Sabtu, 30 April 2011

Cengen By. Mariska Uung

Aku kembali menatap cermin berkali-kali, lamat memandangi wajahku. Hidup ini keras! Maka aku menganggap bahwa aku juga harus bisa menjalaninya dengan penuh ketegaran. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi apa pun yang aku mau. Tidak ada yang boleh menyakitiku lagi, walaupun hanya berwujud setitik air hujan.
      Kadang aku bertanya mengapa aku bersikap seperti ini? Pertanyaan itu terus menghantuiku. Bukan hanya aku yang dirundung tanya serupa mistis tersebut, tetapi juga teman-teman yang sudah lama mengenalku. Lalu bagaimana dengan orangtua? Mereka seakan tidak pernah peduli akan hidupku. Bagiku, hidupku adalah hidupku! Tidak ada yang bisa mengatur apa yang akan terjadi termasuk kedua orangtuaku.
      Itulah sebabnya aku tidak ingin mengingat lagi kejadian-kejadian yang membuatku menjadi seperti ini. Kalau saja aku disuruh bercerita tentang hidupku, aku tidak tahu apa yang harus aku ceritakan.
      Rasa-rasanya, aku tidak punya musuh. Apatis, mudah untuk melupakan apa yang telah terjadi. Namun menyimpannya sebagai traumatik. Itulah aku selama ini.***
      Tiba-tiba aku mendengar telepon rumahku berdering. Sebenarnya, aku sangat malas turun ke bawah hanya untuk mengangkat telepon. Hanya saja, hari ini tidak ada orang di rumah dan mau tidak mau harus aku angkat.
"Halo," sapaku dalam nada malas ketika aku mengangkat gagang, setelah sebelumnya pun telah bersungut-sungut kesal di anak-anak tangga tadi.
      "Sus, duh, aku lagi ada masalah dengan bokap-nyokap aku. Sepertinya mereka tidak sayang sama aku lagi. Aku tersinggung sama teguran mereka barusan. Aku tidak tahu mesti bagaimana lagi. Malah, hari ini aku lagi berantam sama Andre! Aku cuma bisa cerita sama kamu karena kamu adalah sahabat aku," jawab Amel sambil menangis terisak-isak
      "Duh, Mel, please, ya? Jangan pernah lagi kamu mengeluh-ngeluh yang tidak-tidak di depan aku! Apalagi sambil nangis-nangis segala macam! Kamu kok cengeng banget, sih?! Kamu mesti kuat! Jangan sampai orang menganggap kamu lemah gara-gara masalah sepele!" sahutku sambil menunjukkan nada suara seperti orang yang sedang disengat hipertensi alias darah tinggi.
      Amel terdiam sejenak, dan tidak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya bisa menahan tangisan di telepon, namun aku yakin ia tidak mampu membendung airmata. Sesaat kami seperti bisu. Namun kesunyian di telepon pun membuncah berisik dalam tangisnya yang mengencang dan tak mampu ditahannya lagi. Aku semakin kesal. Ingin kumaki-maki lagi dirinya, namun jujur sebenarnya aku tidak tega karena iba.
      "Ya, sudah, deh. Maafkan aku, Sus. Pasti aku sudah mengganggu kamu. Aku lupa kalau kamu memiliki prinsip tidak boleh menangis, dan kamu antipati terhadap orang yang cengeng," tutur Amel kecewa dengan nada terbata-bata karena menahan tangisan.
      "Iya, iya," rutukku, seperti menggumam. 
      "Tapi, terima kasih ya, Sus. Suatu saat aku mesti belajar menjadi gadis setegar kamu, yang tidak cengeng dan tidak mudah menumpahkan airmata," tambah Amel sebelum menutup telepon.***
       Aku kembali masuk ke kamar, langung berbaring di atas tempat tidur yang dibalut dengan seprai bergambar Hello Kitty berwarna merah muda. Gambar dan warna sprai itu bernuansa lembut dan 'cengeng' untuk gadis setegar aku. Namun aneh bin ajaib, justru ketika membelinya, hatiku tidak dapat dibohongi bahwa aku menyukainya. Padahal, tidak ada yang memaksaku!
      Di sisi lain, aku merasa puas karena bisa menunjukkan bahwa aku adalah gadis yang sangat kuat, tidak cengeng, bahkan sudah sangat terbiasa mengontrol tangis. Aku bisa menahan airmataku ketika hendak meruap keluar. Aku juga sudah lama tidak menonton film-film romantis Korea, yang kata orang bisa membuat hati tersentuh lalu menangis.
      Namun di sisi lain, aku merasa sangat bersalah terhadap Amel. Tidak seharusnya aku berkata kasar kepadanya barusan. Seharusnya aku peduli, dan mendengar curahan hatinya meski berbaur tangis. Bukankah arti seorang sahabat sejati memang begitu. Sama-sama dalam senang, terlebih-lebih dalam susah. Namun kok justru aku menampiknya, dan mengatainya gadis cengeng? Bukankah juga secara ragawi, kodratnya perempuan memang lebih banyak menggunakan hati ketimbang logika sehingga tiap sebentar mengeluarkan airmata?
      Apa yang harus aku lakukan?
      Sambil memegang bingkai foto dan memandangi foto kami berempat: Aku—Susianti Matondang, Amel, Linda, dan Dina pada saat berada di Puncak sambil bergaya gokil, aku jadi ingat begitu berharganya persahabatan kami.
      Aku tersenyum. Sejujurnya, aku tidak ingin kehilangan mereka—terutama Amel. Pasti Amel shock karena perkataanku yang mengantipatinya lantaran aku anggap cengeng. Padahal, dulu, dulu sekali, aku tidak pernah se-jaim ini! Sok tegar! Entahlah, aku yang dulunya ramah, humoris, dan tampil apa adanya ini tiba-tiba berubah seratus delapanpuluh derajat....
      Sekarang, aku berubah menjadi sosok lain. Sosok gadis yang membatu dalam keangkuhan. Tegar? Aku sendiri tidak tahu! Hatiku sering menangis tetapi tidak pernah terpancar di wajahku, terlebih-lebih berurai airmata. Mungkin sikapku ini tak bijak di mata sahabat-sahabatku. Mungkin mereka telah mulai menjauhiku. Mungkin mereka sudah menganggap Susianti Matondang adalah makhluk asing yang sudah tak memiliki empati pertemanan. Tapi, aku juga tidak bisa mengubah diriku sertamerta menjadi gadis manis yang tiap sebentar mendayu-dayu dalam gemulai dan membiarkan dirinya dibasahi oleh gengangan airmatanya sendiri!
      Aku dilematis!
      Aku biarkan diriku menjadi batu. Aku benci melihat laki-laki yang merendahkan perempuan, dan perempuan itu hanya bisa menyesali malang nasibnya dengan beruarai airmata. Aku benci melihat para lelaki yang dapat seenaknya berselingkuh, sementara perempuan hanya dapat meratap dan memohon-mohon di lutut para lelaki itu untuk kembali dan kembali! Aku benci melihat lelaki yang menggunakan predikat poligami untuk sekedar pemuas ragawi saja, sementara sang Perempuan hanya terkapar berlumur airmata di dalam sangkar madunya! Aku benci semua itu....
      Biarlah mereka tahu aku seperti apa. Aku adalah Susianti Matondang yang tegar, dan bukan perempuan cengeng yang dapat seenaknya dipermainkan oleh laki-laki! Dan satu-satunya bentuk pemberontakan itu adalah: TEGAR! TIDAK CENGENG! PANTANG MENGELUARKAN AIRMATA!***
      "Praaanggg!"
       Ternyata pajangan berbentuk akuarim mini kesayanganku tempat menaruh seribu bangau kertas pecah karena aku tidak sengaja menyenggolnya.
      Aku pandangi seribu bangau warna-warni yang beberapa tahun lalu pernah aku buat sebagai tanda bahwa aku memiliki segebung harap, dan suatu hari bisa terkabul. Tiba-tiba aku merasa sangat malu terhadap diriku sendiri. Aku merasa cengeng, dan kontradiktif dengan diriku yang sekarang. Mana mungkin hanya dengan membuat seribu bangau dan mengucapkan harapan-harapan, impian bisa terkabul? Sangat tidak realistis. Akhirnya aku harus membersihkan pecahan akuarim mini dan ini sangat menyita waktu tidurku!
      "Huaaapp!"
      Aku menguap lebar. Memang sudah waktunya untuk tidur. Pukul sebelas malam. Waktu berdetak sangat lambat ketika kulirik jam dinding bergambar teen Barbie Swan Lake. Aku tersenyum dalam dilematisasi dan gemuruh. Aku memang serupa 'banci'. Masihkah aku menyebut diriku dengan si Tegar dan Anticengeng sementara nyaris seluruh denyut kehidupanku—bahkan sebuah jam dinding, masih mencorak dengan 'kelembutan'?
      Aku menggeleng. Dilematisasi ini memang sangat menyakitkan.***
      "Gubrakkkkkk!"
      Kurang ajar! Setan apa yang membuatku terbangun dengan cara konyol seperti ini? rutukku dalam hati saat terjatuh dari ranjang.
      Kepalaku sangat berat.
      "Jam berapa sekarang?" gumamku sembari berusaha berdiri dalam kegelapan. Aku memang memiliki kebiasaan mematikan lampu sebelum tidur. "Duh, gelap sekali!"
      Kugapai ponselku yang biasa kuletakkan di atas meja samping ranjang. Ternyata, waktu masih menunjukkan pukul empat pagi, dan belum waktunya untuk bangun. Biasanya aku bangun pukul setengah enam pagi. Dan ketika mengalihkan digital nomor pada layar ponsel, aku lagi-lagi tersadar akan ambivalensi diriku. Tegarkah aku, atau justru menggunakan topeng ketegaran itu untuk menutup kecengenganku selama ini?! Bagaimana tidak, antigores ponselku saja masih bermotif girly, Pinky Pig. Yang seharusnya sudah aku enyahkan jauh-jauh hari semenjak berikrar untuk menjadi gadis paling tegar di dunia ini. Aku tidak ingin menjadi gadis cengeng lazimnya kaum Hawa.
      Lalu....
      Kalau aku bangun sepagi ini, pasti nanti di kelas aku akan mengantuk setengah mati. Aku memutuskan untuk tidur lagi. Namun, terasa begitu berat dan sulit untuk tidur lagi. Jika aku tidur lagi mungkin bisa kebablasan dan telat lagi. Benar-benar tidak bisa untuk tidur kembali.
      "Ah, cengeng sekali rasanya!" ungkapku kesal.
      Aku takut membolos! Bukankah itu hal yang cengeng?
      Aku takut terlambat sekolah! Bukankah itu merupakan sebuah kecengengan?
      Apakah aku ini sudah tegar, sementara hal-hal kecil seperti itu saja tak dapat aku lakukan?!
      Aku takut kurang tidur. Aku takut mengantuk di kelas. Aku takut dimarahi oleh guru. Aku takut....
      Ah, aku mesti belajar tegar.
      Ya, tegar-tegar-tegar!***
      Aku sampai di kelas dengan waktu yang sangat mepet dan pas-pasan. Kuhela napas panjang dan lega. Yang penting tidak telat. Sebab aku sadar, bagi satpam sekolahku, tak ada kata kompromi untuk siswa yang terlambat. Pagar akan terkunci dan tidak akan terbuka lagi sampai usai bubaran sekolah. Pelit memang. Tapi, bukankah itu sebentuk prinsip bernama ketegaran?! Dan aku menghargai itu!
      Jika suasana berisik serupa pasar di kelasku hari ini dapat aku maklumi, itu lantaran hari ini adalah hari Rabu. Berarti pula, hari ini adalah pelajaran geografi yang diajar oleh Ibu Rina Ronald yang keseringan telat sampai setengah jam lebih. Heh, bukankah itu merupakan sebentuk kecengengan? Mungkin di rumahnya, beliau berdandan lazimnya perempuan, lama dan lama sekali sehingga menyita setengah jam waktu yang seharusnya diisi dengan pelajaran di kelas. Aku benci semua itu! Bagiku, Ibu Rina Ronald tak ada bedanya dengan Amel dan nyaris semua anak cewek di kelasku! Mereka semua cengeng dan cengeng!
Sudah jam setengah tujuh pagi, tetapi beliau belum datang juga. Di kelas aku selalu bosan karena aku tidak sekelas dengan ketiga sahabatku itu. Aku lebih sering mengobrol dengan Billie, teman sebangkuku yang menurutku sangat modis, culun, dan takut kotor pula. Sangat cengeng untuk ukuran anak cowok, menurutku. Namun, ia teman yang baik, selalu menghiburku di saat aku sedang sedih, dan menjadi fasilitas contekanku jika tak dapat mengerjakan materi ulangan yang sulit.
      "Hei, Sus! Kok kayaknya hari ini tampang kamu pucat sekali, sih. Seperti orang yang kurang tidur begitu. Terus, kok mata kamu merah kayak vampir begitu? Ada apa gerangan? Huahahaha...." tanya Billie usil, lalu menderaikan tawanya yang nyelekit di kuping.
      Aku terdiam sejenak. Kalau soal wajah pucat yang kurang tidur, aku yakin ia pasti tahu kebiasaanku yang suka tidur malam. Kalau soal mata merah? Mungkin aku bisa membohongi orang lain, tetapi tak bisa kupungkiri bahwa aku memang tengah 'berperang' dengan perasaanku sendiri. Aku sebenarnya sedang menahan tangis sejak semalam. Ruapan emosi dan airmata yang kutahan karena masalahku dengan Amel kemarin: Bahwa aku sangat takut kehilangan sahabat-sahabat karena keegoisanku sendiri. Yang kuciptakan dalam bentuk 'ketegaran' yang tidak semestinya. Berkali-kali aku berusaha menahan agar airmata tidak berlinang! Tetapi selalu saja gumpalan kristal bening itu menyeruak di gigir pelupuk mata. Aku terlalu takut untuk kehilangan teman-teman terbaikku, lantas dirundung kesunyian yang kucil dan menyakitkan. Jadi, mestikah kupertahankan 'ketegaran' yang kuciptakan bagai pranata itu?! 
      "Oh, ti-tidak apa-apa, kok. Semalam memang aku sulit tidur. Mungkin aku lupa copot softlens sehingga... yah begitulah," elakku menjawabi pertanyaan Billie, saat menyadari telah melamun cukup lama. Kukembangkan senyum paksa.
      "Oh, begitu. Makanya jangan kebiasaan tidur malam-malam. Bahaya tahu kalau lupa mencopot softlens," ujar Billie menanggap sambil menepuk pundakku.
      Aku mengangguk.
      "Kalau kamu ada masalah, curhat ya? Bukankah sahabat terbaik memang berkewajiban untuk sharing? Jujur ya, selama ini aku tahu kalau di balik sifat jaim tegar dan judes kamu itu, sebenarnya kamu memiliki hati yang baik dan lembut. Hei, bukankah dulu kamu memang sahabat yang familier? Tapi kok sekarang... hm, tidak-tidak apa-apa. Kamu tetap sahabat yang baik sampai sekarang, kok." Billie mengungkap ragu.
      Kata-kata Billie seperti menamparku. Aku terhenyak. Ia sangat peka terhadap persoalan yang tengah aku alami. Namun, ia tidak ingin membuat aku malu sehingga ragu mengungkap. Semestinya aku memang harus jujur dengan nuraniku, dan tidak bisa terus-terusan bermain di dalam dilematisasi ini. Aku memang terlalu bodoh menyikap hitam dan putih sisi kehidupan! Tidak berani mengungkapkan perasaaan yang sebenarnya. Aku tidak berani berkata apa-apa lagi, dan terdiam dengan menundukkan kepalaku. Aku tahu, jika aku bersuara, maka aku pasti sudah tidak dapat membendung airmataku. Kerongkonganku memerih.
      Beberapa menit kemudian, Ibu Rina Ronald datang. Aku menghela napas lega, dapat meluputkan 'tangis' di hadapan Billie. Dengan pakaian norak berumbai renda merah menyala berhias kalung mutiara besar, Ibu Rina Ronald bak badut yang mengundang tawa. Anak-anak sekelas cekikikan. Aku tersenyum, melawan tangis dan melamurnya menjadi keriangan.***
      "Teng-tong-teng-tong!"
      Bel pulang sekolah pun berbunyi. Inilah saat-saat yang paling ditunggu oleh anak-anak sekolah di mana pun. Aku menghela napas lega. Di kelas aku bagai terpenjara oleh sesal. 'Tegar' dan 'cengeng' bertempur di dalam hatiku. Tadi, saat jam istirahat, aku tidak berani menghampiri ketiga sahabatku. Aku seperti seorang pengecut yang tidak berani mengaku salah. Amel pun dari tadi kelihatan ragu untuk menghampiriku. Bahkan, Dina dan Linda sangat cuek dan tidak berkata apa-apa kepadaku saat berpapasan di kantin sekolah. Aku yakin, mereka pasti lebih berpihak pada Amel. Mereka pasti iba pada Amel yang tak pernah kuanggap kala curhat karena telah keburu aku vonis cengeng! Padahal, setiap permasalahan itu bukan ditakar dari berat atau tidaknya sebuah masalah, namun lebih kepada intensitas dan interaksi kepada sahabat atau teman tempat curahan hati.
      "Sus, hari ini pulang sama siapa? Mau bareng tidak?" Tiba-tiba Billie sudah berada di belakang saat aku membereskan alat tulis dan bukuku.
      "Trims. Hari ini aku ini pulang sendiri saja. Tidak usah repot-repot," balasku, tersenyum mengungkap rasa terima kasih.
      "Memangnya hari ini tidak pulang bareng Amel and friens?" tanya Billie heran.
      "Ehm... tidak. Mereka ada urusan lain. Jadi ya, begitu deh...." dustaku, mengangkat kedua bahu, berusaha mewajarkan sikapku.
      Aku langsung pergi meninggalkan Billie. Lagi-lagi aku membohonginya pada hari yang sama. Perasaan bersalah pun muncul, dan aku merasa telah menambah daftar dosaku di Langit. Memang, Susianti Matondang sangatlah tidak pantas bergaul dengan orang baik seperti Billie.
      Aku memutuskan untuk pulang jalan kaki dan tidak mempedulikan betapa teriknya sinar matahari yang membakar tubuhku. Berjalan kaki sambil menahan tangis memang sangat menyiksa, namun aku sengaja begitu, menghukum diriku sendiri di dalam sesal dan permenungan. Aku ingin melihat, masih tegarkah aku di dalam 'kecengengan' ini! Mampukah kubendung tangisku dalam dera penyesalan, terik matahari, dan kelelahan!
      Aku hanya bisa berjalan menunduk. Aku malu melihat diriku yang 'tegar' di antara 'kecengengan' yang kuredam. Aku tepis rasa iba, yang hendak meruap menjadi tangis ketika melihat seorang kakek masih mengayuh sepeda dengan napas tersengal-sengal menjajakan setumpuk beban jualan di belakang sepedanya. Aku masih bertahan untuk tidak menangis ketika melihat seorang bocah perempuan dekil mengais-ngais tong sampah di depan sebuah restoran untuk mendapatkan makanan hari ini. Aku masih berusaha tegar ketika melihat seorang perempuan tua menyapu di pinggir jalanan bermandikan peluh dan terik matahari siang. Aku masih belum menangis ketika melihat bocah lelaki pengasong dan pengamen yang mengejar sebuah bis yang tengah melaju kencang. Aku masih mengerjap-ngerjapkan mata agar airmata tak berlinang ketika melihat seorang bocah perempuan yang menangis tersedu dengan nampan nasi bungkus jualannya yang tercecer di trotoar jalan.
      "Ibu pasti akan memukul aku karena nasi jualanku hari ini terjatuh kena senggol seorang pengendara motor di pinggir jalan!" begitu katanya dalam tangis. 
      Dan aku belum menangis ketika tak seorang pun yang lalu-lalang di sekitar bocah perempuan nan malang itu membantu memunguti sisa-sisa nasi bungkus yang terburai di tanah.
      Aku memang terlalu 'tegar' di antara 'kecengenganku'....***
      Aku seperti tak bernyawa saat menjejaki lantai rumahku. Aku sudah tidak tahan di dalam 'ketegaran' ini. Bibirku bergetar hebat, masih berusaha menahan tangis. Aku langsung langsung menuju ke kamar. Rasanya satu jam hukuman berjalan kaki di tengah terik matahari siang belum mampu meluluhkan diriku. Aku belum jera dalam 'ketegaran' yang aku buat serupa teater. Kurebahkan diriku yang lelah di atas ranjang, dan ketika pipiku menyentuh bantal hangat, tiba-tiba airmataku menitik deras tak terbendung lagi. Memori sepanjang perjalanan tadi telah mengoyak 'ketegaranku'. Aku membayangkan bocah perempuan penjaja nasi bungkus itu akan dipukuli habis-habisan oleh ibunya. Aku membayangkan bocah lelaki pengasong yang belum lagi genap sepuluh tahun itu turun dari bis ke bis lainnya dengan hasil tak seberapa, dan suatu saat akan terjatuh dan terserempet bis di jalan. Aku membayangkan....
      Tiba-tiba ada bisikan di hatiku untuk membuka laci kedua dari bawah meja belajarku. Di dalamnya terdapat sebuah buku yang kuberi judul sendiri: 'Memori dan Luka'. Aku membaca setiap lembar demi lembar untuk mengingat kembali apa saja yang telah aku isi di buku bergambar dedaunan kerontang, di sebuah taman berprofil anak kecil. Banyak luka, kekecewaan, pelecehan, trauma, dan kejadian lain yang membuat dadaku sakit ketika membacanya. Dan menggoreskan traumatik yang membuatku harus menjadi gadis 'tegar'. 
      Ponsel dari dalam tas sekolahku bergetar kala aku menelusuri tulisan yang mengungkap rasa dan luka, yang pernah kualami sepanjang perjalanan hidupku. Aku gegas mengeluarkannya dari tas. Ternyata ada SMS dari Billie yang berbunyi:
      Keterbukaan dan mengampuni adalah awal dari pemulihan. Hati yang lembut dan mudah tersentuh bukanlah kelemahan dan bukan hal yang CENGENG. Kamu adalah sahabatku yang tegar namun punya hati yang lembut dan belas kasihan. God bless!
      Aku tersenyum kecil, meski airmata belum berhenti mengalir dari pelupuk dan membasahi kedua pipiku. Namun, kini aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kubiarkan saja airmataku tumpah agar beban batinku meringan. Aku harus bisa belajar untuk berdamai dengan hatiku sendiri. Aku harus belajar menempatkan rasa, bahwa tegar dan cengeng hanyalah ruap emosi dan merupakan anugerah yang mesti seiring-sejalan. Aku harus bisa mengampuni masa lalu dan orang-orang yang pernah melukaiku.
      Dan yang paling penting, aku harus punya keberanian untuk langsung menelepon Amel. Sekarang juga! ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger