Jumat, 29 April 2011

Putihnya Hati Putri By. T. Sandi Situmorang

Satpam berkumis runcing itu menatapnya lekat, dari atas kepala hingga kaki. Lalu beralih lagi pada wajahnya. "Kamu siapa?" 
"Wawan, Pak. Teman sekolahnya." 
"Sudah buat janji?" 
"Belum." 
"Kalau begitu tidak bisa. Non Putri sedang tidur siang. Nanti saja kembali lagi. Sorean dikit, atau malam. Atau buat janji lebih dulu," ujarnya dingin. Sedingin udara lembab sehabis hujan. 
"Tapi, Pak...." 
Satpam yang di bajunya tertulis besar-besar nama SAMURI itu menggeleng tegas. Membungkam kata yang akan terucap dari bibir Wawan. 
"Saya harus ketemu sekarang, Pak. Ada hal penting yang akan saya bicarakan." 
"Kamu mengerti bahasa Indonesia tidak?" ketus suaranya. 
"Tolong saya, Pak. Atau biarkan saya saja yang membangunkan Putri." 
Satpam itu menatapnya tajam. Lalu tanpa kata dia tinggalkan Wawan, kembali duduk di pos. Kini matanya tertancap pada tivi 14 inch di depannya. 
Wawan mendegut ludah. Tangannya berpegang erat pada terali besi pagar. Tubuhnya mulai menggigil. Akibat tersiram hujan lebat. Sebelum meninggalkan rumah, memang mendung telah menggayut. Tapi Wawan tidak peduli. Kesehatan Ibu lebih penting daripada sekadar hujan. Akibat tak ada ongkos, terpaksa ia menempuh jarak sejauh empat kilometer dengan kaki. 
Di tengah perjalan hujan deras mengguyur. Begitu sampai di depan rumah Putri, hujan telah reda. Hanya meninggalkan angin lembab dan basah. 
Kepala Wawan mendongak. Jendela paling ujung di lantai dua itulah kamar Putri. Mudah-mudahan saja Putri melihatnya berdiri di sini. 
Semenit, dua menit, tiga menit. Tak ada wajah yang terlihat pada jendela itu. Wawan menurunkan wajah, beralih pada satpam yang terlihat merem-melek menikmati suguhan musik dangdut di tivi. 
"Pak!" 
Tak ada reaksi. Wawan memanggil lebih keras. 
Satpam itu bergerak. Menoleh pada Wawan. "Belum pergi juga?" 
Barangkali Putri sudah bangun, Pak! Bisa tolong...." 
"Susah bicara sama orang dungu macam kamu. Dijelaskan nggak bakal mengerti." 
Wawan mendegut ludah. Kalau tidak mengingat kondisi ibu yang makin kritis, sudah sedari tadi dia meninggalkan satpam sok jago dan tak punya perasaan itu. 
Wawan terlonjak melihat ada bayangan pada jendela kamar Putri yang hanya tertutup tirai tipis itu. 
"Put! Putri!" teriaknya sekuat suara. 
"Hei, apa-apaan kamu!" 
"Putri!!!" panggil Wawan dengan membuat kedua tangannya seperti corong di mulut, agar suara yang keluar lebih keras. 
Tirai tipis pada jendela bergerak. Terlihat wajah Putri di sana. Tangan Wawan melambai. 
Putri tersenyum. Lantas wajahnya menghilang. Pasti dia sedang turun ke bawah. ***
"Kamu kenapa, Wan?" 
"Tadi kehujanan. Jadi...." 
"Kenapa tidak masuk?" 
"Nggak diizinin sama satpam kamu," sahut Wawan melirik satpam berkumis runcing-runcing yang berdiri salah tingkah itu. 
"Kenapa nggak dikasih masuk, Pak?" 
"Atas pesan Nyonya, tidak sembarangan tamu bisa masuk." 
"Wawan ini teman saya." 
"Tapi...." 
"Sudah. Cepat buka pintunya." 
Tanpa protes lagi satpam itu membuka pintu pagar. 
"Masuk, Wan!" 
"Nggak usah, Put. Aku hanya perlu sebentar." 
"Kita bicara di teras saja." 
Ragu Wawan mengikuti langkah Putri. 
"Kamu ada masalah?" tanya Putri pelan. 
"Penyakit ibuku kambuh lagi." 
"Sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Putri khawatir. 
"Itulah makanya aku datang ke mari," sahut Wawan pelan. "Aku... nggak ada biaya." 
"Ya ampun, Wawan! Kamu bagaimana, sih? Kenapa nggak bilang dari tadi?" 
Seperti biasa Putri mengambil sedikit uang dari tumpukan uang dari lemari pakaiannya. Bahkan kali ini Putri berbaik hati membawa Ibu Wawan ke rumah sakit. ***
"Temani aku beli buku." 
"Aku nggak bisa." 
"Lagi?" 
Wawan mengelak dari tatapan Tia. "Mengertilah," desisnya pelan. 
"Berapa lama lagi aku ngertiin kamu? Sementara kamu tak pernah menjelaskan ada apa sebenarnya." 
"Tak ada apa-apa. Aku hanya sibuk. Jadi tak ada waktu." 
"Kesibukan apa hingga kamu selalu tak punya waktu?" 
"Tolong, jangan desak aku." 
"Aku akan terus bertanya sampai kamu jelaskan semuanya padaku." 
"Kamu memaksa?" suara Wawan mulai tidak enak. 
"Aku punya hak untuk itu!" 
Wawan menarik napas. Menatap gadis yang duduk di sampingnya. Tia pacarnya. Hampir setahun mereka menjalin cinta. Mereka berbeda sekolah, tapi masih bertetangga. Tia sama dengannya. Sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu. 
"Aku sibuk, Tia. Harus ngerjain PR, beresin rumah, masak buat ibu. Kondisi Ibu kurang fit. Jadi harus aku yang mengerjakan semuanya," ujar Wawan dengan kepala menunduk. 
"Perlu bantuan?" suara Tia melunak. 
"Nggak usah. Aku bisa kerjakan sendiri." 
Diam-diam Wawan menarik napas lega. Andai saja Tia tahu kalau dia tengah berbohong. Tak ada PR yang harus ia kerjakan. Ia juga tidak harus membersihkan dan memasak buat ibu karena semuanya sudah dikerjakan ibu. Malah ibu sudah mulai berjualan sayuran di pasar. Mulai hari ini dan seterusnya ia harus menjaga jarak dengan Tia. Jika Wawan merasa waktunya sudah tepat, ia akan memutuskan tali cintanya. 
Bukan karena ia tidak lagi mencintai Tia. Tapi ada hal lain yang harus dia kedepankan ketimbang urusan itu.***
"Capek?" 
Gadis berkulit putih itu menggeleng. Peluh mulai bermunculan di sekitar dahinya yang mulus. 
"Biar aku saja yang menyelesaikan. Jangan terlalu kamu paksakan." 
"Tinggal sedikit lagi, kok." 
Wawan membantu Putri mengatur letak kursi-kursi itu. Akan ada seminar 'Bahaya Narkoba bagi Remaja' di sekolah mereka. Kebetulan mereka berdua masuk sebagai anggota seksi repot. 
"Sudah, istirahat saja, Put." 
"Aduh, Wan. Jangan kuatir begitu, ah. Kesannya kamu ngeremehin aku." 
"Tapi kamu nggak biasa kerja beginian." 
"Mulai hari ini aku harus biasakan. Siapa tahu dapat jodoh...." 
Wawan mengerti arah ucapan Putri. Makanya ia biarkan Putri ikut mengatur tata letak kursi itu. Bahkan ia hanya geleng kepala melihat Putri menyapu halaman aula sekolah. Bagi Wawan tidak sulit melakuan semua itu. Tapi tidak bagi seorang Putri. Putri anak konglomerat. Pembantu di rumahnya saja mungkin ada lusinan. 
Wawan menghela napas panjang. Ia tahu untuk apa Putri mau bersusah payah begitu. Ia juga tahu apa yang harus ia lakukan agar Putri tidak kecewa. Karena Putri teramat berjasa baginya, juga ibunya. 
"Besok sore kamu datang, kan?" 
"Pasti, dong! Aku kan panitia juga. Lagipula sangat penting bagi remaja seperti kita untuk mengetahui apa saja efek negatif yang ditimbulkan narkoba. Memangnya kenapa?"
"Tunggu aku di rumah. Aku akan jemput kamu." 
"Nggak usah, Put. Aku naik angkot saja." 
"Jangan menolak kebaikan orang. Lagian, aku senang bisa nolong kamu." 
Wawan diam. Di kepalanya muncul Tia. Bisa berabe kalau Tia melihat Putri.***
"Kata Ibu, tadi kamu datang ke rumah." 
Tia tersenyum, lantas mengangguk. Ia ajak Wawan duduk di teras rumahnya. 
"Ada apa?" 
"Besok sore teman sekolahku ada yang ulangtahun. Aku mau ngajak kamu." 
Wawan mendegut ludah. Perubahan wajahnya membuat perasaan Tia tidak nyaman. 
"Besok sore ada acara di sekolah." 
"Kamu nggak bisa?" 
Wawan mengangguk. "Maaf!" 
"Akhir-akhir ini perasaan aku nggak enak, Wan. Sikap kamu lain sama aku. Kamu seperti menghindar dan menjaga jarak." 
"Benar aku ada acara di sekolah. Seminar tentang narkoba. Aku termasuk salah seorang panitia. Jadi nggak mungkin aku nggak datang." 
"Bukan cuma kali ini. Tapi selalu kamu menolak ajakanku. Bahkan kamu nggak pernah lagi datang kemari." 
"Aku...." 
"Ada orang ketiga?' 
"Maksudmu?" 
"Kamu punya cewek lain?" 
"Kamu menuduhku selingkuh?" 
"Sikapmu menjurus ke arah itu." 
Walau berat, Wawan menghela napas panjang. Belum saatnya. Yah, belum saatnya ia bicara jujur kalau dalam hidupnya memang ada cewek lain. Wawan tidak mau Tia terluka. Terlebih lagi, perasaannya pada Tia tidak pernah berubah meski telah ada Putri.***
"Ayo, Put!"
"Nggak pamit dulu sama ibu kamu?" 
"Tadi udah, kok!" 
Wawan menarik tangan Putri. Mereka harus cepat pergi. Jangan sampai Tia melihat Putri datang menjemputnya. Bisa gawat nanti. 
Begitu keluar dari rumah, Wawan berdiri kaku di samping Putri. Di depan mereka berdiri Tia dengan tampang mirip serigala marah. 
"Jadi cewek gendut ini yang membuat sikapmu berubah sama aku?" sengit suara Tia, tangannya menunjuk Putri. 
"Tia, jaga mulutmu!" 
"Jangan muna, deh! Sudah jelas kamu berduaan sama cewek jelek ini. Nggak sangka, mata kamu bisa silau karena mobil mengkilapnya itu." 
"Tia!" bentak Wawan. 
"Apa?!" Tia melotot dengan sikap menantang. 
Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini. 
"Putri, tunggu!" 
Mobil melaju. Putri tak acuhkan panggilan Wawan. 
"Puas kamu?!" desis Wawan tajam, sebelum meninggalkan Tia. 
"Wan, tunggu!" 
Wawan mengibaskan tangan tanpa menoleh. Ia banting pintu depan sekuat tangan.
Ia tidak mau bicara untuk saat ini.***
"Kalau kamu jujur sama Tia, nggak bakal dia menghina aku seperti kemarin. Aku memang jelek dan gendut. Cuma punya uang. Tapi nggak pantas dia menghina aku begitu." 
"Maafkan aku, Put!" 
"Aku juga nolong kamu dengan tulus. Bukan karena aku ingin jadi pacar kamu. Bukan, Wan!" 
Wawan menatap wajah Putri. Ia malu pada dirinya sendiri. Selama ini ia berpikir segala kebaikan Putri padanya bagai ada udang di balik batu. Ia pikir Putri jatuh cinta padanya. Makanya ia rahasikan Putri dari Tia, begitu juga sebaliknya. 
"Besok aku akan minta Tia untuk minta maaf sama kamu." 
"Nggak perlu, Wan. Bilang saja sama dia, aku bukan cewek perusak hubungan orang." 
Wawan mengangguk. 
Ah, Putri! Hatimu memang seribu kali lebih cantik dari rupamu, bisik Wawan dalam hati. ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger