Sabtu, 30 April 2011

Seren Ade Toselli By. Ade Tenu

Warna langit mulai berubah. Perlahan-lahan malam datang. Tapi tetap saja tak membuat hati Desta tergerak. Tetap diam memandang ke luar tanpa fokus yang jelas.
Tuhan, rintih gadis itu pilu. Untuk apa kulakukan semua ini?
Seharusnya semua sudah kusadari sejak awal, batin Desta nelangsa. Segalanya suatu saat akan berubah, jika kami bertemu lagi. Bahkan mungkin juga dengan impian-impiannya!
Tapi tak pernah kukira akan seperti ini, gumam gadis itu sedih. Bagaimana mungkin dia tak mengenaliku? Jangankan menyapa, sikapnya tadi itu seperti orang asing terhadapku!
Bagaimana ini....
Padahal, saat-saat seperti ini, sudah kutunggu ratusan hari. Suatu saat akan kujadikan impianku kenyataan. Berduet dengannya. Dengan lagu itu juga. Seperti dulu!
Seperti saat pertama dia datang. Mengenalkanku 'dunia' ini, batin gadis itu giris. Menggerakkan jari-jariku di atas tuts piano. Mengenalkanku berbagai lagu.
Desta mengeluh pelan.
Aku tak mengerti, dia bisa melupakan segalanya. Bahkan juga dengan lagu kenangan kami.***
"Apa yang kau pikirkan?"
Desta terdiam. Tanpa berpaling pun, dia tahu sosok yang berada di balik punggungnya. Ella.
"Dede?"
"Tahu dari siapa aku di sini?"
Ella tertawa.
"Di mana lagi sih, tempat strategis menurutmu?" Ella tersenyum. "Aku mengenalmu, De."
Desta tersenyum kecut. Gadis itu berpaling menatap sahabatnya, penuh permohonan.
Ella menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tak peduli kau suka atau tidak, aku akan tetap di sini!"
"El, aku...."
"Dia lagi?"
"El?"
"Kenapa sih, kau mencari mati sendiri?" keluh Ella, sambil menatap sahabatnya giris. "Seharusnya kau tinggal di Malang, bersama keluargamu. Hingga tak perlu memikirkan si Pembuat Onar itu!" ujar gadis itu marah. "Tapi kau membandel. Ngotot rumah ini tak perlu dijual. Apa kau pikir, kau bisa hidup sendirian?"
Desta menghela napas berat. Tanpa mempedulikan kemarahan sahabatnya, dia berjalan. Menghampiri piano di sudut ruangan. Membuka jendelanya lebar-lebar, agar angin malam bisa masuk.
Hari-hari biasa, jika sedang main piano, dia tak pernah membiarkan jendela terbuka. Kecuali jika pemandangan di sekitarnya sedang bagus. Tapi kali ini dia ingin membukanya. Mungkin dengan begitu, sedikit demi sedikit, semua bebannya akan menghilang!
Desta duduk dan mulai menggerakkan jari-jarinya. Pertama-tama lagu kenangannya. 'Always In My Heart'-nya Lecuona. Semua kenangan berputar dalam otaknya. Dia menggigit bibir, berusaha menahan kristal bening dari matanya. Tapi semuanya tetap saja tak berguna. Matanya tak bisa diajak kompromi. Tetes demi tetes bergulir jatuh membasahi tangannya.
Desta mulai konsentrasi lagi, setelah sebelum tangannya menghapus kristal bening dari matanya. Lagu berikutnya sudah terdengar. Kali ini 'And I Love You So'-nya McLean. Terus disusul dengan 'Ingin Menangis'-nya Rachmaninoff, 'Estudiantira'-nya Leoncavallo, Puccini, Verdi, Offenbach, La Vie En Rose, dan lain-lain.
Desta terus seperti itu, tenggelam dalam permainannya, sampai kemudian sapaan Ella membuyarkan konsentrasinya. Dia berpaling. Dilihatnya Ella berdiri menyender pada tembok pembatas ruangan dengan mata sembab.
"Ella?"
Gadis itu tersenyum. Menyusut airmatanya.
"Aku terharu, De. Aku tak mengira kau bisa bermain sebagus itu."
Desta beranjak dari kursi pianonya. Berjalan menghampiri jendela, dan menutupnya.
"Lagu yang pertama tadi... itu salah satu kenanganku dengannya."
"De?" Ella menatap gadis itu cemas.
"Aku tak apa-apa." Desta tersenyum giris. "Akan kutunggu sampai dia melihat ke arahku lagi. Seperti dulu," desisnya pilu.***
 Tergesa-gesa Beni berlari menuju ruangan aula.
Ah. Semoga saja gadis itu belum datang, harap cowok itu bercampur kecemasan. Dia tak ingin sengaja menghindari, jika bukan karena terpaksa. Bagaimanapun ini semua juga menyiksanya. Tapi tak ada jalan lain. Kecelakaan itu sudah menghapuskan impiannya. Kehilangan orangtuanya dia pikir sudah cukup. Tapi ternyata Sang Pencipta berkehendak lain. Urat syaraf tangannya putus! Vonis dijatuhkan. Dia harus berhenti bermain piano! Berhenti bermimpi jadi seorang pianis, bahkan juga bermimpi untuk....
Kalau akhirnya dia berani kembali, itu karena dia mendengar, keluarga gadis itu pindah ke Malang sebulan yang lalu. Siapa nyana, jika kemudian ternyata gadis itu memilih tetap tinggal!
Beni mengeluh putus asa.
Bertemu gadis itu lagi, membuat pertahanannya hancur. Apalagi jika melihat gadis itu bermain, dengan lagu itu!***
"Ren, ini proposal...."
Suaranya terhenti tiba-tiba. Dia berdiri di depan pintu dengan wajah pucat. Dan itu bukan karena telunjuk Rendi di bibirnya, tapi itu karena lagu yang berkumandang memenuhi ruangan aula ini. Lagu yang amat sangat dikenalnya. 'Serenade'-nya Enrico Toselli.
Beni berpaling cepat, menyadari matanya menghangat tiba-tiba. Suruhan temannya itu untuk duduk, hanya dijawabnya dengan senyum.
Tuhan, rintihnya pelan. Seharusnya dia tahu, hal ini pasti terjadi. Tapi....
Tepukan tangan teman-temannya menyadarkannya. Tapi sudah terlambat untuk menghindar! Gadis itu terlanjur melihatnya.
"Masuk, Ben."
Beni mengangguk pelan. Meletakkan proposal di tangannya ke tangan Rendi. Dia tersenyum lega mendapati cowok itu menatapnya sambil mengangguk puas.
"Jadi Pak Sigit menyetujuinya?"
"Ya."
"Apa kubilang, Ren. Kalau Beni yang mengajukannya pasti beliau setuju." Arga tersenyum mengomentari.
"Kalian bisa aja deh." Beni tersenyum malu. "Nah, sekarang aku pulang dulu, ya."
"Nggak sama-sama aja, Ben?"
Beni menggeleng.
'Semakin lama aku di sini, membuatku semakin menderita....'
Dia tersenyum, dan cepat-cepat menghambur keluar, sebelum matanya pun ikut basah. Sejenak tadi, sempat ditangkapnya mata gadis itu menatapnya sedih.
Beni meraba hatinya. Perih!
Maaf, Ta! Bagaimanapun sulitnya, aku harus belajar melupakanmu. Di dekatmu, aku hanya akan menyesali tanganku.***
"Ayo dong, Ta. Punggungku sudah sakit, nih."
"Iya. Etta tahu. Sebentar lagi, Beng."
Cowok itu merintih menahan sakit. Dia memijit-mijit punggungnya, setelah kaki gadis itu berlalu dari sana.
"Ayo, Beng... ajarin Etta lagi."
Beni menurut. Tangan-tangan mungil gadis itu dibimbingnya. Pelan-pelan, dituntunnya untuk menekan tuts piano. Dan mengajarinya bermacam-macam lagu.
"Etta, lagu 'Always in My Heart' ini kesukaanku. Jadi kamu harus mempelajarinya baik-baik, ya?"
Desta mengangguk.
"Nanti, jika kita sudah mahir main piano, kita bikin konser berdua ya, Beng? Dengan lagu itu. Tapi Etta juga ingin memainkan 'Serenade'-nya Toselli. Seperti lagu di kotak musik yang Ibeng kasih ke Etta. Setuju?!" Etta mengulurkan kelingkingnya.
Beni tersenyum. Sambil mengangguk, jari kelingkingnya menyambut uluran jari gadis itu.
"Kalau Ibeng pindah bagaimana?"
Desta terkejut. Dia menatap dengan mimik tak percaya.
"Etta, kok bengong, sih."
"Memangnya mau pindah?"
Beni mengangguk.
"Kata Papa." Cowok itu menjelaskan. "Tapi Ibeng nggak tahu kapan perginya."
Gadis itu termenung, dan kemudian tersenyum.
"Kalau begitu, nanti Ibeng kembali aja ke sini. Trus, kita bikin konser. Mau, kan?"***
Desta duduk diam di kursi belajarnya. Memperhatikan music-box berbentuk paviliun musim panas dengan nama 'Cotillion'. Dinding-dindingnya dari kaca, dan di tengah ruangannya terdapat sepasang kekasih yang tengah melantai. Judul lagunya 'Over The Waves'. Salah satu dari dua kotak musik pemberian Beni.
Gadis itu menyapu ke samping 'Cotillion'. Tangannya mengangkat music-box itu dengan lembut, dan memutarnya. Serenade Toselli mulai terdengar, bersamaan dengan bergeraknya tikus-tikus kecil di dalamnya, yang mengitari lampu-lampu.
Bibirnya bergerak, mengikuti irama lagu itu.
"All too soon, your love was gone... too soon...."
Beng... bagaimana mungkin aku melupakanmu? Barang pemberianmu saja masih kurawat dengan baik. Kemarin kau pasti mendengarnya, kan?
Aku masih terus berharap, Beng. Sampai kapan pun, akan kutunggu. Aku tak akan pernah menyesal, karena harus menunggumu.
Deritan pintu terdengar. Desta memicingkan mata melihat siapa yang datang.
"Bad news?" Desta bertanya tak semangat.
Gadis itu menjawab dengan tersenyum. Tangannya melambai-lambaikan sehelai kertas.
"Apa itu?"
Gadis itu tak menjawab. Dia malah meletakkan kertas itu di depan sahabatnya.
"Kita harus merayakannya."
Desta menggeleng lemah. Dengan tangan kiri menggenggam karcis pertunjukannya, dia berdesis pilu. "Sudah tak berguna lagi."
Ella melotot marah. Dia merebut karcis itu dari tangan Desta.
"Jangan katakan kau membatalkannya! Aku berjanji tak akan pernah memaafkanmu, jika kau melakukannya!"
"Ella?"
"Kita berdua sudah susah payah memohon, kan? Mereka juga! Tolong jangan kecewakan aku, deh," pinta Ella.
"Itu impian kamu, El."
Ella menatap Desta gemas. Ya, Tuhan... mau sampai kapan gadis ini menunggunya?
"Tapi dia sudah tak mung...." Ella mendekap mulutnya. Memandang sahabatnya itu serba salah. Bagaimana mengatakan padamu, De. Bagaimana....
"Apa yang baru saja kau ucapkan?!"
Ella tersentak.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku, El?!"
Ella mengibaskan tangannya putus asa. "Sudahlah! Aku tak peduli lagi kau menerimanya atau tidak!" Gadis itu memuatar tubuhnya. "Aku pulang."
"El...." panggilnya setengah berteriak. Dia menghela napas, menyadari gadis itu sudah berlalu.***
Entah sudah berapa lama dia seperti ini. Duduk diam di depan piano dengan tangan ditelungkupkan. Perlahan dia membuat gerakan. Duduk dengan posisi tegak, dan jari-jari yang mulai menekan-nekan tuts piano. Kemudian tanpa sadar, dia akhirnya sudah bermain.
Kemarin dia sudah menyetujuinya. Karcis pertunjukannya pun sudah mulai disebarkan. Dia hanya bisa berharap, konsernya minggu depan akan berjalan sukses. Walau tanpa cowok itu di sampingnya!
Dia melirik ke atas piano. Di sana ada empat karcis, yang sengaja dimintanya. Tiga karcis, untuk keluarganya di Malang, baru akan dikirimnya esok hari. Sedang satunya lagi, Desta menggeleng sedih. Aku tak tahu bagaimana caranya, memberikan karcis ini padanya. Aku tak sanggup berhadapan dengannya. Takut dia akan menolaknya, gumam gadis itu giris.
'Simponi No. 21'-nya Mozart mengalun lembut. Kemudian karya Mozart yang lainnya, 'Mayor Sonata' dan 'Serena di Bulan April'. Lalu 'Piano Sonata No. 24'-nya Bethoven, 'Maiden's Prayer'-nya Badarzeswka, 'Noctume-Opus 9 No. 2' dan 'Etude-op 10 No. 3'-nya Chopin, yang temanya diambil dari instrumen Etude.
Desta mengeluh pelan.
Aku ingin mempersembahkan semuanya untukmu, Beng. Untuk kenangan masa kecil kita. Hanya untukmu! gumamnya pahit di hati.
Desta bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju kamar. Mengambil kotak musik berbentuk cerek, dengan tikus-tikus kecilnya, dan meletakkannya di atas piano.
"All too soon, your love was gone... too soon...."
Desta berpaling. Dilihatnya seseorang berdiri di depan pintu, memperhatikannya, sambil mengikuti irama musik. Dia tersentak kaget. Ibeng?
"Hai!" Tangannya melambai. Disusul dengan langkah kaki cowok itu, memasuki rumah.
"Ibeng?"
"Kau semakin mahir. Aku senang."
"Ibeng, kau...." Desta kehilangan kata. Menatap sosok cowok itu, dengan pandangan nanar.
Tuhan, terima kasih, karena telah mendengar doaku. Menghadirkan dia kembali, di depanku.
Beni tertawa.
"Kenapa? Sudah lupa padaku?"
"Apa bukannya kau yang melupakan aku?"
Cowok itu tersenyum. Merengkuh tubuh mungil gadis itu, lembut.
"Maaf."
"Padahal kau tahu aku menunggumu."
"Maaf." Beni mengulurkan tangan. Mengusap airmata yang mengalir di pipi gadis itu. "Aku yang salah. Apalagi jika melihatmu bermain."
"Itu sebabnya kau selalu menghindariku?"
"Ya."
"Mengapa tak mengatakan padaku, setelah kau kembali?!" tuntutnya. "Mengapa membiarkan aku manarik kesimpulan sendiri?"
"Yang mana yang harus kujawab?"
"Semuanya!"***
Beni menghela napas berat. Melirik Desta dengan pandangan sedih, saat dilihatnya gadis itu terus menunduk.
"Etta?"
Desta mendongak. Menghapus kristal bening, yang mengalir deras dari matanya.
"Aku benci kau meragukanku!"
"Etta?"
"Aku tidak seperti itu, Beng." Matanya menatap tak suka. "Aku tak peduli kau seperti apa. Aku hanya ingin kau tahu... kau sangat berarti bagiku."
Beni tersenyum giris.
Aku tahu, Etta. Kau pun sangat berarti bagiku. Itu sebabnya, aku tak ingin merusak impianmu, gumam cowok itu sedih.
"Beng, terima kasih."
"Untuk apa?"
Desta tersenyum. Mengambil karcis di atas piano, dan memberikannya untuk cowok itu.
"Aku tahu ini semua usahamu. Proposal itu... aku tak percaya kau melakukannya untukku. Bolak-balik memohon demi aku. Jangan menyangkal!" sahutnya cepat, saat dilihatnya cowok itu membuka mulut, seperti ingin mengucapkan sesuatu. "Aku senang kau kembali, Beng."
"Etta."
"Apa aku masih boleh berharap?"
Beni menggeleng lemah.
"Aku tak tahu, Etta," desis cowok itu pilu. Dia menelan ludah pahit. "Mungkin suatu hari nanti, aku bisa menjawabnya!"
"Sudahlah!" Desta mengibaskan tangannya. "Aku mengerti."
"Etta, bukan maksudku me...."
Desta tersenyum. Berusaha menyembunyikan luka di matanya.
"Aku mengerti! Sebelum kau datang pun, sudah kupaksa hatiku mengerti, Beng. Bahkan juga tak memaksamu untuk datang. Terserah kamu!"
"Aku akan datang. Tepat waktu!"
"Beng?"
Beni tersenyum. Mengacak-acak rambut gadis itu dengan sayang. Dia mengeluh pelan. Ini yang terakhir aku melakukannya, Etta.
"Ternyata dugaanku tak salah," ujar cowok itu. "Tangan-tanganmu memang tercipta, untuk jadi seorang pianis yang handal."
"Itu karenamu."
"Bukan!" Beni menggeleng lemah. "Itu karena usahamu, Etta. Jadi sebelum aku pergi, buatlah aku terpesona oleh permainanmu."
"Aku berjanji!"
Beni tersenyum. Harus, Etta! Kalau tidak, aku tak akan bisa pergi dengan tenang.***
Gedung Pertunjukan
Pukul 19.30 WIB

'Always In My Heart' mengalun lembut, begitu kakinya memasuki gedung. Bukan karena tak dapat tempat duduk, jika kemudian dia memilih menyender pada tembok di samping pintu. Tapi dia hanya ingin cepat keluar, jika pertunjukan telah usai.
Beni memandang lurus ke depan. Dilihatnya gadis itu masih tenggelam dalam permainannya. Dia menghela napas berat. Akhirnya aku bisa tenang meninggalkanmu, Etta.
Musik yang kau mainkan begitu lembut dan mempesonaku. Aku bahagia mendengarnya, Etta, gumamnya. Ah. Itu pasti musik khayalan karya Chopin, 'Allegro Agitate', ujarnya begitu musik sudah berganti.
Bagus, Etta! Begitu terus. Mainkanlah Chopin dengan seluruh jiwamu. Perdengarkanlah ke seluruh dunia, batin cowok itu.
Aku benar, Etta. Jari-jarimu yang lincah di atas tuts piano, seakan-akan terlahir sebagai seorang pianis. Aku bangga!
Beni menyusut airmatanya, dan perlahan meninggalkan ruangan, saat didengarnya penonton meneriakkan encore berulang kali.
Kamu berhasil, Etta! Impianmu sudah terwujud. Dan sekaranglah waktuku untuk pergi. Dia tersenyum. Aku bisa mendengar Serenade Toselli-mu, Etta!
Beni semakin jauh meninggalkan gedung pertunjukan. Dia menengok sekali lagi, dan berucap lirih:
"Selamat tinggal, Etta!" ©
Keterangan:
Encore: Permintaan ulang. Biasanya terdengar, bila permainan piano memukau penonton.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger