Jumat, 29 April 2011

Ada Cinta dalam Dada By. T. Sandi Situmorang

Miky tersentak bangun. Peluh menitik di wajahnya. Barusan ia bermpimpi Jerry menghancurkan keramik kesayangannya. Dalam mimpinya tadi, Miky sudah menyembah agar Jerry tidak melakukan itu. Tapi.... 
Nola dan Riya yang sedang merumpi di tempat tidur sebelah menatap bingung padanya. 
"Kamu kenapa, Mik!" 
Miky tergagap. 
"Mimpi seram, ya? Sampai mandi keringat begitu!" 
"Makanya jangan suka tidur kalau sore," sambung Riya. 
"Aku bermimpi Jerry menghancurkan keramik kesayanganku," terang Miky. Matanya beralih pada keramik berbentuk dua remaja tengah duduk memancing di tepi kolam. Tangan kanan si lelaki memegang pancing sementara tangan kiri merangkul bahu sang dara, dengan kepala menyandar di bahu sang lelaki. 
Tinggi keramik itu sekitar dua puluh sentimeter. Dipajang di atas meja belajar. Miky memang sangat sayang pada keramik itu. Itu oleh-oleh terakhir Mama sepulang dari Cina. Karena waktu itu mobil yang ditumpangi Mama kecelakaan sepulang dari bandara. Sedang Mama meninggal di tempat. 
"Ah, Jerry lagi!" ujar Riya kesal. 
"Edan, memang tahu dari mana Jerry, kalau kamu punya keramik itu?" 
"Mana aku tahu, La! Namanya juga mimpi." 
"Mungkin itu sebagai pertanda Jerry tidak suka sama kamu. Kalau dia menyukaimu, tidak mungkin dia tega menyakiti hatimu." 
Miky terpekur. Barangkali benar ucapan Riya barusan. Buktinya, sudah dua tahun lebih mereka satu kampus. Sekali saja Jerry tidak pernah menegur dirinya. Padahal terlalu sering Miky 'mendekati'nya. Misalnya, ketika Jerry dan teman-temannya makan di kantin. Miky selalu ada di sana. Duduk tidak jauh dari Jerry. Makan dan diam. Tapi salah tingkahnya minta ampun. Pikirnya, pasti Jerry melahap segala geraknya. Bila Miky mencuri tatap, rasa kecewa selalu menghantam dada. Seperseratus detik saja Jerry tidak pernah melirik padanya. 
Bahkan Jerry tidak menyadari kehadirannya di kantin. Yang lebih membuat sakit, Jerry tidak pernah tahu ada seorang Miky di dunia ini, yang mencintainya dengan sangat. 
Ah, menyedihkan memang! 
"Kamu sih, Mik, pasif banget. Kapan dapatnya tuh Jerry. Sementara dianya juga tidak pernah memperhatikanmu. Agresif sedikit, dong! Kasih sinyal bahwa kamu suka sama dia. Itu lebih baik daripada kamu diam saja. Seperti orang bilang: lebih baik gagal dalam usaha daripada tidak mencoba sama sekali. Makanya, Mik, sosor saja. Daripada ditangkap cewek lain. Kamu juga yang memble nantinya." 
Lama Miky termenung. Bicara sih gampang, sungutnya. Memangnya banteng, main sosor. Jerry itu cowok manis. Imut begitu. Rada pendiam juga. Jadi pasti dia tidak suka sama cewek tomboi nan agresif. 
"Aku pernah membaca di majalah, lebih baik hidup dengan orang yang mencintai kita, daripada dengan orang yang kita cintai." 
"Artinya?" 
"Miky harus melupakan Jerry. Dan menyambut cinta Angga. Itu akan membuat Miky jadi bahagia." 
Miky menghela napas. Tanpa saran dari Nola, kalau memang bisa, sudah dari dulu dilakukannya. Bukannya Miky tidak pernah mencoba untuk beramah-tamah sama Angga. Miky ingin menjajaki perasaannya dulu. Seperti orang bilang, kebersamaan seringkali akan menimbulkan cinta. Tetapi ternyata, setiap kali dia berdekatan dengan Angga, selalu rasa jenuh dan bosan yang hadir. Barangkali memang, tidak ada cintanya buat Angga. 
"Kurasa itu lebih baik, Mik!" Riya menyentuh tangannya. "Jerry saja tidak kenal sama kamu. Kamu juga tidak mau memperkenalkan diri." 
Lagi-lagi Miky menghela napas. Membuang pandangan mata keluar jendela. Cuaca yang mendung, membuat dia keenakan di tempat tidur. *** 
 Miky membuang napas. Mengalihkan pandang pada mahasiswa yang lalu lalang. 
"Mik!" 
Miky menoleh sebentar. 
Angga menatap lembut. Miky benci itu. Harusnya Angga tahu, hati Miky tidak bisa dipaksa untuk mencintainya. 
"Mik!" 
Miky tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tega untuk menolak. Angga begitu baik padanya. Tetapi ia juga tidak mampu meluluskan permintaan itu. 
"Jawablah, Mik!" 
"Kenapa harus aku, Ang? Masih banyak yang lain," desisnya nyaris tidak terdengar. 
"Jadi kamu menolak?" patah suara Angga. 
Ingin Miky mengangguk. Lehernya terasa kaku. Ia tatap wajah Angga yang sendu. 
"Tolonglah, Mik. Kita hanya bersandiwara di depan Mamaku. Agar Mama senang. Itu saja." 
"Tapi...." 
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku. Aku juga tidak memaksa agar kamu mencintaiku. Tapi kumohon, mengertilah, Mik! Ini atas keinginan Mama. Mama ingin ketemu kamu. Dokter bilang, penyakit Mama tidak lagi tertolong. Tinggal menunggu waktu." 
"Apa hubungannya sama aku?" 
Angga menunduk. "Setahu Mama, kamu pacarku." 
Berlipat kening Miky. 
"Waktu kamu kuperkenalkan sama Mama, ia bilang suka sama kamu. Karena aku juga suka sama kamu, jadi kubilang saja kita pacaran." 
Miky menatap tak suka. 
Angga makin menunduk. 
"Kamu lancang, Ang!" 
"Maaf, aku memang tidak tahu diri." 
Miky mengalihkan tatap. Ia tertegun. Dadanya berdebar lebih kencang. Di ujung koridor kelas Jerry berjalan sendiri. 
"Mik!" 
Miky tergagap. 
"Kamu suka sama dia?" 
"Kenapa kamu bertanya begitu?" 
"Matamu selalu penuh kekaguman bila menatapnya." 
Miky menunduk. Ia yakin wajahnya memerah. 
"Benar kan, Mik?" 
"Jam berapa kamu menjemputku?" tanya Miky mengalihkan pembicaraan. 
Senyum Angga mengembang. Kedua bola matanya berbinar-binar. "Kamu serius, Mik?" suaranya hampir tidak percaya. 
Miky mengangguk lemah. *** 
Miky melepas cincin emas itu dari jari manisnya. Ia angsurkan pada Angga yang pegang setir. Mereka baru pulang dari rumah sakit. Menjenguk Mama Angga. 
"Cincin itu sudah dikasih Mama sama kamu. Jadi pakai saja." 
"Andai Mamamu tahu cerita sebenarnya, tentu beliau tidak akan memberikan cincin ini padaku." 
Sekilas Angga menoleh. Ia menghela napas. Betapa aku ingin meraihmu. Memberimu bahagia sepanjang hidupku. Tapi mengapa hatimu terlalu jauh untuk kugapai? 
"Ambillah, Ang! Aku tidak pantas memakai ini." 
"Kalau kamu tidak mau memakainya, buang saja. Itu hakmu!" Dingin suara Angga. 
Miky terkesiap mendengar suara itu, sampai ia lupa menarik tangannya yang masih mengangsurkan cincin itu. Angga salah menduga, ia kira Miky bersikeras mengembalikannya. 
Angga merenggut cincin itu dari tangan Miky dan melemparkan keluar dari jendela mobil yang terbuka setengah. Mobil berhenti tiba-tiba. Bisa saja Miky terjerembab kalau tidak segera menahan keseimbangan tubuh. 
"Ang...." pekik Miky. 
"Kamu terlalu sombong, Mik! Aku masih bisa terima kamu menolakku. Tapi menolak pemberian Mama? Dengn tulus ia memberi, apa salahnya kamu terima. Atau setidaknya pura-pura kamu terima, lalu kamu campakkan ke comberan tanpa sepengetahuanku." Tinggi suara Angga. Dari tarikan napas yang keras, terlihat Angga tidak bisa membendung emosinya. 
"Aku...." 
"Maaf, maafkan aku, Mik!" Angga meraih tangan Miky. "Aku khilaf. Itu karena aku kecewa pada diriku sendiri. Mengapa aku tak mampu mendapatkanmu. Hingga terpaksa membohongi Mama di akhir hidupnya." 
Miky membuang napas haru. 
"Sekali lagi aku minta maaf sama kamu. Juga terima kasih mau menerima undangan Mama. Walau kita hanya memberi Mama kebahagiaan semu." 
"Cincin tadi, Ang!" 
"Biarlah, kalau kamu susah dibuatnya." *** 
Sesaat mata mereka bertemu. Cepat Miky menunduk. Sungguh, ia merasa gugup menentang tatapan cowok itu. Lututnya lemas. Sampai kakinya bergetar. 
"Maaf, saya buru-buru. Tidak melihat kamu mau keluar," cowok itu berkata. Tangannya memunguti buku Miky yang terjatuh ke lantai. Lalu ia serahkan ke Miky yang mematung. 
Tanpa suara Miky berlalu. Bukan apa-apa. Ia sibuk menata detak jantungnya. Kalau saja dia tahu, makhluk yang menabraknya adalah Jerry, tentu Miky sudah pura-pura terjatuh. Atau pingsan sekalian. Agar Jerry membopong tubuhnya, tidak hanya berkata maaf.
Mata Jerry mengawasi Miky dari belakang. 
"Gila, cantik banget! Stambuk baru, ya?" tanyanya pada kawannya. 
"Payah kamu. Itu kan Miky. Anak Ekonomi, semester lima. Makanya matamu itu harus jelalatan lihat cewek. Jangan Cuma melototi buku melulu." 
Jerry meringis. Di benaknya berkelebat kejadian barusan. Mereka bertabrakan di pintu perpustakaan. Wajah Miky terbenam di dadanya. Dan sampai saat ini, harum rambut Miky masih terasa pada setiap tarikan napasnya. 
"Siapa tadi namanya?" 
"Miky. Miky Saraswati." *** 


"Mik!" 
"Hem," sahut Miky. Tangannya sibuk memoles pewarna di bibirnya. 
"Angga baru telepon." 
Dari kaca rias ia melirik Nola yang berdiri di sampingnya. 
"Terus?" 
"Ia minta kamu ke rumah sakit. Mamanya kritis. Katanya sudah tidak ada harapan lagi. Ini juga atas permintaan Mamanya." 
Miky menarik napas keras. Sejurus ia menatap Nola. 
"Malam ini Jerry mengundangku ke rumahnya. Ada pesta perak perkawinan orangtuanya." 
"Jadi kamu menolak?" Kening Nola mengerut. 
"Terpaksa." 
"Kan bisa, Mik, sekarang kamu pergi dulu ke rumah sakit. Baru ke rumah Jerry." 
"Sebentar lagi Jerry menjemputku. Apa tanggapannya kalau aku pergi ke rumah sakit menjenguk Mama Angga." 
"Dalam situasi seperti ini, Jerry pasti mengerti." 
"Tidak bisa, La! Aku sudah bosan mengikuti sandiwara Angga." 
"Kamu tidak punya perasaan, Mik!" desis Nola tajam. "Apa salahnya memenuhi keinginan Mamanya itu. Apa salahnya kamu membahagiakan hati orang di akhir hidupnya?" 
"Aku...." 
"Aku baru tahu, ternyata kamu sangat egois!" Nola berjalan ke pintu. Tidak ada gunanya membujuk lagi. Di ambang pintu Nola berhenti, berbalik menatap Miky. 
"Cintamu pada Jerry terlalu buta, kurasa. Sampai kamu tidak bisa memilih mana yang harus diutamakan." 
Miky tidak akan diam andai saja Nola tidak keburu membanting daun pintu. Ia tahu Nola marah padanya. Sebenarnya Miky juga tidak tega mengabaikan permintaan Mama Angga. Tapi dengan mengecewakan Jerry? *** 
Miky menyusut butiran air di kedua belah pipi. Ada yang hancur dalam hati. Terasa sakit dan perih menusuk. Masih terbayang, ketika di pesta perak perkawinan orangtua Jerry kemarin, diumumkan juga pertunangan Jerry dengan anak gadis rekan kerja orangtua Jerry. 
Terluka hati Miky. Meski tadi pagi Jerry datang menemuinya. Dengan sederet kata maaf berkata: ia sama sekali tidak mengetahui rencana pertunangan itu. Dengan linangan airmata berkata, hanya Miky yang ada dalam hatinya. 
Semua itu tidak berguna. Karena nyatanya Jerry bertunangan dengan gadis itu. Dan hati Miky terlanjur luka. 
"Mik...." 
Cepat Miky menghapus airmata di pipinya, sebelum menoleh ke asal suara itu. 
"Kamu sudah sembuh?" 
Menyipit mata Miky. 
"Aku minta maaf, Ang. Waktu Mamamu...." 
"Tak apa, Mik! Waktu itu Nola bilang kamu demam tinggi. Mama juga memaklumi hal itu." 
Miky menelan ludah yang terasa pahit. Ah, Nola! 
"Sebelum meninggal, Mama sempat bilang, agar aku selalu bersamamu. Mama yakin kamu gadis yang baik. Dan Mama akan melihat kita bahagia dari alamnya," Angga tertawa masam. "Mama memang sangat menyayangiku. Jadi Mama takut anak bungsunya ini salah pilih." 
"Mengertilah, Ang!" 
"Aku sangat mengerti, Mik. Aku juga akan bahagia bila kamu bahagia. Makanya, kejarlah impian kamu itu. Siapa namanya, Mik? Jerry, ya? Ah, dia memang amat istimewa." 
Mendengar nama Jerry disebut, airmata Miky mengucur lagi. Ia teringat cintanya yang kandas terhempas. 
"Ada yang salah dengan ucapanku?" 
Miky menggeleng dengan bahu terguncang. Miky menggigit bibir, menahan tangis agar tidak sampai pecah berderai. 
Dengan memberanikan diri, Angga meraih Miky ke dalam pelukan. Miky tidak menolak. Justru tangisnya semakin kuat. Hingga Angga jadi bingung. Tapi perasaannya berkata, ada masalah dengan hubungan Miky dan Jerry. 
Tangan Angga bergetar mengelus rambut Miky. Ada yang nikmat ia rasakan kata airmata Miky menembus kemeja dan menyentuh kulit dadanya. 
Oh, Tuhan!
Mimpi pun Angga tidak berani kalau Miky akan berada dalam pelukannya seperti sekarang. 
Miky masih menangis dalam pelukannya. Kedua mata Angga memejam. Memohon dalam hati, semoga waktu berhenti sampai di sini, agar selamanya Miky berada dalam pelukannya. © 

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Archive

Entri Populer

 
Eva Wahyudi

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger