Sabtu, 30 April 2011

Nenek Weng dan Calon Cucu Menantu By Merlin Herlina

Tahun 1966, Kakek Buyutku dari pihak Ayah, Ciang Wengwah, berulang tahun yang ke-87 tahun.
Pada perayaan hari ulang tahunnya di bulan April tahun itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, keluarga mengadakan pesta kecil dengan hanya mengundang kerabat dan kawan-kawan Kakek Buyut berkunjung ke rumah. Meski demikian, karena waktu itu belum ada istilah penyewaan gedung dan jasa katering, otomatis acara ini pun membuat sibuk para penghuni rumah terutama para kaum wanita.
Pada hari menjelang berlangsungnya acara kumpul-kumpul tersebut, Neneklah yang terlihat paling sibuk karena dia akan bertindak selaku Nyonya Rumah. Bukan hanya kesibukan menata rumah dan mengatur kursi bagi para tamu yang akan hadir. Tetapi juga mengatur perjamuan. Semua makanan untuk keperluan sembahyang dan pesta masih harus dibuat dan dimasak sendiri. Beberapa jenis kue ulangtahun seperti onde-onde kukus gula merah dan pawa kacang (bakpao khas China) berbentuk buah persik sudah harus dibuat dua hari sebelum acara. Beruntunglah salah satu saudara perempuan Kakek, Yen Ndui pandai membuat kue-kue tradisional seperti itu. Setiap kali ada acara semacam ini, Yen Ndui pasti datang untuk membantu Nenek.
Selain Yen Ndui, saudara perempuan Kakek lainnya yang juga datang ke rumah untuk membantu adalah Leiho, adik angkat Kakek. Nenek merasa lega setiap kali kedua iparnya datang membantunya dalam acara hajatan seperti itu. Selain keduanya, Nenek juga tidak lupa berterima kasih kepada satu orang yang juga penting dalam terlaksananya acara perjamuan seperti ini. Dia adalah seorang pria bermarga He, bernama Lu. Nenek dan keluarga lainnya memanggilnya dengan sebutan He Lu Pa, singkatan dari He Lu Appa yang berarti Paman He Lu.***
Paman He Lu adalah besan Kakek dan Nenek. Beliau adalah orang Tionghoa yang juga berasal dari propinsi Guandong. Ketika pertama kali pindah ke Nan Yang (sebutan Indonesia pada masa lampau) puluhan tahun silam, dia memutuskan untuk menetap di kota Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sebuah kota kabupaten yang jauhnya seratus duapuluh kilometer di sebelah selatan kota Makassar. Namun meski tinggal di Bantaeng, Paman He Lu sering ke Makassar. Ini dikarenakan beberapa kerabatnya juga tinggal di kota ini. Putri kedua Paman He Lu yang bernama Mingcu, menikah dengan putra sulung Nenek, yang tak lain adalah Paman Tertuaku. Keduanya menikah lewat perjodohan pada tahun 1961, dan sampai tahun 1966 mereka baru dikaruniai dua orang anak masing-masing seorang lelaki dan perempuan.
Paman He Lu mempunyai hobi memasak. Hobi inilah yang membuatnya terkenal sebagai salah satu koki Tionghoa handal di Makassar saat itu. Dia sangat ahli dalam membuat makanan asin, mulai dari yang berbahan sederhana hingga yang paling rumit. Paman He Lu juga mahir memainkan wajan dan sudip di atas bara api yang menyala-nyala sehingga atraksi memasaknya kadang-kadang menarik perhatian. Segala jenis olahannya, baik itu di tim, direbus, ditumis, dipanggang atau digoreng, semuanya sangat lezat. Paman He Lu pandai sekali meramu bumbu-bumbu dan dia tahu persis kapan harus menggunakannya. Sehingga, untuk makanan sesederhana bubur ayam pun, apabila yang membuatnya adalah Paman He Lu, lidah para pencicipnya akan berdecak lezat usai menikmatinya.
Meski memiliki kemahiran dalam hal memasak, Paman He Lu sama sekali bukan orang yang sombong. Sebaliknya, dia sangat ramah dan senang menolong orang. Seperti contoh dengan adanya acara ulang tahun Kakek Buyut seperti ini. Tanpa diminta, Paman He Lu sudah duluan menawarkan bantuan untuk memasak aneka hidangan perjamuan yang lezat-lezat tanpa minta dibayar sepeser pun.
Biasanya, Paman He Lu akan berdiskusi dengan Nenek tentang jenis masakan apa saja yang akan dihidangkan dalam perjamuan. Setelah itu, Paman He Lu akan membuat daftar bahan-bahan yang diperlukan, termasuk bumbu-bumbu. Lalu sehari sebelum acara dia akan datang mengecek kesediaan bahan-bahan tersebut. Sebagai tambahan, kadang-kadang dia memberi tips memotong beberapa jenis sayuran atau daging. Kadang-kadang pula dia merendam daging untuk jenis masakan tertentu dengan aneka rempah, supaya ketika dimasak keesokan harinya bumbunya telah meresap.
Sayangnya, sikap suka menolong Paman He Lu tidak menurun pada putrinya. Mingcu paling jengah apabila harus menghadapi hajatan besar keluarga suaminya seperti ini. Rumah terasa hangar-bingar dan di mana-mana terlihat kesibukan. Mingcu sama sekali tidak tertarik untuk membantu. Setiap kali ada acara kumpul-kumpul semacam itu, Mingcu justru bersembunyi selama beberapa hari di kamarnya dan baru akan keluar kamar setelah acara selesai berlangsung.
Awalnya Nenek cukup toleran dengan sikap menantu sulungnya ini. Tapi lama-kelamaan, Nenek tak tahan lag untuk menegurnya. "Tolong kamu jangan bersikap seolah-olah tak peduli seperti itu. Tidakkah kamu melihat semua orang khususnya di dapur sangat sibuk? Apakah kau tidak merasa sungkan kalau para Ku Hu—sebutan untuk saudari-saudari Kakek, dan Ayahmu bahkan datang membantu sementara kamu hanya bersembunyi dan menghindar dari segala pekerjaan."
Mingcu kurang senang ditegur ibu mertuanya seperti itu. Keesokan harinya, dengan dalih ibunya sakit, Mingcu membawa kedua anaknya pamit dari Nenek dan pergi ke Bantaeng. Perasaan Nenek dongkol bukan main. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa atau melarang. Maka, dibiarkan menantunya itu kembali ke rumah orangtuanya.
Nenek Buyut yang melihat sikap Nenek itu kurang setuju. Dia berkomentar, "Kau terlalu lembek dengan menantumu itu, makanya dia selalu bersikap semaunya. Coba kalau kau menerapkan cara-caraku dulu kepada menantumu ini. Kujamin dia pasti akan tunduk dan takut padamu."
Nenek menggeleng-gelengkan kepala. Meski sikap Mingcu tidak sebaik yang diharapkannya, Nenek tetap tidak setuju dengan cara-cara 'penindasan' yang disarankan ibu mertunya.
Maka seperti biasa, sehari sebelum pesta berlangsung, Paman He Lu datang berkunjung untuk melakukan pengecekan. Dia datang dari Bantaeng sejak kemarin pagi dan menginap di rumah salah satu kerabatnya. Jadi, Paman He Lu tidak tahu kalau justru putrinya yang pulang ke Bantaeng. 
"Hei, Chin Cia—Besan, kau tampak sibuk sekali. Di manakah gerangan putriku? Kenapa dia tidak di sini dan membantu ibu mertuanya?" Paman He Lu menyapa Nenek ketika berjalan memasuki dapur. 
Lidah Nenek terasa kelu entah harus mengatakan apa. Kedua saudari Kakek yang sedang membuat adonan kue melirik ke arahnya. Mereka menunggu. Apakah ipar mereka yang terkenal penyabar ini akan mengadukan tingkah menantu perempuannya itu kepada ayahnya.
Tapi sebelum Nenek bisa berkata sesuatu, Nenek Buyut yang kebetulan juga berada di dapur itu segera menyelutuk kepada Paman He Lu.
"Aih, Paman He Lu, putrimu itu sungguh menantu yang tak berguna...."
Paman He Lu terkejut. Dia berujar dengan sedikit bingung, "Apa maksud Nenek Weng? Apakah putriku melakukan kesalahan di sini?"
Nenek Buyut segera menjawab pertanyaan Paman He Lu itu panjang lebar.
"Paman He Lu, kau tak tahu saja tingkah putrimu itu di sini seperti apa! Dia hidup bagaikan Nyonya Besar dan tak pernah peduli dengan segala urusan rumah tangga. Contohlah pada saat-saat menjelang acara ulangtahun suamiku seperti ini. Dia bukannya membantu kami yang sedang sibuk bukan kepalang, Eh, malahan dia dengan entengnya bilang kalau mau pulang ke Bantaeng karena Ibunya sakit."
"Apa?" Paman He Lu berseru seolah tidak percaya. "Seingatku, ketika aku meninggalkan Bantaeng kemarin pagi, istriku baik-baik saja dan sehat walafiat. Siapa bilang dia sakit?"
"Tanyakan itu pada putrimu!" sahut Nenek Buyut dengan ketus.
Wajah Paman He Lu mendadak berubah menjadi merah padam. Nenek berusaha menjelaskan kepada Paman He Lu.
"Kemarin sore Mingcu minta izin pulang ke Bantaeng karena katanya ibunya sakit. Dengan alasannya seperti itu, tentu saja aku tidak bisa melarang...."
"Beruntunglah putrimu mempunyai ibu mertua baik hati seperti menantuku," potong Nenek Buyut. "Kalau saja dia memperoleh mertua seperti aku, sudah pasti aku tidak akan dengan begitu mudah membiarkan dia bertingkah sesukanya!"
Paman He Lu tidak mampu berkata apa-apa mendengar penuturan Nenek Buyut. Hanya wajahnya saja yang terlihat semakin memerah dan dalam dadanya memendam amarah. Paman He Lu tidak berlama-lama di rumah itu. Usai mengecek kelengkapan bahan-bahan masakannya dan mendengar omelan Nenek Buyut panjang-lebar, dia mohon pamit. Tak seorang pun yang tahu kalau sore itu juga Paman He Lu menuju ke terminal dan naik mobil pulang ke Bantaeng.
Saat tiba di Bantaeng empat jam kemudian, hari telah malam. Tanpa banyak bicara, dia bergegas menuju rumahnya yang terletak di daerah pecinan Bantaeng. Istrinya tampak terkejut melihat kepulangan Paman He Lu. 
"Lho, kenapa kau pulang cepat sekali? Bukankah acara ulangtahun Kakek Weng baru akan berlangsung besok?"
Paman He Lu tidak menanggapi pertanyaan istrinya melainkan mengajukan pertanyaan, "Mana Mingcu?"
"Mingcu? Dia ada di atas bersama putri-putri kita yang lain. Dia tiba kemarin sore karena merasa tidak enak badan."
"Kalau sedang tidak sehat, kenapa masih bisa bertahan duduk di mobil empat jam untuk datang kemari?" Paman He Lu menimpali. "Putri kita yang satu ini terlalu banyak berdalih."
Paman He Lu melewati istrinya dan langsung naik ke lantai dua rumahnya. Di atas sana dia mendapati Mingcu, tengah bercanda bersama saudari-saudarinya yang lain. Mingcu tampak tertawa-tawa, sama sekali tidak menunjukkan cirri-ciri sedang sakit.
"Mingcu!" seru Paman He Lu. Putri-putrinya yang tadinya asyik bersenda-gurau langsung berhenti. Semuanya menoleh ke arah Ayah mereka.
"Kau!" Paman He Lu menuding Mingcu. "Aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau kau seorang pengatur strategi yang hebat, rupanya. Demi menghindari kesibukan yang tengah dihadapi keluarga suamimu, kau beralasan bahwa ibumu sakit sehingga kau diizinkan pulang kemari. Setiba di sini, kau justru berbohong kepada ibumu kalau kaulah yang sakit."
Belum sempat Mingcu mengutarakan sesuatu untuk membela diri, Paman He Lu sudah menyergah duluan.
"Kau jangan berdalih macam-macam lagi! Hari ini aku telah mengetahui semua tingkah laku burukmu di rumah suamimu. Kau benar-benar telah membuat Ayah malu! Bayangkan, kuping Ayah sampai panas mendengar omelan dari Nenek Weng tentang dirimu!"
Mingcu tampak terkejut. Dia sama sekali tidak menduga kalau Ayahnya bakal mengetahui kelakuannya selama ini.
"Aku mau, saat ini juga kau dan kedua anakmu kembali ke Makassar!" Paman He Lu memerintah.
Mata Mingcu membelalak. "Apa?" serunya seolah tak percaya. "Tapi hari kan sudah malam...." protesnya.
Paman He Lu tetap pada keputusannya.
"Aku tidak peduli! Pokoknya kau dan kedua anakmu harus kembali ke rumah suamimu malam ini juga! Mobil yang kusewa telah menunggu di bawah! Jika kau tetap keras kepala dan tidak menurut, aku tidak sungkan-sungkan akan menyeretmu!"
Mingcu terdiam. Tak ada pilihan lain yang bisa dilakukannya selain melaksanakan perintah Ayahnya. ***
Keesokan malamnya, pesta ulang tahun Kakek Buyut berlangsung meriah.
Selain para kerabat, beberapa kawan baik Kakek Buyut juga hadir. Di antara para tamu tersebut, ada pula kakak lelaki Nenek yang biasa dipanggil Gei Ai Kheu—Paman Besar Kedua. Usai memberi selamat kepada Kakek Buyut, Gei Ai Kheu berbicara dengan Nenek pada sebuah pojok.
"Bagaimana, Meimei—Adik Perempuan? Tahun ini tampaknya kau harus menggelar pesta pernikahan sekali lagi...."
"Pesta pernikahan siapa?" Nenek tampak terkejut.
"Tentu saja pesta pernikahan putramu yang lain, Dik!" jawab Gei Ai Kheu. "Tanpa terasa, pernikahan A Hong sudah lima tahun berlalu. Sudah saatnya sekarang kau mencari menantu lagi."
A Hong adalah nama putra sulung Nenek. Nenek diam saja sementara mendengar kakaknya melanjutkan, "Coba kau lihat A Seng. Tahun ini usianya sudah duapuluh empat tahun. Dia sudah cukup umur untuk menikah. Mengapa kau tidak segera mengatur perjodohannya saja?" A Seng adalah nama lain dari Paman Kaseng, putra nomor dua Nenek.
Nenek manggut-manggut. "Benar, A Seng tahun ini sudah duapuluh emapt tahun. Tapi hingga sekarang aku belum pernah mendengar kalau dirinya telah memiliki teman wanita yang istimewa."
"A Seng itu pendiam dan pemalu, tidak sama dengan putra sulungmu A Hong yang periang dan mudah bergaul," Gei Ai Kheu menganalisis. "Justru karena sifatnya yang seperti itulah kita sebagai orangtua perlu membantu. Mengapa bukan kita saja yang membantu memilihkan seorang gadis untuknya?"
Nenek tertegun dengan perkataan Gei Ai Kheu barusan. "Memangnya Kokoh kenal dengan seorang gadis yang kira-kira cocok dengan A Seng?"
Gei Ai Kheu berpikir sebentar. "Sebenarnya ada. Dia adalah teman baik putri sulungku. Keduanya sudah bersahabat baik sejak masih sekolah dulu dan sampai sekarang masih menjalin persahabatan dengan baik. Gadis itu sering berkunjung ke rumah. Marganya Li dan namanya Meimei. Nama Mei pertamanya berarti cantik. Sedangkan nama Mei yang kedua berarti bunga sakura. Ayahnya seorang penjahit dan biasa dipanggil Paman Li. Keluarga mereka tinggal di sebuah gang buntu di jalan Bacan, dekat dari sini."
"Bagaimana menurut Kokoh tentang Li Meimei ini?" tanya Nenek mulai menunjukkan minat. "Berapa usianya? Apakah dia lebih muda atau lebih tua dari A Seng?"
Gei Ai Kheu menjawab, "Setahuku, Li Meimei tahun ini juga telah berusia dua puluh empat tahun. Jadi, dia seumur dengan A Seng. Menurutku gadis itu anak yang baik dan sopan. Dia juga seorang anak yang cerdas. Tahukah kamu, Li Meimei ini juga alumni dari Kau Cong Ti Yi Shiau SMA Teladan Tionghoa, sama sepertimu. Sewaktu lulus, dia termasuk salah satu dari sepuluh siswa peringkat teratas."
Nenek semakin tertarik dengan profil Li Meimei ini. Dia lalu berkata kepada Gei Ai Kheu, "Baiklah, aku akan coba bicarakan dulu hal ini dengan suamiku."
Di balik pojok dinding tempat Nenek berbicara dengan Gei Ai Kheu berbicara, tanpa diketahui oleh keduanya kalau Nenek Buyut diam-diam mendengar percakapan mereka. Ketika sedang asyik mendengar diam-diam itu, salah seorang sepupu Ayah yang bernama Lingsiu tiba-tiba muncul dan memergoki Nenek Buyut.
"Ahu! Ketika saya masih kecil, Ahu melarang saya untuk menguping. Tapi sekarang, saya justru melihat Ahu yang mencuri dengar percakapan orang!"
"Sstt... sstt!" Nenek Buyut meletakkan telunjuknya di bibir. Lalu dengan suara yang direndahkan seperti setengah berbisik, Nenek Buyut berkata, "Kalau kamu memang tidak boleh! Tapi kalau saya tentu saja bisa!"
Lingsiu mengangkat bahu sambil tersenyum-senyum. Dia tahu, tidak mau mengalah sudah menjadi salah satu sifat asli dari Ahu alias neneknya itu.***
Setelah menguping pembicaraan Nenek dan Gei Ai Kheu tempo hari, Nenek Buyut mulai menyusun sebuah rencana.
Pada hari Minggu setelah acara ulangtahun suaminya, Nenek Buyut bangun pagi-pagi seperti biasa. Namun hari Minggu itu, dia akan melaksanakan rencananya yang telah dipersiapkannya selama seminggu terakhir ini. Dan untuk mewujudkan renacana tersebut, Nenek Buyut memerlukan pendamping.
Nenek Buyut masuk ke kamar cucu perempuannya, Lingsiu. "Ci Nda—babi betina! Lekas bangun! Matahari sudah setinggi ini tetapi kau masih saja tidur! Malas, persis babi saja."
Lingsiu yang waktu itu memang berbaring, membuka matanya perlahan sambil berkata malas, "Aduh, Ahu, ini kan hari libur. Bangun terlambat juga tidak apa-apa, kan?"
Lingsiu menggeliat dan berbalik ke sisi yang lain.
"E-eh! Apa-apaan ini? Belum pernah aku melihat anak gadis yang begitu doyan tidur sepertimu! Ayo lekas bangun Ci Nda!" Nenek Buyut menarik selimut Lingsiu seraya mengeluarkan kata umpatan babi betina lagi. Tidak jelas mengapa Nenek Buyut menggunakan julukan itu untuk Lingsiu. Mungkin karena Lingsiu merupakan satu-satunya cucu perempuannya ber-shio babi api, kelahiran tahun 1947.
Lingsiu tetap tidak bergeming dari tempat tidur meski selimutnya telah ditarik Nenek Buyut benar-benar kewalahan. "Hei! Ayo lekas-lekaslah bangkit! Aku hendak mengajakmu jalan-jalan keluar rumah!"
Begitu mendengar 'jalan-jalan keluar rumah', Lingsiu langsung duduk tegak di atas tempat tidurnya. "Ahu mau mengajakku keluar? Kemana?"
"Aku mau mengajakmu mengunjungi salah seorang temanku di jalan Bacan. Sepulangnya dari sana kita singgah makan nyuk-nyang (bakso khas China, biasanya terbuat dari daging babi) dan es buah di kios kesukaanmu. Bagaimana?"
"Wah, kalau begitu aku mau ikut!" Lingsiu bersorak. "Sudah lama aku tidak makan nyuk-nyang dan es buah kegemaranku!"
Tampaknya, Lingsiu lebih girang karena mengetahui kalau nantinya dia akan ditraktir makan ketimbang menemui kenalan Nenek Buyut. Dengan bergegas Lingsiu turun dari tempat tidurnya, mandi dan berdandan. Setelah selesai, dia bergegas menemui Nenek Buyut yang telah menunggunya di ruang depan. Sebelum keluar rumah, Lingsiu masih sempat pamit kepada Nenekku.
"Bibi, aku dan Ahu pergi dulu!"
"Kalian mau ke mana?" tanya Nenek.
"Ke suatu tempat!" Nenek Buyut menyahut. "Kau tidak perlu tahu!"
Nenek mengangkat bahu dan memaklumi saja sikap penuh rahasia ibu mertuanya itu. Toh akhirnya kalau pulang nanti, Lingsiu pasti akan bercerita padanya.
Maka, Nenek Buyut dan Lingsiu pun keluar rumah dan menuju jalan Bacan. Jalan Bacan itu sebetulnya tidak terlalu jauh dari rumah Nenek, makanya mereka berdua cukup berjalan kaki saja ke sana. Pada pertengahan jalan, Lingsiu yang mulai merasa heran tak dapat menahan diri lagi bertanya kepada Nenek Buyut.
"Ahu, teman Ahu yang mana tinggal di jalan Bacan? Setahuku, Ahu tidak memiliki seorang pun kenalan yang tinggal di jalan itu."
"Aku memang tidak punya kenalan siapa-siapa di situ. Aku ke sana hari ini karena maksud lain." 
"Maksud apa?"
"Aku mau mengecek calon cucu menantuku!"
"Apa?"
Lingsiu tercengang. "Mengecek calon cucu menantu? Yang benar saja! Biasanya yang seperti itu kan tugasnya mei ren pho—mak comblang?" 
"Kadang-kadang mei ren pho itu suka membual. Mereka memang harus seperti itu karena kalau perjodohan berhasil, mereka akan mendapat angpao yang nilainya besar. Akan tetapi, terkadang, gadis yang mereka rekomendasikan biasanya tidak sebaik yang mereka bilang. Itu sebabnya aku merasa perlu mengecek sendiri."
Lingsiu manggut-manggut mendengar penjelasan Nenek Buyut. "Kokoh sepupu mana lagi nih, yang sekarang sedang dicarikan istri?" tanyanya kemudian.
"Ya, Kokoh A Seng-mu itulah!" jawab Nenek Buyut. "Umurnya sudah dua puluhempat tahun, jadi sudah pantas untuk menikah."
"Ooh! Apakah Ahu sudah menemukan calon yang cocok dengan Kokoh Aseng?"
"Nah, untuk itulah aku pergi ke jalan Bacan kali ini. Kemarin aku sempat mendengar pembicaraan Gei Ai Kheu dengan Bibimu. Kata Gei Ai Kheu, ada seorang gadis bernama Li Meimei tinggal di jalan Bacan. Ayahnya seorang penjahit. Aku ingin mengeceknya supaya tahu apakah dia betul-betul sebaik yang dibilang Gei Ai Kheu? Aku tidak mau kalau sampai mendapat cucu menantu seperti istri Kokoh A Hong-mu lagi."
Akhirnya Lingsiu pun paham kalau neneknya sebetulnya meragukan 'rekomendasi' Gei Ai Kheu. Lingsiu pun tidak bisa menahan kegeliannya. Dia tertawa cekikikan.
Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya sampailah Nenek Buyut dan Lingsiu di jalan Bacan. Nenek Buyut pun bergumam, "Kata Gei Ai Kheu, keluarga gadis itu tinggal di salah satu gang buntu di jalan ini...."
"Ahu, di sini ada dua atau tiga gang buntu. Kita mulai mencarinya dari mana?"
Nenek Buyut pun berjalan perlahan-lahan menelusuri jalan Bacan sambil memperhatikan gang-gang kecil di jalan tersebut. Lingsiu mengikutinya dari belakang. Sewaktu mereka sampai di gang pertama yang bagian depannya tertulis: 'lorong buntu', Nenek Buyut berdiri di depan lorong dan tiba-tiba berseru, "Hooi...! Saudara-saudara sekalian! Adakah yang tahu di mana rumah Paman Li si Penjahit itu?"
Lingsiu terkejut bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau Neneknya akan mencari rumah orang dengan cara berteriak seperti itu. Segera saja orang-orang yang berada di sekitar situ memperhatikan Nenek Buyut. Mereka melihatnya dengan tatapan, 'Kenapa pula Nenek Tua ini teriak-teriak di sini?'
Walau demikian, salah seorang di antara orang-orang itu ada juga yang menjawabi Nenek Buyut.
"Paman Li si Penjahit itu tidak tinggal di lorong buntu ini. Dia tinggal di lorong buntu berikutnya."
Nenek Buyut dan Lingsiu akhirnya meninggalkan gang buntu pertama itu dan menuju gang buntu berikutnya. Di depan gang buntu yang kedua, Nenek Buyut kembali berteriak keras-keras, "Hoooi, Li Meimei, keluar! Aku mau bertemu denganmu!"
Lingsiu amat terkejut. Segera dihampirinya Nenek Buyut sambil berbisik, "Ahu, jangan berteriak-teriak seperti itu! Kan malu jadinya!"
"Ah, kau ini tahu apa? Cara begini merupakan cara paling ampuh dalam mencari alamat." 
Seperti sebelumnya, orang-orang yang ada di sekitar situ pun mulai memperhatikan Nenek Buyut. Salah seorang pria menghampiri Nenek Buyut dan bertanya ramah, "Nenek sedang mencari Li Meimei, putri Paman Li si Penjahit itu?"
"Ya!"
"Dalam rangka apa Nenek mencarinya?" tanya pria itu ingin tahu.
Nenek Buyut kesal karena ditanya-tanya. "Kau tak perlu tahu!" hardiknya ketus. "Cukup kau tunjukkan saja yang mana rumahnya dan aku bisa sendiri menemuinya di sana!"
Pria itu mundur ke belakang dan dengan takut-takut berkata sambil menunjuk, "Itu... rumah sebelah kiri nomor dua sebelum tembok pembatas. Yang itulah rumah Paman Li."
Nenek Buyut bergegas meninggalkan pria itu yang masih terbengong-bengong. Lingsiu buru-buru mengikutinya. Dilihat dari gelagatnya, sepertinya 'pengecekan calon cucu menantu' hari ini bakal berlangsung heboh.
Nenek Buyut dan Lingsiu akhirnya sampai juga di rumah yang dimaksud. Kebetulan, Paman Li hari itu sedang berada di rumah menyelesaikan jahitannya. Mengira Nenek Buyut adalah salah satu calon pelanggan yang hendak menjahitkan baju padanya, Paman Li mempersilakan Nenek Buyut dan Lingsiu masuk ke dalam rumahnya dengan ramah.
Paman Li beramah-tamah sejenak dengan Nenek Buyut. Lingsiu yang duduk di samping Nenek Buyut mulai gelisah. Terlebih setelah melihat Paman Li sepertinya mulai tahu kalau mereka bukan salah satu calon pelanggan. Mata Nenek Buyut jelalatan memandang seisi ruangan itu. Lingsiu menganggap sikap Neneknya itu lebih mirip petugas inspeksi pajak ketimbang seorang Nenek yang hendak mengecek calon cucu mantunya. Karena merasa tegang, Lingsiu mulai merasa perutnya melilit.
Sejurus kemudian, tanpa basa-basi Nenek Buyut berkata, "Paman Li, aku mau bertemu dengan putrimu yang bernama Li Meimei. Suruhlah dia untuk keluar menemuiku!"
Paman Li merasa heran tapi tidak mengajukan pertanyaan apa-apa. Dia lalu masuk ke ruang dalam dan memanggil putrinya untuk keluar. Perasaan Lingsiu semakin tidak menentu. Perutnya terasa semakin terkunci.
"Ahu, kita pulang saja, yuk! Perutku mendadak sakit...." bisik Lingsiu.
Nenek Buyut melotot memandangi Lingsiu. "Ah, kau... pengacau pada saat-saat penting seperti ini!"
Tidak lama kemudian, dari ruang dalam Paman Li keluar bersama seorang gadis muda tinggi semampai. Tubuhnya langsing. Gadis itu melempar senyum ramah kepada Nenek Buyut dan Lingsiu. Kedua pipinya mengembang dan dia tampak manis sekali. Kali ini Lingsiu merasa isi perutnya berputar-putar.
Paman Li telah duduk kembali dan kini dia tengah bersiap mengajukan pertanyaan mengapa Nenek Buyut mencari putrinya itu, namun tidak jadi karena dilihatnya Lingsiu berbisik serius ke telinga Nenek Buyut.
"Ahu! Aku sudah tak tahan lagi! Kita pulang sekarang juga! SEKARANG!"
Nenek Buyut hendak melotot memarahi Lingsiu lagi. Akan tetapi, ketika dilihatnya dahi Lingsiu telah muncul butir-butir peluh, Nenek Buyut mengurungkan niatnya. Akhirnya dengan tergesa-gesa dan sikap canggung, Nenek Buyut dan Lingsiu mohon pamit dari Paman Li.
Melihat kondisi Lingsiu yang sedang 'kritis' itu, dalam perjalanan pulang, Nenek Buyut terpaksa menyewa becak. Tiba-tiba di atas becak, kondisi Lingsiu mendadak normal lagi.
"Sebenarnya kamu kenapa, sih? Tadi seperti orang yang mau semaput, tapi sekarang biasa kembali."
"Tadi itu aku hampir semaput gara-gara sikap Ahu. Coba lihat tatapan Paman Li yang melihat kita dengan begitu aneh seolah kita ini makhluk dari luar angkasa yang belum pernah dikenalnya, dan tiba-tiba saja datang ke rumahnya minta bertemu dengan putrinya, Li Meimei!"
Nenek Buyut mendengus. "Ah, tapi aku tidak melihat ada yang aneh kok dengan kejadian tadi."
Lilngsiu segera membalas perkataan Neneknya dengan berkata, "Tapi menurutku tetap tidak wajar! Belum pernah kulihat ada seorang Nenek yang pergi mengecek calon cucu menantunya begitu terang-terangan seperti Ahu tadi!" ***
Empatpuluh Satu Tahun Kemudian
Bulan September tahun itu, kami sekeluarga berkumpul di Denpasar, Bali guna menghadiri pernikahan dari salah satu sepupuku, putri bungsu dari Paman dan Bibi Kasengku.
Pada malam sebelum acara pernikahan, kami semua berkumpul di rumah Seng Mbu—panggilan kami untuk Bibi Seng. Kebetulan waktu itu, salah satu sepupu Ayah, Bibi Lingsiu, juga hadir di situ.
Lalu Cie Tely, putri sulung Seng Mbu yang tinggal di Jakarta tiba-tiba menyelutuk, "Mama, cerita dong! Bagaimana sih, pertama kali Mama dan Papa ketemu?"
Pertanyaan Cie Tely disambut antusias oleh kami semua. Khususnya aku yang sudah lama ingin menyusun cerita-cerita unik menenai keluargaku. 
Lalu, Seng Mbu yang memang terkenal ramah dan periang menjawab, "Ooh, bagaimana pertama kalinya bertemu dengan Papa kalian itu tidak terlalu mengesankan. Yang paling mengesankan adalah sebelum mengenal Papa kalian, Mama terlebih dahulu didatangi 'orang penting'."
"Siapa orang penting itu, Ma? Masak lebih mengesankan dari Papa, sih?" Cie Lusy, putri kedua Seng Mbu penasaran.
"Hm, 'orang penting' itu...?" Seng Mbu menggantungkan kalimatnya. "Kalian benar-benar mau tahu?"
Kami semua mengangguk cepat-cepat.
Seng Mbu tersenyum jahil kepada kami semua lalu berpaling ke arah Bibi Lingsiu yang telah membekap mulutnya dan tertawa cekikikan. Sambil menunjuk ke arah Bibi Lingsiu, Seng Mbu berkata, "Tuh, tanyakan pada Ling Ku Bibi Ling, siapa 'orang penting' itu!"
Maka kami semua pun menodong Bibi Lingsiu untuk bercerita. Di akhir cerita, tak satu pun di antara kami yang tidak tertawa. Cerita tentang 'orang penting' itu benar-benar telah menggegerkan suasana.
Geerrr! ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger