Sabtu, 30 April 2011

Penebus dan Pergantian Luka Masa Lalu By. Mariska Uung

Bibir Tania beku sesaat dan sulit untuk digerakkan kembali. Terasa kering dan retak begitu cepat. Ia tidak percaya pada sehelai kertas yang kini berada di tangannya. Kertas itu dibiarkannya tertiup angin dan terjatuh di bawah kakinya. Sesaat, ia mengenang peristiwa lima menit yang lalu.
"Tan, saya harap kamu tabah mendengar kabar ini. Kamu positif mengidap penyakit kanker otak," ujar Dokter Ferry yang masih sangat muda dan simpatik.
"Saya belum mau mati, Dok!" ungkap Tania dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu harus punya semangat Tania. Kabar baiknya adalah, kanker kamu masih dalam tahap stadium satu. Kamu masih bisa menjalani pengobatan," hibur sang Dokter.
Airmata Tania tumpah begitu saja. Bisa dikatakan setelah sekian lama menahan setiap gejolak perasaan, baru kali ini bisa ditumpahkan semuanya. Ingin rasanya menggigit lidahnya dengan kencang dan berharap tidak ada rasa sakit sedikit pun karena ia berharap ini hanya mimpi di siang bolong.***
Di dalam kamarnya, Tania hanya ingin mengurung diri. Ia tidak ingin menemui siapa pun. Ia kecewa akan hidup ini. Kecewa pada diri sendiri yang begitu bodoh karena membenci sekaligus mecintai pula dengan sangat mendalam kepada seseorang yang tidak pantas untuk diharapkan. Juga kecewa kepada Tuhan yang telah memberikan bibit penyakit ini. Ia bukan anak orang kaya yang mampu untuk membayar biaya pengobatan rumah sakit yang sudah pasti memakan biaya besar. Meskipun dokter menyatakan kalau ia masih ada kemungkinan untuk sembuh. Mungkin di antara sekian makhluk Tuhan, ia merasa bahwa ia yang paling menderita saat ini.
Oh, Tuhan mengapa tidak Engkau berikan aku kanker stadium empat atau lima saja biar aku langsung mati dan tidak merepotkan Mama! begitu batinnya berteriak lirih.
Ia meraung-raung di atas ranjangnya hingga membasahi sprei dan bantal. Airmata di pipi terus mengalir dengan lancarnya. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini walaupun sesungguhnya kesedihan itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Namun, ia enggan untuk mengeluarkan airmata. Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu apa yang sedang ia alami. Jika bisa jantung hatinya itu dibelah, mungkin sudah menjadi borok dan bentuknya sudah tidak karuan lagi.***
 Sebelum aku mati, bajingan itu harus mati terlebih dahulu.
Akal liciknya mulai muncul lagi. Tania merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi dan ia tidak akan membiarkan Sandy hidup berbahagia dengan orang lain. Apalagi sampai melihatnya tertidur dengan bernisankan batu pemakaman. Dirogohnya laci di bawah meja kerja dalam kamarnya. Ternyata racun di dalam plastik biru muda itu masih ada. Obat-obatan keras yang mampu menghilangkan nyawa secara perlahan, namun pasti itu masih disimpan olahnya. Itu semua karena ia memang ada niat untuk bunuh diri setelah dicampakkan oleh Sandy.
Rupanya Tuhan ingin agar aku memberikan ini untuk Sandy, bukan untuk aku! Senyum liciknya mulai mengembang.
Diraihnya telepon genggam miliknya dan tangannya dengan lancar memencet nomor ponsel Sandy yang masih sangat ia hapal itu.
"Halo, Tan! Ada apa?" jawab Sandy di sebrang sana.
"Aku mau kita ketemu. Aku mau curhat banyak hal. Di tempat biasa kita makan siang. Kalau bisa jam satu siang ini."
"Oke! Kita ketemuan di sana, ya?"***
"Tania, tumben kamu mau ketemu aku lagi? Ada apa?" tanya Sandy.
Aku mau menghabisi kamu, Bodoh! Kata-kata itu terus terulang dalam hati.
"Ah, ti-tidak kenapa-kenapa sih. Cuma mau tanya kabar saja."
"Lho, tadi katanya mau curhat?"
"Iya, tapi tidak penting-penting banget. Sudah lama kita tidak mengobrol lagi seperti dulu, ya?"
"He-eh," angguk Sandy. "Jadi kangen, nih."
"Sama. Tapi aku cuma mau menunjukkan diri kalau sebenarnya aku baik-baik saja meski kamu...."
"Sstt... sudahlah, Tania. Itu masa lalu kita. Aku sih menyerahkan semuanya kepada Yang Di Atas. Mungkin kita memang tidak sejodoh..."
Tania tertunduk, menyembunyikan bias basah yang menggumpal di pelupuk matanya. Tatapannya tersita pada jari manis tangan kanan Sandy, pemuda yang pernah menjadi bagian dari jiwanya. Terlihat cincin kawin melingkar di sana!
"Kamu masih sangat cantik, Tania!"
Tania tersenyum. "Gombalmu tidak mempan lagi, Sandy."
Sandy terbahak. "Ya, ya. Selayaknya kamu memang harus dapat yang lebih baik dari aku... maafkan aku, Tania. Semua ini karena Mama...." ujarnya melanjut di penghujung tawa. 
Tania mengibaskan tangannya lembut. "Hei, sudah berapa kali kamu ungkapkan alasanmu itu ketika menampikku, dan menerima Nelly sebagai istrimu?"
Sandy tersenyum kembali, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. "Berapa kali, ya? Sejuta kali, barangkali? Hahaha...."
"Istrimu baik-baik saja?"
Sandy mengangguk. "Maafkan aku, Tania. Aku mencintaimu, dan tak sedikit pun niat dalam hatiku untuk menyakitimu. Aku penuhi keinginan terakhir Mama agar beliau dapat pergi dengan tenang. Di saat-saat terakhir Mama lantaran kanker, beliau ingin melihat aku memiliki pendamping yang sedari dulu dijodohkan denganku."
Tapi, aku juga kena kanker gara-gara kamu! Hati Tania mulai bersuara lagi tanpa ada yang tahu.
Tania terlihat menahan tangis. Dadanya sesak dan kerongkongannya memerih. "Kata siapa aku masih mengharapkan kamu? Aku bisa hidup tanpa kamu, kok!" kata Tania dengan suara gemetar.
"Ta-Tania...! Dengar dulu, dengar dulu. Aku tidak mengungkit kenangan lama kita, tapi aku jujur. Aku tidak pernah dapat melupakan kamu. Aku hanya menganggap semua ini hanya takdir. Takdir yang mengharuskan aku bersama Nelly, istriku sekarang. Aku masih mencintaimu, namun di lain pihak aku tidak dapat mengkhianati Nelly...."
Hati Tania berkecamuk oleh rasa sakit. Sepenggal kenangan lama menyeruak dan menyeretnya ke hamparan padang berduri.
"Aku merasa sangat berdosa, Tania. Berdosa telah mencampakkan kamu. Tapi, itu bukan keinginanku. Aku merasa ingin mati saja saat diharuskan memilih jalan hidupku bersama Nelly saat itu dulu. Ta-tapi...."
Tania terdiam. Kali ini ia sudah tidak mampu membendung tangis.
"Ak-aku sudah memaafkan kamu sedari dulu...," ujar Tania lamat, membohongi hatinya.
"Terima kasih, Tania! Entah dengan apa aku mampu menebus kesalahan masa laluku terhadapmu. Oh, ya, sekarang kamu bagaimana? Maksudku, apa kamu sudah menemukan pacar baru?"
Aku mencintai kamu, Bodoh! batinnya bersuara seakan masih tidak rela melepas Sandy.
Tania menggeleng. "Belum," jawabnya singkat.
Ponsel milik Sandy berbunyi.
"Tan, aku mau angkat telepon dulu!"
Sandy beranjak keluar ruangan untuk mencari sinyal dengan baik.
Tanpa panjang lebar, Tania langsung mengorek tasnya dan mencampurkan tablet yang telah dihancurkan menjadi bentuk bubuk itu ke dalam cappuccino Sandy.
Tak lama, Sandy kembali lagi dan duduk menghampiri Tania, "Sorry, Tan, agak lama. Tadi Tante aku telepon. Ini mengenai Irene yang semakin hari semakin parah saja."
"Irene? Irene adik kamu?"
"Iya. Dia depresi. Tidak mau makan dan minum. Kalau pun mau, itu pun harus dipaksa dan cuma makan sedikit sekali. Badannya kurus banget sekarang. Itu semua karena dia belum dapat menerima kehilangan Mama. Apalagi, dia baru ditinggal sama mantannya. Cowok berengsek itu semakin memperparah keadaan. Bukannya menghibur dan menabahkan hati Irene, eh dia malah berselingkuh dengan cewek lain. Ya, sudahlah. Mungkin cowok itu memang bukan orang yang tepat buat Irene," ulas Sandy panjang-lebar. "Tan, maaf, ya? Aku harus ke rumah Tante sekarang juga. Soalnya aku takut terjadi apa-apa terhadap adikku."
Tania langsung terdiam dan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Apa yang dialami oleh Irene tidak jauh berbeda dengan apa yang ia alami sekarang. Apakah ini karma dan balasan dari Tuhan untuk Sandy? tanyanya dalam hati seakan tak mengerti.
Sandy berusaha menenangkan dirinya. Digenggamnya cangkir cappuccino-nya yang masih tersisa separo itu ke gigir bibirnya.
Tania kontan berdiri dan langsung memegang cangkir kopi Sandi. "Eh, San, jangan diminum kopinya!"
"Kenapa?" Dahi Sandy mengerut. "Memang ada apa?"
Tania mengurai dalih. "Ehm.... tadi ada lalat yang hinggap!" 
"Hahaha... Tania-Tania! Aku tidak pernah takut sama lalat. Bukannya dulu kita sering juga makan di kakilima yang saban hari dikerubungi oleh lalat?"
"Pokoknya jangan!" Tania berusaha merebut cangkir itu dari tangan Sandy.
PRAAANNGG!
Cangkir terpental dan pecah. Sebagian basir kopi membasahi baju Sandy. Sebagian lagi tumpah di atas meja.
"Tuh kan, Tan? Pecah, kan?!"
"Iya, sori-sori. Kan aku sudah bilang, jangan diminum!" ujar Tania dengan wajah sumringah. Hatinya lega.
Pelayan pun segera datang membereskan semuanya.***
Sudah seminggu ini Tania bisa menjalankan hidupnya dengan agak normal. Tidak ada keinginan untuk bunuh diri, membunuh orang, mengurung diri di kamar, dan meratapi diri secara berlebihan. Paling-paling hanya menangis sesekali jika mengingat kanker otaknya lagi. Sang Bunda pun sudah mengetahui penyakitnya. Baru saja ia berjalan beberapa langkah ke koridor kantornya, tiba-tiba kepalanya terasa begitu berat. Badannya disenderkannya sebentar di samping tembok. Mukanya langsung pucat dan tenaga seakan terkuras dengan begitu dahsyatnya. Yang paling hebat adalah, ia mampu bertahan sampai jam pulang kantor.
"Tania, Mama mau ngomong sama kamu."
Tania yang terlihat lelah sehabis pulang kerja langsung duduk di sebelah Mama. "Iya, Ma. Ada apa? Mohon, jangan bicara soal penyakit lagi, ya?"
"Justru Mama mau membahas soal itu."
"Aku males mendengarnya, Ma."
"Tapi, ini kabar gembira, Nak." 
"Gembira? Gembira apa? Aku sudah hampir mati itu malah dibilang kabar gembira?" Tania tersinggung.
"Jangan ngomong sembarangan, Nak! Ada orang berbaik hati yang mau membiayai semua biaya pengobatan kamu di Singapura. Tadi Dokter Ferry yang ngomong sama Mama di telepon."
"Apa masih ada orang yang baik sama keluarga kita yang miskin ini? Memang siapa orangnya? Dan apa korelasinya. Memang apa kontribusi kita terhadap mereka?"
"Dia tidak mau disebutkan identitasnya. Tapi, tidak penting semua itu. Biarlah Tuhan yang membalas semua kebaikan orang berhati budiman tersebut. Sekarang, Mama mau kamu berangkat ke Singapura!" 
"Kalau tidak jelas untuk apa 'orang' itu berbaik hati begitu, aku tidak mau pergi!"
"Tania, sampai kapan kamu mau jadi anak pemberontak? Mama mau kamu sembuh. Kamu mau meninggalkan Mama sendirian?" Mata Mama mulai berkaca-kaca.
Tania menggigit bibirnya. Sampai saat ini, hanya sang Mamalah yang mampu membuatnya bertahan hidup walaupun ditinggal oleh Sandy. Kali ini, ia harus menuruti apa yang Mamanya inginkan. Ia melihat adanya secercah harapan. Harapan dari seseorang berhati budiman yang merahasiakan identitas dirinya.***
Akhirnya, tiba hari dimana Tania harus meninggalkan Jakarta dan menetap sementara di negeri orang. Di dalam pesawat, ia sudah tidak sabar ingin membuka surat yang dititipkan Mamanya kepadanya. Hanya boleh dibuka jika sudah benar-benar sampai di kamar hotel. Tangannya terasa begitu gatal dan tidak sabar untuk membukanya sekarang, namun pesan Mama itu terus terngiang-ngiang. Dan sudah diputuskannya untuk tidak mengingkari janji yang telah diucapkannya di Jakarta.
"Baik, baik, Ma. Aku janji, aku janji tidak akan membuka surat sebelum sampai di Singapura."
Tania mengangkat kopernya dan meletakkannya sembarangan. Direbahkan badannya di atas ranjang yang besar itu. Tubuhnya terlihat begitu lelah. Namun, rasa lelah itu kandas begitu saja karena ia ingat apa yang harus ia baca. Dibukanya amplop surat itu secara cepat. Ada dua surat rupanya.
Yang pertama surat dari sang Mama. Ia membaca isinya secara seksama, dan terkesiap dengan mulut ternganga tak lama kemudian.
Oh, Tuhan rupanya Sandy yang membiayai ini semua!
Ia serasa tak percaya. Matanya berkaca-kaca. Sama sekali tidak menyangka Sandy mengetahui penyakit yang selama ini ditutupinya rapat-rapat. Dan yang membuatnya takjub adalah bahwa, pemuda itu masih sangat menyayanginya. Sampai kapan pun, meskipun tidak dapat memiliki raganya.
"... Tania, Anakku. Sandy sangat mencintai dan menyayangimu, dan dia sama sekali tidak pernah bermaksud menyakiti hatimu. Semua ini sudah suratan takdir, bahwa jodohnya adalah Nelly dan bukan kamu. Tapi dia mengatakan kepada Mama bahwa, selamanya dia mencintai kamu meskipun tak dapat memiliki ragamu! Dia menyampaikan permintaan maaf sedalam-dalamnya atas semua kesalahan yang pernah dia perbuat padamu, dan berterima kasih karena kamu adalah anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidupnya!"
Dibacanya surat yang kedua. Ia tidak pernah bermimpi dan menyangka sama sekali akan apa yang tengah ia sentuh dan baca kali ini. Surat cinta dari Dokter Ferry!
Ia tidak menyangka, bahwa Tuhan sudah memberikannya sesuatu yang terbaik, yang akan indah pada waktunya. Airmatanya berlinang tanpa terbendung dirundung haru dan bahagia.
Ya, semuanya akan indah pada waktunya! ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger