Jumat, 29 April 2011

Baju Ketat By. T. Sandi Situmorang

Haya meletakkan dada ayam di tangannya. Tajam ditatapnya Arun yang mengunyah paha ayam di hadapannya.
"Kau mencintaiku atau pakaianku?!" desisnya tajam.
"Pertanyaanmu aneh. Jelas aku mencintaimu. Dan kamu pakai baju. Jadi itu harus sejalan. Nggak bisa dipisahkan."
"Ucapanmu berbelit-belit. Juga nggak nyambung," tandas Haya.
"Jelasnya, aku mencintaimu. Tapi aku nggak suka, bila kau berpakaian seperti itu."
"Aku tidak suka dikritik, apalagi diatur. Kau sudah tahu itu!" sinis suara Haya.
"Aku bukan mengaturmu, Haya. Hanya kasih pandangan. Dengan pakaian seperti itu, orang akan mengira kau perempuan nggak benar. Aku juga yakin pakaian yang kau kenakan itu bukanlah bajumu waktu zaman SD dulu. Misalnya, terpaksa kau pakai lagi, karena nggak punya uang buat beli baju baru. Aku tahu itu," papar Arun sabar.
"Alaaah, dasar saja kamunya kampungan. Nggak pernah lihat di televisi, pakaian begini kan lagi ngetrend. Artis saja pada makai. Cewek-cewek Jakarta juga!"
"Ini Binjai, Ya! Bukan Jakarta. Orang-orang di sini belum semodern orang di Jakarta. Apa tidak kau perhatikan, ketika kita berjalan, mata orang-orang tertuju pada kita?!"
"Bilang saja kau malu jalan berdua denganku," suara Haya meninggi, sehingga beberapa penghuni meja lain melirik ke arah mereka. Tapi Haya sama sekali tak peduli.
"Bukannya malu, hanya sedikit risih."
"Itu sama saja," sahut Haya.
Arun terdiam. Entah harus ngomong apa.
Setelah meraih dompetnya yang diletakkannya di meja, Haya bangkit dengan sikap kasar.
"Aku pulang sendiri. Aku takut kau mati risih nanti," ujarnya menyindir. 
Arun menghela napas. Ia tahu Haya mengejeknya. Tak ada niat untuk mengejar Haya yang berlalu dari lantai tiga Suzuya Plaza itu.***
 "Bagaimana?"
"Haya marah besar," sahut Arun lemah.
"Caramu juga sih, salah," sesal Adit temannya. "Kalau mengkritik itu jangan terang-terangan. Juga harus lihat situasinya. Dikritik di tempat umum begitu, jelas saja dia marah."
"Maksudmu bagaimana?"
"Kalau mengkritik itu jangan dia yang langsung kau kritik. Bisa saja kan, sewaktu berjalan berdua, ada cewek yang berpakaian ngepas begitu. Barulah kau bilang, bahwa kau nggak suka ngeliat cewek begitu. Sekalian dengan alasan-alasannya."
"Bisa-bisa aku dibilangin nyindir. Kau kan tahu, ke mana saja dia selalu berpakaian begitu. Nggak pernah lihat situasi. Bayangkan, ke pesta ultah perkawinan orangtuaku saja dia berpakaian begitu. Lumayan kalau bodinya yahud. Lha ini, bodi kayak karung beras saja dipamerkan."
"Kau juga bilang begitu sama dia?"
"Gila, memangnya aku sudah sinting."
"Lalu, sekarang bagaimana?"
Arun mengangkat bahunya. "Nggak tahulah. Tapi kalau dia tetap saja begitu, lebih baik putus deh. Itu kan sudah satu bukti, bahwa dia orangnya nggak bisa diatur dan nggak bisa menerima masukan dari orang lain," lanjutnya kemudian.***
Arun menatap takjub pada gadis belia yang berdiri di hadapannya. Ia jauh lebih cantik dengan jeans yang dipotong sebatas lutut dan kaus oblong kedodoran seperti itu. Bukan dengan jeans ketat dan kaus ketat yang biasa dikenakannya.
Haya tersenyum manis. "Selama seminggu ini aku sibuk berpikir tentangmu di CFC dulu. Dan berkaca di depan cermin dengan pakaian serba ketat begitu. Ternyata ucapanmu benar. Apalagi bodiku pun kurang bagus. Trims ya, kau mau mengingatkanku."
Arun tersenyum senang. "Itu gunanya aku di sampingmu." ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger