Sabtu, 30 April 2011

Cinta Bukan Perkara Gemuk atau Langsing By. Mariska Uung

"Kenapa sekarang kamu gemuk banget?" tanya Rudi saat melihat perubahan pada bentuk tubuh Kezia yang begitu drastis.
"Ehm... ehm... ak-aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena liburan semester panjang dan aku tidak ada kerjaan." Kezia beralasan.
"Kok bisa? Dulu-dulu, kamu tidak pernah kayak begini. Memang ada apa dengan kamu?" tanya Rudi heran.
"Kan aku sudah bilang, aku tidak tahu. Manusia kan bisa berubah sewaktu-waktu. Betul, kan?" ujar Kezia berbohong.
"Oh, begitu....aku mengerti." Rudi hanya bisa pasrah dan tak bisa mengorek-ngorek lagi lebih dalam.
"Kenapa kamu ajak aku ke sini? Bukannya kamu sudah tidak mau ketemu sama aku?"
"Memangnya tidak boleh, ya? Aku cuma kangen."
Deg-deg-deg....
Jantung gadis itu berdetak lebih kencang meskipun hanya berselang beberapa detik. Mukanya merah padam, terdiam dengan hati tak menentu. Seakan tak percaya atas pendengarannya sendiri. Seakan menyangsikan hadirnya sosok tampan yang telah mengucapkan kalimat manis tadi, sungguh pun ia nyata berada di hadapannya kini. Sosok yang yang sampai detik ini masih dinantikannya itu.
Tak percuma hari itu ia berdandan dengan sangat cantik dan modis. Namun sayangnya....
Ya, itu tadi!
Disesalinya perubahan badannya yang sekarang agak melar. Namun begitu, tak disadarinya, sesungguhnya kecantikan di wajah seorang Kezia masih terpancar apalagi kalau ia tersenyum. Tidak terhalangi oleh badannya yang kini agak gemuk. Setidaknya tidak sampai melebihi obesitas dan sejenisnya.
"Masa? Kangen? Bukannya kamu sudah lupa sama aku dan menghilang begitu saja? Kamu sudah jadian sama Jenny sekarang, kan?" tanya Kezia dalam nada menginterogasai.
"Aku sudah tidak sama dia lagi. Dia sudah mengkhianati aku. Mungkin aku kena karma. Aku jadi sadar kalau aku dulu sudah jahat banget sama kamu!" Rudi mencoba meraih tangan Kezia, tetapi gadis itu berusaha menghindar. "Kenapa? Kamu sudah lupakan aku selama ini? Sudah tidak ada perasaan sayang lagi?"
"Bukan begitu!" elak Kezia.
"Tapi, kenapa?" tuntut Rudi.
"Aku sudah tidak bisa percaya lagi sama kamu. Dan ditambah lagi, aku belum siap!"
"Belum siap kenapa? Aku maklum kalau kamu belum bisa percaya sama aku. Tapi belum siap karena apa?"
"Karena aku sekarang gemuk! Aku tidak pantas bersanding di samping kamu!"
"Aku tidak terlalu mempermasalahkan itu, Kez. Asal kamu janji untuk menguruskan badan, diet, atau apalah namanya. Jadinya kamu juga yang cantik, kan? Pokoknya, aku tetap sayang sama kamu."
"Apa benar? Kamu pasti bohong! Jangan kamu sakit hati aku lagi! Please!"
"Iya, aku janji!"
Di cafe itulah Rudi dan Kezia kembali merajut hubungan percintaan mereka kembali. Kezia seolah-olah melupakan begitu saja perbuatan Rudi yang 'mendepak'nya karena kegemukan. Ia berselingkuh dengan gadis lain yang bertubuh langsing, Jenny. Namun sekarang cowok itu datang, dan kembali mengumbar kalimat gombal yang lebih dahsyat dari 'rayuan pulau kelapa'. Sehingga seorang Kezia dapat dibuainya hanya dengan sebaris kalimat maaf. Kali ini emosi dan ruapan amarah hati Kezia meluyak menjadi rindu dan sayang. Terhadap pemuda yang pernah mencampaknya begitu saja. Dan pemuda bernama Rudi itu berjanji dengan sungguh-sungguh akan menjaga Kezia dengan baik. Serta melunakkan standar pasangan yang diinginkannya, yaitu harus berbadan langsing.***
Kezia menangis bahagia di atas tempat tidurnya. Di dalam kamar tidur yang bernuansa merah-jambu serta terdapat banyak hiasan bunga dan boneka. Rupanya, doa yang telah dihaturkan selama delapan bulan terakhir ini didengar oleh Tuhan. Rudi kembali lagi ke pelukannya. Tak percuma ia tetap setia dan menutup hatinya terhadap pemuda manapun yang mencoba mendekatinya.
Tok-tok-tok....
"Kezia, sudah malam. Ayo turun makan malam!" seru Mama sambil mengetuk pintu.
"Ehm... Kezia tidak lapar, Ma! Tadi juga sudah makan."
"Ah, yang benar? Ya sudah, tapi jangan bohong, ya?"
"Iya."
Rasa lapar Kezia hilang begitu saja tertutup oleh kebahagiaan. Padahal, sedari tadi ia hanya makan sereal di pagi hari dan minum jus mangga di cafe tadi bersama Rudi. Keinginan untuk diet tiba-tiba muncul mengikrar di dalam angannya. Ia jelas tidak ingin mengecewakan Rudi yang begitu tampan.


Kez, cinta itu platonis! Ia tidak berpamrih. Ia mau menerima kamu apa adanya! Jadi, untuk apa kamu menyiksa diri berlapar-lapar begitu? Jadinya, kamu bisa jatuh sakit lagi!


Suara hatinya muncul begitu saja begitu ia menutup mata sebentar. Tak diindahkannya suara batinnya tersebut, dan meneguhkan tekadnya untuk tetap berdiet keras supaya menjadi langsing. Tidak ada salahnya kan mempunyai tubuh langsing seperti dulu? Lagian, kan lebih sehat! begitu dalihnya dalam hati. Sesaat kemudian, lambungnya mulai mengeriut keroncongan, dan itu merupakan sirine kalau ia harus makan. Namun ia hanya menahan lapar dengan rasa sakit yang luar biasa.
Di dalam 'penyiksaan diri', ia bangkit dari tidurnya. Meraih buku hariannya di laci meja belajarnya. Dibukanya lagi buku hariannya yang bersampul putih bergambar piano dengan tuts-tuts khas hitam dan putihnya. Begitu dibuka, selembar kartu ucapan dari Olive, sahabatnya, terjatuh. Kartu ucapan yang berisi kata-kata bijak:


'Jangan pernah lagi menyentuh bagian lama dalam kehidupanmu yang telah membuatmu sedih, bingung dan menangis. Itu bukanlah kebahagiaan. Kebahagiaan itu pasti akan membuatmu bertumbuh dan tidak berkutat jatuh bangun di dalam lubang yang sama.'
Kezia teringat lagi kata-kata penghibur yang pernah dilontarkan sahabatnya itu
"Lupakan Rudi, Kez. Kalau dia memang cinta sama kamu, dia pasti menerima kamu apa adanya. Dia bisa menerima kehadiran kamu utuh sebagai seorang kekasih, bukan dari bentuk fisik. Bukan dari tubuh langsing atau gemuk, ringkih atau gembrot. Tapi murni berlandaskan hati."
Mengingat kalimat itu, airmata Kezia menitik. Tangannya refleks membuka lembar demi lembar buku hariannya itu. Ada begitu banyak tulisan yang menggambarkan hatinya yang patah dan retak karena Rudi. Rudi yang lebih memilih Jenny hanya lantaran perkara sepele. Langsing! Dalam intuisinya pula, Kezia merasa Jenny itu lebih cantik, pintar, kaya dan lebih segalanya darinya. Dilema pun muncul karena ia baru saja menyentuh masa lalu itu kembali, dan menerima meskipun pernah demikian menyakitkannya. Padahal, ia sudah berjanji kepada Olive untuk melupakan Rudi. Sebab ia sadar, sudah begitu banyak segi kehidupannya yang berantakan gara-gara Rudi. IPK-nya turun drastis. Badannya yang bertambah gemuk tak terkontrol karena stres. Hubungan dengan keluarga dan teman-temannya yang semakin renggang karena keegoisan Rudi yang melarangnya terlampau bergaul dengan kawan-kawan lamanya.
Sekarang, mestikah ditepisnya janjinya kepada Olive untuk memulai segalanya dengan hari yang baru, dan tak terkungkung oleh wajah tampan Rudi?
"Jangan musuhi makanan, Kezia! Makanan bukan musuhmu. Makanan adalah sahabat kita. Dia menopang hidup kita, menjadi darah dan daging bagi fisik kita. Musuhmu adalah dirimu sendiri, yang tidak dapat dapat melupakan masa lalu."
Kezia tersedu. Olive memang sedang tidak berada di hadapannya. Olive sedang tidak memarahi, terlebih-lebih menghakiminya. Tetapi ia merasa menjadi seorang pidana mati yang dilematis.
Ah, cinta itu memang telah membutakan nuraninya.***
Seminggu kemudian....
Diet ketat yang telah dilakukan Kezia rupanya cukup berhasil. Bobotnya turun dari 65 kg menjadi 62 kg. Senyum bahagia tampak jelas di wajahnya. Celana pinsil yang tadinya agak sempit kini sedikit lebih longgar. Ia juga menyiapkan kue nastar buatannya sendiri untuk dibawakan ke rumah Rudi. Kezia memang ahli dalam hal memasak dan membuat kue. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa tubuhnya gemuk karena ia harus mencoba masakan dan kue-kue yang dibuatnya sendiri.
"Tante, Rudi-nya ada?" tanya Kezia pada Mamanya Rudi.
"Kezia? Oh, Rudi-nya lagi pergi sama Natasya."
"Natasya siapa, Tante? Temannya Rudi, ya?"
"Rudi belum kasih tahu kamu, ya? Mereka berdua kan sudah mau tunangan! Mereka lagi pergi ke toko emas pesan cincin," ujar Mamanya Rudi sambil tersenyum.
DUAARRRRRT!
Kezia merasakan gemuruh berdentam di atas kepalanya. Ia lunglai dan tubuhnya melimbung seketika. Ditahannya sekuat mungkin airmata yang meruap di pelupuk matanya dengan kerongkongan memerih. Toples kue nastar yang akan diserahkannya pada Rudi terjatuh, dan isinya terburai berantakan. Kezia tidak menjawab apapun dan langsung meninggalkan tempat kejadian. Tangisnya meledak, tak mampu dibendungnya lagi.
"Kezia, kamu tidak apa-apa?" tanya Mamanya Rudi prihatin, separo berteriak dan berusaha mengejar Kezia yang sudah membuka pintu mobilnya.***
Buku harian tempat pencurahan hatinya itu kembali terisi....
'Aku hanya budak cinta yang gemuk. Pacarku pergi meninggalkan aku karena aku gemuk. Padahal, gemuk itu alamiah dan merupakan proses pertumbuhan yang tak dapat aku elakkan. Namun, ia tidak bisa menerimanya. Percuma saja aku hidup karena kalaupun aku kurus, aku tidak bisa meraihnya kembali. Selamat tinggal!'
Dengan wajah sembab dan berurai airmata, Kezia mengambil sebilah pisau silet dari toilet. Diletakkannya mata pisau silet di atas pergelangan tangan kirinya. Bermaksud memotong urat nadi yang mengalirkan darah di sana. Dan baru saja ia hendak mengiris urat nadinya, tiba-tiba Olive masuk mementangkan pintu kamarnya.... ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger