Minggu, 26 Juni 2011

Jakarta : Pusat Bisnis Nasional Indonesia

Jalan Raya Thamrin-Sudirman
Untuk mengenal Jakarta Anda harus menjelajahi jalanan utamanya. Pusat bisnis Jakarta berada di jalan raya The Avenue Sudirman-Thamrin dengan bangunan pencakar lagit di kedua sisinya. Disinilah bank Sentral Indonesia, Bank Indonesia, dan sebagian besar bank-bank besar bermarkas. Sudirman dari Thamrin dipisahkan oleh  air mancur dingin yang terletak di bundaran, yang dikelilingi oleh landmark Hotel Indonesia dan Wisma Nusantara, bangunan tinggi pertama di Jakarta. Bundaran Hotel Indonesia saat ini merupakan lokasi yang disukai untuk demonstrasi publik,  dikarenakan  lalu lintas yang sibuk terus menerus beredar di sini. Sepanjang jalan utama ini juga terdapat sejumlah hotel teratas Jakarta seperti: Hotel Indonesia Kempinski, the Grand Hyatt, the Nikko Jakarta, the Sari Pacific, the Grand Sahid Jaya, and  the Meridien. Pusat perbelanjaan top Indonesia juga berada di sini. Ada Plaza Indonesia dan Grand Indonesia. Di belakang bagunana ini adalah pusat grosir tekstil Tanah Abang, sedangkan di seberang jalan ini adalah Sudirman Square, tempat di mana Pacific Place dan gedung-gedung keuangan berada.
Disepanjang jalan Sudirman merupakan tempat pusat olah raga senayan berada, area olah raga ini dibangun oleh presiden Indonesia pertama, Soekarno, tahun 1962 untuk menyelenggarakan Ganefo ( pertandingan New Emergging Force) dan alasan dibagunya jalan Sudirman-Thamrin. Disini juga terletak Jakarta Convetion Center, tempat konvensi dan pemeran Internasional.
Merdeka Square
Jalanan Sudirman-Thamrin mengarah ke Merdeka Square, di mana di tengahnya berdiri Monumen Nasional yang merupakan tempat bendera merah-putih pertama dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 berada . Bendera ini kini menjadi usang, dan hanya diambil keluar untuk menemani bendera replika yang akan dikibarkan pada upacara kemerdekaan di depan Istana Merdeka. Monumen Nasional yang memiliki tinggi 137 meter  ini berbentuk obelisk, dan di atasnya terdapat bentuk api perunggu 14,5 meter dilapisi dengan 32 kilogram daun emas. Di dalam Museum terdapat sebuah diorama yang menggambarkan perjuangan Indonesia untuk merdeka serta teks asli Proklamasi Kemerdekaan. Lift membawa pengunjung ke bagian atas untuk melihat pemandangan luas Jakarta.
Di sekeliling Monumen saat ini adalah taman dengan air mancur bermusik, dinikmati oleh penduduk Jakarta pada hari minggu untuk berolahraga dan rekreasi. Rusa berkeliaran di sepanjang pepohonan rindang di dalam taman.
Merdeka Square adalah pusat bangunan-bangunan paling penting pemerintahan. Selama zaman kolonial belAnda tempat ini adalah pusat pemerintahan, dikenal dengan Koningsplein atau King’s Square. Bagian Utara didominasi oleh Istana Merdeka yang dahulunya merupakan rumah Gubernur Gendral BelAnda, yang sekarang juga merupakan kantor Kepresidenan dan Kabinet. Ke arah selatan adalah kantor wakil Presiden, gedung Gubernur Jakarta dan Parlemen keprovinsian, dan juga kedutaan besar Amerika, sedangakan di bagian Timur adalah Museum Nasional, Makamah Agung, Departemen Pariwisata dan Budaya dan kantor Indosat, perusahaan telekomunikasi internasional pertama Indonesia.
Lapangan Banteng
Diatas  jalan Merdeka Square terletak bangunan utama kolonial BelAnda dibangun dalam gaya neoklasik pada abad ke-19, yang mencakup bangunan sekitar Lapangan Banteng, atau Banteng Square, yang saat ini merupakan Departemen Keuangan, Katedral Katolik neo-gothic yang  bersebelahan dengan sekolah khusus wanita Sancta Ursula, dan ke bawah jalan terdapat Kementerian Luar Negeri dan gereja Protestan Imanuel yang menghadap stasiun utama Jakarta Gambir.
Di seberang jalan ke Katedral Jakarta berdiri masjid terbesar Jakarta, Masjid Istiqlal. Di dekatnya adalah Concert Hall dan  gedung perbelanjaan dengan gaya kolonial disebut Pasar Baru, dahulu menjadi tempat yang paling dipilih oleh  para elite BelAnda. Pada abad ke 18, BelAnda dikenal sebagai "Ratu Timur".
Batavia Lama
Dibelakang Istana Presiden adalah kanal yang mengalir ke utara melewati gedung Arsip lama ke Batavia lama, yang dahulu tempat perusahaan Hindia BelAnda , VOC, dibagun oleh Gubernur Jendral Jan Peterszoon Coen pada abad ke 17. Renovasi masih terus dilakukan untuk mempertahankan area kota bersejarah ini yang didominasi oleh Balai kota atau bangunan kota yang saat ini merupakan Gedung Museum Sejarah Jakarta. Di depan Museum adalah pusat pertokoan yang saat ini bernama Fatahilla Square, setelah Sultan Fatahilla,pendiri pelauhan ini yang sebelum kedatangan BelAnda mengancurkan pelabuhan yang lama pada 22 Juni 1527 dan dinamakan kembali mejadi Jayakararta, kota kemenangan. Fatahilla dikelilingi oleh gedung penting pemerintahan belAnda dahulu yang saat ini menjadi Museum, diantaranya adalah Museum Kesenian, Museum Wayang dan Museum Batik Mandiri.
 Lebih jauh ke bawah adalah pelabuhan tua bernama Sunda Kelapa, di masa jayanya merupakan pelabuhan berkembang untuk perdagangan Timur seperti  cengkeh, pala dan lada, cendana, sutra dan banyak lagi. Anda masih bisa mengagumi kapal layar megah Bugis Phinisi yang masih berjangkar dimana orang-orang masih membawa muatanan mereka keseluruh kepulauan. Batavia Marina baru telah dibangun dekat pelabuhan ini. Tidak jauh berdiri Gudang tua dimana saat ini berdiri Museum Maritim.
Saat ini, lokasi lama kota Batavia merupakan distrik bisnis orang-orang cina, tapi sebagian besar tempat ini dimodernkan dengan pusat-pusat perbelanjaan dan hotel-hotel.

Gedung Perwakilan Rakyat 
Daerah penting lainnya di Jakarta Pusat adalah Jalan Gatot Subroto, di mana berdiri gedung Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia, dan Jalan Rasuna Said, lokasi sejumlah Kedutaan Asing.
Di Square Mega Kuningan terletak kantor bisnis dan keuangan, sejumlah Kedutaan Besar, dan hotel mewah Marriott Hotel dan Ritz Carlton. Sementara di seberang jalan adalah Ambassador mall yang sering dikunjungi oleh staf kantor yang berlokasi di Mega Kuningan. Di jalan Casablanca  dalam kota kuningan yang masih dalam pembangunan  akan bersaing dalam desain, kenyamanan dan kemewahan dengan kota-kota seperti Singapura dan Kuala Lumpur.

Saat ini Jakarta  terus berkembang kesegala arah dan kota mertopolis ini terdiri dari kelompok-kelompok pribadi yang terhubung di erea pemukiman, pusat rekresi dan belanja, jadi sangat penting untuk dicatat di area mana seseorang berada.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger