Sabtu, 30 April 2011

Pasar Burung By. Lan Fang

Bunga bekerja di sebuah pasar burung. Sebagaimana umumnya pasar, maka pasar burung itu dipenuhi berbagai macam burung. 
Bunga suka dengan burung-burung emprit yang memiliki sayap-sayap lemah. Mereka diletakkan di dalam sebuah sangkar besar terbuat dari kawat berbentuk persegi. Bulunya berwarna hitam kusam. Mereka berdesakan sehingga ada beberapa bulu mudanya rontok memenuhi lantai seperti seonggok debu. 
Pemilik pasar burung ini suka dengan burung beo unik berbulu pirang. Beo ini sudah dipeliharanya delapan tahun. Beo sudah terlatih mengucapkan, "Selamat pagi, Bos!". Beo pandai mencela burung-burung lain, "Hei, emprit, hush! Di sini tidak boleh ramai! Apa sih yang bisa dilakukan perkutut tengik itu di sini kecuali hanya berbunyi tekukur? Dan coba dengarkan cucakrawa itu bisanya cuma celometan." 
Pasar burung itu kecil saja. Dan semakin terasa sesak karena dipenuhi oleh burung-burung yang kian hari kian berbiak. Selain dihuni oleh para burung, pasar itu dipimpin oleh Mister Omzet dan dijaga oleh Parnoranger. Pak Boss punya cita-cita, walaupun pasar itu cuma sebuah pasar burung kecil tetapi bisa berkembang menjadi pasar burung besar dan modern. Mungkin kelak akan menjadi departement store burung. "Untuk itu harus dikelola secara baik dan profesional," begitu kata Pak Boss. 
Tugas Mister Omzet adalah memerhatikan penjualan burung, persediaan burung, perawatan burung, dan semua yang berhubungan dengan kelangsungan hidup para burung. Ia seperti lelaki dari benua lain yang berkulit putih. Sekujur kulit tubuh dan wajahnya putih. Bahkan bibir dan rambutnya juga berwarna kepucatan. 
Sedangkan Parnoranger bertugas sebagai pengaman, ia seperti orang-orangan di sawah yang dipakai untuk menakut-nakuti burung. Tangan dan kakinya terbuat dari jerami yang diikat menjadi satu. Wajahnya rata, juga terbuat dari susunan jerami. Tidak ada mata dan hidung. Pak Boss membuat sebuah lekukan yang dinamakan mulut. Tetapi karena Parnoranger terbuat dari jerami, maka ia tidak bisa tersenyum dengan sempurna. Ia tidak bisa menggerakkan kedua ujung mulutnya menjadi senyuman. Ia hanya bisa menarik sebelah ujung mulutnya sehingga lebih menyerupai seringai daripada senyuman. Ia menjalankan tugasnya dengan baik sehingga tidak ada sebutir padi pun yang dicuri burung dari tangkainya.***
 Bunga sedih. Di pasar itu tidak ada yang bisa diajaknya bicara tentang matahari yang terlihat bulat seperti kemontokan pipi seorang bocah. Atau yang mendengarkan ceritanya tentang ganggang laut yang rindu panggangan matahari karena di bawah sana yang ada hanyalah kelembaban. Di pasar itu yang ada dari hari ke hari hanyalah burung-burung bersayap gelisah, Parnoranger dengan kepala ampas jerami yang kosong atau celotehan beo yang kadang melengking-lengking seperti kiamat akan tiba lima menit lagi. Sebetulnya yang bisa diajak bicara adalah Mister Omzet yang pucat. Tetapi yang keluar dari mulut piasnya hanya kata-kata dari tape recorder yang diulang-ulang: "Bunga, bagaimana pasar burung kita menjadi ramai?" 
"Bukankah burung-burung itu sudah cukup ramai?" Bagi Bunga, pasar burung itu sudah berisik oleh gemerisik sayap burung, beo yang tidak pernah berbisik atau orang-orangan sawah yang bersisik. Masih ditambah jalanan yang bergetar karena begitu banyak kendaraan mengibarkan bunyinya. Bunga sering merasa senar jantungnya gemetar tergeletak di tanah datar, menggelepar, untuk denting waktu yang menampar. Waktu yang terkapar, lapar, terlempar, keluar dari sauh sepasang jarum panjang dan jarum pendek dalam arus yang melingkar. 
"Ramai pembeli burung, maksudku," Mister Omzet menjawabnya dengan gerakan kepala seanggun merak memekarkan ekornya. 
"Ramai orang, maksudmu?" 
"Ramai orang yang membeli burung, maksudku," Mister Omzet mempertegas penjelasannya. "Pasar burung ini harus meningkat pembeliannya. Karena setiap hari kita harus memberi biji-bijian untuk makanan burung-burung itu. Itu berarti ongkos. Belum lagi kalau ada burung yang sakit atau mati. Itu berarti risiko." 
Bunga mengatakan, mungkin burung itu sakit merana. Burung juga rindu kekasihnya. Mungkin kekasihnya hanya sebatang pohon yang berlumut atau sebongkah batu abu-abu. Biarlah menjadi kekasih pohon atau kekasih batu. Tetapi tetap punya kekasih untuk dicumbu. Bukan sekadar mengepakkan sayap lemahnya dengan gelisah menunggu pembeli burung yang akan memasukkannya ke dalam kurungan yang baru. Sangkar yang itu-itu juga. 
Atau mungkin burung itu mati ketakutan oleh orang-orangan sawah yang hanya punya sebuah lubang di wajahnya, yang cuma bisa menyeringai menyajikan kebodohan. Orang-orangan sawah yang bisanya cuma membentak "Hush! Hush! Jangan bawa biji padiku! Hush! Hush! Awas! Kuperingatkan kau, jangan bawa biji padiku!" 
Bertahun-tahun yang lalu, Bunga rajin melepaskan burung-burung. Setiap bulan ia menyisihkan uang sakunya untuk membeli beberapa ekor burung dan melepaskannya. Ia gembira melihat burung-burung kecil itu berlomba keluar dari kurungan. Mereka berputar-putar sebentar dengan kebingungan seakan mencari ke arah mana angin bernapas. Sekian jenak barulah mereka menyadari bahwa mereka sudah menjadi bagian dari angin. Kemudian mereka mencericit menggenapi bahasa angin. 
Ketika itu ia berkenalan dengan Mister Omzet. "Suka sekali kau membeli burung-burung. Untuk apa?" Pertanyaan yang aneh untuk Bunga. Bukankah semakin banyak Bunga membeli burung, seharusnya Mister Omzet semakin gembira? 
"Kata orang, bila kau sering mendengar ricik air, desir angin, dan kicau burung, maka umurmu akan bertambah sepuluh tahun," sahut Bunga. 
"Di sini kau akan selalu mendengar suara burung," sahut Mister Omzet. 
Maka bekerjalah Bunga di pasar burung itu. Tugasnya sederhana, hanyalah membuat pasar burung itu ramai didatangi orang. Agar orang-orang terpesona dengan burung-burung dan membelinya. 
Dan seperti kata orang agar umur bertambah panjang sepuluh tahun lagi, maka di pasar burung itu sekarang ada air yang mengalir menerabas himpitan bebatuan, angin yang menyelinap di ketiak dedaunan, semak anggrek yang menempel di batang pohon, buah plum merah liar yang bergerombol menyembul seperti perawan malu-malu, dan sebatang dahan adenium merah jambu berjuntai mengintip dari tingkap atap. 
Ini bukan pasar burung lagi. Tetapi ini Eden! Ini Firdaus! 
Sekarang Bunga bahagia di Eden, di Firdaus. Setiap hari hatinya terasa seringan kapas dan ia terus tertawa. Matanya berkedip-kedip membalas kedipan genit burung-burung yang mencuri lirik. Burung-burung kecil tidak lagi menceracau tetapi berkicau. Kepaknya tidak resah melainkan gemulai. Mereka mematuki biji-biji padi yang bernas dengan bebas. Kupu-kupu lalu lalang, lebah datang, kumbang berciuman dengan kembang. 
Tapi Mister Omzet berkata, "Bunga, ini pasar burung. Bukan taman bunga. Kita menjual burung. Bukan menjual madu. Kita perlu orang. Kita tidak perlu tawon. Jadi, carilah orang untuk membeli burung." 
Bunga pikir, makhluk mana yang tidak menikmati Eden, tidak menyukai Firdaus? Bila kupu-kupu, lebah, kumbang, begitu mencintai keindahan, sudah pasti manusia tidak akan meninggalkannya, bukan? 
Siapa tak suka madu, siapa tak suka manis, siapa tak suka indah, siapa tak suka? Tak sukakah? Tak? 
Tapi mungkin Mister Omzet tak suka, beo tak suka, Parnoranger tak suka. Mereka tak suka. Tak! 
"Kita harus mengeluarkan ongkos lebih besar lagi untuk memelihara Eden ini. Firdaus ini terlalu banyak bunga. Kita kerepotan merawatnya. Serangga-serangga kecil itu juga begitu ribet tetapi tidak memberikan keuntungan. Bunga, sebentar lagi ada festival burung, kupikir lebih baik berkeliling dengan gerobak menawarkan perkutut kita, cucakrowo itu, dan burung-burung lain itu." 
Si beo membeo, "Gerobak! Gerobak! Gerobak!" 
Pak Boss juga berkata, "Gerobak tidak jelek. Tidak perlu kereta ditarik kuda. Dan tidak ada salahnya beranjak dengan pedati ditarik sapi, bukan?" 
Si beo membeo lagi, "Sapi! Sapi! Sapi!" 
Menurut mereka, festival burung ini sangat penting. Semua orang dari penjuru kota akan berbondong-bondong mengikuti festival burung. Maka pasar burung harus mengeluarkan burung-burung terbaiknya. Mereka pasti membeli dan melatih burung-burung untuk mengeluarkan suara paling merdu. Kupu-kupu, lebah dan kumbang itu hanya bikin sesak tempat karena mereka adalah serangga yang tidak penting. Mereka cuma serangga kecil yang hanya diperlukan untuk menyemai serbuk bunga, untuk perkawinan putik bunga, untuk melahirkan kuntum-kuntum bunga baru. 
Bunga sedih lagi. 
Bunga ingin burung-burung bukan cuma berkicau bila ada festival burung. Tetapi senantiasa menyanyi riang seperti musim semi yang tidak pernah berhenti dan tetap berkicau ketika musim gugur membuat daun-daun berwarna kuning tembaga. Burung yang berkicau menyambut matahari musim panas dan tetap berkicau menghibur musim salju yang terasa murung. 
Tapi Bunga bisa apa? Ia cuma sekuntum bunga dengan kelopak rapuh yang gembira ketika tumbuh di Eden, di Firdaus. Ia kembang yang mekarnya tak sempurna karena sekadar menjadi penikmat surga dengan mata terjaga. 
Surga yang tak pernah ada ketika orang-orangan sawah bernama Parnoranger bergerak dengan kaku. Rumput berserakan dengan jerami yang berjatuhan. "Hush! Hush! Kau mengambil biji padiku! Kembalikan biji padiku! Kau seperti burung tak bertelinga!" serunya ketika siang bersanding dengan petang dan terang mulai bersetubuh dengan gelap. Bayangan orang-orangan sawah itu berjalan dengan langkah terseret-seret meninggalkan baret panjang di kelopak Bunga. Seperti badan mobil yang disilet. 
"Kamu tidak berdarah karenanya. Seharusnya juga tidak perlu ada perih. Belajarlah bahasa jerami, maka kau akan mengerti, bahwa ia cuma menjaga padi," begitu kata Pak Boss seakan silet tidak menyebabkan gurat. 
"Aku bukan penjaga padi. Aku bunga tanpa duri. Aku cuma paham bahasa wangi." 
"Bukankah padi juga selajur tangkai?" 
"Kalau begitu ajari aku bahasa jerami." 
Pak Boss kelihatan jengkel padanya. "Kemarin masalah pedati ditarik sapi, sekarang masalah sebiji padi! Kau memang lebih baik jadi burung daripada menjadi bunga! Sana, patuklah duri!" Pak Boss melempar Bunga ke udara. Kelopaknya terbang membentang, lebar melayang. Maka ia menjadi burung. 
Tapi bukan burung beo membeo, bukan burung emprit yang resah, bukan merak yang angkuh, tapi ia Merlin — elang kecil dengan sepasang kepak sekuat kapak yang bisa menebas angin menyambar petir. Cakarnya seperti cakram bergerigi, tak pernah luput mencengkram gagak hitam yang rajin berkaok-kaok. Ia meluncur dengan kecepatan penuh dengan paruh untuk mematuk. Ia Merlin yang tidak takut dengan orang-orangan sawah. Kukunya menyambar udara dan menyobek mulut orang-orangan sawah itu. Kepala Parnoranger terpelanting lepas dari tubuhnya. Terlempar. Mengelinding dengan sedih. Burung-burung kecil berebut mematukinya. Memburai tangannya, kakinya, kepalanya dari bebatan. 
Suara lengkingan si beo seperti kiamat sudah tiba, "Parnoranger! Parnoranger! Parnoranger!" 
Tidak ada yang peduli. 
Tidak ada darah juga tidak ada perih. 
Ia cuma sebuah boneka jerami! ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger