Jumat, 29 April 2011

Tak Ada yang Berubah By. T. Sandi Situmorang

Lampu merah lagi. Nana mengumpat kesal dalam hati. Diturunkannya kaca mobil setengah, untuk mengurangi panas di mobil. Dia menggerutu panjang pendek. Bakalan telat lagi, nih! Padahal minggu lalu dia juga terlambat untuk mata kuliah yang satu ini. Sehingga dengan terpaksa ia mengikuti kuliah Kewiraan dari luar kelas. 
"Majalah, Mbak!" 
Nana tersentak kaget. Hampir dia memaki cowok penjual majalah dan koran di lampu merah itu, kalau saja dia tidak melihat tampang cowok itu. 
"Jeff...?" desis Nana ragu. Kekucelan cowok itu sedikit meragukannya. 
Cowok itu menatap sesaat. Lalu tergesa meninggalkan mobil Nana. Hal itu semakin meyakinkan Nana, kalau cowok itu memang Jeff. Tapi, kenapa penampilan Jeff begitu berbeda? Kurus, hitam, dan tidak terawat. Dua tahun memang bukan waktu yang singkat. Rentang waktu selama itu bisa mengubah penampilan seseorang. Tapi tidak sedrastis itu. 
"Jeff! Jeff!" teriak Nana, mengeluarkan separuh badan dari mobil. 
Jeff menoleh saja tidak. Justru langkahnya semakin lebar. Sayang sudah lampu hijau. Kalau tidak, Nana akan nekat mengejar. *** 
 Siang ini, Nana tak ada mata kuliah. Dia putuskan untuk datang lagi ke perempatan kemarin. Agar lebih gampang, sengaja dia tidak membawa mobil. Semalaman Nana tidak bisa tidur. Pertemuan dengan Jeff kemarin telah membangkitkan kenangan lama yang dengan susah payah dia timpa di dasar hati. Pertemuan tak terduga itu, telah mengobrak-abrik semuanya. 
Siapa sangka mereka justru bertemu di sini. Saat Jeff menghilang, seluruh pelosok Bandung sudah dia jelajahi. Pantas tidak ketemu. Karena ternyata Jeff ada di Medan. 
Nana berbaur di antara pedagang asongan yang banyak itu. Matanya jelalatan mencari Jeff. Matahari tepat berada di atas kepala. Tapi Nana tak peduli, asal dapat bertemu dengan Jeff. 
Nah, itu dia! 
Langkah Nana lebar. Jeff berdiri di pinggir jalan dengan tumpukan majalah dan Koran di tangan. Menunggu lampu merah tiba. Lalu akan bergerak cepat menjajakan dagangan dari mobil ke mobil begitu lampu kuning berganti merah. 
Sekarang Jeff ada di depannya. Lampu merah. Nana urung memanggil. Dia perhatikan Jeff menawarkan dagangan ke beberapa mobil yang kacanya terbuka. Bukan membeli, justru kaca itu semakin menutup penuh. 
Tak satu dagangan yang laku terjual. Jeff mengusap peluh di wajahnya yang hitam. Tersentuh hati Nana. Dia tahu siapa Jeff, cowok pemalu yang tak biasa hidup keras dan susah. 
"Jeff!" 
Jeff menatap Nana. Mengernyit sesaat lalu buang muka. Langkahnya berbalik menjauhi Nana. 
Nana mengejar dari belakang. "Jeff!" 
Disentuhnya pundak Jeff dari belakang. 
Cowok itu berbalik menatapnya. 
"Maaf, kamu salah orang. Aku bukan Jeff." 
"Kalau bukan Jeff, lalu kamu siapa?" 
"Kurasa itu bukan urusanmu," ujarnya tanpa menatap Nana. Dia berbalik lalu berjalan. 
"Kamu pengecut, Jeff! Pergi tanpa pamit. Lalu sekarang, kamu pura-pura tak kenal sama aku. Apa salahku?" teriak Nana parau. 
Di luar dugaan, Jeff berhenti. Berbalik menatap Nana. 
"Kamu tidak punya salah. Aku juga tak bersalah. Keadaanlah yang memaksaku harus pergi," pelan suara Jeff.
Mereka duduk di halte tidak jauh dari lampu merah. 
"Berarti kamu tidak mengenal aku seutuhnya. Perbuatan Papamu itu tak akan mengubah hubungan kita." 
"Bagimu mungkin. Tapi tidak dengan keluargamu, Na!" 
"Apa maksudmu?" 
"Lupakan saja." 
"Jangan membuatku bingung, Jeff!" 
"Tak ada gunanya, Na! Jika kukatakan, tak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi." 
"Setidaknya bisa membuatku mengerti mengapa kamu pergi tanpa pamit." 
"Aku tak ingin mengingat semua itu lagi. Bagiku itu merupakan masa lalu yang sudah terkubur dalam-dalam." 
Miris hati Nana mendengar. Tragis sekali. Bagi Jeff dirinya hanya masa lalu yang sudah terkubur, sementara dia selalu mengais-ngais masa lalu itu. Berharap suatu hari mereka kembali bertemu. 
"Semudah itu kamu melupakanku?" 
"Sudah jauh berbeda, Na. Lihat saja, aku bagai gelandangan dekil. Sementara kamu bagai putri raja." 
"Semua mungkin sudah berubah. Tapi tidak dengan hatiku." 
"Waktu akan mengubah segalanya." 
"Tak akan ada yang mampu mengubahnya." 
Jeff menghela napas. Mencintai Nana adalah hal yang sangat menyenangkan, dan memiliki cinta gadis itu merupakan hal terindah dalam hidupnya. 
Tapi itu dulu. Sebelum semuanya berubah. 
Bukan salah orang tua Nana jika menentang hubungan mereka. Juga bukan salah Papa karena memanipulasi uang perusahaan, yang menyebabkan Jeff menjadi hina di mata siapa saja. 
Jeff tak berhak menghakimi Papa. Sudah begitu banyak orang yang menghakimi Papa. Apalagi Papa sudah menebus dengan masuk bui. Lalu berpulang, dan pergi selama-lamanya ke rahmatullah. Sungguh, hidup menderita di penjara telah memendekkan usianya. Mungkin. Entahlah, tapi dia yakin itulah sebentuk penebusan atas kesalahan dan dosa-dosa masa lalunya. Namun, juga bukan salah Mama, jika memilih mengakhiri hidup dan meninggalkan Jeff sendirian, daripada melarat dan malu. 
Bukan salah siapa-siapa. Kalau ada yang harus disalahkan, mungkin cintanya yang salah berlabuh. 
Dia dan Nana memang sudah tidak sebanding. Tapi mereka coba abaikan itu. Hingga ayah Nana merasa perlu turun tangan. Dengan wajah memelas memohon. "Tolong tinggalkan Nana. Dia anak Oom satu-satunya. Jadi Oom ingin dia mendapat pria yang pantas dan sepadan dengannya." 
Jeff tak berhak tersinggung. Untuk sakit hati saja dia tak pantas. Karena benar yang dikatakan ayah Nana. Tapi Jeff masih punya harga diri. Dan dia harus menyelamatkannya, karena hanya itulah yang dia miliki. 
Kebersamaan memang kebahagiaan. Jika mereka tetap bersama, Jeff hanya akan memberi kesedihan bagi Nana, di suatu hari nanti. Jika memang perpisahan akan membuat Nana kelak bahagia, Jeff memilih untuk pergi. Diam-diam. Tanpa ada kata perpisahan, juga penjelasan mengapa dia harus memilih jalan itu. 
Semua sudah berakhir. Yang tersisa hanyalah setumpuk masa lalu yang terlalu sakit untuk dikenang, tapi terlalu manis untuk dicampakkan. 
"Aku sayang kamu, Jeff! Selalu dan untuk selamanya." 
Jeff menggeleng dengan pandangan miris. 
"Jangan ucapkan itu, Na. terlalu sakit buatku." 
"Kenapa?" 
Jeff menggeleng. Mundur tiga langkah, lantas berbalik dan berjalan tergesa meninggalkan Nana. *** 
Lebih seminggu Nana tak lagi pernah melihat Jeff berjualan di lampu merah tempatnya biasa berjualan. 
Pikiran Nana mulai tidak enak. Memikirkan hal buruk yang bisa saja terjadi pada Jeff. 
"Kamu kenal Jeff?" Nana bertanya pada seorang penjual rokok di lampu merah itu. 
"Yang tinggi hitam itu?" 
"Yang kurusan," tambah Nana setelah mengangguk. "Kamu ada lihat dia?" 
Cowok remaja itu menggeleng. 
"Kamu tahu rumahnya?" 
"Dia kos di Juanda. Dekat jembatan itu." 
"Bisa antar saya?" 
"Mbak siapanya?" 
"Saya temannya di Bandung dulu." 
Cowok remaja itu membulatkan bibir dan mengangguk.
Mereka hanya berjalan kaki. Karena katanya tempat kos Jeff tidak jauh dari situ. Lagipula jalannya sempit dan becek, sehingga mobil tidak bisa masuk. 
Mereka melewati rumah-rumah kecil dan kumuh. Tiang-tiang jemuran melintang tak teratur. Beberapa bocah bertelanjang dada penuh ingus di hidung, saling berlarian. 
"Masih jauh?" 
"Itu rumahnya. Yang cat hijau." 
"Yang paling pinggir?" Mengernyit kening Nana. Rumah yang dimaksud cowok remaja itu tidak layak disebut rumah, tapi lebih pantas disebut gubuk. Agaknya rumah itu juga merupakan rumah paling jelek dari rumah jelek lainnya. 
"Perlu saya tunggu, Mbak?" 
Nana mengangguk. Dia merasa tidak nyaman berada sendirian di tempat seperti itu. 
"Assalamu'alaikum!" 
Tidak ada sahutan. Nana mengetuk pintu berbahan tripleks itu pelan. 
Sepi. 
Nana menoleh ke belakang. Ke tempat cowok remaja itu berdiri. "Benar ini rumahnya?" 
"Benar, Mbak! Coba panggil lebih keras." 
"Assalamu'...." 
"Cari siapa?" Belum usai salam Nana, seorang ibu separo baya keluar dari rumah sebelah. 
"Ada Jeff, Bu?" 
Wanita itu menatap Nana dengan mata memicing. Membuat Nana berdiri semakin kikuk. 
"Benar ini tempat kos Jeff, Bu?" ulang Nana memastikan. 
"Jeff sudah pergi seminggu yang lalu." 
Nana tercekat. "Pergi ke mana?" 
"Ibu kurang tahu. Tapi dia bilang, ingin mengadu nasib ke Batam atau Jakarta." 
Lemas seluruh tubuh Nana. Untuk kedua kalinya Jeff pergi tanpa kata perpisahan. Teganya! Padahal, asanya yang selama ini sudah berkarat, baru saja diasahnya kembali. Tapi ternyata.... 
Setelah mengucapkan kata permisi, Nana berbalik langkah. Sekuat hati, dia menahan agar tangisnya tak tumpah. 
"Nak, tunggu dulu!" Wanita itu menahan langkah Nana. "Sepertinya Ibu sering melihatmu. Tapi entah di mana," gumamnya, berpikir keras, lantas mengambil sebuah kunci dari balik bajunya yang usang. 
"Kemari, Nak!" panggilnya setelah membuka pintu kamar kos Jeff.
Nana melangkah masuk. Matanya terbelalak. Foto-fotonya yang dia berikan pada Jeff sewaktu di Bandung, tertempel di segala sisi. 
"Ini foto-fotomu, kan?" 
Nana hanya mengangguk. 
"Jeff pernah bercerita, karena gadis di foto inilah dia tetap semangat untuk hidup." 
"Tapi kenapa dia pergi lagi?" serak suara Nana. 
"Ibu juga heran. Jeff pergi begitu tiba-tiba. Ketika Ibu tanya kenapa dia tidak membawa foto-foto ini, dia bilang: dia pergi untuk melupakannya. Karena dia semakin sadar, katanya, untuk kembali memiliki gadis itu hanyalah bagai mengharap bintang di langit." 
Nana terisak. Berkelebat bayangan wajah Jeff di matanya. Tak ada yang berubah, Jeff. Andai saja kamu terbuka padaku, rintih Nana dalam hati. 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger