Jumat, 29 April 2011

Andara     By. Effendy Wongso

Jakarta, 12 Maret 2007
Pukul 13.09 WIB 
SMA SANTA MARIA 
Dentang bel membuyarkan Andara dari kantuknya. Suntuk yang memaksa kedua kelopak matanya menguncup selama mengikuti jam pelajaran memang di luar dari kebiasaannya. Petuah bijak yang ditawarkan oleh Suster Anamaria untuk memilih jalan terbaik menuju kedamaian surgawi hanya bagai litani pengantar tidur. Sesuatu memang telah terjadi pada keluarganya. Mengundang prahara yang berbuntut lara. Dan itulah yang menjadi biang gundah di hatinya. 
Bergegas dihimpunnya buku-bukunya di laci ke dalam tas. Tas manis berhias gambar Mickey itu merupakan kado ulang tahun dari Papa kala dia tepat berusia tujuh belas setahun lalu. Masih saja setia menyampiri pundaknya, menyertai langkahnya ke sekolah sehari-hari. Setiap terkenang itu, hatinya seolah berdarah. Mengucurkan luka yang membilur jingga. 
Sekarang Papa dan Mama sudah tidak bersatu lagi. Keharmonisan yang senantiasa mengakrabi hari-harinya dulu sudah raib entah ke mana. Andara mengusap ujung matanya. Bening airmata yang sudah terlampau sering dikucurkannya agaknya tak mampu memperbaiki keadaan. Retaknya hubungan antara Papa dan Mama memang harus dibayar mahal dengan mengorbankan dua hati. Dan keputusan itu bagai ultimatum yang tak bisa ditawar-tawar. Andara ikut Mama, Andika ikut Papa! 
Titik nadir yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya menghadirkan gulana yang berkepanjangan. Melarutkannya dalam penyesalan. Hari-harinya yang dulu penuh warna kini disurami selubung durja. Tak ada lagi keceriaan yang menyertai lagaknya sebagai gadis belasan berparas manis. 
Rahangnya mengeras. Segumpal dendam yang mengental merah senantiasa menggejolak di hatinya. Matanya terpicing sertamerta. Angelina Jose Darmawan. Wanita muda dengan sejumlah atribut sempurna sekretaris Papa itu tak ubahnya racun. Biang pelantak keutuhan keluarganya! 
Nelangsa yang dihadirkan wanita 'iblis' itu nyaris membuat Mama bertindak bodoh, bunuh diri. Tangisan histeris Andika dan dia kala itu membuat Mama mengurungkan niatnya menenggak racun serangga. Terlalu murah rasanya harga sebuah kematian untuk menutupi sepotong rasa kecewa. Kalkulasi yang benar-benar tidak dapat dikatakan bijak. 
Sebulan sudah peristiwa itu berlalu. Belum pupus benar segala sepat yang merecoki hati dan pikiran. Papa melenggang pergi bersama wanita lain, membawa Andika yang belum tahu apa-apa. Andara menghela napas panjang, membiarkan udara masuk menyegarkan pori paru-parunya. Dicobanya bersikap tegar, mengambil hikmah dari kenyataan yang mungkin sudah digariskan oleh Sang Khalik. Barangkali inilah jalan yang harus ditempuhnya bersama Mama. Di mana ketabahan dan ketegaran menjadi kunci kebahagiaan. Sedini mungkin berusaha dimafhuminya itu. 
Seperti kemarin malam. 
Didapatinya Mama diam-diam menangis di kamar, mendekap bingkai gambar Andika. (Bocah jalan tiga itu memang menggemaskan. Sepasang matanya yang bundar jenaka senantiasa menyejukkan hati. Mengundang rasa sayang yang tak terkira. Sayang, prahara rumah tangga orangtuanya membawanya pada suatu kondisi yang tidak menyenangkan. Andara yakin 'Mama' baru yang akan disuguhkan Papa kepadanya menggantikan Mama tidak akan lebih baik ketimbang dulu. Dia bergidik membayangkan kisah-kisah seputar ibu tiri yang kejam. Andika yang manis bakal terpasung dalam tirai tirani.) Suatu ketika Andara merasa memiliki Mama yang demikian tegar, namun suatu ketika pula didapatinya Mama yang rapuh, yang tengah terisak mengenang Andika dan Papa yang tergoda oleh pesona wanita lain. 
"Andara Evaline Santoso...." 
Andara kemekmek. Buku terakhir yang tengah digenggamnya terjatuh ke lantai. Menimbulkan debum kecil yang mengagetkannya sendiri. 
Andara Evaline Santoso? 
Andara menggigit bibir bawahnya. Masih pantaskah dia menyandang nama depan Papa di belakang namanya? Masih pantaskah dia mengenang Papa? Santoso, lelaki yang sekian belas tahun sangat dikagumi serta disayanginya itu kini bukan lagi menjadi miliknya meski darah yang mengaliri nadinya berasal darinya. 
"Suster...." 
"Ada masalah, Nak?" 
Andara menggeleng. "Tidak, Suster...." 
Seulas senyum bijak mengembang tulus di hadapannya. Andara menelan ludahnya dengan susah payah. Dia telah berbohong. Duh, semoga Tuhan mau memaafkannya! 
"Suster turut prihatin atas...." 
Sesaat mata Andara membola sebelum menundukkan kepalanya. Pipinya sudah membasah. 
"Suster tahu?" tanyanya lirih. 
Anggukan kecil Suster Anamaria menjawabi pertanyaannya. Membungkam mulutnya. Melilit lidahnya dalam diam yang membeku. Bahasa nalarnya telah mengartikan gerak tubuh wanita di hadapannya tadi. 
"Suster tidak ingin melihat seorang Andara Evaline Santoso terus-terusan bermuram-durja, menjeblokkan semua mata pelajarannya di sekolah. Terlebih-lebih Mama Andara...." 
"Mama...." 
"Ia menyampaikan pesan pada Suster, Andara tidak boleh berkubang dalam duka." 
"Tapi...." 
"Su-Suster...." 
"Ada kalanya kita memang harus berpisah dengan orang yang kita cintai," ujarnya dengan suara lunak. 
"Tapi wanita iblis itu, Suster...!" 
"Jangan menyalahkan siapa-siapa...." 
"Juga untuk biang perusak rumah tangga orang?!" 
"Mungkin dia tidak sejahat sangka Andara." 
Andara tercekat. Seketika tubuhnya menegak. Rasa-rasanya dia mendengar kalimat tadi bukan dari seorang yang dapat dianggap bijak. 
"Su-Suster...?!" 
"Nak, Suster mengerti betapa beratnya menerima kenyataan bahwa orang yang paling dicintai berpaling, mencintai orang lain. Tapi, itulah kenyataan yang mau tidak mau harus diterima. Sebuah kondisi telah membentuk keadaan demikian. Ada saatnya sesorang harus memilih jalan yang dianggap tidak menyenangkan. Seperti makan buah simalakama." 
"Tapi...." 
"Andara. Suster mengerti apa yang Andara rasakan. Tidak menyenangkan memang. Ini mungkin jalan yang mesti Andara lalui. Ini seperti suratan." 
Gadis itu hanya sesenggukan. Titik airmatanya menderas. Ia berpaling. Seolah menatap hampa pada tembok. Wanita separo baya itu tersenyum. Dibiarkannya gadis itu tetap mematung tanpa sikap mengadili. Dialihkannya pikirannya ke sebuah rumah megah di pusat kota . Segalanya memang seperti skenario. Ada penggalan kisah yang pahit, seperti panggung sandiwara yang dilakoni anak-anak manusia. Ia menggeleng. Tak sadar. Betapa kerdilnya manusia di hadapan sang keinginan. Ketidakpuasan melatarbelakangi prahara yang terjadi. Ini tragedi kemanusiaan yang terus berkembang sepanjang segala zaman. Ia menghela napas, sejenak. 
Dia iba. Gadis kecil itu belum tahu apa-apa. 
Di luar, dari jendela kelasnya, seseorang menatapnya diam-diam. Caroline masih menantinya. *** 
"Ini untukmu, Sayang." 
"Untuk apa?!" 
"Pa-Papa sayang kamu, Dara." 
"Papa tidak berhak menyayangi Dara lagi." 
"Dara putri Papa...." 
"Sekarang tidak lagi!" 
"Kenapa?" 
"Karena bukan wanita bernama Angelina Jose Darmawan itu yang melahirkan Dara." 
Lelaki itu terperangah. Seperti ditusuk beribu-ribu jarum, kepalanya pening tiba-tiba. 
"Yang melahirkan Andara adalah wanita yang bernama Widyawati Kusuma. Bukan dia, wanita pilihan Papa itu!" 
"Ta-Tapi...." 
Gadis itu masih menangis. Dihempaskannya kotak batang permen coklat pemberian lelaki itu. Dia sama sekali tidak ingin menerimanya. Apalagi untuk merelakan lelaki itu mengantarkannya pulang. 
"Se-Secepat itukah Papa berubah?! Papa sama sekali tidak menghargai jasa-jasa Mama." 
"Da-Dara...." 
"Mama...." 
Lelaki itu terdiam. Berusaha dengan susah payah meneguk ludahnya. Sesaat dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum meninggalkan gerbang sekolah dengan langkah lunglai. Gadis itu hanya mematung. Menunggu sampai punggung lelaki itu menirus dari matanya. ©

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger