Jumat, 29 April 2011

Gaun Pengantin     By. Embar T. Nugroho

Aku kembali memperhatikan gaun pengantin berwarna putih gading bertaburkan manik-manik. Aku baru saja mengambilnya dari tukang jahit langgananku. Kami sudah lama berlangganan, sejak ibuku baru saja menikahi ayahku. Mungkin mereka adalah pasangan pengantin yang sangat bahagia. Memiliki tiga orang anak, satu putra dan dua putri. Ah, aku ingin seperti mereka. Menjadi orangtua dari anak-anakku kelak. Tapi harapan itu pupus saat aku terjerembab pada sebuah pernikahan yang semu.
Senja telah menutup layar kuning-jingganya sejak delapan jam lampau. Saudara-saudara dan sanak keluargaku sudah berkumpul. Sebagian mereka mempersiapkan makanan untuk tamu dan para undangan lainnya. Teratak dan tenda biru sudah berdiri di halam depan rumah kami. Janur kuning melambai-lambai tertiup angin. Tapi sampai saat ini aku tidak menemukan sosok Khaidir. Laki-laki yang akan menikahiku.
Mataku tak kuasa mengelak putaran pikiranku, meski masih teringat pesan ibuku empat jam lalu.
"Tidurlah, Nur. Sudah jam dua, kamu harus istirahat, besok kau akan bersiap-siap dengan acara pernikahan itu."
Tapi aku tidak peduli. Aku masih memandangi gaun pengantinku yang esok akan kukenakan di lekuk tubuhku.
Sampai dini hari aku masih duduk sendiri di sofa samping jendela kamarku. Tak bisa kuhitung berapa lama aku di situ sambil menatap halaman depan yang terlihat gersang. Menatap lautan dan perahu-perahu yang bersandar dan bergoyang gemulai di dermaga nun jauh tampak di sana, beberapa kilometer dari rumahku ini. Ombak kecil memukul-mukul badannya. Siluet perahu-perahu kecil tampak dari kejauhan. Separo rembulan dan gemintang tergantung di atasnya. Sedang suara-suara geliat malam tak mampu menembus jendela kaca kamarku. Malam pun melarut dalam kesunyian, sesunyi hatiku kini.
Pernikahanku dengan Khaidir akan berlangsung besok. Tapi sampai dini hari Khaidir tidak muncul di sampingku. Apa gerangan yang terjadi. Apakah Khaidir telah pergi bersama wanita lain? Atau ia sengaja menunda pernikahan ini hingga ia selesai menamatkan sarjana ekonominya? Tapi justru aku ingin pernikahan ini segera dilaksanakan meski tanpa restu orangtuaku yang sesungguhnya.
Aku mengambil vcd dari laci riasku. Aku tak ingin larut dalam kekhawatiranku akan sebuah pernikahan. Jujur saja aku sangat gugup dengan acara yang sangat sakral seperti ini.
Aku memasukkan vcd dalam dvd player miliku. Hadiah itu dari Khaidir, waktu kami sengaja jalan-jalan ke toko kaset dan vcd di kotaku. Kota kecil di dekat pesisir pantai. Meski sebagian orang di desaku lebih memilih hidup sebagai nelayan dan melaut, tapi mereka sesekali ingin menikmati suasana kotaku.
Suara-suara dalam vcd itu mengiang-ngiang di telingaku. Ah, semakin sunyi hatiku. Suara-suara dalam kotak kaca yang menayangkan film yang pernah menggetarkan hati anak-anak muda beberapa tahun silam. Kisah cinta yang dilerai malapetaka yang berujung pada kematian si Pemuda, meski keduanya berhasil menyelamatkan diri dari kecelakaan yang menenggelamkan kapal congkak Titanic. Ajal telah menjemput pemuda yang kelelahan dan terlalu lelap di permukaan samudera dingin. Tragis. Namun sang Gadis tetap setia pada cintanya, walau helai-helai salju telah memahkotainya. Kesetiaan yang tergenggam dalam kalung yang kekal masih tersimpan di memori hatinya.
Kesetiaan? Masih adakah?
Sebuah fatamorgana cinta yang kembali menampar kesadaranku tentang cinta. Apakah cinta itu ada? Oh, gaun pengantinku. Jujur saja, aku tidak sepenuhnya lagi percaya pada cinta semenjak pernikahanku hancur-lebur dalam hitungan satu menit. Pernikahan yang memang tak kupersiapkan dengan cinta selayaknya, kecuali kuingin hubunganku dengan Khaidir mendapat restu kedua orangtuaku.
Aku mengenal laki-laki itu pada sebuah acara pesta pernikahaan temanku. Dan dia yang memperkenalkan aku dengan Khaidir. Hatiku berbunga-bunga saat aku menatap wajahnya yang benar-benar menawan kalbuku. Menggetarkan seluruh persendianku. Dan aku memilih dia sebagai kekasihku. Namun orangtuaku menolak aku berpacaran dengan laki-laki itu. Mereka benar-benar tidak setujuh.
Khaidir, seorang seniman kawakan. Banyak mengalunkan puisi-puisi tentang cinta dan kehidupan yang serba fatamorgana. Kesetiaan cinta dan roman picisan yang berjuta-juta dialunkan.
Kesetiaan cinta? Masihkah kesetiaan merupakan mutiara hati setiap insan? Jika hanya kematian adalah pedang pemisah kesatuan jiwa, kenapa ketidaksetiaan begitu semena-mena mendiktekan suatu perpisahan? Di manakah cinta? Di manakah mutiara?
Mungkin engkau kini sedang menyimpan mutiara cinta itu, yang belasan tahun kupinta dari Tuhan. Belasan tahun, sejak tenggelamnya rasa cintaku. Dalam usiaku yang berangka dua puluh lima, masih kucari mutiara itu di antara laki-laki yang kujumpai di dunia ini.
Pernah kubaca sebuah puisi pendek di sebuah antologi puisi semasa aku masih mahasiswi belia.
"Biarlah cinta bercahaya.
Kuingin kembali menyusun
puing-puing kepercayaanku
pada cahaya cinta."
Angin dini hari menggigilkan belantara beton berkaca. Kupeluk hangat diriku sambil pandanganku tak lepas dari lampu-lampu di sekitar dermaga. Kekasih, andai perahumu tak juga datang beserta selembar surat nikah yang ditandatangani oleh orangtua kita, dan memang akhirnya harus kusadari bahwa kata-kata cintamu hanya halusinasi, mungkin harus kuterima ajakan naik perahu laki-laki lainnya yang betul-betul sudi segera membawaku berlayar, pulang, dan cinta kudapatkan pula. Sungguh, aku sudah tak tahan berlama-lama berlelah-lelah dalam kesetiaan penantian sepi ini.***
Sinar matahari pagi menembus jendela kamarku. Dengan berat aku bangkit. Mataku masih sembab karena menangis dan dera luka batin yang berkepanjangan. Aku terjaga melihat sisi sampingku. Namun aku tidak menemukan sosok kekasihku di sana. Oh, di manakah kau, Kasihku. Bukankah kau telah berjanji dengan gaun pengantinku. Akan melekatkan gaun itu di lekuk tubuhku.
Gaun pengantinku masih tergeletak di sisi tempat tidur. Kubiarkan agar aku bisa memandangnya lebih jauh. Aku ingin sekali segera mengenakan gaun itu di tubuhku, dan elangsungkan pernikahanku dengan Khaidir. Namun hingga matahari kembali terbenam, meninggalkan warna merah saga, Khaidir tak kunjung datang. Aku kecewa dan sangat kecewa. Mengapa sampai saat ini Khaidir tidak menemuiku.
Ayah ibuku memandangku dengan tatapan yang sangat jauh. Aku bahkan tidak tahu tatapan apa itu. Apakah tatapan itu sama seperti tatapan beberapa waktu lalu. Saat mereka melarangku untuk menikah dengan laki-laki seperti Khaidir?
"Aku benar-benar terdampar
pada sebuah karang
yang sangat tajam.
Dermaga tak lagi mampu
menampung perahu-perahu kecil milikku."
Pandanganku terlihat nanar, nun jauh menangkap birunya air laut. Riak dan ombak saling bergulung dan berkejaran. Namun hatiku kini sedang beku.
Seseorang datang menemui orangtuaku. Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak kenal dengannya. Namun teka-teki itu baru terjawab ketika orang itu memberikan sebuah kepastian tentang laki-laki yang akan menjadi suamiku. Khaidir, ya Khaidir. Kini Khaidir telah pergi meninggalkan aku. Membiarkan aku membeku di dermaga ini, bersama gaun pengantinku yang tidak pernah kukenakan. Khaidir memilih menikahi wanita lain ketimbang diriku. Ternyata kesetiaan itu benar-benar tidak ada!
"Aku menangis
sedih ini tak akan berujung
seperti cemara layuk
oleh badai dan angin.
Cinta hanya sepenggal dusta
seperti landung embun yang jatuh
pada tanah
dan tiap resap
hanya menyisakan giris,
aku masih dahaga
dan 'kan mati dalam kerontang."
Kesunyian kian menghasut kesepianku. Keluargaku telah bermimpi sampai entah di mana. Aku belum ingin tidur. Kisah film Titanic mengajakku melayari angan-angan tentang cinta, kesetiaan, dan dirimu yang pada saat dingin dini hari ini entah sedang melakukan apa.
"Dan seperti waktu-waktu lampau,
setia kunanti perahumu datang.
Di ujung teluk sana
mercusuar berkedap-kedip
menggoda kerinduanku,
menggoda harapanku itu.
Kapal-kapal selalu hilir-mudik
bila mentari membuka
lebar-lebar jendela cakrawala,
burung-burung camar
kian menerbangkan anganku
ke ranjang angkasa 
dan busa gemawan.
Bersamamu,
menikmati keindahan langit biru
sebiru cintaku...."
Aku sungguh-sungguh mengharapkan perahumu segera melawat, merapat di dermaga itu. Namun aku telah lelap dalam kesepianku. Aku terlalu jauh berjalan hingga ke tengah lautan. Mengenakan gaun pengantinku yang berwarna putih gading bertabur manik-manik pemberianmu. Sebagian air laut menenggelamkan tubuhku, hingga akhirnya aku bermukim di dasar laut ini sebagai penunggu abadi. ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger