Sabtu, 30 April 2011

Nenek Weng dan Anak-Anak Muda By Merlin Herlina

Pada salah satu jalan perempatan di jantung kota pecinan Makassar, terdapatlah sebuah toko peralatan teknik. Bangunan toko itu berlantai tiga, tidak terlalu banyak berubah seperti limapuluh tahun silam dimana bangunan tersebut masih ditempati oleh pemilik sebelumnya.
Pemilik sebelumnya adalah keluarga Kakekku dari pihak Ayah. Pemilik pertama sesungguhnya adalah Kakek Buyutku. Lalu ketika putra satu-satunya telah menikah, rumah tersebut diwariskan padanya. Ayahku beserta ketiga kakak lelakinya semua lahir di rumah itu. Dan rumah itu menyimpan banyak kenangan bagi Ayah, mulai dari masa kecil hingga beranjak dewasa.
Bukan cuma Ayah, masih banyak orang lain yang memiliki kenangan akan rumah itu. Sebagian besar cerita awal dari serial kisah-kisah seputar kehidupan awal keluarga Tionghoa-ku berlatar belakang di rumah itu. Setiap kali keluarga besar Ayah berkumpul pada sebuah acara, atau salah seorang kawan masa kecil Ayah datang untuk reuni, mereka pasti bernostalgia tentang kejadian-kejadian yang pernah mereka alami di rumah tersebut.
Kini, rumah yang terletak tepat di sudut Jalan Sangir dan Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo telah menjadi salah satu toko peralatan teknik terlaris di Makassar. Akan tetapi, limapuluh tahun sebelumnya, tidaklah demikian. Bangunan tersebut bukanlah tempat usaha yang ramai dan lebih banyak berfungsi sebagai tempat tinggal bagi sebuah keluarga Tionghoa bermarga Cang.***
Rumah itu berlantai tiga, dengan dinding-dinding bata dan loteng berlantai papan. Halamannya cukup luas dan bisa menampung sampai tiga buah mobil, jejeran balok-balok kayu, serta berlembar-lembar papan. Selepas tahun 1945, Kakekku tidak lagi bekerja di perusahaan Belandanya yang dulu. Beliau lalu membuka usaha bengkel. Dan, dengan adanya halaman yang luas itu tentu menjadi salah satu hal yang menguntungkan bagi bisnis bengkelnya. Kakek Buyutku sendiri masih cukup sering melaksanakan aktifitasnya sebagai tukang kayu meski usianya waktu itu sudah hampir tujuhpuluh tahun. Hanya saja, kalau dulu aktifitas ini dilakukannya sebagai profesi utama, kini beliau melakukannya hanya sekedar hobi. Itu sebabnya meski tak berusaha di bidang pertukangan kayu lagi, balok-balok kayu dan papan tetap tersedia di rumahnya. Pada saat senggang beliau biasanya membuat kursi atau meja kecil yang kemudian dipakai oleh keluarga sendiri.
Selain menampung barang-barang milik Kakek dan Kakek Buyut, pada salah satu sudut yang berlokasi di daerah barat daya halaman tersebut juga masih tersedia sepetak tanah bagi Nenek Buyut untuk mendukung hobinya berkebun. Kebiasaan bertani yang dibawanya dari Tiongkok itu tidak bisa dihilangkannya sama sekali. Dan pada sepetak tanah itulah Nenek Buyut menanam ubi jalar, daun ketumbar, selada dan pohon jambu biji. Tanaman-tanaman itu tumbuh subur karena dirawat dengan baik oleh Nenek Buyut. Beliau secara rutin menyiram dan memberi pupuk kandang atau kompos, serta membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanamannya.
Nah, sekarang aku hendak bercerita. Cerita tentang kisah-kisah antara Nenek Buyutku dengan cucu-cucunya yang merupakan generasi ketiga dari keluarga Tionghoa kami. Itu sebabnya cerita ini kuberi judul: 'Nenek Weng dan Anak-anak Muda.'***
Makasar, Juli 1955
Hari itu, Ayahku pulang dari sekolah lebih awal dari biasanya. Saat itu usianya delapan tahun. Suasana hatinya sedang riang gembira. Sebab, hari itu merupakan hari terakhir masuk sekolah. Terhitung mulai besok, sekolahnya libur panjang hingga sebulan penuh. Itu berarti, selama sebulan ini dia bisa bangun lebih terlambat dari biasanya, bermalas-malasan serta tidak disibukkan dengan PR dari sekolah. Dan yang paling ditunggu-tunggu oleh Ayah sebenarnya adalah dia bisa bermain sepuasnya dari pagi hingga sore tanpa ada yang mengingatkannya untuk berhenti dan pergi menekuni pelajarannya.
Di dalam benak Ayah sudah bergumul rencana-renacana apa yang akan dilakukannya liburan nanti. Apa sebaiknya dia mulai dengan bermain kelereng? Atau bermain layang-layang? Ayah sudah tak sabar ingin memamerkan kelereng model terbarunya kepada kawan-kawannya. Tapi dia juga merindukan bermain layang-layang di lantai paling atas rumahnya. Menikmati saat-saat menegangkan ketika benang layangannya yang sebelumnya telah direndam dengan pecahan beling, mengiris layang-layang lawan hingga putus. Jika nanti sudah bosan bermain kelereng atau layangan, dia bisa pergi berenang bersama saudara-saudaranya di pantai.
Ayah begitu asyik dengan pikirannya sendiri hingga begitu memasuki halaman rumah, dia tidak melihat Nenek Buyut yang tengah jongkok di petak kebunnya.
"Ho, ho, bagus sekali! Ada anak sekolahan pulang ke rumah tapi tidak menyalami orangtua!" tegur Nenek Buyut.
Ayah tampak terkejut dan menimpali. "Aku tidak melihat Ahu—Nenek, duduk di situ!" ujarnya membela diri.
"Oh, ya? Aku sebesar ini tidak terlihat olehmu? Pasti kau sedang melamun! Memangnya apa yang kau pikirkan? Menghabiskan liburanmu kali ini dengan bermain, hm?"
Ayah tersipu. Neneknya rupanya bisa menebak jalan pikirannya.
"Tapi kamu jangan terlalu senang! Aku sudah memberitahu gurumu untuk memberimu PR yang banyak supaya kau tidak bermain terus setiap hari."
Mata Ayah membelalak tidak percaya. "Ahu bohong! Guruku tidak memberi PR apapun untuk kukerjakan liburan ini."
Tentu maksud Nenek Buyut hanya untuk menakut-nakuti Ayah saja tapi tidak diutarakannya. Dengan geli, Nenek Buyut menahan senyumnya sembari berkata, "Dia memang tidak memberimu di sekolah tadi, api dia akan datang kemari dan memberi PR khusus untukmu!"
Wajah Ayah sesaat memelas. Tapi sejurus kemudian ditatapnya Nenek Buyut lurus-lurus.
"Ahu tahu dari mana kalau guruku bakal datang ke rumah?"Ayah mulai curiga kalau dia sedang 'dikerjai' oleh Neneknya.
Akan tetapi Nenek Buyut dengan cepat berkilah berujar, "Tak perlu kau tahu bagaimana aku mengetahui kedatangan gurumu. Sekarang kemarilah dan bantu aku memotong bambu-bambu ini!"
Ayah dengan enggan menuruti perintah Nenek Buyut. Ketika sudah berada di samping Nenek Buyut, barulah Ayah melihat bilah-bilah bambu berserakan di sekitarnya.
Ayah memungut sebilah bambu dan memotongnya sesuai petunjuk Nenek Buyut.
"Buat apa membuat bambu-bambu seperti ini, Ahu?" tanya Ayah.
Nenek Buyut menjawab, "Bambu-bambu ini untuk memagari tanaman-tanamanku. Musim liburan telah tiba. Aku khawatir beberapa tanamanku dicuri orang..." Nenek Buyut melirik ke arah Ayahku. "Liburan tahun lalu, labu-labu siamku yang sudah sebesar dua kepalan tangan hilang tak berbekas. Lalu waktu liburan singkat bulan April kemarin, lobak putihku yang kutanam dengan susah payah lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Hingga saat ini aku belum menemukan pencurinya. Suatu hari jika aku menangkapnya, entah satu atau dua orang, pokoknya akan kuhukum seberat-beratnya!"
Ayah dengan takjub memandang ke arah Neneknya.
Nenek Buyut juga balas menatapnya. Sepasang mata Nenek Buyut berkilat-kilat dan bibirnya mengeluarkan perkataan, "Sebenarnya aku curiga kalau yang melakukan pencurian ini adalah 'orang dalam' kita sendiri. Jangan-jangan...."
Nenek Buyut mencondongkan badannya ke arah Ayah sehingga Ayah agak ketakutan dan buru-buru berkata, "Bukan aku pelakunya, Ahu!"
"Kalau begitu siapa?" geram Nenek Buyut.
"Aku tidak tahu!"
Nenek Buyut menepuk kepala Ayah.
"Kalau aku sampai menangkap basah kamu mencuri di kebunku, rasakan sendiri akibatnya!"
Ayah menanggapi ancaman Neneknya dengan serius. Sambil mengusap-usap kepalanya, Ayah berikrar kepada Neneknya, "Pokoknya aku tidak berani!"
Pada saat bersamaan, dari dalam rumah muncullah Nenek. Melihat putra bungsunya sedang berbincang-bincang dengan ibu mertuanya, Nenek hendak ikutan nimbrung.
"Wah, wah, A Siu, kamu sedang bicara apa dengan Ahu-mu?" tanya Nenek. A Siu adalah nama kecil Ayah.
"Bukan bicara apa-apa!" sahut Nenek Buyut ketus.
Ayah melihat Ibu dan Neneknya bergantian dengan heran. Tapi Nenek hanya tersenyum simpul, mengisyaratkan kepada Ayah bahwa dia telah lumrah dengan sikap ibu mertuanya itu.
Pada saat Nenek tengah memperhatikan putra bungsunya sedang membantu ibu mertuanya memasang pagar bambu di sekeliling kebun, dari arah pintu pagar, masuklah seorang bocah lelaki lain berusia sembilan tahun. Dia masih mengenakan seragam sekolah dan memanggul tasnya.
"Ho Sung!" seru Ayah ketika melihat anak itu. Perasaan gembira terdengar jelas dari nada suaranya.
Bocah lelaki bernama Ho Sung itu menyeringai lebar ke arah Ayah. Lalu dia menyapa Nenek dan Nenek Buyut.
"Bibi, Nenek Weng, apa kabar? Bolehkah liburan kali ini aku tinggal lagi di sini?"
Belum sempat Nenek menjawab, ibu mertuanya sudah menyelutuk, "Memangnya kamu tidak punya rumah sampai harus menumpang di rumah orang lain setiap kali liburan?"
Kepala Ho Sung tertunduk. Sambil menatap sepatunya dia berkata lirih, "Kalau liburan, rumahku penuh sesak, Nenek Weng...."
Nenek tertegun mendengar penuturan Ho Sung. Nenek mengenal Ho Sung sebagai anak kedua dari keluarga Fong yang tinggal di ujung jalan sebelah utara. Kebetulan dia sekelas dengan Ayah. Dari cerita Ayah yang biasa Nenek dengar, Ho Sung itu bersaudara delapan orang. Pada hari-hari biasa, beberapa orang adiknya dititip ke rumah famili mereka dan baru dikembalikan pada saat liburan sekolah. Tidak heran mengapa setiap kali liburan sekolah Ho Sung selalu 'mengungsi' ke rumah orang lain—mengingat rumahnya yang kecil itu harus menampung sampai lebih dari sepuluh orang penghuni, otomatis suasananya akan lebih sesak dan gaduh daripada biasanya.
"Apa kau sudah memberitahu orangtuamu kalau kamu akan tinggal di sini selama liburan ini?" Nenek bertanya.
Ho Sung menggeleng. "Aku langsung kemari seusai pulang sekolah tadi dan tidak mampir ke rumah."
"Bagaimana kalau orangtuamu mencarimu?" tanya Nenek lagi.
Ho Sung tersenyum sumringah. "Bibi tak perlu khawatir. Aku sudah pernah bilang kepada Ayah-Ibuku: 'kalau dalam sehari aku tidak pulang ke rumah, kalian tak perlu cemas karena aku pasti berada di rumah Nenek Weng'. Hehehe...."
"Tapi bagaimanapun, kamu harus memberitahukan orangtuamu setiap kali kamu akan meninggalkan rumah, apalagi sampai menginap di rumah orang," Nenek mencoba memberi pengertian dengan lembut.
"Ya, Bibi," ujar Ho Sung sambil menundukkan kepala menyadari kekeliruannya.
Ayah meninggalkan pekerjaan memasang pagar bambunya dan menghampiri Ho Sung yang masih menundukkan kepala memandang sepatunya.
"Jadi bagaimana keputusannya? Apakah Ho Sung boleh menginap lagi di sini liburan kali ini? Boleh kan, Bu? boleh, ya?" Ayah mulai merengek kepada Nenek. "Dia bisa tidur di kamarku nanti. Aku mau kok, berbagi tempat tidurku dengannya."
Nenek tersenyum sambil mengusap kepala Ayah dengan lembut. "Tempat tidurmu terlalu kecil untuk dua orang. Sebaiknya kita masukkan satu kasur tambahan ke kamarmu supaya Ho Sung bisa tidur di sana."
Mata Ayah berbinar. "Jadi, Ho Sung bisa tinggal di sini selama liburan, kan?"
Nenek mengangguk, "Tentu saja bisa."
"Wah! Asyik! Aku punya tambahan satu kawan lagi di rumah!" Ayah bersorak. Lalu dia berpaling kepada Ho Sung yang tampak berseri-seri. "Tahukah kamu, liburan kali ini rumahku lebih pasti lebih ramai. Sepupuku, Afang dan adik perempuannya, Lingsiu juga akan tinggal di sini selama liburan ini."
"Apa? Kedua anak Leiho itu juga akan tinggal di sini?" pekik Nenek Buyut. Leiho adalah salah satu dari dua adik perempuan Kakek.
Ayah memandang wajah Neneknya dengan keheranan. "Lho, memangnya Ahu tidak suka kalau cucu-cucu Ahu berkumpul di sini, ya?"
"Bukan begitu," ujar Nenek Buyut memelas. "Hanya saja kalau lebih banyak anak, peluang ubi jalarku hilang akan lebih besar...."
Nenek Buyut memandang dengan akung ke arah tanaman ubi jalarnya yang mulai berdaun lebat. Artinya, umbi di bawahnya pasti sudah besar.
"Ahu kan sudah memagari semuanya, jadi tak perlu cemas oleh pencuri lagi," sahut Ayah cuek. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Nenek sambil berkata, "Ibu, aku lapar! Bolehkah aku makan lebih dulu?"
Nenek mengangguk menyetujui. "Boleh, di dalam Ibu sedah memasak daging kukus lilit pare kesukaanmu. Makanlah!"
Ayah tampak gembira mendengarnya. Diraihnya tangan Ho Sung sambil berkata, "Kamu pasti belum makan juga, bukan? Yuk, kita makan sama-sama!" 
Lalu kedua anak lelaki itu pun menghilang masuk kedalam rumah.
Nenek Buyut menghela napas seraya kembali menggerutu, "Kita tidak hanya menampung anak itu, tapi juga memberinya makan...."
Dan Nenek hanya tersenyum mendengarnya.***
Seusai makan siang, Ayah dan Ho Sung hendak pergi bermain kelereng di tetangga. Ayah menawarkan Ho Sung untuk menukar seragam sekolahnya dengan pakaian rumah milik Paman Kedua.
"Lalu, bajuku ini nanti akan dikemanakan?" tanya Ho Sung.
"Kasih saja ke Ibuku untuk dicuci," jawab Ayah.
"Wah, aku merasa tidak enak. Masa Bibi sudah mengizinkan aku tinggal di sini, bajuku masih juga dicucikan olehnya."
Nenek yang kebetulan lewat dan mendengar perkataan itu menyela, "Tidak apa-apa, kemarikan saja bajumu itu, Nak!"
Ho Sung berpikir sejenak lalu akhirnya memutuskan untuk mengikuti keinginan Ayah dan Nenek. Dia menyalin seragamnya dengan pakaian milik Paman Kedua. Setelah itu keduanya pun pergi bermain.
Sekitar pukul dua siang, Nyonya Fong datang ke rumah Ayah. Seperti yang sudah diduga Nenek sebelumnya, wanita itu pasti datang mencari putranya yang tidak pulang ke rumah usai jam sekolah.
"Ho Sung! Ho Sung! Kamu ada di sinikah?" Nyonya Fong berseru.
Nenek segera keluar dan menemui Nyonya Fong. "Tadi dia memang disini, tapi sekarang sedang pergi bermain dengan A Siu," kata Nenek.
"Oh, dia sedang keluar pergi bermain, ya?" Nyonya Fong berkata seraya memperbaiki posisi anak yang sedang digendong di punggungnya. Anak lain yang tadinya digandeng oleh Nyonya Fong mendongakkan kepala memandang Ibu dan adiknya.
"Aku datang untuk mengantarkan ini," Nyonya Fong menyerahkan sebuah bungkusan. "Ini adalah beberapa pakaian Ho Sung. Seusai jam sekolah tadi dia tidak pulang-pulang ke rumah. Makanya aku kemari. Soalnya anak itu pernah bilang kalau selama liburan dia akan tinggal di sini. Aku minta maaf sebelumnya karena anak itu telah merepotkan Anda, Nyonya."
"Ah, tidak merepotkan, kok. Justru bagus kalau Ho Sung kemari. Rumah ini suasananya akan lebih ramai. Kemarikan saja baju-bajunya, biar nanti aku yang berikan untuk Ho Sung."
"Nyonya baik sekali. Aku sangat berterima kasih atas perhatian yang Nyonya berikan untuk Ho Sung."
Nenek tersenyum sumringah. Dia berjalan menghampiri Nyonya Fong untuk menerima bungkusan pakaian Ho Sung. Ketika mengadakan serah-terima itulah, Nenek memperhatikan kalau perut Nyonya Fong membusung.
"Nyonya Fong, perutmu 'berisi' lagi, ya?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Nenek, dan membuat Nyonya Fong tersipu.
"Ya, ini calon anak kesembilan. Sekarang sudah memasuki bulan keempat."
"Oo," Nenek bergumam seraya melihat ke arah anak yang digendong Nyonya Fong, dan anak lain yang tangannya digandeng Nyonya Fong.
"Tapi dua anak terkecilmu baru berusia delapan bulan dan dua tahun, Nyonya Fong," komentar Nenek.
"Ya, hanya saja suamiku berkeinginan memiliki anak yang banyak. Kami berencana memiliki anak sampai sepuluh atau dua belas orang. Ibu mertuaku juga mendukung. Katanya, 'banyak anak itu banyak rejeki'!"
"Ah, itu anggapan orang-orang dulu, Nyonya Fong. Zaman sekarang saat kebutuhan sudah semakin banyak, punya anak dalam jumlah yang banyak itu juga harus dipertimbangkan baik-baik. Sebab, kita tidak mungkin mengabaikan keperluan salah satu anak untuk kepentingan anak lainnya."
Nyonya Fong manggut-manggut. Dia lalu berujar, "Keluarga kami memang bukan keluarga yang cukup mampu sehingga kadang-kadang kami harus meminta pengertian dari anak-anak yang lebih tua agar mau mengesampingkan keinginan mereka demi adik-adik mereka. Tapi, Nyonya, keluargamu sendiri berkecukupan. Mengapa Anda dan suami tidak berencana menambah anak lagi? Lagipula, bukankah dulu Nyonya mengidam-idamkan anak perempuan?"
Nenek tertawa. "Ah, punya empat orang anak lelaki yang bandel-bandel saja sudah cukup membuatku sakit kepala. Bagaimana pula kalau sampai belasan anak? Tentang anak perempuan, aku kini tak terlalu mempermasalahkannya lagi. Toh, sekarang aku telah memiliki beberapa keponakan perempuan. Jadi aku bisa mencurahkan kasih akungku juga kepada mereka."
Nyonya Fong tersenyum. Gumamnya, "Nyonya, Anda sungguh baik, mau menganggap anak orang lain seperti anak sendiri...."
Nenek menerima pujian tersebut dengan rendah hati. Setelah itu Nyonya Fong mohon pamit. Kedua wanita itu pun berpisah.***
Keesokan paginya, ketika Ayah dan Ho Sung berencana akan pergi bermain layangan seusai sarapan, mereka dikejutkan oleh jeritan Nenek Buyut dari arah kebunnya.
"Siapa yang mencuri ubi-ubi jalarku?!"
Ayah dan Ho Sung bergegas keluar dan mendapati pagar-pagar bambu yang dipasang di sekeliling tanaman Nenek Buyut khususnya di sepetak tanaman ubi jalar telah tercabut dan berserakan. Di situ juga tampak undukan-undukan tanah dari tanaman yang umbinya telah dicabut paksa. Sipakah pelaku semua ini?
Nenek Buyut melihat galak ke arah Ayah dan Ho Sung sambil berkecak pinggang.
"Kalian berdua! Katakan siapa di antara kalian yang mencuri ubi-ubi jalarku?"
"Bukan aku!" seru Ayah.
"Kalau begitu pasti kamu, Lo Fong Coei—Anak Marga Fong!" Nenek Buyut menuding Ho Sung.
Ho Sung terperanjat. Buru-buru dia berkata, "Bukan aku juga! Kalau pun aku punya sepuluh nyawa, aku tetap tidak berani mencuri tanamanmu, Nenek Weng!"
"Kalau begitu siapa? Kakak tertuamu dan A Fang sudah menghilang entah kemana sejak pagi tadi. Kakak Keduamu sedang sakit dan Kakak Kasengmu sedang di bengkel membantu Ayahmu. Sedangkan Lingsiu, sejak tadi kuperhatikan dia bersama Ibumu terus di dapur. Tersangka pelaku yang paling mencurigakan adalah kalian berdua. Ayo kalian berdua lekas mengaku saja!"
"Pokoknya bukan kami!" Ayah bersikeras membantah. "Kami juga tidak tahu yang mencuri ubi-ubi jalar itu, Ahu!"
Nenek akhirnya keluar dari dalam rumah dan mencoba menengahi. Dia berkata kepada Nenek Buyut, "Selama ini kita mengenal A Siu sebagai anak yang jujur. Kalau dia bilang bukan dia pelakunya, berarti memang bukan. Begitu pula dengan Ho Sung."
"Alah, kau masih juga membela mereka!" gerutu Nenek Buyut. "Oh, ubi-ubi jalarku yang malang, siapa yang mencuri kalian dariku? Padahal sebentar lagi kalian akan kupanen...."
Akhirnya Ayah dan Ho Sung dibujuk Nenek untuk merapikan kebun itu karena Nenek Buyut terus-terusan mengomel. Kedua anak lelaki itu pun terpaksa menunda keinginan mereka untuk cepat-cepat bermain dan merapikan kebun yang berantakan itu kembali. Nenek kembali masuk ke dalam rumah sambil menduga-duga siapa pelaku 'sesungguhnya' atas pencurian tadi.
Sewaktu Ayah dan Ho Sung tengah menutup lubang-lubang dengan tanah dan memasang pagar-pagar bambu kembali, seorang anak tetangga lain yang bernama Bakri masuk ke dalam pekarangan rumah dan memanggil mereka.
"Hoi, A Siu! Ho Sung! Jadi tidak kita bermain layangan? Anginnya benar-benar bagus sekarang. Kalau menjelang tengah hari biasanya akan berubah menjadi lebih kencang. Sayang kalau kita tidak menerbangkan layangan kita sekarang!"
"Tunggu! Kami sedang sibuk membereskan kebun Ahu-ku dulu!" sahut Ayah dengan kesal. Ho Sung mengisyaratkan kepada Bakri supaya dia tidak bertanya-tanya lagi.
Bakri mengangkat alis tanda mengerti dan pada akhirnya dia berujar, "Mari kubantu kalian agar cepat selesai!"
Ketiga anak itu pun bahu-membahu merapikan kebun. Kira-kira sejam kemudian, kebun telah rapi kembali dan ketiganya akhirnya pergi bermain.
Bersamaan dengan kepergian Ayah, Ho Sung dan Bakri, Paman Tertua dan A Fang kembali ke rumah sambil tertawa-tawa. Nenek mencegat mereka ketika dilihatnya kedua anak lelaki itu hendak naik ke lantai dua.
"A Hong, AFang! Dari mana saja kalian?" Nenek menyelidik.
Paman Tertua dan A Fang buru-buru menyembunyikan kedua tangan mereka di belakang punggung.
"Tidak dari mana-mana," sahut Paman Tertua. Tidak terlalu meyakinkan sehingga Nenek bertanya lagi.
"Apa yang kalian sembunyikan di belakang punggung?"
"Bukan apa-apa." Paman Tertua kembali menyahut dengan gugup.
Nenek berkata tegas, "Perlihatkan padaku!"
Paman Tertua dan A Fang akhirnya menyerah dan memperlihatkan benda-benda yang mereka sembunyikan: dua gulung kertas layang-layang warna merah dan hijau, satu kerangka layang-layang bambu, sebotol perekat, serta dua gulung benang.
"Dari mana kalian dapat uang membeli semua ini?" Nenek menyelidik.
A Fang diam dan menunduk.
Paman Tertua menjawab dengan acuh tak acuh, "Dari uang sakuku, tentu saja."
Nenek berpikir sejenak lalu berkata, "Tapi A Hong, bukankah kemarin malam kamu mengeluh bahwa uang jajanmu telah habis? Dan ketika kamu minta lagi, Ayahmu menolak karena jatahmu untuk minggu ini telah diberikannya untukmu?"
Mimik wajah Paman Tertua mulai berubah menjadi pucat.
"Sekarang katakan dengan jujur dari mana kalian memperoleh uang untuk membeli semua ini? A Fang?"
Nenek mengangkat alis dan menanyai A Fang lebih dulu. A Fang yang merasa kikuk dan ketakutan, akhirnya mau mengaku juga.
"Anu, anu... hm, kami mendapat uang dari hasil menjual ubi-ubi jalar Ahu di pasar tadi pagi...."
"Apa?" Nenek membelalak seolah tidak percaya. "Kalian tahu apa akibat perbuatan kalian itu? A Siu dan Ho Sung-lah yang dituduh oleh Ahu...."
Belum sempat Nenek menyelesaikan kalimatnya, Nenek Buyut mendadak muncul dan menjewer kuping kedua cucunya itu. Rupanya diam-diam, dia telah menguping sejak tadi.
"Jadi kalian berdua pelakunya, hm?"
"Aduh! Sakit, Ahu! Ampun, ampun!"
Paman Tertua dan A Fang mengaduh-aduh.
Nenek Buyut tidak melepaskan mereka melainkan semakin memelintir kuping mereka. "Kalian berdua benar-benar bernyali besar, ya? Sekarang, di mana sisa uang kalian itu?"
"Ini, ini, Ahu." Paman Tertua buru-buru merogoh dari dalam sakunya beberapa uang koin lalu diserahkannya kepada Nenek Buyut.
"Semua uang ini aku sita!" seru Nenek Buyut. "Sebagai hukuman, kalian berdua harus menanam kembali bibit-bibit ubi jalar yang baru. Bukan hanya itu. Kalian juga harus menyiram tanaman-tanamanku, memberi pupuk dan membersihkan gulmanya, tentu saja dalam pengawasanku supaya kalian tidak bisa mencuri lagi!"
"Apa? Mengurus tanaman Ahu selama sebulan?" Paman Tertua frustasi. Dia dan A Fang saling berpandangan lalu sama-sama terunduk lemas.***
Makassar, Juli 1966
Sore itu seperti biasa, Nenek Buyut tengah duduk-duduk di depan pintu rumah sambil mengipas-ngipas tubuhnya ketika Bakri, anak dari tetangga sebelah masuk ke pekarangan.
"Good evening, Grandma Weng, how are you today?" sapa Bakri ramah, dalam bahasa Inggris yang hanya diketahuinya sepatah-dua kata.
Nenek Buyut berhenti mengipas dan menyipitkan mata memandang Bakri yang tampak necis dengan dandanannya itu.
"Ndei kong bua? Goe tu em mbeng pak—ngomong apa sih? Saya tidak mengerti," tanya Nenek Buyut misuh-misuh dalam bahasa Guandong. 
Bakri yang sok tahu langsung menarik kesimpulan sendiri. "Ah, aku tahu apa yang dipikirkan Nenek Weng! Nenek Weng pasti bilang aku ini ganteng, kan?" cetusnya sembari menyisir-nyisir rambutnya yang mengkilap akibat kental pomade dengan jemarinya. 
Nenek Buyut mencibir, "Ih, luan lei ngawur!"
Tak lama kemudian, Ayah muncul dari dalam rumah. Sama seperti Bakri, dia tampak necis dan rapi. Nenek Buyut mafhum, jika Ayah dan Bakri berdandan seperti ini, berarti mereka berdua akan keluar bersama.
"Mau ke mana?" tanya Nenek Buyut.
"Ke bioskop, Ahu," Ayah menjawab.
"Nonton film apa?"
Kali ini Bakri yang menjawab, "Nonton filmnya James Bond, Nenek Weng: You Only Live Twice."
"Oh, film Barat yang penuh adegan peluk-pelukan dan cium-ciuman itu yang mau kalian tonton?"
"Jangan salah Nenek Weng," ralat Bakri. "Ini bukan sekedar film Barat yang peluk-pelukan. Ini film spy—mata-mata, yang penuh adegan tembak-tembakan dengan mesin-mesin canggih."
Nenek Weng masih tidak paham maksud Bakri. Dia berkata kepada Ayah. "Kenapa nonton film-film Barat seperti itu? Kenapa tidak menonton film-film Mandarin saja?"
"Saya malas menonton film Mandarin, Ahu," sergah Ayah. "Logatnya susah dimengerti dan terjemahannya seringkali membingungkan."
"Haiya! Ibumu dulu adalah lulusan Kau Cong Ti Yi Shiau—SMA Tionghoa teladan, yang pandai mengubah sajak dan puisi, serta menulis kaligrafi Mandarin. Masak kamu putranya tidak mengerti bahasa Mandarin sebaik dia? Bagaimana ini?"
Ayah menepis perkataan Nenek Buyut dengan berkata, "Ahu, meski aku anak Ibu, tidak mungkin aku persis sama dengan dia."
Ayah dan Bakri lalu mohon pamit untuk berangkat ke gedung bioskop.
Nenek Buyut masuk ke dalam rumah sambil menghela napas, "Anak muda Tionghoa zaman sekarang, sudah jarang yang bisa menguasai bahasa leluhurnya sendiri. Bagaimana di masa mendatang? Bisa-bisa keturunanku kelak, tak ada yang bisa mengucapkan sepatah kata Mandarin lagi!"
Nenek Buyut masuk ke dalam rumah dan ketika melewati kamar Lingsiu, dia berhenti sejenak lalu menengok ke dalam kamar cucu perempuannya itu. Dilihatnya Lingsiu sedang duduk santai sambil membaca.
Nenek Buyut menghampiri seraya berkata, "Apa yang sedang kau baca?"
Lingsiu menoleh karena terkejut. "Oh, Ahu," ujarnya. "Saya sedang melihat-lihat majalah mode."
Nenek Buyut turut mencondongkan badannya melihat majalah tersebut. Sambil menyipitkan mata, dia melihat-lihat sembari berkomentar, "Haiya, baju apa ini? Kenapa roknya pendek sekali dan belahan dadanya terlalu rendah? Sungguh tidak sopan apabila seorang gadis berpakaian seperti ini!"
Lingsiu mengerutkan alis mendengar komentar neneknya, "Ahu, ini trend pertengahan tahun 60-an. Semuanya serba mini dan model kerah terbuka. Mana bisa disamakan dengan zaman Ahu dulu, wanita harus memakai baju cheongsam atau chipao tertutup berlengan panjang dengan rok atau celana panjang pula."
"Kamu berani memakai pakaian seperti ini?" tanya Nenek Buyut.
"Ya, mengapa tidak?" sahut Lingsiu. "Bibi sekarang tengah membuatkan aku model yang ini." Lingsiu menunjuk gambar seorang model yang memakai baju terusan berpinggang tinggi dengan rok di atas lutut dan lubang leher yang lebar.
Nenek Buyut membelalakkan mata. "Yang benar saja? Model pakaian seperti itu akan membuatmu terlihat seperti orang hamil!"
"Ah, tidak kok! Model ini sedang musim sekali sekarang. Lagipula, kata Bibi aku cocok sekali dengan model baju seperti ini."
Nenek Buyut menggeleng-gelengkan kepala. Dia keluar dari kamar Lingsiu seraya bergumam, "Model baju wanita dari hari ke hari semakin pendek dan terbuka. Lama-lama di masa mendatang, mereka akan berani berpakaian semakin minim dari sekarang. Kalau aku sudah mati, mungkin anak zaman sekarang sudah tidak mengenakan pakaian lagi! Haiya, zaman benar-benar sudah edan!"
Nenek Buyut berjalan kembali ke arah ruang tamu. Di sana dilihatnya Nenek yang baru saja tiba dan duduk dekat jendela untuk mendapatkan cahaya matahari sore supaya bisa menjahit. Sambil memakai kacamatanya, Nenek mulai memasukkan benang ke dalam lubang jarum dan mulai menjahit kancing.
"Baju siapa itu?" Nenek Buyut bertanya.
Nenek menoleh sebentar seraya menjawab, "Milik Lingsiu. Sudah hampir selesai, tinggal menjahit kancing-kancingnya saja." Nenek memperlihatkan baju itu kepada ibu mertuanya. "Bagaimana menurut Ibu, modelnya bagus bukan?"
Kedua alis Nenek Buyut berkerut dan dia mencibir. "Ih, model apa ini? Roknya terlalu pendek dan lubang lehernya terlalu lebar. Seronok!"
"Ah, tidak seronok, kok. Model seperti ini memang cocok buat anak gadis. Kalau Lingsiu mengenakannya, pasti terlihat manis."
Nenek Buyut tetap mencibir. Pandangannya dialihkan pada baju yang modelnya tak disukainya itu.
Tiba-tiba, Nenek Buyut berseru memanggil Nenek.
"Cungho! Cungho! Lihat itu!"
Nenek menengadah ke arah yang ditunjuk ibu mertuanya. Rupanya di pekarangan, Paman Kedua sedang berdiri berbicara dengan seorang gadis.
"Siapa gadis itu, kenapa aku belum pernah melihatnya sebelumnya?' tanya Nenek Buyut.
Nenek mengangkat bahu. "Saya juga tidak tahu. Sepertinya aku baru pertama kali melihatnya sekarang."
"Anak siapa dia? Lihat gerak-geriknya, sepertinya bukan gadis baik-baik," Nenek Buyut mencela sewaktu dilihatnya gadis itu tertawa cekikikan.
"Oh, lihat! Masa dia berbicara sambil sengaja merapatkan tubuhnya ke arah A Fu. Mana boleh anak gadis bersikap seperti itu! Aku harus menegurnya!"
Nenek menahan pergelangan tangan Nenek Buyut. "Ibu, jangan! Mungkin mereka kebetulan sedang bercanda makanya terlihat seperti itu. Jangan dulu sembarangan memarahi anak gadis orang."
"Tapi kalau tidak ditegur bisa berbahaya! Kamu mau punya menantu perempuan seperti itu? Lei si—amit-amit! Bisa bikin malu keluarga kita saja!"
Nenek tetap menahan Nenek Buyut. "Belum tentu gadis itu pacarnya A Fu. Setahuku A Fu belum pernah cerita kalau dia punya teman wanita yang istimewa."
Nenek Buyut melepaskan tangannya dan tetap mengawasi sepasang muda-mudi itu dengan gusar.
"Zamanku dulu, mana ada muda-mudi yang belum menikah bicara serapat itu? Selain itu, gadis itu tampaknya tidak tahu malu! Belum menikah tapi berani mengunjungi rumah lelaki sendirian tanpa didampingi orang lain."
Di luar pekarangan, Paman Kedua masih berbicara dengan gadis itu. Sepertinya topik pembicaraan mereka semakin seru. Gadis itu seolah tak dapat mengendalikan diri dan tertawa keras sekali. Suara tawanya terdengar sampai ke dalam rumah.
Tidak hanya itu, gadis tersebut juga menepuk bahu serta mencubit lengan Paman Kedua dengan genit.
"Cukup sudah!" seru Nenek Buyut. "Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Tingkah gadis itu sudah keterlaluan!"
Lalu, sebelum Nenek sempat mencegahnya, Nenek Buyut telah melangkah keluar halaman. Disambarnya sebilah bambu yang panjangnya kira-kira semester. Lalu, tanpa tedeng aling-aling, Nenek Buyut berteriak ke gadis itu.
"Hei, kau! Lekas pergi dari sini! Jangan dekat-dekat cucuku! Wanita sepertimu bisa merusak keturunanku nantinya! Ayo, lekas angkat kakimu dari sini!" 
Paman Kedua dan gadis itu terkejut bukan kepalang.
"A Fu, siapa itu? Orang gila, ya?"
Belum sempat Paman Kedua menjawab, gadis itu telah kabur karena melihat Nenek Buyut yang berjalan ke arahnya sambil mengacung-acungkan bambu.
"Ahu, jangan!" jerit Paman Kedua. Ditahannya Nenek Buyut. Akan tetapi, Nenek Buyut masih sibuk memaki sambil mengacung-acungkan bambunya.
"Dasar gadis tidak tahu malu! Beraninya datang kemari dan menggoda cucuku!"
"Ahu, jangan bicara seperti itu terhadap temanku!" Paman Kedua membela gadis tersebut.
"Apanya yang 'jangan bicara seperti itu'? Kamu tidak lihat sikapnya tadi? Mana ada gadis baik-baik yang berbicara dan bertingkah genit seperti itu dengan laki-laki? Kuperingatkan kamu, jangan sampai gadis seperti itu kau persunting sebagai istrimu. Aku tak sudi punya cucu menantu macam begitu!"
"Siapa bilang aku akan menikah dengannya? Masak setiap kali aku punya teman wanita semuanya dibilang calon istri? Ahu salah paham. Aku dan gadis tadi cuma berteman. Aduh, sikap Ahu tadi benar-benar telah membuatku malu!"
"Apa? Saya telah mebuatmu malu? Yang benar saja! Padahal aku baru saja menyelamatkanmu dari cengkeraman iblis wanita...."
"Pokoknya Ahu telah membuatku malu, maluuuu sekali!" raung Paman Kedua. "Di dunia ini, kalau ada Nenek yang mempermalukan cucunya, Ahu-lah termasuk salah satunya!"
Hahahaha.... ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger