lebih baik ketimbang hanya menjadi petani miskin di China. 
Setelah bertahun-tahun Kakek Buyut meninggalkan China, Nenek Buyut memutuskan untuk menyusulnya ke Nan Yang. Namun karena tidak mempunyai cukup uang, Nenek Buyut terlebih dahulu menikahkan putri sulungnya yang baru berusia tigabelas tahun dengan seorang juragan kaya. Pada setiap pernikahan Tionghoa tradisional, biasanya mempelai pria akan memberikan 'uang lamaran' dalam angpao merah. Uang tersebut ditujukan kepada calon Ibu Mertua sebagai ungkapan terima kasih karena dianggap telah membesarkan putrinya (calon mempelai wanita) dengan baik. 
Dalam beberapa keluarga, ada calon Ibu Mertua yang hanya mau mengambil seperempat atau separuh dari uang lamaran tersebut. Sisanya biasanya dimasukkan lagi ke dalam angpao dan dikembalikan kepada mempelai pria. Mengambil uang lamaran secara keseluruhan dianggap seperti menjual anak gadis sendiri. Namun waktu itu Nenek Buyut tidak punya pilihan. Beliau sangat membutuhkan uang tersebut! Maka, diambilnya semua uang lamaran itu tanpa memedulikan gunjingan dari sanak-keluarga serta kenalan yang menyaksikannya. 
Dengan uang itulah Nenek Buyut naik kapal laut menyusul suaminya di Nan Yang. Setelah sebelumnya sempat tersesat di beberapa kota, Nenek Buyut pada akhirnya berhasil juga bertemu dengan suaminya. Setelah sepasang suami-istri itu bertemu kembali, beberapa tahun kemudian mereka kembali dikaruniai empat orang anak. Namun di antara keempatnya, hanya dua orang yang bertahan hidup. Salah satu di antaranya adalah Ciang Kuangthing, yang merupakan cikal-bakal Kakekku dari pihak Ayah. *** 
 Putra satu-satunya Kakek dan Nenek Buyut itu lahir pada bulan April tahun 1919. 
Dia diberi nama Kuangthing, atau Guangting (dalam dialek Mandarin hanyu pinyin). Kuang dalam nama Kuangthing hurufnya sama dengan kuang dalam kata Kuangtong. Sedang thing adalah sebutan untuk bungalo kecil yang biasa terdapat pada taman-taman tradisional China kuno. Secara samar, Kakek Buyut hendak mengingatkan putranya agar tidak melupakan asal-usulnya lewat nama yang diberikan. 
Karena merupakan anak lelaki, pendidikan Kakek amat diperhatikan oleh Ayahnya. Kakek Buyut menyekolahkannya di Chinese Lagere School—sekolah khusus bagi anak-anak Tionghoa dengan bahasa pengantar Belanda dan Mandarin. Lulus dari sana, Kakek melanjutkan sekolahnya ke SMP dan SMA milik yayasan Belanda. Alhasil, Kakek lebih fasih berbicara bahasa Belanda dan Inggris ketimbang Mandarin. Cara berpikir Kakek pun mengikuti pola pikir efektif orang Eropa. Beliau sangat realistis dan logis. Berlawanan sekali dengan Ibunya yang kolot serta percaya takhayul. 
Setamat SMA, Kakek diterima bekerja di sebuah Commanditer Vennootschap alias CV, milik orang Belanda. Karena terkesan oleh kecerdasan Kakek, perusahaan tempatnya bekerja itu menawarkan beasiswa agar Kakek bisa kuliah di Belanda. Akan tetapi hal ini ditentang oleh Nenek Buyut. 
"Kamu adalah anak laki-laki kami satu-satunya. Mana mungkin kami rela membiarkanmu jauh-jauh pergi dari keluarga ini...." Nenek Buyut memberi alasan yang disetujui oleh suaminya.
Maka, Kakek hanya bisa memendam keinginannya untuk bisa sekolah keluar negeri. Beliau tetap bekerja dengan tekun di perusahaan tersebut dan dalam beberapa tahun saja sudah menempati posisi yang cukup menyenangkan. Karena kecakapan serta sifatnya yang mudah bergaul, Kakek memiliki banyak kawan, termasuk beberapa petinggi di kantor tersebut. 
Pada masa itu, sebagian orang Tionghoa masih memegang tradisi memilih nama hao atau nama julukan, ketika menginjak usia dewasa antara 18-20 tahun. Biasanya, nama hao mencerminkan karakter, prestasi atau tempat tinggal seseorang. Setelah satu tahun bekerja di CV Belanda itu, Kakek pun memilih nama hao-nya.Waktu itu usianya baru memasuki duapuluh tahun. Nama hao yang dipilihnya adalah Phoeikit, yang dalam bahasa Mandarin hanyu pinyin diucapkan Peijie. Phoei atau Pei berarti 'kawal'. Kit atau jie berarti pesohor. Maka, makna nama hao Kakek tidak lepas dari gambaran kesehariannya yang senantiasa bergaul dengan orang-orang yang berposisi tinggi di kantornya.
Mulai saat itu, Kakek pun biasa dipanggil Ciang Phoeikit alias Putra Keluarga Ciang yang Dikawal para Pesohor. 
Selain memilih nama hao, Kakek juga memilih nama berabjad latin guna memudahkan panggilannya di kalangan kawan-kawan Belanda-nya.Orang-orang Eropa kadang kala kesulitan dalam menyebut nama-nama China sehingga lafalnya sering keliru. Nama latin yang dipilih Kakek bagi dirinya adalah Eddy Haris. Puluhan tahun kemudian, ketika Indonesia sudah merdeka dan pemerintah mengharuskan orang-orang Tionghoa mengganti nama Tionghoa mereka, Eddy Haris inilah yang dipilih Kakek sebagai nama dalam surat kewarganegaraannya. *** 
Tahun 1939, usia Kakek baru duapuluh tahun. Namun dalam perhitungan shio, usia Kakek sebenarnya sudah duapuluh satu tahun. 
Orang-orang Tionghoa memiliki kebiasaan dalam menghitung usia seseorang dengan cara menambah satu tahun dari usia sebenarnya (usia sang Janin dalam masa kandungan sang Ibu sudah terhitung satu tahun). Pada masa itu, seorang pria yang berusia duapuluh tahun sudah diwajibkan menikah. Apalagi Kakek adalah putra satu-satunya dalam keluarga. Generasi pelanjut marga keluarga Ciang ini benar-benar bergantung di pundak Kakek. Selain itu, Kakek dan Nenek Buyut telah menginjak usia lanjut dan berharap bisa cepat menimang cucu dari Kakek.
Nenek Buyut mulai mendesak Kakek untuk mulai memikirkan kehidupan berkeluarga. Beliau setengah menasehati dan setengah mengancam Kakek.
"Orang-orang zaman dulu pernah berkata: 'Di antara sekian banyak pelanggaran tak berbakti terhadap orangtua, yang paling buruk adalah tidak memiliki keturunan dari anak lelaki! Usiamu telah cukup untuk menikah, namun kau masih mengelak apabila diajak berbicara mengenai hal tersebut. Apakah kau bermaksud hendak mengakhiri garis keturunan keluarga ini? Oh, Anakku! Kalau kau sampai melakukan hal itu, bagaimana kelak aku dan Ayahmu bisa menghadap para leluhur kita di akhirat nanti?"
Nenek Buyut mulai memasang ekspresi wajah sedih. Melihat Ibunya berbicara dan bersedih seperti itu, hati Kakek sungguh tidak tega.
Dengan sungkan Kakek berkata, "Ibu, aku tidak pernah bermaksud seperti itu.... Hanya saja, aku pikir ada baiknya kalau aku menunggu dua atau tiga tahun lagi baru menikah...."
"Apa?! Dua atau tiga tahun lagi, katamu?!" erang Nenek Buyut. "Tak tahukah kau kalau Ayah-Ibumu ini sudah tua? Kami khawatir, kami keburu 'kembali ke Hong Shan' sebelum sempat menimang cucu pertama kami darimu!"
Nenek Buyut mulai menangis. Kakek terhenyak dengan perkataan terakhir Ibunya. Hong Shan berarti 'Gunung Hong'. 'Kembali ke Hong Shan' merupakan idiom bagi orang-orang Tionghoa Guandong Khaiphing untuk ungkapan 'berpulang ke rahmatullah'.
Akhirnya Kakek menghela napas dan dengan enggan berkata kepada Nenek Buyut. 
"Baiklah, aku akan menerima usul Ibu. Akan tetapi ada syaratnya...." Kakek berhenti sejenak sambil ragu-ragu mengamati wajah Ibunya.
"Syarat apa?" Nenek Buyut segera mengangkat wajahnya sambil menyeka airmatanya. Beliau memandang Kakek dengan rasa ingin tahu.
Kakek mengumpulkan segenap keberaniannya dan menjawab Ibunya, "Hm, syaratnya adalah... aku sendiri yang menentukan siapa calon istriku."
Mata Nenek Buyut membelalak. "Apa?" serunya. "Dari zaman dulu sudah jadi tradisi kalau perjodohan anak-anak diatur oleh para orangtua. Anak-anak tidak diperkenankan menarik benang merah perjodohan mereka sendiri!"
Kakek mulai gusar karena ditekan oleh Ibunya. "Pokoknya aku tidak mau siapa pun, termasuk Ibu, yang memilihkan gadis untukku!" cetusnya. "Aku menolak dijodohkan! Kalau Ibu tidak setuju dengan syarat ini, selamanya aku tidak mau menikah!"
Nenek Buyut terdiam dan mengawasi Kakek dengan seksama. Sejurus kemudian, kebisuan Kakek telah memberitahukannya sesuatu. 
"Apakah kau sudah punya pilihan? Apakah kau sudah menentukan anak gadis dari keluarga mana...?" tanya Nenek Buyut penuh selidik.
Wajah Kakek mendadak merona merah. Dia tetap diam dan tidak langsung menjawab. 
"Lekas jawab pertanyaan Ibu!" desak Nenenk Buyut. "Apakah selama ini kau telah diam-diam memperhatikan seseorang...?" 
"Ya!" Kakek menjawab dengan perlahan namun tegas.
Nenek Buyut menghembuskan napas berat.
"Pantas saja kau begitu gigih mengajukan tawar-menawar. Begitu rupanya, ya? Hmm...." *** 
Nama gadis yang ditaksir oleh Kakek adalah Sithu Cungho, atau Situ Zhonghao dalam dialek Mandarin hanyu pinyin-nya. 
Ayah Cungho berprofesi sebagai seorang penjahit yang cukup terkenal di pecinan. Semasa mudanya, Tuan Besar Sithu pernah belajar menjahit di sebuah kursus milik orang Inggris di Hongkong. Sekarang, setelah pindah di Nan Yang, beliau membuka usaha menjahit sendiri dan setelah bertahun-tahun usaha tersebut berkembang maju. 
Karena usahanya yang semakin besar itu, Tauke Sithu mampu menggaji banyak pegawai, baik yang membantunya di toko maupun yang membantu urusan rumah tangganya. Pelanggan-pelanggannya kebanyakan adalah meneer-meneer Belanda yang menyukai potongan busana pria khas Eropa masa itu. Selain kesibukannya dalam mengelola usaha, Tauke Sithu juga dipercayakan sebagai tetua marga Sithu untuk wilayah Mangkase (sebutan dalam bahasa Guandong untuk Makassar) dan sekitarnya. 
Cungho adalah anak ketiga dari lima bersaudara, sehingga nama Cungho itu cocok sekali buatnya. (Cung atau Zhong berarti tengah). Cungho memiliki dua orang kakak lelaki dan dua orang adik, masing-masing seorang lelaki dan perempuan. 
Selama ini, Kakek rupanya sudah sering melihat Cungho tetapi belum pernah bertegur sapa dengan gadis itu. Kakek selalu melewati rumah sekaligus toko milik Ayah Cungho setiap kali berangkat dan pulang kerja. Kebetulan rumah tersebut terletak pada satu alamat yang sama dengan kantor Kakek yang membelakangi pelabuhan. Pada sore hari sepulang dari kantor itulah, Kakek biasa melihat gadis pujaannya itu: duduk-duduk di depan teras toko Ayahnya bersama keluarganya, yang lain biasanya berdiri di atas langkan—teras loteng, sedang membaca buku. Kakek tertarik dengan wajah cantik dan tinggi semampai gadis itu. Karena sering mendapatinya membaca di atas langkan itulah, Kakek menyimpulkan kalau gadis itu pasti seorang wanita terpelajar. Pada masa itu, gadis-gadis Tionghoa masih jarang sekali ditemukan ada yang gemar membaca buku. 
Walau telah mengetahui pilihan Kakek, Nenek Buyut tetap tidak boleh melamar langsung ke keluarga Sithu. Beliau tetap harus memakai jasa mei ren pho—mak comblang. Pada masa itu, tidak menggunakan jasa mei ren pho dalam sebuah perjodohan atau pernikahan, pasti akan ditertawakan. Maka, diutuslah seorang mei ren pho untuk berbicara kepada Tauke Sithu. 
Sepulangnya dari rumah keluarga Sithu, mei ren pho itu melapor pada Nenek Buyut. 
"Haiya... Putramu itu benar-benar berselera tinggi! Gadis pilihannya benar-benar bukan gadis sembarangan!"
"Memangnya apa yang istimewa dengan gadis itu?" tanya Nenek Buyut keheranan.
Mei ren pho menjawab, "Haiya! Ayahnya itu sangat kaya! Di rumahnya ada lusianan pegawai dan pembantu rumah tangga. Bahkan gadis itu diberi dua orang pembantu yang khusus untuk mencuci bajunya dan menyisirkan rambutnya!"
"Hah? Dia bahkan punya pembantu buat menyisirkan rambutnya?" Nenek Buyut terpana. "Mendengar dari ceritamu, sepertinya gadis itu sudah pasti tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga...."
"Tentu saja! Buat apa punya pembantu begitu banyak kalau Nona Besar juga harus turun tangan bekerja?" Mei ren pho membenarkan. "Tauke Sithu sangat memanjakan putrinya! Beliau tidak mungkin membiarkan tangan putrinya yang halus berubah hanya untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang kasar. Tangan yang halus itu hanya dipakai untuk menulis tuilien (puisi tulisan kaligrafi yang berupa syair berpasangan), melukis dan menyulam."
"Kau tentu tak menyangka pula kalau gadis itu berpendidikan tinggi. Bayangkan saja, Bibi Weng, dia lulus di Kau Cong Ti Yi Shiau— SMA Teladan Tionghoa. Zaman begini, anak perempuan yang sekolah sampai setinggi itu masih bisa dihitung dengan jari. Benar-benar Putramu memilih calon istri yang sepadan pintarnya!"
Nenek Buyut terbengong-bengong mendengar penjelasan mei ren pho tersebut. 
"Berapa usia gadis itu? Apakah kau berhasil mengecek tanggal kelahirannya?" tanya Nenek Buyut. 
"Tentu saja! Bukankah itu sudah menjadi bagian dari tugasku?" Mei ren pho tersenyum penuh arti. "Gadis itu lahir pada tanggal satu bulan kesepuluh Imlek, tahun ren shu—anjing air. Usianya tahun ini sudah delapanbelas tahun." 
Nenek Buyut mengitung-hitung. "Putraku lahir pada tanggal empatbelas bulan tiga Imlek pada tahun Ci Wei—kambing tanah. Itu artinya gadis itu lebih muda tiga tahun. Oh, tidak! Bukankah kata orang-orang kalau pasangan yang berbeda usia tiga tahun itu pernikahannya kurang harmonis karena sering bertentangan?"
"Ya, katanya sih begitu," ujar mei ren pho. "Tetapi kalau sudah menginjak usia tua, keduanya akan akur dan sejahtera...."
"Aih, rasa-rasanya gadis ini tak bakalan cocok dengan Putraku!" Nenek Buyut mengeluh. "Kenapa pula Putraku itu memilih Nona Besar macam begini sebagai istrinya...."
"Eh, Bibi Weng, aku belum memberitahumu," Mei ren pho tiba-tiba berujar, "Ayah gadis itu belum menyetujui perjodohan ini. Katanya, beliau harus meminta pendapat Putrinya terlebih dahulu. Paling tidak, Putramu harus memberikan selembar foto dirinya untuk diperlihatkan kepada gadis itu dan keluarganya."
"Apa? Dia mau melihat foto Putraku lebih dulu?" seru Nenek Buyut.
Mei ren pho mengangguk.
"Ya, itu merupakan salah satu syarat dari mereka. Tauke Sithu tentunya tidak mau buru-buru menyetujui terlebih jika Putrinya tidak berkenan." 
Nenek Buyut mendengus. "Huh! Ketika aku menikahkan Putri Sulungku di China dulu, mana ada acara cek-cek foto segala? Dia langsung kunikahkan tanpa banyak cingcong!" 
Mei ren pho tertawa, dibalasnya perkataan Nenek Buyut dengan sahutan, "Bibi Weng, sekarang sudah tidak sama seperti dulu lagi. Zaman sudah berubah...." *** 
Selama menunggu jawaban dari keluarga Sithu, Nenek Buyut menasihati Kakek. 
"Anakku, sebaiknya kau jangan terlalu berharap jawaban yang memuaskan dari Nona Besar Sithu ini. Dia berasal dari keluarga berada sementara kamu berasal dari keluarga sederhana. Mana mungkin kalian bisa menjadi pasangan yang cocok?" 
"Ibu, cocok-tidaknya pasangan suami-istri tidak dilihat dari persamaan latar belakang materi keluarga. Aku yakin walau Nona Sithu berasal dari keluarga berada, dia tetap bisa menjadi istri yang baik dan menghormati keluarga kita." 
Nenek Buyut mencibir. Dalam hati beliau meragukan perkataan putranya itu. 
Tetapi rupanya dewi fortuna berpihak kepada Kakek. Nona Sithu Cungho menyetujui perjodohan ini. Dia dan keluarganya telah melihat foto Kakek. Sebagai tambahan, diam-diam Cungho semakin mengagumi calon suaminya yang terpelajar. Sejak lama Cungho memang mendambakan seorang pria yang tidak hanya berpenampilan menarik, tetapi juga berwawasan luas sebagai pendamping hidupnya. 
Setelah mendapat persetujuan dari keluarga Sithu, keluarga Kakek pun bersiap. Waktu pernikahan segera dipilih. Sambil menunggu datangnya hari pernikahannya, Kakek tetap beraktivitas seperti biasa. Setiap hari berangkat dan pulang kantor melewati rumah calon istrinya. Tetapi semenjak pertunangannnya, ada yang berubah dengan si Nona Sithu. Jika sebelumnya dia tidak peduli dengan kehadiran Kakek melewati rumahnya, kini setiap sore Cungho mengawasi tunangannya lewat lalu melempar senyum manis kepadanya. 
Pada masa itu, orang-orang belum mengenal istilah pacaran atau kencan. Meski telah berstatus sebagai tunangan, Kakek masih belum diperbolehkan mengunjungi rumah calon istrinya apalagi mengajaknya bicara. Setiap sore sepulang kerja, Kakek hanya bisa puas mendapat senyum manis dari tunangannya tersebut. 
Pada pertengahan bulan September tahun 1939, Kakek menikah dengan Sithu Cungho. Pada jam baik yang telah dipilih, Cungho dijemput oleh bendi lalu dibawa ke rumah calon suaminya. Tubuhnya yang tinggi semampai dibalut gaun cheongsam merah yang panjangnya sampai menutupi mata kaki. Gaun itu dipenuhi sulaman bunga-bunga dan sepasang yuan yang—Bebek Mandarin, lambang pernikahan. Rambut Nenek yang sebahu ditata berombak dengan rol-rol serta pemanas rambut (kala itu belum ada salon serta peralatan kosmetik mutakhir, rambut dikeriting dengan cara dipanaskan pada alat yang sudah dibakar pada arang). Pada sisi kanan kepalanya, sekuntum besar bunga merah dengan daun-daun cemara diselipkan ke rambutnya. 
Demikianlah dandanan Cungho pada hari pernikahannya. Sebagai pelengkap, selembar kerudung merah menutupi wajahnya sewaktu hendak keluar rumah. Nyonya Besar Sithu memayunginya sampai menaiki bendi. Kemudian, payung tersebut diberikan kepada mei ren pho untuk memayungi si Pengantin Wanita ketika sampai di rumah suaminya. 
Cungho berangkat ke rumah calon suaminya dengan hanya ditemani oleh mei ren pho. Sesampainya di sana, upacara adat segera digelar. Di hadapan para kerabat dan undangan, sepasang mempelai itu saling memberi hormat kepada Langit (simbolitas Tuhan) dan Bumi (kemakmuran fana), orangtua dan para leluhur. Ketika Kakek membuka kerudung mempelai wanita, seluruh tamu yang hadir menahan napas dan setelah cadar itu perlahan-lahan turun, semuanya menghembuskan napas lega melihat wajah cantik si Mempelai Wanita. Salah seorang tamu, teman Kakek yang berkebangsaan Inggris kebetulan membawa kamera. Sewaktu memotret sepasang pengantin baru itu, dia tak henti-hentinya memuji, "Beautiful... beautiful...."
Resepsi pernikahan berlangsung hingga larut malam. Hampir seluruh undangan yang hadir hendak memberi selamat kepada pengantin baru. Mereka terutama mengajak Kakek bersulang, mendesak Kakek agar menandaskan isi gelasnya yang berisi arak berkali-kali. Malam itu, Kakek minum sampai wajahnya berubah menjadi merah. 
Setelah pesta usai dan tamu-tamu pulang, para penghuni rumah juga pergi beristirahat. Sepasang pengantin baru dibiarkan melewatkan malam pertama di kamar pengantin yang berhias huruf-huruf shuangshi—kebahagiaan abadi. Malam itu, Kakek dan Cungho tertidur pulas sampai kira-kira pukul empat subuh, Cungho terbangun ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. 
Sambil terkantuk-kantuk, Cungho bangun sambil merapikan sedikit baju tidurnya. Suaminya masih meringkuk pulas dan Cungho tak berniat untuk membangunkannya. 
Suara ketukan masih terus berlanjut. Dan ketika Cungho membuka pintu, alangkah terkejutnya dia melihat sosok yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"I-ibu...?" Cungho berkata gugup. 
Nenek Buyut tersenyum penuh arti kepada menantu barunya itu. 
"Menantuku yang baik," ujar Nenek Buyut dengan penuh kelembutan. "Cukup sudah jadi raja dan ratu seharinya... sekarang sudah waktunya bangun...."
Mata Cungho membelalak menatap wajah Ibu Mertuanya seakan tak percaya. 
"Tetapi, bukankah hari masih gelap, Ibu?" tanyanya seraya melihat ke arah jam antik yang terpasang di dinding kamar. 
"Sekarang sudah jam empat subuh, Menantuku. Peraturan pertama di rumah ini adalah, kaum perempuan harus bangun sebelum matahari terbit."
Cungho tak dapat menyembunyikan keterkejutannya dengan menutup mulutnya dan membelalakkan matanya yang setengah mengantuk tadi .'Di rumahku dulu aku biasa baru bangun pukul tujuh pagi....' bisiknya dalam hati. 
"Tunggu apa lagi, Menantuku?" tanya Nenek Buyut seraya mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan Cungho. "Ayo lekas cuci mukamu dan ikut aku! Di belakang ada setumpuk pakaian kotor yang harus segera dicuci! Bergegaslah! Aku tak suka dengan wanita yang berlambat-lambat!"
Cungho tak berani membantah ataupun mengeluarkan nada protes. Dengan patuh dia menuruti perintah Ibu Mertuanya. 
Demikianlah, Cungho, yang di kemudian hari kukenal sebagai Nenekku dari pihak Ayah, memulai hari pertamanya di keluarga barunya. Dimana, suara ketukanlah yang membangunkannya dan setumpuk cucian telah menunggu.... *** 
Beberapa minggu setelah pernikahannya, barulah Cungho pelan-pelan memahami situasi keluarga barunya. 
Ayah Mertuanya seorang penyabar, pendiam serta tak banyak bicara. 
Yang agak sulit dihadapi Cungho justru adalah Ibu Mertuanya. Nenek Buyut termasuk tipe mertua kolot Tionghoa yang memegang prinsip bahwa seorang mertua berhak atas diri menantu perempuannya. Dia berhak memperlakukan menantu perempuannya itu dengan semena-mena, tanpa boleh dibantah. Orang kedua yang menurut Nenek cukup sulit dihadapi setelah ibu mertuanya adalah adik perempuan terkecil Kakek yang bernama Liming. Nenek memperhatikan kalau gadis cilik yang baru berusia tujuh tahun itu amat dimanja oleh Ayah-Ibunya. Kemungkinan karena Liming merupakan anak bungsu yang lahir menjelang masa tua orangtuanya. Namun terlalu memanjakan anak pengaruhnya juga kurang baik. Nenek melihat Liming tumbuh sebagai anak yang cengeng dan emosian, terlebih jika keinginannya sedang tidak dituruti. 
Beberapa hari setelah pernikahan Putranya, Nenek Buyut mulai tidak menyukai menantu barunya ini. Seperti yang telah diduga sebelumnya, putri penjahit kaya itu sama sekali belum pernah melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal yang paling sederhana pun seperti menjerang air dan membuat kopi tak bisa dilakukannya. Nenek Buyut pun mulai mengomeli Putranya.
"Lihat! Inilah gadis pilihanmu itu! Katanya lulusan dari Kau Cong Ti Yi Shiau! Tetapi tak satu pun dari ilmu yang diperolehnya di sekolah itu bermanfaat setelah dia menikah!"
Kakek diam mendengarkan. Sampai Ibunya selesai berbicara, barulah dia menyambung.
"Ibu kenapa berkata seperti itu? Cungho itu pintar dan terpelajar. Dia pernah belajar analek Konfucius dan fasih berbicara serta menulis Mandarin. Bukankah dulu Ibu sering memarahiku karena sering berbahasa Belanda dan Inggris, aku jadinya tak seperti pria Tionghoa lagi? Sekarang, aku telah memilih seorang istri yang amat mengerti dengan adat-budaya Tionghoa kita, pandai menulis kaligrafi, melukis serta menggubah puisi. Masih kurang apalagi? Kenapa Ibu terus-terusan mengkritiknya?" 
"Yang kurang dari istrimu adalah, dia tak bisa mengerjakan tugas-tugas rumah tangga seperti wanita pada umumnya!" cetus Nenek Buyut. "Tidak ada gunanya kalau sepasang tangannya diciptakan hanya untuk memegang kuas buat menulis dan melukis! Tidak bisa masak, mencuci, membersihkan rumah... Ibu benar-benar tak cocok dengan menantu seperti itu!"
Kakek mulai gusar dan membalas perkataan ibunya, "Semasa gadisnya, Istriku memang tidak pernah bekerja. Tetapi bukan berarti dia tak mau belajar. Ibu kan bisa mengajarinya pelan-pelan, lama-lama dia juga pasti bisa memasak mencuci dan lain sebagainya...."
"Mengajarinya?" Nenek Buyut menyindir. "Huh! Benar-benar...! Seperti kembali mengajar anak balita, padahal usia Istrimu itu sudah hampir duapuluh tahun!"
Demikianlah, setiap hari Nenek menghadapi segala hal yang belum pernah dialaminya semasa gadis dulu. Hampir setiap waktu Ibu Mertuanya itu mengomelinya. Kadang-kadang omelan itu berubah menjadi ceramah panjang yang diberikan oleh seorang dosen kepada mahasiswanya pada sebuah mata kuliah yang membosankan. Nenek berusaha melalui semua itu dengan sabar dan tegar. Beruntunglah dia senantiasa mendapat dukungan serta cinta kasih yang besar dari suaminya. 
Selain Kakek, masih ada tambahan satu orang penolong lagi bagi Nenek. Penolong itu adalah Leiho, adik perempuan Kakek yang diadopsi dua tahun sebelum Kakek dan Nenek menikah. Dia senantiasa membantu Nenek dalam kesulitan, khususnya jika Nenek habis dimarahi karena tidak mengerjakan tugasnya dengan benar. *** 
Sementara itu di rumah kediaman orangtua Nenek, Nyonya Besar Sithu berhari-hari merindukan Putrinya 
Semenjak menikah, Nenek baru pulang ke rumah orangtuanya sekali, yakni pada hari ketiga setelah pernikahannya. Ritual ini disebut 'berkunjung ke rumah orangtua tiga hari setelah malam pengantin'. Jika pengantin wanita tidak pulang pada hari tersebut, menurut adat, untuk seterusnya dia tidak akan diperkenankan masuk ke rumah orangtuanya lagi. 
Semakin hari, rasa rindu Nyonya Besar semakin besar. Apalagi akhir-akhir ini beliau jarang melihat menantuya lewat depan rumah sewaktu berangkat dan pulang kantor sehingga tak bisa menanyakan keadaan Putrinya. Nyonya Besar Sithu pun memutuskan untuk mengunjungi Putrinya itu. Pada suatu hari libur, dengan ditemani Putri Bungsunya, Nyonya Besar Sithu berangkat ke rumah Nenek. Setibanya di sana, Nyonya Besar amat terkejut melihat kondisi Nenek. 
Baru tiga bulan setelah pernikahannya, bobot tubuh Nenek telah menyusut secara drastis. Penampilannya yang dulu selalu modis dan rapi, kini acak-acakan dan lusuh. Sepasang tangannya yang dulu putih dan halus kini berubah menjadi kasar, pecah-pecah dan merah karena kutu air.
"Apa yang kau lakukan di sini sampai kondisimu seperti inii?" tanya Nyonya Besar Sithu.
Nenek yang sudah lama tak bertemu dengan Ibunya rasanya ingin sekali menangis dan berkeluh-kesah di pelukan wanita itu. Tetapi dikuatkannya hatinya. Dengan tegar Nenek berkata, "Ya, maklum. Di sini tidak ada pembantu. Jadi, segala sesuatunya masih harus dilakukan sendiri...."
Nyonya Besar Sithu segera berkata, "Kalau kau memang begitu sibuk, biar kukirim dua atau tiga orang pembantu kemari buat membantumu." 
Nenek terkejut. Ditatapnya wajah Nyonya Besar Sithu sambil memegang erat tangannya.
"Ibu jangan sekali-kali melakukan hal itu!" sahut Nenek panik. "Tindakan Ibu itu melangkahi wewenang Ibu Mertuaku. Nanti beliau tersinggung karena dianggap tidak mampu menyediakan pembantu."
"Ibu mengerti. Tetapi, lihatlah kondisimu. Mana mungkin kau bisa mengurus semua hal di rumah besar ini sendirian?"
"Ibu... ada pepatah lama Tionghoa lama yang mengatakan: 'menikah dengan anjing ikut anjing, menikah dengan orang miskin ikut orang miskin'. Sudah menjadi nasibku dipersunting oleh pria dari keluarga sederhana. Semua ini harus kujalani. Ibu jangan sekali-kali ikut campur.  
Nyonya Besar Sithu menghela napas. Dengan prihatin ditatapnya wajah Putrinya itu dalam-dalam.
"Baiklah kalau begitu...." Tatapan Nyonya Besar turun ke sepasang tangan Nenek. "Tetapi luka-luka di tanganmu ini harus diobati. Besok akan kusuruh seseorang untuk mengantarkan salep kulit buat dioleskan ke luka-luka ini." *** 
Beberapa bulan setelah pernikahan Putranya, Nenek Buyut punya kebiasaan baru. 
Setiap sore, beliau akan duduk di depan pintu rumah. Sambil memegang kipas dari anyaman daun bambu buat mengipas-ngipas, Nenek Buyut mulai berceloteh.
"Aku punya cerita... ada yang mau dengar tidak? Ini cerita tentang menantuku yang katanya wanita pintar dan terpelajar lulusan Kau Cong Ti Yi Shiau itu...."
Biasanya jika Nenek Buyut mulai berkata-kata seperti itu, para tetangga di kiri-kanan rumah mulai berdatangan dan berkumpul di depan rumah. 
"Hari ini kau punya cerita apalagi tentang Menantumu itu, Bibi Weng?" Seseorang akan menyelutuk di antara kerumunan itu. 
"Aih, hari ini dia melakukan kesalahan lagi. Tadi siang sewaktu memasak ikan, dia lupa membersihkan perut ikan tersebut dengan teliti sehingga ketika dimasak, empedunya pecah dan seluruh ikan terasa pahit. Ah, jadilah menu makan siang kami yang semula kukira pasti sangat lezat berubah menjadi pahit dan mengenaskan!"
Kerumunan orang itu tertawa. Nenek Weng melanjutkan ceritanya seperti pendongeng zaman baheula yang mampu menyihir telinga para pendengarnya.
"Saudara-saudaraku semua, biar kuberitahu satu hal. Lain kali jika hendak mencari menantu perempuan, pastikan dia bisa memasak dan mengurus rumah tangga. Jangan seperti Menantuku ini. Melihat air mendidih, dia tak tahu. Menanak nasi, banyak gosongnya. Belum lagi dia tak tahu bagaimana cara mencuci pakaian dan memegang sapu. Ah, rasanya masa tuaku bakal berlalu nestapa dengan menantu perempuan seperti itu tinggal bersamaku...."
"Tetapi Bibi Weng, bukankah Menantumu itu sangat pintar menulis kaligrafi, melukis dan menyulam?" tanya seseorang di antara kerumunan itu.
Nenek Weng yang tidak suka mendengar kelebihan-kelebihan Menantunya itu, membentak orang tersebut, "Kalau pintar semua itu, terus kenapa? Apa semua itu bisa membuat perut kenyang dan rumah menjadi bersih?"
Kerumunan orang itu kembali tertawa. 
Demikianlah kegiatan rutin Nenek Buyut setiap sore. Duduk-duduk di depan rumahnya sambil bercerita tentang kelakuan Menantunya seperti mengisahkan sebuah hikayat kuno. 
Lama-kelamaan, para tetangga yang biasa mendengar 'kisah di sore hari itu' mulai merasa bosan. Mereka menganggap Nenek Buyut melebih-lebihkan ceritanya dan selalu menyudutkan si Menantu Perempuan sebagai tokoh antagonis. Terlebih, mereka melihat sendiri si Menantu Perempuan, orangnya ramah dan patuh, tidak sekalipun dia mengeluh atau marah meski Ibu Mrtuanya sudah sering menjelek-jelekkannya di hadapan para tetangga. Perlahan-lahan para 'pendengar setia' Nenek Buyut itu menaruh simpati kepada si Menantu Perempuan. Pada suatu sore ketika Nenek Buyut mulai bercerita tentang keburukan menantunya seperti biasa, salah seorang di antara 'pendengar setia' itu membantahnya. 
"Bibi Weng, kau setiap hari bercerita tentang kejelekan Menantu Perempuanmu, apakah kau tidak merasa bosan?"
"Bosan?" Nenek Weng tertawa. "Tentu saja tidak! Hampir setiap hari aku menemukan kesalahan baru dalam dirinya yang menurutku pasti akan sangat menggelikan bila diceritakan...."
"Menurutku, yang menggelikan itu justru Anda sendiri Bibi Weng!" celetuk yang lain. 
"Hah? Kenapa bisa justru aku yang kau anggap lucu?"
"Ya, aku menganggap Anda menggelikan karena setiap sore bercerita tentang keburukan Menantu Perempuanmu itu. Tidakkah hal ini akan membuatnya benar-benar membencimu nanti jadinya? Apakah Anda senang bermusuhan dengan menantu sendiri, Bibi Weng?"
"Aku sependapat dengan kata-kata tadi." Seseorang yang lain membenarkan. "Selama ini aku belum melihat Menantumu itu bertingkah kurang ajar dan tak terpuji. Dia amat sabar serta patuh padamu. Kurang apalagi? Kamulah yang selama ini sengaja mencari-cari kesalahannya!"
Nenek Buyut tak senang. Beliau protes. 
"Hei, hei, hei... apa-apaan ini? Kenapa sekarang kalian yang seakan-akan berbalik hendak menyalahkanku?"
Salah seorang di antara 'pendengar setia' itu bangkit berdiri dan berkata lantang kepada Nenek Buyut, "Karena kami semua kasihan dengan Menantumu itu! Selain itu, kami juga sudah muak dengan segala kisah tentang dirinya!"
"Aneh sekali kalian hari ini, merasa iba padanya dan tidak berada di pihakku. Tahukanh kalian? Dia itu tak pantas dikasihani!" 
"Bibi Weng, kau harus sadar! Lama-lama, Menantumu bisa jatuh sakit kalau kau terus-menerus menekannya dengan seperti ini!"
"Kalau dia jatuh sakit, lantas kenapa? Dia kan menantuku, jadi... suka-suka aku mau bagaimana terhadapnya!" 
Orang yang mendebat Nenek Buyut itu merasa gusar bukan main, dan akhirnya mengeluarkan kata-kata penghabisan. "Dasar kau memang Bibi Tua yang galak dan keras kepala!"
"Apa katamu?" Nenek Buyut naik pitam.
Para 'pendengar setia' di kerumunan itu pelan-pelan membubarkan diri sambil mengomeli Nenek Buyut. Dengan perasaan kesal, Nenek Buyut masuk ke dalam rumah. Kebetulan dari ruang dalam, Nenek Chungho barusan muncul dan berpapasan dengannya. 
Nenek Buyut melihat Menantunya itu dengan sorot mata kesal sambil bertanya, "Kamu habis beri jampi-jampi apa para tetangga itu?"
Alis Nenek berkerut. Dia sama sekali tidak tahu kalau pertemuan sore hari itu berakhir ricuh. Maka dengan heran Nenek berkata, "Maksud Ibu apa? Aku tidak mengerti."
"Kamu habis beri jampi-jampi apa pada para tetangga itu? Kenapa hari ini mereka semua membelamu dan mengataiku 'Bibi Tua Galak-Keras Kepala'?"
Nenek masih belum memahami perkataan mertuanya itu. Nenek Buyut mendengus keras, maninggalkan menantunya yang masih terbengong-bengong. *** 
Puluhan tahun kemudian, Nenek masih bisa hidup bersama Ibu Mertuanya itu dalam satu rumah. 
Hubungan antara manusia bisa dibilang cukup unik. Ketika muda, hubungan antara Nenek dengan Ibu Mertuanya tidak terlalu baik, namun setelah masa tuanya, justru Ibu Mertuanya ini menjadi salah satu teman terbaiknya. Kalau dulu Nenek Buyut sering mencari-cari kesalahan Nenek, kini beliau dengan sukacita akan membela Nenek walau tanpa diminta sekalipun. 
Kadang-kadang sahabat terbaik yang paling mengerti kita justru adalah orang yang selama ini kita anggap sebagai musuh. 
Ketika tiba masanya putra-putra Nenek menikah dan Nenek sudah mulai menjadi seorang ibu mertua, dia sama sekali tidak pernah menerapkan cara-cara yang dulu diterapkan Nenek Buyut kepadanya.
Kadang-kadang Nenek Buyut menasihatinya, "Kau terlalu lembek dengan menantu-menantumu. Seharusnya kau memakai cara-cara seperti aku dulu. Itu bisa jadi semacam 'langkah pencegahan' sebelum mereka bertindak semau-maunya terhadapmu. Lagipula sekaranglah saatnya kamu membalas semua yang dulu kulakukan kepadamu terhadap mereka!"
'Oh, jadi semacam ajang balas dendam, begitu?' pikir Nenek. Tetapi Nenek menolak dan tidak pernah melakukan hal itu. Menurutnya tidakan pembalasan semacam itu harus dihentikan. Jika tidak, nantinya akan menjadi lingkaran setan! 
Nenek Buyut dianugerahi kesehatan yang baik dan umur panjang. Pada awal bulan September 1978, kesehatannya tiba-tiba memburuk dan beliau terbaring koma selama beberapa hari. 
Ketika kesadaran beliau sedang baik, beliau sempat memanggil menantu-menantu Nenek untuk berkumpul. Kepada cucu-cucu menantunya itu, Nenek Buyut berpesan:
"Kalian harus menghormati Ibu Mertua kalian itu. Dia sangat baik, tidak memperlakukan kalian seperti aku memperlakukannya dulu..."
Nenek Buyut meninggal pada suatu sore di penghujung bulan September tahun itu. Beliau menutup mata dengan tenang menyusul kepergian suami dan putra satu-satunya yang telah pergi mendahuluinya beberapa tahun sebelumnya.
Sepengetahuanku, sampai hari dimana aku menyelesaikan tulisan ini, beliau baru satu-satunya orang dari keluarga Ayahku yang dianugerahi umur panjang. 
Usia wanita yang dulunya sering dipanggil Bibi Weng itu ketika meninggal adalah sembilan puluh satu tahun! *** 
Dua tahun kemudian, pada bulan Mei 1980, salah satu putra Nenek Cungho, yakni Ayahku, menikah. 
Ketika Ibu mulai menjadi anggota keluarga Ayah yang baru, cerita tentang Nenek Buyut dan menantu perempuannya itu kembali dikisahkan untuknya.... ©

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger