Jumat, 29 April 2011

Paku di Kepala Istri Sanusi By. Gita Nuari

Cerita dari Desa Legok Sirah, 
Delapanpuluh Empat Tahun yang Lalu


Yuni sangat terkejut setelah menemukan sebuah paku berukuran tujuh senti meter menancap di kepala ibunya sewaktu dia sedang mencarikan kutu. Lalu sang anak menyampaikan penemuannya itu kepada ibunya "Ada paku di kepala Ibu!"
Sang ibu tak sekejut anaknya. 
"Bisa kamu cabut, Yun?" perintah sang ibu akhirnya.
Yuni yang diberi tugas tampak serius memeriksanya. Perempuan yang bersuamikan Sanusi, seorang petani itu menunggu dengan harap-harap cemas. Sebab dia tahu, karena paku itulah dirinya tidak bisa lagi pergi ke dunia gaib sebagai makhluk yang bernama kuntilanak. Sanusi yang sempat kehilangan istrinya, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan istrinya kembali. Maka pada suatu malam Sanusi berhasil menangkap istrinya di atas pohon asam yang ada di belakang rumahnya dan langsung memantekkan sebuah paku ke kepala istrinya sehingga tidak bisa terbang lagi. Dan ini kali adalah kesempatan yang kesekian bagi istrinya untuk bisa pergi lagi ke alam gaib yang pernah dia jalani sebelumnya. 
"Kayaknya pakunya panjang, Mak. Apa tidak sakit kalau dicabut?" 
Istri Sanusi itu termenung sejenak, lalu berkata: "Emak rasa tidak, Yun. Coba dicabut saja." 
"Yuni coba ya, Mak," kata Yuni, putri bungsu keluarga Sanusi yang memiliki dua orang anak itu berusaha mencabut paku dari kepala ibunya.
Namun setelah paku itu berhasil dicabut, tiba-tiba sang ibu terbang sambil meninggalkan tawa menuju arah pohon asam di belakang rumahnya lalu menghilang di rimbun dedaunan. Menyaksikan ibunya bisa terbang, Yuni langsung pingsan. Yunar, kakak Yuni yang terakhir tahu kejadian itu langsung berlari menemui ayahnya di sungai - sedang mencuci sayuran yang baru dia petik di ladang. Sanusi sangat terkejut setelah mendengar pengaduan anak lelakinya kalau ibunya sudah bisa terbang lagi. Tanpa banyak tanya Sanusi berlari menuju rumahnya. Didapatkan Yuni masih tergeletak. Buru-buru Sanusi menyadarkan Yuni dengan memberi minyak angin. Yuni perlahan siuman. Lalu menceritakan ibunya telah hilang. 
"Pasti ada yang mencabut paku di kepala Emak kalian!" tuding Sanusi geram. Sang anak tertunduk. 
"Yuni menyesal, Pak," aku Yuni dengan suara lemah. 
"Apa yang harus disesali kalau sudah begini," tukas sang Ayah. 
"Makanya, apa-apa yang aneh di keluarga kita segera disampaikan. Berapa belas tahun sudah Bapak menyembunyikan rahasia Emak?!" Yunar mengentakkan tangannya emosi. "Sekarang...?!"
"Maaf, Bapak tidak sempat memberitahukan kalau di kepala Emak kalian ada paku yang tidak boleh kalian cabut," terang Sanusi sambil meredam sesal di hati. 
"Jadi sekarang bagaimana, Pak?" tanya Yunar kesal, melirik tajam ke sepasang mata redup ayahnya. 
"Kita harus menangkap Emak kalian lagi, lalu memakunya kembali." 
"Bagaimana caranya, bukankah kita sendiri tidak bisa terbang seperti Emak?" 
"Kita harus cari akal."***
Menjelang gelap malam, Yunar, dengan paku dan batu di tangan, sudah berada di perkebunan karet yang tidak jauh dari rumahnya. Yunar berharap dirinya dapat menangkap ibunya di antara pohon-pohon karet yang tegak berdiri di sekelilingnya. Sementara Yuni yang dibantu oleh beberapa tetangganya memilih berjaga-jaga di bawah pohon asam yang ada di belakang rumahnya. Karena ke pohon itulah dia melihat ibunya terbang dan menghilang di situ. Lain halnya Sanusi, dia mengawasi istrinya dari bawah pohon mangga yang tengah berbuah lebat. Sebab dahulu sewaktu dia belum bisa menangkap istrinya, dia sering melihat istrinya memetik buah mangga itu bersama kelelawar-kelelawar. Dan sebagian buah yang dipetiknya sering dijatuhkan ke halaman rumah dengan maksud untuk dimakan oleh anak-anaknya yang waktu itu masih kecil-kecil. 
"Untuk apa?" tegur Sanusi waktu itu karena menganggap perbuatan istrinya bukan perbuatan seorang ibu tapi perbuatan kuntilanak. 
"Aku memberi makan anak-anakku," terdengar istrinya menyahut. 
"Malam begini bukan waktunya memberi makan anak dengan makanan asam. Kau akan menyiksa anak-anakmu sendiri!" kata Sanusi. Sang istri tak menyahut, justru dia melesat terbang ke pepohonan yang lebih tinggi. Dua ekor tupai dan seekor burung yang sudah mati dilemparkan dari atas pohon ke pintu dapur. 
"Itu bisa kamu panggang. Beri makan anak-anak kita," kata istrinya memohon dari atas pohon. Sanusi menolak karena tiga binatang buruan itu telah menjadi bangkai semua. 
Dari pengalamam itulah, Sanusi jadi lebih hafal dimana istrinya kerap berdiam. Namun hari itu tidak ditemukannya tanda-tanda keberadaan istri Sanusi. Para tetangga yang turut mencari akhirnya kembali pulang dengan tangan hampa. 
Akan tetapi, di balik kecemasan mereka, ada pula yang mensyukuri dapat dicabutnya paku dari kepala istri Sanusi, yaitu seorang perempuan yang bernama Emar, istri Leman, seorang penambang pasir di kampungnya. Emar berharap atas lepasnya Suti, yaitu istri Sanusi, akan ada perubahan nasib terhadap dirinya. Karena dirinya pun tak beda dengan istri Sanusi yang ingin lepas bebas seperti dahulu kala. 
"Suti, datanglah kepadaku," bisik Emar sambil memandangi awan hitam yang berarak di antara bulan sabit yang terjebak oleh cuaca buruk melalui jendela rumahnya malam itu. "Ayo Suti, tolong temanmu ini. Aku tersiksa, Suti. Aku tersiksa," lemah suara Emar karena khawatir suaranya akan terdengar oleh suaminya yang tengah menunggu dirinya di pembaringan. Sementara itu Suti sudah mendengar suara temannya itu dari atas pohon waru. 
"Sabar Emar, semua teman-temanku akan kubebaskan dari belenggu kaum lelaki yang serakah. Mereka akan bertekuk lutut nanti. Selama ini mereka hanya bisa memeras kita dan memperbudak kita. Mereka tak punya pikiran. Mereka gauli kita meski kita dalam keadaan sakit. Mereka terlalu menguasai kita. Kita harus balas. Dan sekaranglah waktunya. Dengan bebasnya aku, kalian semua akan kubawa ke tempat kita dulu. Tunggu saja, pada saatnya nanti kalian pasti lepas dari jerat mereka" 
"Terima kasih, Suti. Terima kasih," balas Emar sambil menutup daun jendela dan terus menghampiri suaminya di pembaringan. Malam itu Emar memberi kehangatan tubuhnya untuk terakhir kali kepada suaminya. Sebab pada malam berikutnya, Suti benar-benar datang menemui Emar yang menunggu di belakang rumahnya. Tanpa menunggu waktu lama, Suti sudah dapat mencabut paku yang ada di kepala teman dekatnya itu. Setelah paku dicabut, tubuh Emar seakan bersayap. Badannya jadi ringan. Dan akhirnya Emar bisa terbang bersama Suti menembus kepekatan malam. 
Tampaknya seperti dendam kesumat, kedua perempuan yang sudah bisa terbang dan menghilang itu akhirnya mendatangi para kaumnya yang senasib. Dicabutinya paku-paku yang ada di kepala mereka masing-masing. Dan pada akhirnya, para perempuan yang memiliki suami dari suku asli penduduk kampung itu semuanya dapat terlepas dari jerat paku yang dipantek oleh para suami mereka. Lalu mereka beterbangan layaknya kelelawar-kelelawar penghuni lautan malam hari. Mereka kembali menempati tempat tinggal mereka yang lama seperti pada pohon-pohon besar yang ada di lereng-lereng bukit. 
"Aduh, bagaimana ini! Paku di kepala istriku ada yang mencabutnya," teriak Leman setibanya di hadapan teman-temannya yang sedang membantu mencari istri Sanusi sebagai orang pertama yang pakunya lepas dari kepalanya. Teman-teman Leman pada terkejut termasuk Sanusi sendiri. 
"Jangan-jangan istri kita juga sudah tidak ada di rumah?" kata Lengger penuh kekhawatiran. Tanpa dikomando, para suami, serempak berlari menuju ke rumah mereka untuk melihat keberadaan istri masing-masing. Obor yang mereka bawa berlari mengobar seakan menggambarkan kecemasan. Lari mereka serupa serigala hutan yang tengah mengejar mangsa. Mereka berpikir, kalau Suti sudah bisa lepas, urusannya akan jadi runyam. Contohnya sudah ada, yaitu istri Leman yang kedapatan sudah bisa terbang seperti Suti. Maka mereka, para suami, berusaha menyelamatkan istri-istri mereka dari hari pembebasan yang tengah dikibarkan oleh Suti, istri Sanusi itu. 
"Apa aku bilang, istriku pun lenyap. Ini pakunya!" teriak Matarwi keluar dari dalam rumahnya sambil memperlihatkan sebuah paku kepada teman-temannya yang belum sempat melihat keberadan istrinya. Matarwi kembali masuk ke dalam rumah, diikuti oleh beberapa temannya. Matarwi melongok ke kolong-kolong tempat tidur siapa tahu istrinya bersembunyi di kolong tempat tidur. Tak ada. Teman-teman Matarwi panik, termasuk Lengger yang sudah curiga sedari awal tadi. Lalu mereka berlarian menuju ke rumah masing-masing mencari istrinya. 
"Meni! Meni! Jangan pergi!" suara Lengger cukup keras keluar dari dalam rumahnya sambil memegang sebuah paku yang dia temukan di atas tempat tidurnya. Anak-anak mereka bertangisan memanggil-manggil ibunya. Dan malam itu para suami telah kehilangan istri mereka masing-masing. 
"Kita tidak akan mendapat istri sebaik mereka lagi," rintih Jagur sedih. 
"Benar, kita bakal kerepotan sepanjang hidup tanpa kehadiran istri di sisi kita. Mereka begitu baik dan telaten mengurusi kita," sesal Dayut sambil menangis. 
"Tapi, mengapa mereka tega meninggalkan kita secara berbarengan? Apakah mereka dendam pada kita yang memiliki kedudukan lebih tinggi, sementara mereka selalu kita rendahkan hanya sebagai pengurus rumah tangga?" tanya Toyo. 
"Sekarang kita harus berani mengaku bahwa kita yang salah. Karena, selain memasung istri, kita juga terlalu memperbudak mereka. Di sinilah kekeliruan kita memperlakukan mereka," ujar Leman. Setelah mereka menyadari kekeliruannya, akhirnya satu per satu membubarkan diri untuk kembali mencari istri masing-masing. 
Malam kembali sunyi. Lolong serigala dari atas bukit melengking menyusup ke relung-relung jiwa yang ditinggalkan. Para suami dan anak merasa kehilangan belahan hati mereka. Hingga pada akhirnya, anak-anak di kampung itu menuntut ayah-ayah mereka untuk bisa mengembalikan kembali ibu-ibu mereka yang telah pergi.
Namun, para suami mengambil keputusan yang sama sekali janggal. Para suami tiba-tiba memantek kepala mereka sendiri dengan sebatang paku, dan berharap bila kelak paku yang tertancap di kepala itu dicabut oleh anak-anak mereka, maka mereka akan dapat terbang untuk menyusul istri-istri yang telah pergi. 
"Cepat cabut paku yang ada di kepala Bapak ini, Seno!" pinta Lengger kepada anaknya setelah dia memaku kepalanya sendiri dengan sebuah paku hingga berdarah-darah. Seno amat terkejut melihat darah yang mengalir deras dari kepala ayahnya. Spontan anak itu menjerit dan berlari keluar rumah. 
"Tolong! Bapakku bunuh diri! Tolong Bapakku bunuh diri...!" 


Depok, Januari 2006 - 2007 ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger