Sabtu, 30 April 2011

Cinta Bersemi di Salon Rifa'i By. Monita Gunawan

Dara menginjak rem mobilnya untuk belok ke kiri sambil celingak-celinguk mencari alamat yang ditulisnya di kertas 'post it' kuning menyala itu.
"Candi Mendut Barat I...," gumamnya. "Ini sudah Candi Mendut Barat, tapi kok tidak jelas I atau 100, ya?" Dengan agak sebal ia menghubungi sahabatnya sekaligus yellow pages persalonan, Jacklyn.
"Jack, benar nih aku belok kiri setelah rumah bersalin Permata Bunda?" tanyanya begitu Jacklyn menjawab telepon selularnya.
"Yes, Honey. Belok kiri, terus belokan kanan kedua kamu belok kanan, terus lurus saja. Salonnya ada di kiri. Aku sudah daftarkan atas nama kamu. Kalau hari Sabtu begini, ramai sekali, Non."
"Oke, deh. Trims, ya?"
Klik. Percakapan selesai.
Dara agak bersungut saat memarkir mobilnya karena ternyata salon tersebut terletak di daerah perumahan yang jalannya agak sempit. Dan benar kata Jacklyn, hari Sabtu ramai pengunjung. Di depan rumah berpagar coklat itu ada tiang yang atasnya bergantung papan hitam dengan tulisan merah Salon Rifa'i. Di baris pertama dan di baris kedua tertulis, Hari Senin tutup. Hm, Dara agak ragu memasuki salon itu. Kurang meyakinkan, begitulah kesan pertama Dara.
"Siang, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang gadis dengan rambut jingga menyala standar pegawai salon.
"Hm, saya sudah daftar, Mbak... atas nama Dara. Mau gunting dan highlight," jawab Dara sambil mengintip daftar pengunjung yang sudah booking di buku folio besar macam buku akuntansi.
"Oh iya... tunggu sebentar ya, Mbak. Masih menunggu satu orang lagi dipotong rambutnya. Silakan duduk dulu," ujar si Rambut Jingga sembari menunjuk kursi lipat Chitose hitam di sudut kiri.
Dara duduk, melipat kaki dan tangan dengan anggun seperti yang pernah dipelajarinya di John Robert Power sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling salon. Ih, kalau bukan Jacklyn yang merekomendasikan salon ini, tidak bakalan ia mengunjungi dan memasrahkan rambutnya di tempat berukuran ala kadarnya, dengan kursi-kursi standar dengan dua kipas angin propeler sebagai penyejuk macam ini. Bagaikan langit dan bumi dengan salon yang biasa ia kunjungi untuk creambath. Salon elit yang harga potong rambut saja bisa ratusan ribu. Mungkin satu paket dengan aroma terapi yang dibakar terus menerus demi kenyamanan pelanggan salon agar tidak jenuh saat menunggu.
"Pokoknya, kamu percaya saja, Ra," kata Jacklyn meyakinkan dua hari lalu. "Yang motong rambut adalah Si Fa'i sendiri. Yang dulu di salon Lusihye itu, lho." Dengan wajah penuh promosi Jacklyn melanjutkan, "Fa'i itu dulu tangan kanannya Si Christo, pelanggannya paling banyak. Terus mereka ada selisih paham, akhirnya Fa'i buka salon sendiri di rumahnya. Banyak langganannya yang pindah nyari Fa'i." Jacklyn jeda sejenak, menelan ludahnya yang sedikit berbusa-busa. "Potongannya keren habis. Dia bisa mengkombinasikan antara jenis rambut, warna kulit dan bentuk wajah kita! Harga terjangkau pula."
Dara melihat sekelilingnya, dan sekali lagi berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah mengambil keputusan. Secara ia ingin tampil mencengangkan, mempesona, mengundang decak kagum, dan berbagai kosa kata lainnya dari orang-orang yang bakal melihat penampilannya nanti. Terlebih, ia dapat tampil paling mentereng di acara ulangtahun Kezia malam Minggu ini. Dan yang pasti, ia bakal membuat Yoga, mantan pacarnya beserta kekasihnya yang barunya itu, terperanjat oleh pesona dari dirinya yang tampil bak Cinderella. *** 
Sebenarnya alasan Dara ingin tampil cantik bukan karena ia masih ingin Yoga kembali padanya. Toh memang mereka sudah tidak cocok. Namun seperti biasa, penyakit yang timbul setelah putus pacaran adalah tidak rela kalau mantan pacar lebih cepat dapat pengganti. Jadi, untuk menaikkan harga dan kepercayaan pada diri sendiri, Dara berniat untuk tampil lebih dan beda.
"Silakan, Mbak. Rambutnya dicuci dulu, ya?" Kali ini pria gemulai berambut ala salah satu penyanyi F4 menyapanya santun. Jemarinya yang lentik sesekali membenarkan mengibaskan rambutnya yang berwarna coklat layaknya besi berkarat. Ia menunjukkan tempat keramas.
"Wah, rambutnya bagus sekali, Mbak. Sering creambath, ya?" tanya si Rambut coklat serupa besi berkarat.
Hampir saja Dara menjawab, 'Ah, tidak... cuma pakai shampo, kok,' seperti iklan shampo di stasiun tv. Tidak jadi sebab kepalanya sudah dibenamkan di bak cuci salon.
Tidak terlalu lama, rambutnya pun sudah dibilas bersih.
"Sudah, Mbak," ujar si Rambut coklat serupa besi berkarat sambil membelitkan handuk putih tipis ke kepalanya.
Sekarang Dara sudah duduk di depan cermin. Ia menatap bayangan dirinya. Wajah oval khas Indonesia, alis tebal rapi dan hidung kecil bangir. Juga sepasang mata yang membuat para perias berdecak kagum, ditambah rambut tebal hitam bak mayang melambai. Terus terang, memang sudah lama sekali ia tidak memotong rambutnya karena Yoga lebih suka cewek berambut panjang, dan Dara memilih mengalah demi menyenangkan cowok yang pernah mengisi hati dan hari-harinya itu.
"Mau dipotong model apa, Mbak?" tanya seorang pria lain. Kali ini ia lebih maskulin, hitam manis dan bertampang rupawan.
Oh, ini toh Si Fa'i itu, batin Dara. Mau dipotong model apa ya? Aha!
"Model bobnya Maia Ahmad ya, Mas. Terus, disemir warna merah dan coklatnya Maia juga," kata Dara bersemangat.
Si Fa'i meneliti rambut Dara sambil sesekali memandang wajah Dara melalui cermin. Lalu perlahan tapi pasti ia menggunting rambut panjang legam sehitam gulita malam tak berbintang, tak berbulan dan mati lampu! (Hihihi... Si Dara kadang-kadang puitis, dan menggambarkan fenomena alam ke dalam bentuk puisi yang selalu sukses ditolak oleh majalah yang dikiriminya untuk dimuat!)
Hasilnya memang di luar dugaannya. Oke banget! Dara kelihatan sesegar buah dan sayur mayur yang baru dipetik dari perkebunan di lereng gunung. Sekarang tinggal proses pewarnaan yang membosankan.
Dara merasa ada yang memperhatikan dirinya. Ia melihat ke sebelah kiri. Tampak dua anak muda jebolan fitness center dengan wajah yang bisa membuat kepala menoleh dan menoleh lagi. Cowok dengan t-shirt biru muda dan celana warna natural tersenyum lebih dahulu. Kulitnya putih, rambutnya di-spike, giginya terawat bak model pasta gigi yang ia pakai. Duh, keren!
Dara membalas senyumnya, kemudian berpura-pura konsentrasi kembali ke buku Harry Potter ketujuh yang sengaja dibawanya.
Tapi, kok sepertinya ada yang memperhatikan lagi. Ia melirik lagi ke kiri. Kini yang menatapnya tanpa berkedip adalah cowok yang satunya. Si Spiky sudah di tempat cuci rambut. Cowok yang ini berkaos putih, celana jeans belel—kulit agak kecoklatan, mata elang, dan senyum yang tak kalah menawan dengan pemuda yang tadi. Dara tersenyum bahagia lagi sambil berharap detak jantungnya tidak terdengar. Boleh dong, sekali-kali ge-er! batinnya. Ia mencoba membaca halaman yang sejak tadi sudah dibaca berulang-ulang, tanpa konsentrasi dan lebih pada kepura-puraan.
Pemanas rambut berbentuk helm raksasa itu sudah hampir duapuluh menit mengeluarkan uap di atas kepala Dara. Menurut mereka, Dara mesti melewati proses pemanasan yang lebih intensif berhubung rambutnya belum tersentuh pewarna rambut sebelumnya. Juga, agar penyerapan zat warna pada bilah-bilah rambutnya dapat terkontaminasi dengan baik. Akhirnya, meski bosan mengeram seperti induk ayam, akhirnya ia memasrahkan dirinya juga demi tercapainya perwujudan putri cantik ala Cinderella. *** 
Namun, ia mengernyitkan dahinya.
Lho, kok sepertinya ada yang memperhatikan ia lagi!
Dengan kepala yang terperangkap seperti itu agak susah Dara mengedarkan pandangan. Cowok kaos biru muda? Bukan. Cowok kaos putih? Bukan juga. Lho... mata Dara berhenti pada cowok berkacamata dan berkemeja coklat army yang ia lihat lewat cermin di depannya. Cowok itu mengangguk sopan. Dara menyungging senyum kecil. Ada apa sih hari ini? tanyanya dalam hati. Lalu dengan panik ia melihat bayangan dirinya di cermin.
'Jangan-jangan ada sesuatu nempel di muka aku!' pekik Dara dalam hati, lalu menghela napas lega setelah apa yang 'tidak-tidak', yang dibayangkannya tidak terjadi!
Aduh! Masih belum selesai juga, nih! Dara sudah mulai bosan. Kali ini ia yang mencuri pandang dan mencuri dengar ke arah dua pemuda keren tadi.
"Troy, sudah mencicipi ikan bakar Letjen Sutoyo belum?" Cowok bermata elang bertanya.
Dara memutar matanya, kembali ke depan cermin. Hm, Troy...
Sekonyong-konyong Troy sudah ada di sampingnya, dan mengambil salah satu majalah di meja cermin depan Dara. Mata mereka bersirobok, dan Troy itu mengedipkan sebelah matanya dengan sikap menggoda.
Dara kemekmek. Cepat-cepat meraih air mineral free of charge dari salon. Fiuh! Untung disediakan minum. Kalau tidak, ia bisa mati gaya.
"Ih, genit amat sih cowok itu," rutuk Dara, ngedumel dalam bisik.
Tidak lama kemudian, salah seorang pegawai salon Si Fa'i datang dan membuka tangkup pemanas rambut pada kepalanya.
"Oke, Mbak, sudah selesai," ujar si Pegawai salon, masih si Rambut coklat serupa besi berkarat yang lebih kemayu ketimbang perempuan. "Dibilas dulu ya, Mbak?"
Dara agak lega setelah seperti menunggu selama seabat. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat dirinya lebih seksama pada cermin. Hasil semir warna pada rambutnya sungguh di luar dugaan!
"Lho?! Kok...!" Dara seperti kebakaran jenggot. Panik. Gugup luar biasa. "Mbak, eh Mas... Oom, eh... kok jadi warna merah menyala?! Seperti gulali pada poni panjangnya?!"
"Ya? Kenapa, Mbak?" tanya Mas Fa'i yang ikutan panik melihat ekspresi Dara, segera menghampiri tempat duduk Dara yang tengah berteriak.
"Aduh... Mas! Kenapa warna merah yang zaman Maia Ahmad masih sahabatan sama Mulan Kwok?!" tanya Dara dengan suara tercekat, berusaha menahan tangis.
"Maksud, Mbak?" Mas Fa'i mengerutkan keningnya.
"Mak-maksud aku, seharusnya merahnya adalah merah kecoklatan pas Maia lagi heboh-hebohnya mau cerai sama Dhani!"
"Merah yang bagaimana ya, Mbak?" tanya Mas Fa'i bingung. Sementara itu si Rambut coklat serupa besi berkarat hanya terpana dan mematung dengan jari tergigit.
"Ya... merah agak coklat agak gelap tapi merah. Begitu, merah jablay begitu!" Dara bingung menjelaskannya, berdiri dan sedikit mengentakkan kakinya ke lantai karena kesal luar biasa. "Ada contoh warna tidak, sih?!" tanyanya lagi dengan ruap marah.
Dara kesal sekali. Kenapa juga ia bodoh tidak memilih warna sejak awal. Begini deh jadinya!
Tergopoh-gopoh si Ranbut coklat serupa besi karat berlari menuju meja kasir, lalu detik berikutnya ia sudah tiba di hadapan Dara dan mengangsurkan gumpalan sampel rambut sintesis yang tertempel di karton warna hitam dan putih itu pada Dara. 
Duh, jangan sampai Mbak ini menangis sambil teriak di salon tempat ia baru bekerja dua minggu ini. Bisa-bisa rumor beredar di luaran bahwa Salon Fa'i mengecewakan pelanggan dan kemudian tutup, lantas akhirnya ia menganggur lagi. Uh, ia paham benar bagaimana lips to lips marketing and advertising lebih jitu ketimbang iklan di televisi. 
Dara membolak balik semua lembaran contoh warna. Gila! Dari sekian banyak sampel, tapi tidak ada yang sesuai dengan selera warna yang diinginkannya. Tidak ada yang persis sama dengan warna rambutnya Maia Ahmad Estianty Ratu! Dengan lunglai diletakkannya buku-buku besar itu ke atas meja. Yah, memang salahnya tidak membawa contoh majalah yang ada Maia dengan rambut breathtaking-nya itu. Apa boleh buat nasi telah menjadi kerak.
"Berapa, Mbak?" tanya Dara lemas, setelah ia lebih memilih untuk pulang dan menangis sepuas-puasnya. Hancur berantakan semua impian indahnya!
Namun ia membelalak tidak percaya setelah mendengar harga yang disebutkan. Alias murah banget! Ah, biar saja. Mungkin mereka merasa bersalah sehingga membanting harga sampai menyusur tanah alias korting irasional!
Begitu Dara keluar menuju mobilnya, ada langkah-langkah mengikutinya
"Maaf, Mbak, mengganggu sebentar. Hm, ini kartu nama saya." Ternyata cowok berkacamata dan berbaju coklat army tadi.
Dara baru sadar bahwa orang itu sejak tadi hanya duduk tapi tidak melakukan perawatan apapun di Salon Rifa'i. Dara membaca tulisan yang tertera di kartu tersebut: 'Colours Model Inc. Agung Suseno. Director'.
"Saya sedang mencari talenta baru untuk iklan pewarna rambut, dan sejak tadi saya perhatikan Mbak. Maaf, nama Mbak siapa...."
Dara meneruskan. "Dara. Daraditha Prihantini."
"Oya, Mbak Dara. Mbak Dara cocok sekali untuk diikutkan audisi untuk iklan produk kami. Warna rambut dan modelnya cocok sekali pada rambut Mbak Dara. Kapan bisa ikut sesi pemotretan?" desaknya dengan ekspresi serius.
Dara melongo. Tidak salah dengarkah ia?! Hatinya mulai membuncah dengan bunga.
"Hm, saya lihat jadwal saya dulu ya Mas," sahut Dara berlagak profesional. "Nanti saya hubungi Mas...."
Pemuda bertampang officer itu cukup puas dengan jawaban Dara. "Oke, oke. Terima kasih ya, Mbak Dara. Saya tunggu telepon dari Anda."
Dara kembali berjalan ke arah mobilnya ketika selesai menjabat tangan dengan pemuda itu. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti ketika ada langkah-langkah berikutnya yang terdengar buru-buru diselingi panggilan santun.
"Permisi, Mbak. Tunggu sebentar!"
Ketika Dara menoleh, ia kembali bertanya pada dirinya. "Hari apa sih ini?"
Tiba-tiba saja, hari ini, ia dikerubuti oleh pemuda-pemudah keren. Kedua cowok yang tadi melirik-liriknya di dalam salon telah tiba di hadapannya. Sementara itu mobil pemuda bernama Agung tadi sudah meninggalkan halaman parkir.
"Sori, boleh kenalan tidak?" tanya si Mata Elang.
Dara membelalak tidak percaya.
Cowok itu melanjutkan, "Aku Glenn, dan ini sepupuku, Troy." Tangannya diulurkan mengajak salaman.
Sembari menyambut uluran tangan itu, Dara menyebutkan namanya. "Daraditha Prihantini. Panggil saja Dara."
Lalu percakapan sambil berdiri di tengah jalan kompleks yang sempit itu berlanjut sampai tukar menukar nomor telepon. Ternyata Glenn lebih simpatik ketimbang Troy, bahkan jauh lebih keren dibandingkan pemuda bernama Agung tadi. Setelah berkenalan, Dara pulang dengan hati bahagia. Tangisnya perlahan berubah menjadi senyuman. *** 
Kini tiba malam yang ditunggu-tunggu.
Dara tak hentinya menatap dirinya di cermin. 
Is that really me?
Wuih... canggih!
Tube dress black maroon dengan tali tipis spaghetti dan rok model A line, plus sepatu senada dipadu make-up natural minimalis sangat memodiskan tubuhnya yang ramping. Ia tampak anggun diandili rambut bob mutakhir dengan warna racikan Salon Rifa'i. Pesta ultah Kezia pasti tertakjubi oleh kehadirannya bak Cinderella. Apalagi, ia digandeng oleh sang Pangeran dari Negeri Rifa'i (ups, salah! Maksudnya, pemuda yang dikenalnya di Salon Rifa'i bernama Glenn!).
Ssstt, bukan itu saja!
Ia juga bakalan menjadi selebritis baru. Tentu saja bukan karbitan secara ia memang sedari dahulu bercita-cita menjadi model papan atas. Dan, lagi-lagi rencana sesi pemotretan minggu depan diantar Glenn, si Pujaan Hati.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih telah menganugerahi aku seorang pemuda tampan dan baik hati di Salon Rifa'i. Terima kasih, Jacklyn. Andilmu mengenalkan aku pada Salon Rifa'i tak pernah akan aku lupakan. Dan terima kasih juga untuk Mas Fe'i. Hasil semir rambutmu membuahkan hasil yang indah. Terima kasih, Mas... Mbak, eh Oom berambut coklat serupa besi berkarat. Kamu adalah pegawai salon terhandal...." bisik Dara dalam doa, tersenyum lalu seperti terbang menuju bintang-bintang karena saking bahagianya. © 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger