Sabtu, 30 April 2011

Aku Ingin Menikah By. Yeni Kurniawi




      "Aku ingin menikah, Sayangku!"
      Itu awal dari suratnya. Membuat jantungku berdegup kencang, dan menahan rasa dalam baur. Kukuatkan diriku untuk melanjutkan membaca surat itu, perlahan.
      "Aku ingin menikah, Sayangku! Bukan karena semata aku ingin menunaikan hal yang selama ini diserukan oleh agama bagi umatnya yang telah akil-balig, tetapi aku ingin juga menikmati keindahan dan kebahagiaan pernikahan itu sendiri."
      Aku menggeleng tanpa sadar.
     "Bagiku, pernikahan merupakan sebuah kemantapan batin. Bukanlah hal yang mudah memang untuk menjalani sebuah pernikahan, suatu ikatan sakral yang tak bisa dipermainkan selayaknya ketika berpacaran. Tetapi aku inginkan itu. Aku ingin menikmati susahnya menjadi seorang istri, mempunyai anak dan mengurus mereka. Aku merindukan semua hal itu, dan aku menganggapnya sebagai suatu ibadah karena ada cobaan dan tantangan yang harus aku lalui. Tidak mudah memang menjalani gasingan roda rumah tangga sementara aku juga tengah meniti karier."
      Lagi-lagi aku menggeleng tanpa sadar. Padahal wajah manis itu tidak sedang berada di hadapanku. Ia berada jauh, sangat jauh di suatu tempat.
      "Bukankah sudah sering kuceritakan dulu bahwa, aku ingin sekali menikah muda. Kau mau tahu alasannya? Karena aku merasa tertantang untuk melakukan hal itu. Boleh jadi semua itu obsesi. Tetapi menjalani hal berat tersebut, aku akan merasa bangga menjadi seorang istri sahih, sekaligus menyandang status ibu bagi anak-anakku. Kau tahu, betapa bahagianya dapat melihat perkembangan mereka dari kecil hingga dewasa. Dan ketika penatku buncah setelah seharian bekerja, aku akan dihibur oleh celoteh kecil dari anak-anakku. Anak-anak yang kulahirkan sendiri dari rahimku. Lagipula, aku juga merasa sudah melakukan perbuatan berpahala jika dapat mengurus suami yang aku cintai dengan dengan layak. Bukankah itu juga merupakan limpahan cinta yang aku aplikasikan dalam perbuatan? Setiap malam pula, aku akan berdandan secantik mungkin di hadapan suamiku agar aku dipeluknya, dan aku dan ia akan bercumbu sampai fajar."
      Aku bergidik. Takut membayangkan kenyataan itu.
      "Aku tahu, mungkin semua keinginanku ini terlalu picik. Aku pun sadar, ini tidak gampang untukmu. Sebab aku tahu, terlalu banyak hal yang mesti kau selami sebelum benar-benar dapat mewujudkan keinginanku tersebut, menikah! Tetapi keinginanku tersebut bukanlah hal yang muskil. Aku yakin Allah selalu akan memberi jalan bagi umatnya yang ingin berusaha. Allah akan membuka pintu rezeki kau dan aku. Meski aku sadar, saat ini kepapaan kita merupakan aral yang menghambat perwujudan keinginan aku itu. Maafkan aku jika ini terlalu muluk dan sedikit obsesif."
      Aku hela napas panjang. Pikiranku berkecamuk.
      "Kau tahu, Sayangku? Betapa aku ingin menikah. Betapa aku ingin mengamalkan ibadah nikah. Dengan menikah, berarti aku telah menyempurnakan ibadahku dan juga agamaku. Menikah bukanlah hal yang menakutkan, setidaknya menurut versiku, karena semua tak akan berbeda, kecuali hidup bersama dalam tanggung-jawab dan kewajiban masing-masing."
      Aku semakin kalut. Menggigil dalam diam.
      "Sayangku, dengan menikah bukan berarti kau akan terpasung bagai penjara. Tidak. Kau masih bisa beraktivitas seperti biasa. Yang berbeda hanyalah dimensi dan ruang yang berbeda pula. Kau masih akan memiliki waktu luang. Begitu pula sebaliknya dengan aku. Kita hanya perlu mengganti status kita yang lajang dengan suami bagi kau, dan istri bagi aku."
       Aku masih membaca suratnya dengan hati galau.
      "Aku bisa membayangkan betapa bahagianya dapat memiliki kesempatan untuk berumah tangga. Betapa semua ini adalah anugerah yang tidak setiap orang mendapatkannya. Kau dan aku akan saling menyayangi. Saling berbagi. Saling bercengkerama. Dan mungkin saling bertengkar untuk memadukan ketidaksepahaman. Namun aku yakin, kita adalah pengawal dan penjaga hati bagi diri kita masing-masing. Kau akan merawatku, demikian pula sebaliknya. Aku akan merawatmu. Kita akan sehidup-semati!"
      Aku terhenyak. Kalimat dalam suratnya menohok dadaku. Aku terlalu miskin untuk mewujudkan keagungan yang dikehendakinya!
      "Sayangku, keinginan ini sesungguhnya sudah kupendam sejak lama. Namun selama ini aku bagai pecundang yang tidak berani mengungkap. Hati dan batinku tidak akan pernah tenang selamanya. Bahwa hubungan yang telah kita bina selama ini akan tersuruk di dalam limbah dosa. Bahwa hubungan yang telah kita rajut selama ini akan terempas oleh kekerdilan kita yang salah mengarti. Sesungguhnya banyak godaan yang kelak akan menghancurkan hidup aku dan kau jika kita masih bertahan dan menepis 'pernikahan sakral' yang merupakan ibadah itu."
      Aku tepekur serupa patung.
      "Sayangku, tentulah kau akan mengartikan semuanya ini terlalu naif bagi kita yang belia. Mungkin. Apalagi aku masih saja merintis karierku yang baru seumur jagung. Demikian pula dengan kau yang baru ingin merdeka dan mandiri, terlepas dari tanggung jawab kedua orangtuamu yang sudah uzur. Tetapi aku yakin, semua itu dapat kita padukan seiring-sejalan jika kita memang bersikeras menjalaninya dengan sepenuh hati. Ya, sepenuh hati. Seperti cinta yang telah kita bina selama ini."
      Aku memejamkan mata. Mencoba untuk meredakan kecamuk di benakku.
      "Pikirmu, kita ini mungkin terlalu rapuh, dan berlagak tegar dengan membangun bahtera rumah tangga. Sayangku, pikirmu betapa bernyalinya aku yang berani mengarungi deru dan kerasnya ombak kehidupan dengan bahtera rumah tangga yang dinahkodai olehmu. Tetapi tidak, Sayangku. Tidak. Bukankah sudah kukatakan bahwa, Allah, Insya Allah, tidak akan membiarkan kita tenggelam jika bahtera rumah tangga kita selalu berada di jalan yang benar? Kalaupun ada gelombang, itu hanyalah riak-riak kecil dan merupakan cobaan hidup buat menempa kita menjadi tangguh dan kuat. Jadi, perkenankanlah aku mewujudkan impianku ini, Sayangku. Biarlah semuanya; karier dan cinta dalam rumah tangga kita seiring-sejalan dan berjalan secara alami."
      Aku mengusap wajah, mencoba menghalau resah dan gentar.
      "Menurutku, satu tahun sudah cukup untuk mengenal karakter kita masing-masing, dan aku rasa telah cukup mengenalmu. Apa pemahamanku ini salah?"
      Aku mengangguk tak sadar, lantas menggeleng cepat menggebah pengakuan nuraniku tadi.
      "Mungkin kau akan terbebani oleh permintaanku ini, Sayangku. Tetapi bukan maksudku membebanimu dengan masalah baru meski saat ini kau masih berkutat dengan masalahmu yang belum terpecahkan sendiri, yang saat ini tengah belajar untuk mandiri dan dewasa dan tak tergantung lagi oleh orangtuamu yang tergolong sederhana. Namun aku hanya tidak ingin kita terjerembab di dalam cinta yang telah tercemari nista. Terkutuklah kita nantinya, Sayangku. Dan aku lebih memilih hidup sengsara di dalam bahtera rumah tangga yang rapuh ketimbang harus menanggung beban dosa yang kita ciptakan di atas kenikmatan ragawi."
      Mataku mulai memanas. Tegarku diaduk haru. Aku teringat kedua orangtuaku yang sudah tua, serta dua orang adikku yang masih kecil-kecil, yang mesti aku tanggung. Berapa nyawa yang akan kuhidupi kelak?!
      "Tahajudlah, Sayangku. Keputusan ini memang mahaberat. Namun Allah pasti memberi petunjuk dan akan meringankan segala beban batin yang kau pikul."
      Aku seperti gila. Kuacak-acak rambutku sembari menggigit bibir. Airmataku sudah jatuh berlinang.
      "Maafkan aku, Sayangku. Aku merasa cinta terlalu sempurna untuk dikotori dengan nista. Bukan karena aku ini suci, namun justru karena itulah aku ingin mensucikan cinta kita. Menempatkannya di tempat teratas, dan jauh dari tagut."
      Aku menjerit tanpa sadar. Menelungkupkan kedua belah telapak tangan di wajahku yang sembap.
      "Sayangku, cinta yang suci akan menyempurnakan kita menjadi insan yang lebih baik. Menikah adalah ibadah. Dan bukannya mengikat kita serupa belenggu. Renungilah semua itu."
      Aku sesenggukan. Airmataku tak terbendung. Tiba-tiba menjadi lebih cengeng ketimbang bocah.
      "Biarlah kita belajar untuk menjadi dewasa di dalam pernikahan sakral ini, Sayangku. Biarlah waktu akan menempa dan membentuk kita menjadi manusia yang tegar di jalan yang telah kita pilih: Pernikahan! Jangan sangsi dengan keputusan mahaberat yang telah kita putuskan bersama: Pernikahan! Ketidakberdayaan dan kelemahan hanya belenggu yang senantiasa mengikat kita dalam mungkir, sehingga bila cuai kelak, maka kita akan dijerumuskan dalam sesat cinta terlarang. Aku tidak ingin kita jatuh dalam zinah. Dan penuhi permintaanku yang mungkin hanya kupinta seumur hidupku: Nikahi aku!"
      Aku seperti sudah tidak sanggup meneruskan membaca surat darinya.
      "Yakinlah dengan jalan yang kita pilih ini, Sayangku. Lalui semuanya dengan ikhlas."
      Aku menelentangkan diri di pembaringan, tubuhku lemas di antara tangisku yang sedu.
      "Atas nama cinta yang wangi, sudilah kau menikahiku, Sayangku. Seberat apapun keputusan itu. Karena aku yakin, jalan yang kau putuskan, suatu saat kelak, akan indah pada waktunya! Sebab Allah Maha Besar, dan akan membimbing serta menuntun kita dengan cahaya-Nya! Yakinlah!"
     Aku bangkit dari berbaring, masih berusaha meraih surat darinya yang kuempaskan sesaat tadi. Surat yang membuat aku seperti pengecut yang kehilangan nyawa. Surat darinya itu kulanjutkan sekilas dengan ekor mataku.
     "Aku tidak peduli, seberapa besar cintamu kepadaku. Mungkin juga kau tak pernah tahu, seberapa besar aku mencintaimu dan mengharap kau untuk menjadi pendampingku. Tetapi jika Allah menghendaki, maka kaulah yang akan dipilih-Nya untuk menjadi ayah dan imam untuk aku dan anak-anakku kelak."
      Aku menjatuhkan diriku di lantai, bersujud dan tafakur dalam tangis. Bimbing aku ya, Allah! Aku telah siap menghadapi semua 'cobaan' yang mungkin Engkau berikan kepadaku dalam bentuk pernikahan ini. ©


0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger