Jumat, 29 April 2011

Sembunyi By. Gita Nuari

Saya diperintahkan untuk bersembunyi oleh kedua teman saya, Beno dan Aep. Katanya, saya sedang dicari oleh beberapa orang berbadan kekar dan berwajah seram. Ada urusan apa mereka mencari saya? Sungguh saya tak mengerti. 
"Sudah, pokoknya kau jangan muncul dulu barang beberapa hari, situasinya cukup gawat. Aku tidak rela temanku diculik seperti yang sering terjadi baru-baru ini," tutur Beno, teman saya yang pertama kali menyuruh saya untuk bersembunyi. 
"Benar Bim, kau harus hati-hati. Di era reformasi ini, banyak orang berlaku sewenang-wenang, main jarah, main culik, main bunuh. Aku tidak mau hal itu menimpa dirimu," sambung Aep membuat saya semakin tak mengerti. 
"Iya, tetapi aku ingin tahu dulu masalahnya, kenapa orang yang tak kukenal itu berusaha mencari aku?" 
"Aku juga kurang tahu, Bim. Tetapi kayaknya mereka tidak main-main. Mereka serius mau bikin perhitungan dengan kau!" tegas Beno. 
"Aku bukan aktivis, Ben. Bukan pula orang dari golongan tertentu. Kalian tahu kan, kita cuma tukang asongan. Tukang menjajakan barang asongan di lampu-lampu merah? Kadang menjual koran, air mineral, sekali-kali ngamen kalau malas dagang, tak lebih dari itu." 
"Ssstt, sudah! Jangan banyak omong. Keadaan sekarang benar-benar lagi gawat. Yang penting sekarang, kau harus sembunyi. Titik!"***
Tiba-tiba saya merasa jadi seorang buronan untuk pertama kali. Padahal berbuat salah terhadap orang sekalipun rasanya belum. Untuk menghindari hal yang tidak saya inginkan, akhirnya terpaksa saya jarang keluar rumah. Tidak berjualan atau pun iseng main ke perempatan jalan serta lampu merah tempat kami mencari sesuap nasi.
Dalam perenungan saya siang dan malam, saya berusaha mencari tahu apa sebab Beno dan Aep melarang saya berjualan di perempatan jalan itu. Walau mereka mengatakan hal itu demi keselamatan diri saya, tetap saja saya penasaran dan kurang paham akan masalahnya. Apa sih kasusnya? pikir saya. Begitu pentingkah diri saya sehingga ada orang mencari saya?!
Ah, kalau hanya bertemu saja, kenapa harus takut, harus sembunyi? Hadapi saja dahulu, resiko belakangan! pikir saya yang lain. Tetapi kalau saya bertemu dengan orang-orang yang dimaksud teman-teman saya itu, apa saya akan aman-aman saja? Bagaimana kalau tiba-tiba saja saya diculik seperti yang dikatakan oleh kedua teman saya itu? Wah, bisa berabe. Saya tak ingin seperti para aktivis yang diculik beberapa tahun lalu. Dan kalau saya dianggap sebagai aktivis, apa pantas?
Memang saya pernah bercerita penuh tentang kejadian penembakan terhadap mahasiswa yang dilakukan oleh aparat keamanan kepada salah seorang wartawan pada zaman krisis reformasi dulu, karena secara kebetulan saat penembakan itu terjadi saya berada tepat di bawah jembatan.
Dan juga saya ceritakan tentang adanya beberapa kelompok tertentu membakar puluhan toko dimana di dalamnya terdapat puluhan penjarah sedang beraksi. Nah, apakah karena pengaduan tentang kejadian yang sudah cukup lama itu keselamatan diri saya terancam, tetap jadi target bagi 'orang' tertentu? Ataukah karena wartawan itu menulis nama saya jelas-jelas sebagai narasumbernya? Kayaknya tidak mungkin. Sebab kode etik jurnalistik tetap dipegang teguh oleh semua wartawan.
Sudah dua minggu ini saya menyembunyikan diri. Bosan juga rasanya. Apalagi persediaan makanan sudah habis. Untuk keluar rumah, saya takut diciduk. Namun rasa bosan di rumah semakin jadi siksaan bagi diri saya. Jenuh menunggu sesuatu yang tak pasti. Akhirnya saya menemukan alternatif lain untuk tetap bisa keluar rumah dan bisa melihat keadaan di jalan yaitu dengan cara membotaki kepala, pakai topi kupluk ala ABG, kemudian bersembunyi dibalik kaca matahitam.***
 Matahari siang itu begitu panas menyengat. Saya berdiri di sebuah halte bus. Berbaur dengan para calon penumpang. Di ujung mata memandang, kemacetan ada di mana-mana. Beberapa petugas dari kepolisian berjaga-jaga di sudut-sudut jalan. Saya kurang tahu untuk menjaga apa atau siapa? Saya bergerak menuju daerah di mana kami sering mengasongkan dagangan.
Saya berdiri di bawah pohon mahoni, kira-kira seratus meter dari tempat Beno dan Aep menjajakan dagangannya. Di dekat lampu merah, saya melihat Gito sedang asyik mengamen di hadapan pengemudi mobil sedan yang kacanya sedikit terbuka. Aep menawarkan koran dan majalah ke beberapa orang yang berada di dalam mobil sedan yang terjebak lampu merah. Beno sedang asyik melayani pembeli majalah yang dijualnya tepat di belakang mobil di mana Gito sedang mengamen. Menoleh ke belakang, saya melihat Marni, si tukang jamu gendong sedang melayani pembeli seorang tukang plistur di depan toko meubel. Marni, si tukang jamu gendong itu pernah saya cium bibirnya di belakang toko meubel itu.
Asyik juga pacaran sama tukang jamu, setiap ketemu minum jamu gratis. Jadi anak jalanan banyak asyiknya. Saya sering melihat dua insan di dalam mobil saling berciuman mesra di saat mereka terjebak lampu merah. Pada malam hari, saya pernah ditantang oleh seorang pelacur untuk datang ke tempat kostnya. Tidak bayar, katanya.
Tetapi tidak saya turuti karena saya takut ketularan penyakit kotor. Ada lagi seorang tante mengendarai Honda Civic. Waktu itu mobilnya mogok tepat di depan saya. Saya hampiri untuk menolongnya. Ketika saya bukan kap mesin, ada salah satu kabel delkonya lepas. Setelah saya pasang, mobilnya bisa jalan kembali. Selain uang, saya dikasih kartu nama.
"Kalau mau pekerjaan, datang saja ke alamat ini," tawarnya dengan mata menantang. Senang sekali saya waktu itu. Maka, dua hari kemudian saya datangi alamat yang tertera di kartu nama itu. Tidak sulit mencari alamat perempuan itu. Sebuah rumah yang cukup megah menurut saya, berada di sebuah kompleks perumahan yang jauh dari keramaian kota. Saat itu saya membayangkan akan mendapat pekerjaan yang bisa menopang hidup saya kelak.
Tetapi apa lacur, setelah bertemu, saya 'dijarah' seharian penuh. Imbalannya adalah uang dalam amplop yang diselipkan ke saku celana jeans saya. Kapok? Saya tak bisa menjawab, sebab ketika saya datangi lagi tante yang bernama Farida itu ternyata sudah pindah rumah. Kata penjaga rumah itu, Tante Farida hanya sebagai penyewa, bukan pemilik rumah. Ah, terkejutlah saya pada waktu itu.
Itulah pengalaman sebagai anak jalanan. Mungkin Beno, mungkin Aep atau anak jalanan lainnya tentu pernah mempunyai pengalaman menarik menurut pribadi masing-masing. Seperti sekarang ini, saya harus bersembunyi dari pencarian sekelompok orang yang konon badannya kekar-kekar, dus bukan orang sembarangan. Saya takut sekali.
Tetapi saya rindu kepada teman-teman seprofesi. Minimal bisa melihat mereka mencari sesuap nasi di tempat biasa kami mangkal. Dan sekaranglah bisa terlaksana, saya bisa melihat mereka berjualan, mengamen dan sebagainya. Sebagai anak jalanan, selain itu saya juga sering melihat kejadian umum di jalanan. Misalnya kecelakaan, penjambretan, anak sekolah tawuran, mobil tabrakan, orang yang tertabrak mobil, jatuh dari bus kota, mahasiswa berdemontrasi, para buruh berunjuk rasa sepanjang jalan dan melakukan long march menuju gedung DPR, itu semua pernah saya saksikan.
Tetapi tak sekalipun saya ikut demontrasi dalam kasus apa pun. Namun, kenapa saya harus takut keluar rumah? tanya saya dalam hati. Beno dan Aep menyampaikannya serius sekali. Mereka seperti tidak main-main. Apa salahnya saya percaya pada mereka. Siapa tahu benar. Dan jika saya diculik, habislah saya. Kalau hanya diculik dan diberi makan setiap hari, itu tak jadi soal. Justru saya senang. Ngapain susah-susah dagang, mendingan diculik tetapi kebutuhan dijamin! kelakar saya dalam hati. Tetapi kalau sampai disiksa, bagaimana rupa wajah saya nanti, bisa-bisa cacat seumur hidup. Kalau masih hidup masih untunglah, tetapi kalau sampai dibunuh dan mayatnya dibuang di laut, bagaimana jadinya? Saya akan tinggal nama. Keluarga dan teman-teman akan kehilangan saya.
Dan mereka tidak akan bisa menemukan mayat saya. Ke mana mereka akan melapor, pasti bingung. Keluarga saya buta hukum. Namanya juga orang kampung tahu apa?***
Di rumah atau di manapun saya berada, bayangan orang-orang yang ingin menemui saya kian menghantui pikiran. Apa mereka percaya kalau saya tidak tahu apa-apa pada masalah yang bakal mereka tuduhkan kepada saya nantinya? Kalau saya harus dipaksa mengaku padahal saya tidak berbuat, itu berarti saya telah mengkhianati hati nurani saya sendiri. Apa saya mau dijadikan tumbal politik? Mustahil! Terlalu jauh bila sampai ke urusan politik segala.
Sudah satu bulan saya bersembunyi. Mengubah penampilan setiap mau keluar rumah. Begitu setiap saya mau melakukan aktivitas di luar. Dan hari ini saya bosan di rumah. Jenuh. Terasa dunia kian sempit dan menciut. Dalam pikiran kalut dan kusut, saya nekat keluar rumah lagi. Mendatangi tempat biasa saya mangkal.
Seperti biasa pula tak ada teman yang mengenali penyamaran saya. Saya berdiri di bawah pohon mahoni, bertopi kupluk dan berkacamata hitam, mungkin saya persis dengan tampang perampok belum mandi. Masa bodoh! Bising kendaraan berbaur dengan suara pedagang asongan dan suara pengamen yang sama-sama mencari sesuap nasi. Saya amati orang-orang yang berada di lampu merah. Ada Beno dan Aep sedang menjajakan koran dan majalah. Juga beberapa teman mencari sesuap nasi di sekitar halte bus. Barangkali ada orang berbadan kekar seperti intel atau oknum tertentu yang disebut-sebut Beno dan Aep, sedang mencari diri saya. Tetapi, sudah dua kali ini saya ke tempat itu, belum pernah melihat adanya orang yang tampangnya mencurigakan. Akhirnya saya jadi penasaran, apa benar orang yang disebut Beno dan Aep itu benar-benar ada? Tiba-tiba saya melihat Gito sedang mengamen di dekat lampu merah.
Tanpa sepengetahuan Beno dan Aep, saya panggil Gito. Pada awalnya Gito tak mengenali tampang saya. Tetapi setelah saya buka kacamata dan topi kupluk yang saya pakai, barulah teman saya itu dapat mengenali diri saya sesungguhnya.
"Hai, Bima, kemana saja kau?" sapa Gito setengah berlari ke arah saya.
Saya dekatkan telinga Gito ke mulut saya, "Gito, aku mau tahu, apa benar ada intel mencari aku?" Gito merenggangkan badannya. "Kata siapa?" Dahinya mengernyit.
"Beno dan Aep," bisik saya lagi.
Gito tiba-tiba tertawa lepas. Tetapi cepat-cepat saya tutup mulutnya.
"Ini serius Gito, jangan ketawa kau!"
"Siapa yang mencari kau, heh? Justru aku yang mencari kau kemana saja selama ini!"
"Jadi tidak ada orang yang mencari aku?" kejar saya penasaran.
"Ah, itu cuma ulah si Beno dan Aep saja supaya kau tak berjualan lagi di daerah ini. Sebab yang kutahu, jika kau tak berjualan di sekitar lampu merah ini, maka tinggal merekalah berdua yang menguasai daerah ini. Paham kau sekarang?"
Deesss!
Darah saya mengubun.
Saya seperti ditinju telak-telak oleh pukulan yang dibentuk dari akal Beno dan Aep, teman seprofesi saya itu. Sakit hati saya ditipu mereka. Terasa ada darah yang mendidih di ujung-ujung kepalan tangan saya. Saya melihat Beno dan Aep sedang menghitung uang hasil penjualan koran dan majalah yang mereka jajakan di wilayah yang nyaris sepuluh tahun saya tempati untuk menjajakan koran dan majalah yang sama.
Asem!
Satu bulan cukuplah saya ditipu mentah-mentah untuk tak berjualan di situ. Sekarang saya berpendapat, lebih baik mereka menghitung berapa menit lagi bisa menghirup udara kota ini! ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger