Jumat, 29 April 2011

Bayangan yang Hilang By Gita Nuari

Parno semaput. Bayangannya tiba-tiba hilang. Sedang bayangan teman-temannya tetap ada menjulur sekian derajat ke sebelah barat.
"Lho, bayanganku mana?" serunya terkejut.
Teman-temannya saling pandang.
"Kok bayanganku tak ada?" Parno berlari ke sungai. Ia bertambah panik karena bayangan dirinya tak menampakkan wujud aslinya. Tuhan tak adil! Bukankah aku belum mati, dan kenapa bayanganku tak ada?! gerutunya dalam hati.
"Ragil, kamu lihat bayanganku?" tanya Parno sekembali dari sungai.
"Tersangkut di pohon barangkali!" sahut Ragil sekenanya.
"Jangan bercanda kamu, Gil!" hardik Parno kesal.
"Bukannya kamu yang bercanda dengan pertanyaanmu itu?"
"Aku serius, Gil. Coba lihat, bayanganku tidak ada, kan?"
Ragil memperhatikan tubuh Parno yang berdiri tegak. "Gila! Tak ada bayangannya!" teriaknya tak sadar. Terus memanggil teman-temannya yang lain. Teman-teman lainnya pada bingung.
"Eh, ke mana bayangan diri kamu, Parno?" tanya Parmin terheran-heran.
Lalu Darto mengelilingi tubuh Parno, " Kok bisa ya, bayanganmu tidak kelihatan? Sedang matahari begitu tajam menyorot kita!" Akhirnya ketiga temannya itu kabur meninggalkan Parno yang bingung, berteriak sendirian:
"Bayangan Parno hilang! Bayangan Parno hilaaannngg!"***
Kejanggalan yang dirasakan Parno tidak akan diketahui orang lain jika Parno tidak over akting. Tapi karena Parno sering panik sendiri akhirnya semua orang jadi tahu kalau kepanikan Parno itu dikarenakan ia merasa kehilangan bayangannya sendiri. Orang-orang yang akhirnya jadi pada tahu itu, akan memperhatikan tindak-tanduk Parno jika lewat di depannya. Akibatnya Parno jadi sering salah tingkah atau menjauhkan diri dari terik matahari agar 'kejanggalannya' tidak begitu tampak. Parno akhirnya sering memilih berjalan di tempat yang teduh atau membawa payung untuk menghindari sorot matahari.
"Lihat si Parno, kayak banci saja siang-siang begini pakai payung!" celoteh Mirjan yang tidak tahu masalah yang sedang dihadapi Parno.
Orang-orang yang melihatnya pada tertawa.
"Pantatnya sambil digoyang, dong," teriak Gojek memberi aplus.
Parno jadi serba-salah. Tujuannya bawa payung untuk mengelabui orang-orang yang tidak tahu bila dirinya sudah tidak punya bayangan. Bukan untuk bergaya. Sial! gerutu Parno, kesal.
Di rumah, Parno merenung. Kenapa ia kehilangan bayangan dirinya. Apakah bayangan diri itu bisa hilang seperti barang-barang lainnya? Misalnya seperti benda-benda yang ada di dalam rumahnya? Kalau dicuri, apa bayangan bisa dijual? pikiran Parno mulai ngelantur. Mau cerita kepada ibunya, tak mungkin karena ibunya sudah lama meninggal.
"Rini, apakah kamu punya bayangan?" tanya Parno kepada adiknya yang sedang asyik membaca buku.
"Bayangan apa maksud, Mas?"
Parno menarik tangan adiknya terus diajak keluar rumah. "Coba kamu berdiri tegak," pinta Parno.
Rini yang masih bingung itu menuruti saja perintah kakaknya. Rini menegakkan diri di bawah matahari. "Nah, tuh kan, kamu punya bayangan. Tapi kenapa...," Parno tak meneruskan ucapannya.
"Kenapa apanya, Mas?" kejar Rini semakin tak mengerti.
"Kamu tidak melihat, Rin? Kamu tidak melihat bayangan yang lepas dari tubuhku?"
Sang Adik memperhatikan tubuh kakaknya dari kepala sampai ke kaki. "Hah! Mas Parno tidak punya bayangan? Ba-Bapaaakk," Rini berlari ke dalam rumah meninggalkan Parno sambil berteriak-teriak memanggil ayahnya.***
"Kurang ajar! Siapa yang mencuri bayanganku?" tukas Parno sambil berjalan menuju stasiun siang itu. Kereta tiba-tiba lewat di jalur sebelahnya. "Kereta saja punya bayangan, masak aku tidak!"
Kereta yang baru datang itu berhenti di jalur empat. Para penumpang berhamburan keluar sambil menenteng bawaannya melewati Parno yang tengah dilanda kebingungan yang amat sangat. Parno melihat semua penumpang yang turun dari kereta memiliki bayangannya sendiri-sendiri. Ini benar-benar aneh, pikirnya. Lalu ia berdiri di dekat WC umum, tujuannya untuk menghindari terik matahari. Ia melihat kantin. Beberapa orang tengah makan siang di kantin itu. Glek! Jakun Parno bergerak naik turun. Lapar di perut Parno menguap. Parno masuk ke kantin, pesan makan dan air teh dingin. Selesai makan ia keluar stasiun, berjalan menuju pasar. Para pedagang kaki lima berjajar di sisi trotoar.
"Jambret. Jambreeett!" teriak seorang ibu tepat di sebelah Parno. Para pedagang kaki lima berhamburan ke tengah jalan setelah mendengar perempuan itu berteriak.
"Mana jambretnya, Bu?" tanya tukang pakaian dalam.
"Ituu!"
"Yang ini?!" teriak tukang buah sambil membawa pisau menunjuk ke arah Parno.
"Bukan, bukan itu. Tapi yang bawa tas Ibu itu. Itu...." seru perempuan itu sambil menuding-nuding seorang lelaki yang matanya beringas. 
Namun tidak diduga, tiba-tiba saja lelaki itu ikut-ikutan berteriak maling sambil menunjuk ke arah Parno. Tapi Parno kali ini cerdas, ia yang sudah kehilangan sejak lama, balas berteriak dan balik menuding maling ke arah lelaki itu.
"Ini dia malingnya!" teriak Parno langsung. "Orang ini yang mencuri bayangan saya!"
"Betul, dia malingnya!" balas perempuan yang tasnya dijambret tanpa peduli apa yang dimaksud Parno.
Para pedagang yang sudah kalap menyergap lelaki itu dengan benda apa saja. Seakan tak ada kompromi lagi bagi pejambret atau pencuri, pelaku langsung diseret, digebuk, ditendang, dihantam sampai bonyok.
"Bakar saja!" teriak seseorang dari dalam kerumunan.
"Betul! Biar tahu rasa dia!" sambut pengamen pasar menimpali.
Seorang yang terpancing amarahnya sertamerta menyiramkan minyak tanah ke tubuh pejambret itu dengan leluasa. Tanpa dikomando, seseorang lagi langsung menyalakan korek api dan melemparkannya ke tubuh pejambret itu hingga menyala besar. Pejambret yang sudah babak belur itu langsung kelojotan dilalap api. Hanya beberapa menit, pejambret naas itu tewas ditempat.
Sadis! gumam Parno. Dan ketika polisi datang, para penjagal sudah bubar.
Tak ada yang ditangkap, kecuali beberapa orang dimintai keterangannya mengenai peristiwa pembakaran orang hidup-hidup di tengah jalan, termasuk perempuan yang jadi korban pejambretan.
"Eh, Mas! Kamu tidak ikut ke kantor polisi?" tanya tukang buah kepada Parno.
"Ah, itu tidak penting. Yang penting sekarang, saya harus menemukan bayangan saya! Paham?"
Tukang buah itu terlolong.
"Bapak tahu di mana bayangan saya?" tanya Parno kepada tukang parkir. Karuan saja tukang parkir itu terbengong-bengong ditanya seperti itu. "Bapak tahu kan, Pak?"
"Ah, cari saja sendiri!" sahut tukang parkir sambil mencibir.
Parno mendatangi tukang rokok dan bertanya lagi seperti yang ia lakukan kepada tukang parkir tadi. 
"Maaf anak muda, bayangan kamu tidak ada di sini. Sana, cari saja di rumah sakit!"
"Terima kasih atas petunjuknya, Pak."
Tukang rokok itu tertawa, "Baru buka sudah disatroni wong edan!" dengusnya. "Cari saja sampai bodoh di rumah sakit jiwa! Dasar gila!"
Parno tidak ke rumah sakit, melainkan berjalan menuju tempat pembuangan sampah.
"Pak! Paaak! Itu Mas Parno, Paaak!" teriak Rini yang mendadak melihat kakaknya berada di tempat pembuangan sampah sedang mengorek-ngorek tumpukan sampah dengan kakinya.
"Parnooo...." suara sang Ayah terdengar satir, memanggil. Parno yang masih asyik mengais di tumpukan sampah. "Parno!"
Parno menoleh.
"Sudah kau temukan bayanganmu, Nak?" tanya sang Ayah, menyembulkan seulas senyum.
"Belum, Pak. Apa Bapak menemukan?" 
"Sudah, Nak. Sekarang bayanganmu ada di rumah!"
Parno girang. Ia berjingkrak. Teman-teman Parno terkekeh.
Bahkan tawa Darto nyaris tak bisa dihentikan. Akhirnya mereka beramai-ramai membawa Parno pulang.***
"Sebenarnya, siapa yang menjadikan Parno seperti ini?" tanya Pak Bejo, orangtua Parno kepada teman-temannya setelah Parno 'dikamarkan'.
"Begini, Pak," Darto menyambar duluan pertanyaan Pak Bejo. "Kalau kita membantah apa yang dikatakan Parno mengenai bayangannya yang hilang, kami bisa celaka, Pak. Bahkan, kita-kita ini pernah kena pukul gara-gara membantah apa yang dia katakan."
"Benar, Pak. Kalau Parno memberitahukan bayangan dirinya hilang, kita harus spontan terkejut atau pura-pura kaget. Kalau tidak, bisa gawat Pak. Kepala ini, bisa ditimpuk pakai batu!" timpal Parmin sambil menyorongkan kepalanya ke hadapan Pak Bejo.
Pak Bejo terenyuh.
"Iya, Pak," Rini menimpali. "Kalau Rini tidak menjerit sambil berlari waktu itu, rambut Rini bisa dijambaknya. Pokoknya, apa yang dibilang Mas Parno, kita harus pura-pura terkejut, dan pura-pura mencari apa yang Mas Parno cari!"
Pak Bejo makin sedih hatinya. "Tapi kenapa kalian baru ngomong sekarang, heh? Kalian juga sama gendengnya kalau begitu!"
"Tapi Parno tidak bahaya lho, Pak," kata Darto tenang. 
Mata Pak Bejo melotot. "Tidak bahaya, dengkulmu! Wong syarafnya terganggu kok dibilang tidak bahaya. Aneh sampean ini!"
"Yang saya tahu," Ragil buka suara, "Parno jadi begini karena dia tidak punya cita-cita, tidak punya masa depan. Jangankan masa depan, masa lalunya pun Parno lupa. Nah, bagaimana Parno merasa tidak punya bayangan diri, kalau dia sendiri tidak pernah membayangkan sesuatu!"
Pak Bejo makin bingung. Apa ini gara-gara aku jarang di rumah? Tidak dekat dengan anak-anak? Jarang berdiskusi? Tidak terbuka dengan mereka? Apa Parno tahu kalau aku suka....
Pak Bejo tidak kuasa melanjutkan perkataan yang melintas di benaknya. Lalu lamunannya terputus oleh suara Parno yang terdengar nyaring dari dalam kamar:
"Paaakk! Bayangan Parno mannaaaa!" ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger