Sabtu, 30 April 2011

Janji Sebuah Botol Bekas By. Mariska Uung

Aku menunggu bis di halte sambil merenung. Setiap saat, rutinitas yang kujalani ini demikian menjemukan. Aku harus bertahan. Pengalaman telah mengajariku banyak hal.
Namaku Nessya. Nessya Julia Chandra. Aku masih menyimpan kenangan usang. Kenangan lawas yang mungkin dapat dijadikan pelajaran bagi kita untuk bertindak bijak. Sebuah pemberontakan dari anak gadis yang tersisih akan menimbulkan prahara. Mungkin ini terlalu naif. Mungkin ini terlalu klise. Tetapi tidak bagiku. Sebab, aku, Nessya Julia Chandra, akan selalu berserah kepada Tuhan, agar tidak salah melangkah. Agar tidak terjatuh dalam limbah dosa!
Entah aku harus melamunkan apa lagi hari ini?
Memikirkan apa hari ini?
Mengharap ada keajaiban yang datang dalam kehidupanku, dan mengubah pikiran kedua orangtuaku yang melulu memikirkan bisnisnya!
Mungkin.
Tetapi sampai sekarang semuanya hanyalah angan-angan, dan dalam kenyataannya, mereka memang menganaktirikan aku, putri tunggalnya, dan lebih mementingkan bisnis mereka sebagai anak favorit!
Aku menggigil dalam dingin. Hujan mulai menitik, dan perlahan menjadi tirai lebat seperti rumbai raksasa. 
Bis yang menuju arah rumahku datang, dan aku akhirnya menaiki bis itu. Aku duduk di tempat duduk pojok paling belakang. Saat itu bis begitu sepi, dan hanya menyisakan beberapa orang. Entah kenapa rasa-rasanya aku ingin menangis. Menangis mengingat kenangan lawas saat dingin menyergap dalam sunyi. Airmata hampir jatuh menetes, tetapi masih berusaha kutahan. Sambil melihat ke arah kaca bis, aku melihat hujan yang menderas. Sepertinya alam bernyanyi pilu, mengikuti isi hatiku yang belah dalam giris luar biasa.***
"Duh, anak Mama kok basah kuyup kayak begini? Sebentar kalau sakit bagimana?" sambut Mama sambil menyambut tasku, dan mengambil handuk kecil berwarna hijau muda untukku. "Memangnya hari ini kamu tidak bawa payung? Padahal, Mama dan Papa kan sudah menyiapkan mobil, supir dan fasilitas lain. Mengapa kamu tidak mau, sih?" tanya Mama dengan nada heran.
"Ini adalah hidupku! Pilihanku! Aku pikir Mama sudah tahu alasannya," jawabku dengan nada sinis, dengan tubuh agak gemetaran karena suhu tubuh yang dingin.
Ya, Tuhan!
Ampuni atas segala kesalahan.
Aku memang sudah jadi anak yang pemberontak. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke kamar dan cepat-cepat mandi air hangat agar bisa membersihkan tubuhku dari air hujan.
Tadinya aku sudah merencanakan untuk menangis sepuas-puasnya di kamar, tetapi entah mengapa aku berubah pikiran. Aku berusaha bersikap tegar menghadapi masalah yang kuhadapi. Aku malu menjadi gadis yang cengeng, yang melulu berurai airmata. Dan aku harus mampu menghadapi semua itu dengan kepala terangkat, bukannya dengan cairan bening bernama airmata.
Keluargaku adalah keluarga yang bisa dikatakan sangat berada. Ayahku memiliki tiga perusahaan garmen besar dan beberapa anak cabang di Tanah Air. Teman-temanku sangat iri terhadap kondisi keuangan keluargaku. Namun, bagiku itu hanya sebuah fatamorgana. Aku benci dilahirkan di keluarga ini. Aku benci menjadi orang yang sangat kaya. Status itu sungguh tidak kuinginkan. Aku hanya butuh perhatian. Aku hanya butuh kasih sayang. Itu saja. Bukannya segala harta materi yang fana itu!
Makanya tidak heran jika aku lebih memilih naik bis, hidup sederhana dan bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji.
Hah, bagi anggapan orang, bodoh memang.
Aku melihat ke luar jendela kamarku setelah usai membersihkan diri. Ternyata hujan sudah mulai reda, dan tiba-tiba terlintas dalam pikiranku: Bandung. Di tempat itulah hidupku terlentuk. Ada bahagia dan duka yang membaur menjadi satu. Di sana, aku banyak belajar dari pengalaman dan kesalahan. Dan di sana pula, ada orang yang kusayangi. Sekarang, kehidupanku berubah total. Di Jakarta, aku serasa sendiri. Tidak ada lagi orang-orang yang kusayangi. Mereka semua sibuk dengan rutinitasnya. Aku muak dengan semua ritual itu. Perlahan antipati terhadap orangtuaku sendiri berubah menjadi benci!***
Saat-saat di Bandung....
"Hahaha... Ness, duh, akhirnya kita bisa ya, mengubur botol ini buat kenang-kenangan persahabatan kita seumur hidup," ujar Vania setelah terbahak riang.
Aku tersenyum lebar, dan mulai membayangkan masa depan kami, lima sampai enam tahun mendatang, ketika kami bertemu kembali di tempat ini. Tempat yang sangat jarang dikunjungi ketika anak-anak berada di sekolah. Memang, tempatnya sangat tidak nyaman dan terasa angker, namun kami tidak percaya pada mitos-mitos yang sering dijadikan buah bibir. Kami berdua tertawa sambil merasa jijik ketika kami melihat cacing-cacing tanah yang terdapat pada pinggir pagar pekarangan. Tidak ada orang yang mengetahui kalau kami sering ke tempat ini dan saling curhat mengenai masalah pribadi kami, sampai masalah pemuda idaman.
Ya, memang saat itu kami membuat janji persahabatan di dalam sebuah botol bekas berwarna hijau yang sudah seperti barang rongsokan, dan dikuburkan di dalam tanah dekat pekarangan sekolah. Kami pun berjanji akan menggali kembali tanah itu setelah kami lulus kuliah. Pada saat itu kami masih duduk di kelas dua SMA. Konyol memang. Tetapi kupikir, inilah cara unik kami mengungkapkan janji setia persahabatan walaupun kedengarannya sedikit jadul. Lalu kami menutup kegiatan penguburan tersebut dengan tempelan jempol kami masing-masing yang telah dicelupi tinta, dan disambut dengan pelukan persahabatan. Aku merasa hidupku sangat sempurna. Di rumah, aku memang hanya anak tunggal, dan tak memiliki saudara lain selain kedua orangtua, yang sangat menyayangiku. Namun biar begitu, aku tidak merasa kesepian karena memiliki banyak sahabat di sekolah. Dan aku bersyukur karena memiliki teman baik seperti Vania.***
Siang itu, Vania memberikanku hadiah ultah yang dibungkus kertas kado Winnie the Pooh. Aku pun membuka kado tersebut pelan-pelan, dan isinya adalah surprais: sebuah sulaman slayer buatan tangannya sendiri yang terdapat tulisan namaku: 'Nessya'. Aku mencobanya dengan wajah riang sambil memandangi tubuhku di depan kaca bufet di kamarku.
"Ehm... cocok juga," ungkapku dalam hati.
Seperti biasa, aku selalu menuliskan buku diari setiap malam sambil tidur-tiduran di atas ranjang.
Malam ini, aku menuliskan isi buku diariku dengan kalimat yang sangat panjang. Banyak cerita yang aku tuang. Menurutku, hidupku sudah sangat bahagia dan sempurna kala itu. Apalagi, aku selalu masuk rangking sepuluh besar siswa di kelasku. Aku terus berpikir, apa yang sebenarnya kurang dalam hidupku.
Tiba-tiba saja terlintas dalam benakku. Rasa-rasanya aku ingin punya seorang pacar. Mungkin seorang pemuda bisa mengisi kekosongan dalam hidupku. Yang dapat menyayangiku lebih dari sekedar pertemanan. Namun, kutepis jauh-jauh rasa itu. Bukankah persahabatanku dengan Vania lebih dari cukup? Mungkin juga aku masih kanak-kanak, dan belum saatnya memikirkan 'calon pendamping' hidupku kelak. Aku masih terus menuliskan perjalanan hidupku, hari itu, sampai akhirnya tak sadar dan tertidur pulas di atas tempat tidur....***
Aku dibangunkan oleh silau teriknya sinar matahari ketika tirai jendelaku yang dibuka oleh Mamaku. Rutinitas. Dan itulah salah satu cara Mama membangunkan aku jika malas bangun dari tidur. 
"Huaaap, duh, Mama! Memangnya sekarang jam berapa? Kok sudah membangunkan aku?" tanyaku setelah menguap dan menggeliatkan badan
"Sudah jam sembilan. Tidak biasanya kamu lambat bangun begini meskipun hari libur. Jadi, Mama pikir membangunkan kamu saja," jawab Mama sambil memberiku minum segelas air putih dan segelas susu yang sudah disiapkannya sedari tadi. Sebuah ritualitas dan bentuk kasih sayangnya padaku.
"Untung hari ini hari Minggu," ujarku dalam hati. Aku baru ingat kemarin, aku lupa menyetel alarm untuk aku bangun. Aku pun segera mandi. Padahal.... 
"Ness, cepetan turun! Vania sudah datang, katanya mau ngobrol-ngobrol sama kamu," sahut Mama seperti terlonjak, lupa pada niatnya yang semula untuk menyampaikan padaku tentang kedatangan Vania.
Aku menepuk dahiku. "Ya, ampun. Aku lupa kalau Vania mau datang. Mama, suruh Vania masuk ke kamar saja, aku segera mandi."
Perempuan muda berparas aristokrat itu mengangguk. Meniruskan punggungnya dari pandanganku, dan menuruni undakan anak-anak tangga.
Dari dalam kamar mandi di kamarku, aku mendengar seruan Vania yang memanggil namaku. "Ness, cepatan mandinya. Dasar pemalas!"
Aku tersenyum. "Iya, Nona Nyinyir!" balasku separo berteriak di antara guyuran air dari pancuran.***
"Apa?! Kamu sudah jadian sama si Andrew?!" tanyaku spontan dengan nada kaget sembari mengeringkan rambutku dengan handuk. Aku seperti kesetrum listrik saat ia menyampaikan keterusterangannya dengan nada bersalah. 
"Iya, sori banget baru bilang. Sebenarnya aku malu. Hehehe..." jujur Vania dengan gaya sok imut.
Sebenarnya, aku kesal mengapa ia baru menceritakan hal ini kepadaku. Bukankah kami sudah pernah berjanji untuk tidak saling menutupi suatu masalah. Kami akan saling terbuka. Saling membantu. Tapi sekarang....
Huh, pandai nian ia menyembunyikan perihal cowok jangkung berbola mata bagus itu kepadaku! Padahal sudah dua minggu lebih cowok itu 'nembak'. Seharusnya, ia langsung menceritakannya—sesuai dengan perjanjian kami dalam botol hijau itu.
Tiba-tiba aku jadi teringat pada buku diariku. Semalam, ketika mengisi buku diari, ada keinginan hatiku untuk memiliki seorang pacar, seorang pemuda yang dapat mengisi hari-hariku selain sahabat tentunya. Aku ceritakan pada Vania, dan kontan ia terbahak!
"Kenapa tertawa?"
"Tidak apa-apa!"
"Pasti ada apa-apa kalau kamu tertawa seperti orang gokil begitu!"
"Lucu saja melihat Nessya punya pacar...."
"Memangnya kenapa?"
"Selama ini, setahu aku, Nessya hanya pacaran sama...."
"Sama siapa?!"
"Sama bonyok-nya!"
Aku timpuk ia dengan bantal!
Asem! Aku jujur, malah ditertawakan. Tetapi ia mendukung niatku untuk memiliki pacar, dan berjanji untuk mengenalkan kawan-kawan Andrew kepadaku. Mungkin ada yang nyantol, begitu katanya!***
Kalau selama ini aku selalu cuek dan tidak pernah memberi harapan pada semua cowok yang melakukan pendekatan, kali ini agak berbeda. Aku sudah tidak terlalu cuek lagi, bahkan aku sudah sangat siap untuk membuka 'pintu' hatiku, meski masih sangat selektif dan tidak sembarangan memberi hati pada seseorang. Waktu pun berlalu. Ada satu orang yang selama ini membuatku kelimpungan. Bukan teman Andrew, cowoknya Si Vania. Bukan. Tetapi ia adalah orang yang selama ini mencuri perhatianku. Namanya Kosasih. Teman sekolah lain kelas. Tanpa sadar, aku telah jatuh cinta padanya. Aku tidak pernah tahu, apakah ini jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, dan seterusnya. Namun yang pasti, ia mampu meluluhkan jiwaku—seperti es di Kutub Utara yang mencair dan meleleh akibat efek Global Warming!
Orangnya sangat baik, tampan, perhatian, pintar, humoris dan simpatik. Ia sangat empati terhadap perempuan. Dan ini! Ternyata, ia juga menyukaiku.
Aku sangat bahagia. Tuhan selalu mengabulkan apa yang aku mau. Yang paling berkesan adalah ketika Kosasih menyatakan perasaannya kepadaku di Valley, Bandung, tepat di bawah lampu-lampu warna-warni yang menyerupai pohon natal. Aku tidak bisa melupakan ketika ia berkata:
"Nessya, maukah kamu menjadi orang yang terpenting dalam hidupku?"
Kala itu, ia menyodorkan setangkai bunga mawar putih ke arahku dengan gaya berlutut. Rupanya, selama ini ia sudah mencari tahu warna kesukaanku—hm, pasti ia mengorek informasi dari Vania! Aku tidak ragu untuk mengatakan 'ya'!
Karena inilah saat yang juga sudah kutunggu-tunggu.***
Tentu saja orang yang pertama kali aku ceritakan adalah Vania. Ia sangat senang mendengar kabar ini. Kami berempat, aku, Vania, Andrew dan Kosasih, sejak itu sering jalan bareng—kumpul-kumpul dan juga belajar bersama. Kosasih sangat sayang kepadaku. Ia memperlakukan aku layaknya seorang ratu. Sehingga, aku tidak sanggup menolak berbagai keinginannya. Kami sering mengungkapkan perasaan sayang kami lewat perhatian lebih. Via sms atau telepon bila tidak berada di sekolah.
Namun Lucifer senantiasa menggoda kami. Aku dan Kosasih nyaris terjatuh ke dalam lembah nista. Kami dibiusnya dengan gejolak darah muda dan birahi sehingga hampir melakukan hal yang belum pantas sebelum menginjak gerbang pernikahan. Sehingga pada suatu ketika, kami berdua nyaris hancur oleh zinah. Aku menarik diriku dari pelukan pemuda itu. Berlutut dan bersimpuh. Memohon segala ampun.
"Ya, Tuhan. Jaga hati kami. Jangan sampai kami dikotori oleh cinta badani, kami masih terlampau mentah untuk mengarungi kehidupan yang mahaberat ini!" doaku spontan kala itu.
Sejak saat itu, aku dan Kosasih menjalani hubungan kami secara alami. Kami senantiasa berusaha menjaga norma, mengingat Tuhan, dan menjaga kesucian cinta kami yang putih.***
Tidak ada orang yang bisa kupercaya untuk menyampaikan semua kenanganku, manis maupun pahit. Senang maupun susah. Riang maupun sedih. Dan, hanya Vania-lah wadah curhatku yang paling safety. Lagipula, aku merasa sudah cukup lama kami tidak mengunjungi tempat rahasia kami, dekat pekarangan sekolah. Aku tidak sabar mengutarakan kejadian buruk semalam yang nyaris saja terjadi antara aku dan Kosasih, tentu saja di tempat penguburan botol bekas tempat menyimpan ikrar kami.
Namun, mengapa hari ini ia tidak kelihatan di kelas? tanyaku cemas dalam hati. Tidak seperti ia begini. Toh jika ia tidak masuk sekolah karena sakit, ia pasti memberitahu aku lewat sebaris kalimat SMS atau telepon. Aku berkali-kali melihat HP-ku. Tidak ada SMS darinya. Aku juga sudah SMS dan telepon berkali-kali, tetapi tidak ada balasan atau jawaban telepon darinya. Hatiku cemas luar biasa. Perasaanku tidak enak. Aku tidak bisa konsentrasi dalam belajar hari ini.
Pulang sekolah, aku langsung buru-buru menyetop taksi dan pergi menuju rumah Vania. Kosasih? Ah, dalam keadaan cemas seperti ini, aku tidak sempat memikirkannya, bahkan SMS dan telepon darinya tidak aku tanggapi. Pintu pagar rumah Vania ternyata tidak dikunci begitu aku turun dari taksi dalam gerak gegas.
Aku masuk disambut pembantu perempuan tuanya. Dan aku langsung terkapar shock! Hatiku belah ketika menyaksikan ada dokter dan suster yang baru saja keluar dari kamarnya. Ditambah lagi orangtuanya yang menangis tersedu-sedu, duduk di sofa. Aku masuk ke kamar Vania dengan gundah tanpa menegur kedua orangtuanya yang berpelukan dan menangis bersama.
Aku nyaris pingsan. Kusanggah badanku yang lemas di dinding samping kiri tempat tidur Vania. Kulihat wajah belia Vanya yang pasi, terbujur kaku dan tidak bernapas, di atas ranjangnya yang penuh darah.
Airmataku tak terbendung. Aku menjerit dalam nada parau. Kupanggil nama Vania berkali-kali dengan kerongkongan perih. Rasanya seperti mimpi!
Aku berlari keluar masih berburai airmata.
"Tan-Tante, mengapa Vania mengalami ini semua?" tanyaku dengan suara tersekat.
"Va-Vania ternyata... ha-hamil, dan dia baru saja melakukan aborsi di sebuah klinik ilegal tanpa sepengetahuan Tante dan Oom. Dia tiba di rumah ketika Tante dan Oom masih di kantor. Kami ditelepon oleh Mbok Minah, katanya, Vania mengalami pendarahan hebat ketika pulang siang tadi," jawab Mama Vania ambil menangis terisak-isak. "Kami langsung menelepon dokter, dan langsung pulang rumah. Ta-tapi... nyawa Vania sudah tidak dapat diselamatkan. Dia kehilangan banyak darah!"
Aku menggigil dalam diam. Tangisku membuncah. Sahabatku telah pergi untuk selama-lamanya. Vania yang malang! Vania yang telah menjadi korban kebiadaban zaman. Vania adalah korban pergaulan bebas. Aku tidak menyangka, ia dan Andrew telah jatuh ke dalam limbah dosa!***
Kabar mengenai kematian Vania karena aborsi sudah tersebar luas di sekolah. Ada yang mencibir tetapi banyak pula yang simpati karena Vania hanyalah korban pergaulan bebas, yang sedikit banyaknya turut menyeret orangtuanya yang terlalu sibuk mengurusi pekerjaan dan bisnis sehingga lalai mengasuh anak.
Sementara itu, Andrew dikeluarkan dari sekolah dan ia pindah sekolah di luar kota. Mulanya aku dendam pada Andrew, dan turut melampiaskan amarahku pada setiap laki-laki, termasuk Kosasih. Tetapi aku sadar, semua hal itu tidak akan membawa manfaat. Toh Vania tidak dapat hidup kembali. Dan dendam kesumat lantaran kehilangan seorang sahabat karena mati tak wajar tidaklah dapat menyelesaikan masalah. Mungkin itu adalah pengalaman hidup yang dipaparkan padaku agar aku dapat belajar bertindak bijak, meskipun gambaran tersebut adalah durja dan getir karena mengorbankan sahabat terbaikku, Vania.
Waktu pada akhirnya melamur semua kenangan sepat dalam hidupku. Kosasih, pemuda yang pernah masuk dalam kehidupanku sebagai seseorang yang paling istimewa, akhirnya menjauh dariku karena mengikuti orangtuanya yang dipindahtugaskan dari Bandung ke Medan. Aku sendiri pasrah ketika orangtuaku pun memutuskan untuk ekspansi perusahaannya yang berpusat di Kota Kembang, Bandung, ke Jakarta. Kami pindah. Kutinggalkan semua kenangan itu satu per satu. Seperti lembar demi lembar buku diariku yang usang dan tanggal satu per satu.
Namun aku tidak pernah kehilangan kenangan tentang Vania. Dan aku berjanji, suatu saat aku akan kembali ke Bandung. Menggali janji kami dalam sebuah botol bekas. Walaupun hanya sendiri. ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger