Jumat, 29 April 2011

Mencari Jejak By. Gita Nuari

Setiap masuk bulan Ramadhan, entah mengapa aku selalu teringat Jeck - teman lama yang sudah aku anggap saudara sendiri. Dulu, bulan Ramadhan bagi kami merupakan bulan kebersamaan. Kami biasanya melewati bulan suci tersebut bersama-sama: sholat tarwih, buka puasa, sahur, dan begadang. Tapi yang paling aku ingat persis adalah, ia selalu datang ke rumahku dengan dua botol sirup di awal bulan puasa. 
"Hasil honor puisiku, Nang. Baru dimuat di koran."
Dan pada suatu hari di awal bulan puasa....
"Untuk buka puasa," Jeck berkata pada saat itu sembari mengangsurkan dua botol sirup kepadaku. Hanya itu. Setelahnya, entah ia menghilang kemana. Ia seolah hilang dari rimba silsilah. Sampai suatu ketika Laras, istrinya, memintaku untuk mencari Jeck! 
"Kalau sempat berjumpa, sampaikan pesanku untuk cepat pulang," pesan Laras waktu itu.
Tapi aku terhadang dinding aral ketika mencoba membantu mencari. Ya, Tuhan! Sulit tak kepalang tanggung! Tak aku temukan Jeck yang senantiasa ceria dengan kelakar khasnya di tempat ia lazim mangkal.
Dulu mencari Jeck semudah membalik telapak tangan. Tapi sekarang, ia bagai atmosfer yang tak tersentuh. Sudah kususuri beberapa tempat paling terasing bagai pelacak, namun tak aku temukan jua seseorang yang bernama Jeck. Jeck yang urakan! Jeck yang getol puisi! Jeck yang idealis!
Jeck adalah teman baikku. Dulu, kami satu sanggar - tempat kami latihan teater dan baca puisi bersama. Seiring dengan berjalannya sang waktu, bakat Jeck terasah bagai berlian. Jeck cenderung menonjol sebagai penyair ketimbang pemain teater. Jeck menangkap hal itu sebagai kepatutan konsistensi. Dia menentukan pilihan, puisi! Selanjutnya, dia pun terus menulis puisi sastra, dan berangsur menghentikan aksinya sebagai 'sri panggung' teater. Banyak pengamat mengatakan bahwa Jeck bakal jadi sastrawan besar. Sebab idealismenya kuat terhadap sastra. Ditopang oleh gaya prosanya yang unik dan memukau serta esai-esainya yang berbobot, maka tak ada yang dapat meragukan kemampuan Jeck sebagai seorang seniman murni. Sungguh, puisi-puisinya demikian memikat dan berkarakter.
Tapi di mana dia sekarang? 
Mencari Jeck dulu mudah. Jika ada seremoni dan apresiasi puisi di Taman Ismail Marzuki, Jeck pasti ada di situ. Duduk di lantai, dan takzim menyimak. Jika ia tidak membaca puisi, pastilah melabur sebagai penonton yang paling setia di sana. Kadang-kadang, dengan mata memerah serta wajah memucat - karena kurang tidur, ia tetap setia menghadiri prosesi dan tak satu pun dimangkirinya. Jeck memang cuai terhadap kesehatan. Ia terlalu sibuk di dalam enigmanya sendiri hingga tak sadar kalau kebiasaannya dapat menjadi bumerang. Hei, ia bisa mati muda! 
"Laras, ini duniaku. Kau harus tahu itu. Harus mengerti. Jika kau perahu, aku adalah arus sungai. Tentunya kau selalu ada di pundakku ke manapun aku bergerak!" kata Jeck puitis kepada istrinya, sewaktu aku menginap di rumah kontrakannya sepulang menyaksikan Jeck membaca puisi. 
Jeck tak bisa dikendalikan orang. Istrinya sendiri pun tak berkutik. Laras menginginkan Jeck bekerja tetap. Bekerja jadi pegawai atau karyawan. Apa saja. Yang penting setiap bulan ada gaji. Namun, Jeck tak menggubrisnya. Tak sedikit pun menanggapi. Jeck tetap setia pada dunianya. Seni!
"Apa cukup kau menghidupi anak istrimu hanya dengan honor tulisan yang tidak menentu itu, Jeck?" tanyaku pada suatu hari.
Jeck tak menyahut, Jeck tak peduli. 
Mencari Jeck dulu mudah, semudah menemukan debu di ujung sepatu. Tapi sekarang, mencari Jeck sama halnya dengan mencari sebatang jarum pada hamparan rerumput di lapangan sepakbola. 
"Di luar kemanusiaanku, orang boleh jadi apa saja. Kau, atau siapa pun. Dan aku jadi penyair adalah kodrat. Tak boleh dibantah. Dunia tidak hanya membutuhkan sandang-pangan, politik, intrik dan sebagainya. Tapi dunia pun butuh penyair, butuh puisi. Meski puisi itu sendiri tidak memerlukan dunia karena puisi sudah memiliki dunianya sendiri," urai Jeck sepulang menyaksikan pementasan teater di Taman Ismail Marzuki, setahun lalu. Setiap teringat prinsipnya itu, aku jadi kangen bertemu dengannya lagi. Mungkin benar katanya tempo itu. Bukankah manusia harus memiliki prinsip?!
Dan kini sudah dua Ramadhan aku tak bertemu dirinya lagi. Istrinya sendiri sudah berpindah-pindah kontrakan sehingga ia pun menghilang dari hidupku - aku malah kehilangan dua sosok, dan itu semakin memurukkan aku dalam pusaran kehilangan yang dalam. Terus terang, aku rindu menyoal seni yang hanya dapat diapresiasi dengan hati. Sastra, ya sastra. Hei, bagaimana aku bisa melupakan dirinya kalau di saku celana jin belelnya selalu ada secarik kertas yang penuh coretan tangan menguraikan bait-bait puisi. Ah, Jeck di mana gerangan kau sekarang? 
Teman-teman satu sanggar menggeleng tak tahu kala kulacak ia bak pengendus. Apakah Jeck sudah berganti profesi jadi pelukis - karena sesungguhnya ia pun memiliki bakat pada seni rupa? Mungkin saja di suatu tempat ia menawarkan jasa lukisannya. Buka gerai, atau galeri, atau bahkan menggelar lukisannya di trotoar? Ah, entahlah!
"Pulang ke kampung ibunya barangkali, jadi petani!" kata Hendra, pelukis satu sanggar kami.
"Bisa jadi. Bukankah di kampung orangtuanya kaya. Juragan beras. Siapa tahu si Jeck dikasih modal untuk jadi petani berdasi?" dukung Jajad, teman kami, pelukis lainnya. 
"Apa mungkin, Jad?" sanggahku. "Sebab aku tahu sifat si Jeck, dia pantang dibantu." 
"Hm, barangkali saja si Jeck jadi TKI ke negeri jiran," celetuk Narno, sahabat sesanggar yang menggeluti seni rupa.
"Ya, ya, bisa jadi. Mungkin menjadi pembantu pagi hari, siang ngamen, dan malam menulis puisi. Pulang ke Indonesia langsung bisa bangun rumah!" timpal Jajad asal. Demi Tuhan, rasa-rasanya ingin kutonjok mulutnya yang bacar itu kalau tidak mengingat persahabatan yang telah lama kami jalin. 
Aku melangkah pulang dengan tangan hampa. Bayang Jeck semakin menjauh seolah tak tergapai tangan. *** 
Hari itu Jakarta benar-benar dipanggang matahari. Puasa terasa berat dalam iklim begitu. Tapi niatlah yang menjadikan kami kuat menjalankan ibadah puasa. Aku bersama Gina - tunanganku, berjalan melalui jembatan penyeberangan dari jalan Gajah Mada menuju Hayam Wuruk, turun dari tangga penyeberangan tepat di samping halte bis. Aku tuntun Gina sambil menghentikan sebuah bis kota jurusan Blok M. 
Bis yang kami tumpangi sesak oleh penumpang. Tapi aku nekat mengajak Gina naik ke dalam bis itu. Para penumpang berjejal dari dalam sampai ke pintu persis ikan pepes. Padat. Aku tarik tangan Gina untuk bisa merangsek masuk ke dalam. Mungkin saja ada tempat duduk kosong - heh, aku menertawai diriku sendiri! Mestinya kutahu jam-jam begini, mustahil ada tempat duduk yang kosong. Namun biar begitu, kuseret Gina berdiri dekat tempat duduk. Kami mesti beradu cepat dengan penumpang lainnya untuk berebut tempat duduk. Gayung bersambut. Satu tempat duduk kosong karena ditinggal oleh penumpang yang turun segera diisi oleh Gina. Syukurlah, legaku dalam hati. Aku tahu Gina tidak kuat berdiri lama-lama. Dia gampang pusing dan mual. Kalau sudah begitu, maka dia pasti muntah! Bukan apa-apa. Aku khawatir puasanya bakal. 
Matahari terus memanggang bis yang kami tumpangi dari luar ketika seorang pengamen naik ke dalam bis, sesaat setelah berhenti mengambil penumpang pada sebuah halte. Si Pengamen berdiri di depan dengan gitar bututnya. Wajahnya yang legam tertutup topi kupluk yang sudah membelel. Setelah berbasa-basi tipikal pengamen, ia pun menjual suaranya yang cempreng diiringi petikan gitar yang bernada cempreng pula.
Suara pengamen dan suara gitar baur bercampur dengan teriakan kondektur serta mesin bis tua yang gaduh. Kami sedikt terhibur oleh dua bait lagu bertema jelata yang lazim dilantunkan oleh para pengamen itu. Selesai bernyanyi, pengamen itu membuka topi kupluk nya untuk digunakan sebagai wadah meminta imbalan jasa. Aku terkesiap. Gina melihat keterkejutanku. 
"Ada apa, Mas?" tanya Gina heran. 
"Tak ada apa-apa. Tapi, bukankah itu Jeck? Ya, itu Jeck! Jeck temanku yang selama ini aku cari!" 
"Jeck siapa?" tanya Gina bingung. 
"Jeck, si Penyair itu, Gina. Temanku dulu! Tapi... kenapa dia jadi pengamen?!" cetusku tak percaya.
Tadi sewaktu menyanyi, Jeck tak melihatku. Aku dan Gina memang duduk di barisan bangku belakang bis dipadati jejalan badan penumpang yang berdiri. Ya, jelas ia tak melihat kami!
Si Pengamen yang aku akrabi sebagai Jeck itu sudah berjalan bangku per bangku sembari menyodorkan topi kupluknya. Tidak begitu lama ia sampai di hadapan kami. Dengan sedikit membungkukkan badannya, ia menggoyang-goyangkan topi kupluknya pada kami.
"Jeck!" Aku sapa ia dalam kerinduan yang dalam. 
Jeck mengangkat wajahnya. Memperjelas pandangan. Jeck terkejut. Wajahnya memucat. Dengan tergesa ia beringsut ke belakang menuju pintu bus setelah mengenaliku. Aku kejar Jeck ke pintu sambil menerobos puluhan badan penumpang. 
"Jeck, aku Danang. Masak kau tak mengenali aku, temanmu! Eh, ke mana saja kau, Penyair!" teriakku sambil memegangi pundaknya. Jeck tak bisa berkutik. Jeck yang aku kenal tegar dan ceria, hari itu tertunduk lesu dengan sepasang sinar mata yang meredup.
"Aku sekarang jadi pengamen, Nang. Bukan penyair lagi," ujarnya lirih. 
Aku terenyuh. Suara Jeck dibebani lara.
"Kau tetap penyair yang aku banggakan, Jeck! Makanya, aku selalu mencari kau di mana pun kau berada. Kapan kau baca puisi-puisimu di Taman Ismail Marzuki lagi? Aku kangen Jeck!" 
"Tidak lagi, Nang. Sekarang aku pilih mengamen. Aku butuh uang. Anak dan istriku perlu makan, perlu baju untuk Lebaran," katanya polos.
Aku bergidik. Kenyataan itu mengentakku. Betapa naifnya kehidupan ini yang semakin jauh dari prinsip. Tapi aku tahu, Jeck tak punya pilihan lain dalam dilematisasi ini. Seperti yang ia katakan tempo itu, anak dan istrinya perlu makan! 
Gina memanggilku. Dan saat aku menoleh ke arah Gina, Jeck sudah melompat ke tepi jalan. Aku kecewa. Hanya dapat memandang punggungnya yang menirus lantas menghilang di bis lain.
Ah, aku kehilangan Jeck. Sangat kehilangan! ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger