Jumat, 29 April 2011

Pertemuan By. T. Sandi Situmorang

Angin berhembus kasar. Ranting-ranting pohon bergoyang, hingga beberapa dahan kering berguguran ke tanah. Dinginnya terasa tidak enak di kulit.
Aku duduk bersandar pada salah satu tiang gazebo di Taman Budaya Sumatera Utara. Orang lalu-lalang di sekitar. Bahkan di open stage, segerombol remaja tengah riuh melatih tari.
Mataku mengarah ke luar, menuju jalan raya. Berharap beberapa rekan penulis yang tengah kutunggu menampakkan diri di sana. Namun, tidak ada. Padahal duapuluh menit sudah berlalu dari waktu yang telah disepakati.
Nafas kutarik dan lepas perlahan. Budaya jam karet memang sudah lama menggurita di negeri ini. Menyerang rata pada tiap individu. Akhirnya, sekadar membunuh jenuh, kubolak-balik lagi koran terbitan hari ini. Membaca cerpen yang tadi sudah kubaca.
"Selamat siang!"
Suara halus dan lembut mampir di telinga. Aku tidak yakin sapaan itu ditujukan buatku. Begitu kepalaku terangkat, seraut wajah asing—namun mengasyikkan—tersenyum. Ragu aku membalas. Karena takutnya ia tengah tersenyum kepada seseorang- yang barangkali ada di belakangku. "Tito Yudha?" 
Mantap aku mengangguk. Itu namaku. 
Senyumnya kian sumringah. Ia naik ke gazebo. Mengulurkan tangan untuk berjabat. 
"Saya Wina, salah satu penggemar cerpen-cerpenmu. Terutama yang banyak dimuat pada salah satu majalah wanita terbitan ibukota." 
Aku tersenyum ramah. Menjabat erat tangannya yang halus dan mungil. Sumpah, aku tersanjung dengan ucapannya barusan. Meski ia-mungkin orang kesekian ratus-yang mengatakan penggemar cerpen-cerpenku. 
Ya, aku memang seorang penulis. Cerpenis tepatnya. Bisa kukatakan aku hidup untuk menulis dan aku hidup karena menulis. 
"Senang bisa berjumpa dengan Anda." 
Ia tertawa. Lepas dan renyah. Bibirnya yang merah tampak merekah. 
"Sebut saja Wina. Terdengar lebih akrab. Aku akan memanggilmu dengan Tito. Tak apa, kan?" 
"Terserah saja," sahutku ringan. Seringan angin yang berhembus, meniup wajahku.***
Wina. Wina. Wina.
Dia datang dengan tiba-tiba, tanpa kuduga apalagi kuundang. Dia ibarat daun jatuh yang dihempas angin ke depanku. Semudah itu pula kami menjalin hubungan. Semula, dia meminta nomor ponselku. Tanpa berpikir apa-apa kuberi saja. Alasan dia juga masuk di akal, untuk memberi selamat jika sewaktu-waktu ia membaca salah satu cerpenku yang termuat media.
Awalnya dia memang hanya memberi selamat. Tetapi di lain hari ia menanya kabar. Pada waktu yang lain lagi, apa saja kegiatanku sekarang, di saat yang lain, ia juga menanya kabar isteriku. 
Masih biasa-biasa saja. Ketika dia mengajak bertemu di suatu tempat, kupikir juga biasa saja. Dia temanku sekarang. Apalagi dia menyerahkan tempat dan waktu padaku untuk pertemuan kami itu. 
Begitulah. Dari pertemuan pertama berlanjut pada pertemuan ke dua dan selanjutnya. Dari pertemuan terkesan formil mencair menjadi pertemuan santai. Tempat dan waktu kami bertemu pun beragam. Taman budaya, café, toko buku, diskotik, rumahnya. Ruang-ruang yang kami masuki juga makin melebar. Dari semula aku hanya duduk di teras, akhirnya berpindah ke ruang tamu, ruang keluarga, dan akhirnya kamar tidurnya.
Semua tempat kami jadikan pertemuan. Dan semua hal sudah pernah kami lakukan. *** 
Cafe tampak lengang. Hanya ada beberapa pengunjung duduk di meja paling sudut. Di atas stage, seorang perempuan cantik merintih-rintih menyanyikan sebuah lagu Top 40. 
Malam tak lagi muda. Dari jendela kaca-meski samar-terlihat gerimis di luar. Hampir dua jam kami habiskan waktu di sini. Membuatku bosan dan jenuh. Sebetulnya, sedari tadi aku sudah ingin bergelung di balik selimut tebal dan hangat. 
Tidak mungkin aku pulang dan meninggalkan Wina sendirian di tempat ini. Kurasa dia sudah mabuk. Entah sudah berapa gelas long island ia sesapkan ke dalam perutnya. Sedang aku sendiri, meski tidak meminum sebanyak yang ia minum, sudah sangat kepayahan. Aku memang jarang minum alkohol. 
"Malam ini kau tidur di rumahku saja." 
"Aku sudah beristri. Tidak sepertimu yang hidup sendiri." 
Ia terkekeh. Persis tante-tante mabuk yang kerap muncul di layar sinetron. 
"Aku tidak meminta kau menjadikan aku istrimu. Lagipula tidak ada undang-undang yang melarang seorang penulis mempunyai istri lebih dari seorang. Jadi kalau kau berniat, aku sih oke saja," ia meraih gelas, meminum sampai tandas isinya. 
Rokok di tanganku kulumat di asbak. Aku tidak suka mendengar ucapannya barusan. Terdengar menjijikkan. Ia seperti perempuan murahan saja. 
"Kita pulang." 
"Aku ingin menghabiskan malam bersamamu. " 
"Istriku sudah menunggu di rumah." 
"Telepon saja. Katakan kau bersamaku." 
Rahangku mengeras. Ia sudah keterlaluan. Tingkah lakunya terkadang memuakkan dan memancing emosi. Aku bosan. 
Tapi tidak akan pernah kusesali awal pertemuan kami. Karena bagaimana pun, ia sudah memberiku banyak kebahagiaan. Menikmati malam-malam panjang hingga tak terasa berlalu. Bersamanya, aku menikmati hal baru yang tidak pernah kudapatkan bersama istriku. Bersamanya juga, inspirasiku mengalir serupa air bah. 
Kadang juga aku tergoda untuk membandingkan dirinya dengan isteriku. Tetapi kuanggap itu tidak adil. Karena mereka berdua memang sangat berbeda. Mereka merupakan gambaran dua perempuan yang terpisah arus sungai yang sangat deras. Sangat berbeda dan mustahil bisa dipertemukan. 
Wina sarjana lulusan luar negeri. Dia juga seorang pimpinan sebuah perusahaan bonafid. Ia wanita karier yang menganggap pernikahan hanya membatasi geraknya. Sedang isteriku perempuan kampung tamatan SMA. Tahunya hanya kamar, sumur dan kasur. 
"Kau tidak merasa malam ini teramat dingin?" mulutnya menempel di telingaku. Hembus napasnya sangat terasa. 
Aku menggeliat. Menjaga jarak darinya. 
"Aku bisa beri yang tidak kau dapat dari istrimu." 
"Hidupku sempurna. Tidak kekurangan apapun." 
Ia tertawa, seolah mengejek. Ia sesapkan lagi minuman memabukkan itu ke dalam mulutnya. 
"Sudah kukatakan, aku pengagum cerpen-cerpenmu. Terutama yang dimuat di majalah wanita. Meski tidak pernah tercetus, aku tahu kerinduanmu tentang hadirnya seorang anak. Sudah berapa lama kau menikah? Hampir lima tahun, kan?" ia tertawa, terdengar mengiris telinga. 
Aku menggeram. Aku benci dengan ucapannya. Segera kutinggalkan ia. Ia mengekor dari belakang, menarik tanganku. Membawaku keparkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Ia membawaku pergi. 
Entah kemana.***
TBSU jam satu siang. Kami duduk di gazebo. Sekitar tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang. 
"Bicaralah!" kataku. Tadi melalui sms ia memintaku hadir di sini. Ada hal penting yang hendak ia ungkap. 
"Aku hamil. Tujuh minggu." 
Aku tertawa sumbang. Ia pasti tengah bercanda. Suaranya saat berucap tadi, benar-benar seringan kapas. Sangat tenang sekali. 
"Syukurlah kau senang mendengarnya." 
"Aku senang karena kau masih bisa bercanda." 
Ia diam. Mengambil sesuatu dari dalam tas tangan. Sebuah kertas putih berlogo praktek dokter ia pampangkan ke wajahku. 
"Itu pasti bukan anakku." 
"Selama tiga bulan ini aku hanya tidur bersamamu." 
"Gugurkan saja." 
"Aku menginginkan anak ini." 
"Aku tidak." 
"Yang hamil aku, bukan kau." 
Aku menggeram,meremas rambut. Sial, mengapa harus dari dia? Lima tahun aku berharap mendapatkan anak dari istriku, justru dari perempuan yang baru kukenal tiga bulan, itu terjadi. 
"Tenang saja. Jangan panik begitu. Aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu." 
"Maksudmu?" 
"Aku tidak memintamu menikahiku. Cukup akui ini anakmu. Aku akan merawatnya sendirian." 
"Tapi " 
Dia tersenyum. Terlihat lebih cantik dari biasa. "Aku mencintaimu. Aku cukup bahagia bisa punya anak darimu."***
Malam jatuh sempurna. Angin bertiup kencang. Menggoyang pohon mangga yang tumbuh di samping kamar. Suara ranting yang beradu terdengar mengerikan. 
Aku duduk menghadap komputer. Mengerjakan sebuah cerpen. Di atas tempat tidur, istriku tengah tekun membaca sebuah majalah. 
"Abang dengar suara itu?" 
"Suara apa?" tanyaku tanpa menoleh. 
" Ada yang mengetuk pintu." 
"Tidak mungkin. Ini hampir jam sebelas. Itu pasti suara angin." 
Istriku keluar kamar. Kubiarkan saja, meneruskan tulisanku di komputer. 
Tidak lama ia menerobos masuk. Wajahnya sumringah, senyumnya lebar. Ia menggendong seorang bayi. 
"Anak siapa itu?" 
"Nggak tahu, Bang. Wanita yang mengetuk pintu tadi memberi anak ini padaku. Ia hanya bilang, suamimu akan bahagia kalau kau mau merawat anak ini." 
"Mana perempuan itu?" 
"Sudah pergi, Bang." 
Aku berlari keluar kamar, membuka pintu depan. Tidak ada siapa-siapa di luar. Hanya ada gelap dan dingin. Aku termangu sebentar. 
Mungkin itu Wina? Setelah pengakuan tentang kehamilannya ia menghilang bagai diterjang angin. Tanpa meninggalkan jejak dan bekas. 
Aku berlari ke ujung jalan. Berharap ia masih ada di sana. Tapi tak ada. Hanya ada malam dan angin. ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger