Jumat, 29 April 2011

Menunggu Elang Pulang by T. Sandi Situmorang

Hujan selalu saja mengingatkan Raras pada Elang. Elang suka hujan. Katanya hujan itu salah satu anugerah Tuhan yang paling indah. Merenung di saat hujan, bisa membuat hati tenteram dan damai. 
"Itu kalau perut kenyang. Jika sedang lapar, hujan justru membuat hati semakin miris." 
Mengenai hujan, mereka memang berbeda pendapat. Bagi Raras hujan itu malapetaka. Ia akan jatuh demam bila terkena hujan sedikit saja. Hingga ia harus terkurung di rumah tanpa bisa ke mana-mana. 
Raras menghela napas. Di luar hujan masih deras. Matanya menatap lurus pada ribuan jarum hujan yang turun. Dicobanya mencari suatu makna pada hujan tersebut. Yang membayang justru wajah Elang. Elang seakan menatapnya dengan lembut. Lengkap dengan senyumnya yang sanggup membuat hati Raras bergetar hebat. 
Elang, di mana kamu sekarang? 
Hampir tiga tahun sudah Elang pergi. Ini tahun ke dua cowok itu tidak lagi pernah memberi kabar. Raras masih ingat, tiga tahun yang lalu Elang berjalan lambat di bawah hujan untuk pamit padanya. Saat itu Raras tengah termangu di depan jendela kamar. Dari jauh ia sudah melihat Elang berjalan lambat di tengah hujan, dengan ransel besar di punggung. Dari loteng, segera Raras turun ke bawah. 
"Ada apa, Lang?" tanya Raras khawatir sambil mengangsurkan sebuah handuk kering pada Elang yang terlihat kedinginan. 
"Aku mau pergi." 
"Ke mana?" 
"Jogja." 
"Buat apa kamu ke sana?" 
"Mengembangkan bakat melukisku." 
"Lantas kuliahmu?" 
"Terpaksa kutinggal." 
"Bertahanlah!" 
"Aku tak bisa, Ras! Ke dua 'anjing' sialan itu semakin menjadi-jadi. Bodohnya Papa selalu menurut apa kata mereka. Hingga Papa tega mengusirku dari rumah." 
Raras menatap iba, ia mengerti isi hati Elang. Elang memang sangat membenci kedua wanita yang menjadi mama tiri dan adik tirinya itu. 
"Lalu bagaimana dengan aku?" cetus Raras pelan. 
Elang tersenyum sambil menatap lembut. "Aku memang pergi jauh. Tapi hatiku tetap tinggal di sini, bersamamu." 
"Tapi Lang...." 
"Percaya padaku, Ras!" potong Elang cepat. 
Raras membisu. 
"Aku pergi." 
"Di luar masih hujan." 
"Aku tak ingin berlama-lama di sini. Di dekatmu, aku takut keputusanku untuk pergi menjadi goyah." 
"Bukankah itu lebih baik?" 
Akhirnya Elang pergi. Raras tahu apa pun tak bisa mengubah keputusan Elang. 
Elang datang dengan menerobos hujan. Pergi juga ia masih menerobos hujan. Raras menatap tubuh jangkung itu menjauh, sampai menghilang di tikungan jalan depan rumahnya. 
Sebulan kepergian Elang, tak terhitung berapa kali ia menelepon Raras. Memasuki bulan kedua, intensitasnya mulai berkurang. Katanya tak sanggup dengan biaya interlokal. Raras usul gantian menelepon, tapi kata Elang tak ada nomor yang bisa dihubungi, karena selama ini Elang menelepon dari wartel. 
Bulan ketiga dan seterusnya mereka berhubungan melalui email. Walau sesekali elang menelepon karena rindu mendengar suara Raras. 
Di Jogja aku harus hidup hemat, penghasilanku sebagai pelukis pemula sangat kecil. Belum lagi saingan yang sangat banyak. Terkadang sebuah lukisanku hanya laku terjual limapuluh ribu rupiah. Tapi aku bersyukur pada Tuhan, masih bisa hidup dan makan, tulis Elang pada sebuah email. 
Raras rutin membalas. Setiap emailnya selalu berisi pemompa semangat Elang. Ia ingin Elang berhasil menggapai impiannya. Ia tak mau perhatian Elang bercabang antara karir dan dirinya, hingga Raras memutuskan untuk merahasiakan penyakitnya dari Elang. 
Sepuluh bulan kepergian Elang, surat-surat yang dikirim Raras kembali dengan alasan pindah alamat. Email yang terkirim tak pernah berbalas. Memasuki bulan ke duabelas sebuah kartu pos datang padanya. 
Sekarang aku di Belanda. Kuputuskan untuk menjadi pelaut saja. Kebetulan ada kenalan temanku di Jogja yang kerja di kapal dan butuh awak baru. Doakan aku, Ras, agar suatu hari nanti kapalku berlabuh di Belawan. 
Itu satu-satunya kartu pos yang terkirim dari Elang. Dua tahun sudah. Dan Raras selalu berdoa dan menunggu, agar Elang datang padanya. Sekali saja. *** 
 Selain hujan, Elang juga suka laut. Berjam-jam Elang sanggup berdiri di tepi laut. Menatap jauh ke depan. Mengagumi laut yang seolah tak berbatas. 
Sering Elang mengajaknya, tapi Raras kebanyakan menolak. Ia kapok menemani Elang menatap laut. Membosankan dan membuat kaki jadi pegal. 
"Apa indahnya dari laut ini?" Raras mengomel begitu. Sudah lebih dua jam mereka hanya berdiri dan duduk menatap laut. Tapi Elang belum juga mau pulang. 
"Banyak, Raras. Bayangkan kalau kamu bisa terbang di atas air laut itu. Tentu sangat indah dan menyenangkan." 
"Kalau begitu, seharusnya kamu terlahir sebagai burung saja." 
Setelah Elang pergi, Raras jadi suka pergi ke tepi laut. Sendirian. Seperti sore ini, Raras tengah menatap lurus ke depan, lalu beralih ke angkasa biru. Begitu indah. Langit berwarna cerah. Burung-burung terbang bebas di atas air laut. 
Gadis itu menghela napas berat. Wajahnya masih mendongak. Mungkinkah saat ini Elang juga tengah menatap birunya laut dari daratan yang lain seperti dirinya? Apakah saat ini Elang juga tengah memikirkan dirinya dan merasa rindu yang seakan tak tertahan lagi? Atau justru Elang telah lupa pada Raras, karena baginya Raras hanyalah bagian masa lalu yang berarti apa-apa? 
Kembali Raras menghela napas panjang. Kemarin Raras mengunjungi Dokter Heru. Tidak seperti biasanya, kali itu Dokter Heru menjabat erat tangannya ketika mengantar Raras keluar. Ucapan terakhir dokter itu telah mengisyaratkan hal buruk buatnya. 
"Banyak-banyaklah berdoa, Raras. Semoga Tuhan mendengar segala permintaanmu itu." 
Wajah Raras berubah pucat. "Apakah ini artinya...." 
Dokter Heru tersenyum arif. "Tak ada yang perlu kau cemaskan. Karena pada dasarnya kita harus berserah kepada Tuhan, bukan?" 
Dadanya terasa sesak. Sampai sekarang ini dalam hati kecilnya, Raras selalu bertanya mengapa semua ini harus terjadi padanya. Leukimia bukan penyakit main-main. Ia belum mau mati sebelum bertemu Elang untuk terakhir kalinya. 
Raras terlongo. Dikuceknya kedua mata, untuk memastikan bahwa ini bukan hanya halusinasi. Tapi senyum makhluk yang berdiri di depannya justru pecah menjadi tawa. 
"Elang?!" 
Elang mengangkat bahu dan tersenyum lebar. "Daya ingatmu hebat juga. Padahal aku telah jauh berubah." 
"Mana mungkin aku bisa melupakanmu." 
Elang maju setindak demi setindak. Susah payah Raras berusaha bangkit. Elang menahannya. 
"Berbaring saja. Biar cepat sembuh." 
Hangat Elang merangkum kedua tangannya. Kedua mata Raras memanas. Elang menatapnya lekat. 
"Aku pasti kelihatan sangat jelek. Rambutku sudah mulai menipis akibat kemoterapi." 
"Di mataku kau tetap gadis yang tercantik." 
"Kemana saja selama ini?" 
"Mengembara. Mencoba hidup dan mencari jatidiri." 
"Kamu seperti menghilang ditelan bumi. Padahal aku selalu mengharap surat atau dering telepon darimu." 
"Sangat ingin, Ras! Tapi aku tak mau mengganggumu." 
Mata Raras mendelik. 
"Aku merindukanmu, Ras! Makanya aku pulang." 
"Setelah melihatku begini, kamu pasti kecewa." 
Elang menggeleng. Ia rapikan anak-anak rambut Raras yang berantakan di sekitar dahi dan pipinya. 
Raras memejam mata. 
"Kamu harus cepat sembuh. Biar bisa menemaniku jalan-jalan, menatap hujan dan laut. Mau ya, Ras?!" 
"Kata dokter umurku...." 
"Tahu apa dokter itu. Dia bukan Tuhan yang bisa menentukan umur manusia sesuka hatinya." 
Hidup adalah perjalanan yang akan berujung di suatu masa. Bersama Elang di sampingya, Raras yakin perjalanannya masih sangat panjang. Bukankah semangat dan keyakinan untuk hidup jauh lebih manjur dari segala pil-pil yang ditelannya selama ini? © 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger