Jumat, 29 April 2011

Durian By. Djenar Maesa Ayu

Sudah hampir genap sebulan Hyza tidak berselera makan. Berat badannya menurun drastis, keceriaannya hilang, jantung berdebar-debar tanpa sebab pasti, dan kerap terserang rasa panik secara tiba-tiba. Hyza sudah menemui seorang psikiater yang ternyata hanya mampu memberikannya obat penenang dan penambah nafsu makan sebagai solusi tunggal.
Hyza memang tidak pernah secara terbuka menceritakan kepada psikiater penyebab kegundahannya. Ia malu dan sangat takut jika psikiaternya menyatakan bahwa dia gila dan harus mendapat perawatan di dalam rumah sakit jiwa. Ia tidak mampu mengatakan bahwa penyebab semua ini adalah sebuah durian.
Satu bulan yang lalu Hyza bermimpi. Seorang laki-laki datang padanya membawa sebuah durian berwarna keemasan. Tidak ada yang istimewa pada durian itu kecuali warnanya yang keemasan dan aromanya yang sangat menggiurkan. Ia memohon dengan suara parau kepada laki-laki itu untuk membaginya sedikit saja.
Namun, laki-laki itu berkata, "Hyza, durian ini milikmu ketika kau terbangun dari mimpimu."
Hyza menolak. Ia hanya ingin mencicipi durian itu sedikit saja dalam mimpi. Laki-laki itu bersikeras akan memberikan durian keemasan itu hanya jika Hyza bangun dari tidurnya, lalu ia bergegas pergi.
Sepanjang hidupnya Hyza tidak pernah sudi makan buah durian. Sewaktu ia masih sangat kecil, ia pernah bermimpi makan durian dengan sangat lahap. Ketika durian itu habis, perutnya lantas membesar. Tidak lama kemudian ia melahirkan seorang bayi perempuan berpenyakit kusta. Ia tidak pernah menceritakan kepada siapa pun perihal mimpinya. Tapi ia bersumpah untuk tidak pernah makan durian dan menjaga keturunannya dari kutukan penyakit kusta.
Hyza bercinta dengan banyak laki-laki. Ia tidak pernah malu-malu menyatakan keinginan seksualnya kepada siapa pun yang diinginkannya. Sewaktu Hyza berumur dua belas tahun, ia mengajak teman sekelasnya yang bernama Stefan untuk menginap di rumahnya.
Hyza hanya tinggal bersama dengan tiga orang pembantu. Sebuah kecelakaan telah merenggut nyawa kedua orangtuanya semenjak ia berumur tujuh tahun. Sebagai anak tunggal, ia mewarisi hampir seluruh kekayaan keluarga dan sebagian kecil lainnya dihibahkan kepada kakak laki-laki tertua ayahnya yang juga ditunjuk sebagai wali. Wali yang ternyata meniduri Hyza semenjak Hyza berumur sembilan tahun.
Ketika Stefan tertidur, Hyza mulai memperkosa Stefan. Ia mengunyah bibir Stefan, melucuti baju, dan memuaskan kehendaknya di atas tubuh Stefan yang tetap pura-pura tertidur.
Keesokan harinya Hyza berkata, "Stefan, saya tahu kamu tidak tidur."
Stefan tidak menjawab. Ia hanya bertanya tanpa melihat ke mata Hyza, "Bagaimana kalau kamu hamil?"
Hyza tertawa, "Stefan saya tidak akan hamil. Saya tidak makan durian...." *** 
 Tapi, sudah hampir genap sebulan ini Hyza ingin sekali memakan durian. Durian keemasan dengan aroma yang sangat menggiurkan. Setelah laki-laki dalam mimpinya pergi, ia terbangun dari tidurnya dan durian itu ada bersamanya, bersinar terang di dalam kegelapan kamar.
Anaknya yang berumur lima tahun ikut terbangun dan sambil mengantuk berkata, "Mama, matikan lampunya... Ma...."
"Itu bukan lampu, sayang... itu... sudahlah tidur lagi ya sayang, Mama matikan lampunya."
Gadis kecil itu mengangguk lalu kembali tertidur pulas di samping kedua saudara kembar perempuannya yang lain. Hyza bergegas keluar kamar sambil membawa durian keemasan itu lalu menyimpannya di dalam gudang.
Ketika Hyza kembali ke dalam kamar, wangi durian keemasan itu masih tinggal. Ia tidak dapat memejamkan mata. Wangi durian itu merasuki jiwanya. Memanjakan penciumannya. Membawa khayalnya melayang tinggi menembus langit-langit, beterbangan bersama kelap-kelip gemintang.
Ia ingin mengiris durian keemasan itu dengan sebilah pisau berkilat tajam. Ia ingin membelah durian itu dengan kedua belah tangannya perlahan hingga durian itu merenggang terbelah jadi dua bagian. Ia ingin menjilati tangannya yang sedikit berdarah tergores duri dan terkena daging buah durian, yang sedikit meyeruak ketika ia membukanya, lalu mengambil sebuah di dalam tangannya dan memasukkan perlahan di dalam mulutnya yang basah dan mengisapnya penuh dengan lidah hingga yang tertinggal hanya bijinya yang kini sudah sangat bersih.
Hyza mengerang pelan, lalu orgasme. *** 
Pagi-pagi sekali Hyza bangun. Ia berjalan menuju gudang lalu mengeluarkan durian keemasan itu lalu membuangnya ke dalam bak sampah di depan rumah. Kemudian ia membangunkan ketiga anak kembarnya untuk bersiap-siap sekolah.
Ketika sedang sibuk memandikan ketiga anaknya satu per satu, hidungnya mencium bau yang sangat ia kenal. Tidak salah lagi, bau durian keemasan telah mengepung seisi rumah besar itu. Ia berteriak kepada pembantunya yang sudah sangat setia bekerja bersamanya semenjak ia masih kecil.
"Bi Inah.... bau durian dari mana ini?"
"Anu... Non... tadi waktu saya nyapu halaman ada buah durian di dalam tong sampah. Baunya wangiii deh Non... bersinar lagi, pasti ini bukan durian sembarang durian Non... ini pasti pertanda baik, durian keberuntungan! Jadi saya bawa masuk ke dalam. Mungkin malaikat yang sengaja taruh di depan tong sampah rumah kita... Non...."
"Aduh Bi Inah... itu durian ndemit! Dibuang aja Bi...."
"Lo, kok dibuang Non... Bi Inah nggak mau. Mohon maaf Non... kalau si Non nggak mau, Bi Inah yang mau simpan. Berarti ini durian keberuntungan buat Bi Inah."
"Bi Inahhh...!" Ketiga anak Hyza tiba-tiba menangis mendengar ibunya dan Bi Inah bertengkar.
Hyza kembali sibuk mengurus mereka bertiga. Menggantikan baju, menyiapkan sarapan lalu bergegas mengantar ke sekolah. Di dalam mobil sebelum Hyza berangkat, ia masih sempat berteriak mengingatkan Bi Inah, "Bi Inah, kalau saya pulang saya nggak mau durian itu masih ada di rumah. Ini perintah!"
Bi Inah diam saja. Ia menutup pintu pagar dengan wajah sedih. *** 
Sesampainya Hyza di rumah, ia melihat durian keemasan itu di ruang tamu bersama dengan koper Bi Inah. Anak-anaknya berlarian mengerubuti durian itu.
"Mama... ini buah apa... kok bisa bersinar...."
"Siti...! Bawa anak-anak masuk ke dalam. Panggil Bi Inah sekarang!"
Bi Inah muncul sebelum dipanggil lalu duduk bersila di lantai. Dengan keras hati ia pamit pulang dengan membawa durian keemasan itu jika tidak diberi izin menyimpan. Hyza menghela napas dalam. Ia tidak dapat membayangkan hidup tanpa Bi Inah. Menjadi orangtua tunggal sama sekali bukan hal yang mudah. Apalagi menjadi orang tua tunggal dari tiga anak kembar.Hyza tidak tahu persis siapa yang paling pantas untuk dimintai pertanggungjawaban. Ketika ia mengandung, pikirannya lebih dibuat sibuk oleh pertanyaan seputar durian dibanding ayah dari janinnya. Ia tidak mengerti mengapa bisa mengandung padahal ia tidak pernah sekalipun makan durian. Selama sembilan bulan ia menunggu dengan penuh kekhawatiran akan penyakit kusta yang mungkin menjangkiti janinnya. Ketika proses persalinan, ia duduk sambil memandangi bayinya keluar satu per satu untuk memastikan apakah bayinya normal. Dan, ketika bayi-bayinya dinyatakan sehat, ia menerjemahkan mimpinya dengan jika ia makan durian, maka anak-anaknya yang kini lahir sehat walafiat kelak akan terjangkit penyakit kusta.
Hyza sangat mencintai anak-anaknya. Untuk pertama kali dalam sembilan belas tahun hidupnya, ia merasa kehadirannya di dalam dunia mempunyai makna. Kini ia dapat merasakan bagaimana rasanya dibutuhkan dan membutuhkan. Ia meninggalkan pergaulannya, juga laki-laki. Ia ingin anak-anaknya mempunyai kehidupan yang jauh lebih baik dari apa yang pernah ia dapatkan. Ia menghidupi anak-anaknya dari bunga deposito warisan keluarga dan sepenuhnya mengerahkan waktu dan tenaga untuk anak-anaknya.Namun, ia sadar benar, keberhasilannya menjadi orangtua tunggal di usia yang sangat muda ini tidak lepas dari jasa Bi Inah. Bi Inah tidak pernah dikaruniai anak maka ia ditinggal oleh suaminya. Ia mencintai Hyza sebagai anaknya sendiri dan mencintai anak Hyza layaknya cucu-cucunya sendiri. Tidak pernah sekalipun Bi Inah pulang kampung, bahkan pada saat Lebaran. Bi Inah tidak ingin pulang, ia malu kepada keluarga dan tetangganya di kampung karena ditinggal suaminya dengan alasan tidak dapat memberikan anak. Maka melihat keteguhan Bi Inah untuk pergi kali ini membuat hati Hyza gentar juga. Ia tidak siap kehilangan Bi Inah. Ia sangat membutuhkan Bi Inah.
Akhirnya Hyza mengalah. "Bi Inah. Bibi boleh menyimpan durian itu, Tapi jauhkan dari anak-anak. Taruh di dalam karung supaya baunya tidak ke mana-mana dan warnanya tidak memancing perhatian anak-anak. Taruh di kamar Bi Inah."
"Terima kasih Non... sebenarnya Bi Inah enggak mau pulang...." Bi Inah mulai menangis.
"Sudah... Bi Inah... saya nggak mau ikut-ikutan nangis. Sudah bawa duriannya ke dalam." Bi Inah membawa barang-barangnya kembali ke dalam sambil masih menangis. Hyza menghela napas dalam. *** 
Sudah hampir genap sebulan durian itu tersimpan di dalam kamar Bi Inah. Seisi rumah sudah melupakannya, bahkan Bi Inah sendiri. Namun, Hyza tidak pernah melupakannya. Ia tidak pernah merasa tenang. Ia sangat ketakutan jika suatu saat anak-anaknya bermain di kamar Bi Inah lalu menemukan durian itu dan memakannya. Selain itu Hyza sangat menginginkan durian itu. Walaupun Bi Inah menyajikan masakan-masakan kesukaan Hyza, ia tidak merasa bernafsu memakannya. Pikirannya hanya terpaku pada durian. Durian keemasan dengan aroma yang sangat menggiurkan.
Selain penenang dari psikiater, Hyza mulai minum minuman keras. Ia kembali pada pergaulannya yang dulu. Banyak laki-laki mulai mendekati, namun yang Hyza inginkan hanyalah durian dalam kamar Bi Inah. Ia menginginkan durian keemasan yang dibawa oleh seorang laki-laki di dalam mimpinya dan ia temukan dalam kehidupannya yang nyata. Ia mulai membenci durian itu. Ia mulai membenci dirinya sendiri.Pada suatu hari dalam keadaan mabuk ia mengambil durian dari dalam kamar Bi Inah dan menukarnya dengan durian palsu yang sudah ia lapisi emas. Kali ini ia membungkusnya dengan berlapis-lapis koran, memasukkannya ke dalam kantong plastik sampah hitam bersama dengan kotoran-kotoran lain, lalu membuangnya ke dalam tong sampah.
Namun, pagi-pagi sekali Hyza sudah bangun lalu mengais-ngais tong sampahnya sendiri dan membawa masuk durian keemasan itu dengan hati lega dan gembira. Tapi, ketika hari-harinya lagi-lagi dirisaukan dengan keinginannya untuk mencicipi durian itu, ia mulai membenci durian dan dirinya sendiri kembali. Maka ia membulatkan tekadnya, lalu kembali mencuri durian dari dalam kamar Bi Inah dan kali ini membuangnya ke kali. Namun, baru beberapa menit setelah ia membuang durian itu, ia mengemudikan mobilnya kembali ke kali.
Durian itu sudah tidak ada. Hyza merasa persendian kaki-kakinya lumpuh, hatinya gundah, air matanya bercucuran membasahi pipinya. Ia berlari menyusuri sepanjang kali di kegelapan malam. Segerombolan laki-laki yang sedang mabuk di tepi kali menghadangnya dan memerkosanya bergantian habis-habisan. Hyza tidak peduli, ia melayani nafsu segerombolan laki-laki itu dan ketika mereka semua selesai kelelahan Hyza kembali berlari menyusuri kali itu.
Dari kejauhan ia melihat sinar redup dari sebuah karung yang tersangkut ranting menjurai. Tanpa berpikir panjang Hyza terjun ke dalam kali penuh tahi berseliweran dan berenang ke arah karung berisi durian keemasan itu. Ketika ia berhasil menggapai karung berisi durian keemasan, seorang laki-laki membantunya naik ke atas.
Lalu laki-laki itu berkata, "Aku yang melihat karung itu lebih dulu. Aku yang memilikinya. Wilayah kali ini adalah milikku. Jika kamu menginginkan karung itu, kau harus menyetubuhiku."
Hyza mengabulkan permintaan laki-laki itu. Sama seperti dirinya yang mengalah untuk memiliki durian itu, namun tetap berjanji untuk manahan keinginannya untuk tetap tidak mencicipinya. *** 
Sudah hampir genap sebulan Hyza tidak berselera makan. Ia hanya menginginkan durian berwarna keemasan dan beraroma sangat menggiurkan. Lalu ia kembali bermimpi. Laki-laki itu datang padanya dan bertanya, "Sudahkah kamu mencicipi durian itu?"
"Itu bukan durian. Itu durian berbuah kuldi. Dan, saya tetap tidak mau memakannya"
"Lalu mengapa kamu menginginkannya?"
"Karena saya manusia biasa yang dikaruniai rasa untuk menginginkan, namun saya juga dikaruniai akal untuk memutuskan apa yang tidak dan harus saya lakukan."
"Lalu mengapa kamu tetap menyimpannya?"
Hyza tertegun sejenak tanpa dapat menjawab pertanyaan laki-laki itu.
Ketika Hyza terbangun, ia bergegas kembali ke kamar Bi Inah dan menemukan karung berisi durian keemasan itu sudah tidak ada. Dalam keadaan masih bingung ia berlari kembali ke kamarnya dan membangunkan anak-anaknya untuk bersiap-siap sekolah. Ia sangat terkejut ketika melihat ketiga anaknya sudah terjangkit penyakit kusta. Hyza terpaku di tempatnya.
Hanya kata-kata terakhir laki-laki dalam mimpinya saja yang masih terngiang-ngiang di dalam telinganya, "Dalam mengaku pun Hyza, seseorang mungkin masih munafik!" © 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger